Angin Keluar Lewat Vagina, Apakah Membatalkan Wudhu Seperti Buang Gas? | rumahfiqih.com

Angin Keluar Lewat Vagina, Apakah Membatalkan Wudhu Seperti Buang Gas?

by : Aini Aryani, Lc
Sun 20 March 2016 16:22 | 4478 views | bagikan via

Umumnya para ulama sepakat bahwa apabila ada sesuatu keluar lewat dua jalan, yaitu kemaluan depan atau pun belakang, maka dapat membatalkan wudhu'. Artinya, jika setelah berwudhu ternyata ada angin keluar dari dubur (kemaluan belakang) maka wudhu'nya menjad batal. Dan jika angin itu keluar ketika sedang menunaikan shalat, maka ia harus mengulang shalatnya.

Dasar yang melandasinya adalah firman Allah SWT :

أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ

Atau bila salah seorang dari kamu datang dari tempat buang air. (QS. Al-Maidah : 6)

Dan juga sabda Rasulullah SAW

إِذَا وَجَدَ أَحَدُكُمْ فِي بَطْنِهِ شَيْئًا فَأَشْكَل عَلَيْهِ أَخَرَجَ مِنْهُ شَيْءٌ أَمْ لاَ، فَلاَ يَخْرُجَنَّ مِنَ الْمَسْجِدِ حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتًا أَوْ يَجِدَ رِيحًا

Bila kallian mendapatkan sesuatu (angin) dalam perut dan ragu apakah keluar atau tidak, maka janganlah keluar dari masjid kecuali bila mendengar suara atau bau. (HR. Muslim)

Dan yang keluar itu bisa apa saja termasuk benda cair seperti air kencing, air mani, wadi, mazi, darah, nanah, atau cairan apapun. Juga berupa benda padat seperti kotoran manusia, batu ginjal dan lainnya. Termasuk juga najis yang wujudnya berupa benda gas seperti kentut. Semuanya itu bila keluar lewat dua lubang qubul dan dubur membuat wudhu' yang bersangkutan menjadi batal.

Namun bagaimana jika ada angin atau gas yang keluar melalui vagina wanita? Apakah itu dihukumi seperti gas yang keluar lewat dubur (kentut) atau tidak?

1. Pendapat Yang Tidak Membatalkan

Keluar angin dari kemaluan wanita atau Vagina Flatuence bisa terjadi setelah seorang wanita bersenggama dengan suaminya atau karena kendurnya otot vagina sehingga tidak dapat mencegah masuknya angin ke dalam vagina, yang kemudian akan keluar lagi seperti lazimnya orang buang angin dari dubur.

Dalam hal ini para ulama berbeda pendapat. Sebagian mengatakan bahwa hal itu tidak membatalkan dan sebagian lagi menyatakan sebaliknya.

Mazhab Al-Hanafiyah, Al-Malikiyah dan sebagian riwayat dari mazhab Al-Hanabilah berpendapat bahwa keluarnya udara lewat kemaluan depan, baik laki-laki atau perempuan tidak membatalkan wudhu'.

Hal itu dikarenakan udara yang keluar tidak dari jalan najis yang seharusnya, yakni dubur. Dan angin tersebut dianggap tidak bersumber dari dalam perut sebagaimana yang umumnya terjadi saat buang angin (kentut).

Az-Zaila'i (w. 743 H) salah satu ulama mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya, Tabyinul Haqaiq, sebagai berikut :

وَالرِّيحُ الْخَارِجُ مِنْ قُبُلِ الْمَرْأَةِ وَذَكَرِ الرَّجُلِ لَا يَنْقُضُ الْوُضُوءَ لِأَنَّهُ اخْتِلَاجٌ وَلَيْسَ بِرِيحٍ

Angin yang keluar dari vagina wanita dan juga kemaluan laki-laki tidak membatalkan wudhu, karena itu hanyalah ikhtilaj dan bukan angin. [1]

Ibnu Abdin (w. 1252 H)  salah satu ulama mazhab Al-Hanafiyah menuliskan dalam kitabnya, Radd Al-Muhtar 'ala Ad-Dur Al-Mukhtar, sebagai berikut :

 لا ينقض خروجُ ريح مِن قُبُل وَذَكر ؛ لأنه اختلاج ؛ أي ليس بريح حقيقة ، ولو كان ريحا فليست بمنبعثة عن محل النجاسة فلا تنقض

Keluarnya angin dari kemaluan wanita dan laki-laki tidak membatalkan wudhu karena itu bukan angin yang hakiki. Kalau seandainya itu berupa angin, maka angin itu tidak keluar dari tempat najis (dubur), maka tidak membatalkan. [2]

Seorang mufti kontemporer dari Arab Saudi Muhammad bin Sholeh Al-Utsaimin mengatakan: “Yang demikian ini tidak membatalkan wudhu, karena angin tersebut tidak keluar dari tempat najis seperti angin yang keluar dari dubur,” [3].

2. Pendapat Yang Membatalkan

Dalam hal ini mazhab Syafii dan sebagian ulama dari madzhab Hambali berpendapat bahwa keluarnya angin lewat kemaluan depan, baik laki-laki atau perempuan dapat membatalkan wudhu'.

Alkhatib As-Syirbini dalam kitabnya Mughni al-Muhtaj menyampaikan bahwa sesuatu yang keluar lewat dzakar lelaki maupun vagina wanita merupakan hadats yang mewajibkan wudhu.

Pendapat ini senada dengan apa pendapat Ibnu Qudamah dalam kitab beliau Al-Mughni sebagaimana dikutip dalam al-Mausu'ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyyah sebagai berikut:

وَقَال الشَّافِعِيَّةُ وَهُوَ رِوَايَةٌ أُخْرَى عِنْدَ الْحَنَابِلَةِ: إِنَّ الْخَارِجَةَ مِنَ الذَّكَرِ أَوْ قُبُل الْمَرْأَةِ حَدَثٌ يُوجِبُ الْوُضُوءَ . ، لِقَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لاَ وُضُوءَ إِلاَّ مِنْ صَوْتٍ أَوْ رِيحٍ

"Ulama dari madzhab as-Syafi'iyah dan salah satu riwayat dari ulama madzhab al-Hanabilah : Sesuatu yang keluar dari dzakar seorang lelaki atau vagina seorang wanita adalah hadats yang mewajibkan wudhu', sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah SAW "Tidak wajib berwudhu kecuali jika mendengar suara atau mencium bau". [4]

Kesimpulan

Dari pendapat para ulama di atas, kita dapat menarik benang merah. Yakni jika vagina flatuence yang terjadi pada seorang wanita benar-benar dipastikan memang angin yang keluar, dan bersumber dari udara yang berasal dari dalam perut sebagaimana kentut, maka wudhunya batal, sebagaimana yang disampaikan oleh ulama dari madzhab as-Syafi'iyyah dan sebagian ulama dari madzhab al-Hanabilah.

Namun jika angin yang keluar itu hanya sekedar hasil ketupan yang diakibatkan tertutupnya vagina setelah sempat terbuka, seperti bunyi ketiak ketika dihimpit dengan tangan yang menyebabkan bunyi dari himpitan tersebut, maka itu tidak membatalkan wudhu. Begitu pula jika ragu apakah itu angin yang keluar dari vagina atau bukan, wudhu dan shalatnya tidak batal, karena biasanya hal itu disebabkan oleh rasa waswas dari setan. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh ulama dari madzhab al-Hanafiyah, al-Malikiyah dan sebagian dari ulama madzhab al-Hanabilah.

Sebuah hadits riwayat Abu Hurairah RA menyebutkan, seseorang merasakan sesuatu di dalam perutnya sehingga dia ragu apakah keluar sesuatu darinya atau tidak, kemudian Rasulullah SAW bersabda:

  (لاَ يَخْرُجُ –اَيْ مِنَ الصَّلاَةِ- حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتًا اَوْ يَجِدَ رِيْحًا (رواه البخاري)

 “Janganlah dia keluar (membatalkan shalatnya) sehingga dia mendengar bunyi atau dia mencium bau (dari buang anginnya) itu.” (HR Al-Bukhari)

Wallahu a'lam bishshawab.
Wassalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh.

Aini Aryani, Lc


[1]. Az-Zaila'i, Tabyinul Haqaiq, jilid 1 hal. 8
[2]. Ibnu Abdin, Radd Al-Muhtar 'ala Ad-Dur Al-Mukhtar, jilid 1 hal. 136
[3]. Fatawa wa rasail Syaikh ibn Utsaimin Jilid 4 hal. 197
[4]. As-Syirbini, Mughnil Muhtaj jilid 1, hal. 32

Bagikan via

Baca Lainnya : Aini Aryani, Lc

Feminis Kurang Piknik
23 April 2017, 01:00 | 4.030 views
Darah Keluar Saat Hamil, Haid Atau Bukan?
9 January 2017, 06:43 | 4.053 views
Darah Keluar Menjelang Persalinan; Nifas Atau Istihadhah?
2 January 2017, 23:44 | 4.177 views
Poligami (2) : Sakitpun Suami Masih Wajib Menggilir Isteri-Isterinya?
18 December 2016, 12:32 | 4.756 views
Al Muwalah : Bolehkah Mencicil Mandi Janabah ?
13 December 2016, 05:53 | 2.711 views
Poligami (1) : Adil Menggilir Para Isteri Ala Rasulullah
9 December 2016, 15:09 | 1.650 views
Khitan Bagi Wanita, Wajibkah?
21 August 2016, 09:20 | 1.768 views
Haid Sudah Selesai, Tapi Belum Mandi Janabah, Bolehkah Berhubungan Suami-Isteri ?
2 August 2016, 08:26 | 3.258 views
Suci Dari Haid di Waktu Ashar, Wajibkah Meng-qadha Shalat Dzuhurnya?
27 July 2016, 09:17 | 2.141 views
Mahram Bagi Wanita Dari Jalur Nasab, Siapa Sajakah?
24 June 2016, 06:05 | 2.318 views
Saat Mandi Janabah, Haruskah Wanita Mengurai Rambutnya Yang Digelung Atau Dikepang?
21 June 2016, 15:50 | 1.796 views
Bolehkah Wanita Mengusap Bagian Atas Kerudungnya Sebagai Ganti Mengusap Kepala Saat Wudhu
7 June 2016, 10:34 | 3.028 views
Bersentuhan Dengan Isteri, Batalkah Wudhu Suami?
28 May 2016, 17:21 | 5.016 views
Angin Keluar Lewat Vagina, Apakah Membatalkan Wudhu Seperti Buang Gas?
20 March 2016, 16:22 | 4.478 views
Belajar Fiqih Wanita Itu Penting. Mengapa?
23 February 2016, 11:27 | 2.589 views
Batasan Bolehnya Mencumbui Isteri Yang Sedang Haid
3 December 2015, 21:01 | 7.405 views
Masuk Waktu Shalat Tapi Belum Mengerjakan, Lalu Keluar Darah Haid. Wajibkah Mengqadha
10 November 2015, 22:11 | 5.399 views
Bolehkah Ayah Biologis Menikahi Puterinya dari Hasil Zina?
30 October 2015, 18:35 | 6.710 views
Sikap Suami-Isteri Yang Syari Tapi Tidak Patut
14 September 2015, 00:24 | 21.666 views
Siapa Keluarga Istri yang Jadi Mahram Bagi Suaminya?
13 July 2015, 07:22 | 9.843 views
Berzina Menjadikannya Mahram Dengan Ibunya?
8 June 2015, 09:41 | 7.053 views
Batasan Aurat Wanita Bagi Mahramnya
5 May 2015, 11:12 | 13.585 views
Hamil, Dicerai, Lalu Keguguran. Selesaikah Iddahnya?
30 April 2015, 17:18 | 4.176 views
Nifas Lebih Dari 60 Hari, Apakah Jadi Haid Atau Istihadlah?
21 April 2015, 17:54 | 18.176 views
Apakah Suara Wanita Termasuk Aurat?
1 May 2014, 05:59 | 25.071 views
Haramkah Potong Rambut dan Kuku Waktu Haidh?
11 April 2014, 05:19 | 48.230 views
Belum Qadha' Puasa Tapi Sudah Datang Ramadhan Berikutnya
10 April 2014, 05:18 | 17.558 views
Wanita Hamil & Menyusui : Qadha Atau Fidyah?
9 April 2014, 05:17 | 18.123 views
Al-Muzani dan At-Thabary Membolehkan Wanita Mengimami Laki-laki, Benarkah?
8 April 2014, 01:17 | 6.908 views
Darah Terputus-putus; Antara Haid & Istihadlah
7 April 2014, 06:32 | 13.363 views
Halal Haram Menyambung Rambut
6 April 2014, 07:10 | 6.684 views
Denda Berhubungan Seksual Saat Haid
5 April 2014, 18:13 | 6.391 views
Islam Cenderung Patriarkal, Benarkah?
3 April 2014, 18:12 | 5.171 views
Masa Iddah, Istri Masih Berhak Dinafkahi?
1 April 2014, 18:11 | 8.433 views

total 863901 views