Saat Mandi Janabah, Haruskah Wanita Mengurai Rambutnya Yang Digelung Atau Dikepang? | rumahfiqih.com

Saat Mandi Janabah, Haruskah Wanita Mengurai Rambutnya Yang Digelung Atau Dikepang?

by : Aini Aryani, Lc
Tue 21 June 2016 15:50 | 1263 views | bagikan via

Jumhur (mayoritas) ulama dari madzhab Hanafi, Maliki, Syafi'i dan sebagian dari Hambali berpendapat bahwa dalam melakukan mandi janabah, wanita tidak wajib mengurai rambutnya yang terkepang atau tergelung, yang penting air sampai ke kulit kepalanya dan membasahi seluruh kulit dan rambutnya.

Namun, jika tanpa menguraikan kepangan itu air menjadi tidak bisa membasahi seluruh rambut dan kulit kepalanya, maka gelungan dan kepangannya harus diuraikan. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari Ummu Salamah, isteri Rasulullah :

يا رسول الله، إني امرأة أشد ضفر رأسي فأنقضه لغسل الجنابة؟ قال: لا، إنما يكفيك أن تحثي على رأسك ثلاث حثيات، ثم تفيضين عليك الماء فتطهرين

"Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku adalah wanita yang memiliki kepangan rambut yang sangat kuat, apakah aku harus menguraikannya pada saat mandi janabah? Rasul Menjawab: Tidak, cukup engkau memercikkan air tiga kali ke atas kepalamu, kemudian mengguyurkan air ke atasnya, lalu engkau menjadi suci" (HR. Muslim)

Ulama dari Madzhab Hambali sepakat dengan pendapat jumhur ulama mengenai tidak wajibnya mengurai kepangan dan gelungan rambutnya pada saat mandi janabah dari jima', Namun sebagian yang lain berbeda dalam hal mandi janabah dari Haid dan Nifas.

Dalam hal wanita yang suci dari haid dan nifas, ulama Madzhab Hambali terbagi menjadi dua pendapat: Sebagian mengatakan bahwa wanita yang suci dari haid dan nifas wajib membuka gelungan dan kepangan rambutnya pada saat mandi janabah.

Namun, sebagian ulama lain dari madzhab ini mengatakan sebaliknya. Yakni bahwa wanita tidak wajib menguraikan gelungan dan kepangan rambutnya. Adapun pendapat kedua inilah yang sepakat dengan pendapat mayoritas ulama.

Mengapa sebagian ulama dari Madzhab Hambali membedakan antara mandi janabah dari jima' dan dari haid atau nifas?

Sebab mandi janabah dari jima' jauh lebih sering dilakukan. Maka akan memberatkan bagi wanita jika ia harus membuka gelungan dan kepangan rambutnya berkali-kali, apalagi jika ia menjadi pengantin baru.

Berbeda dengan wanita yang suci dari haid dan nifas, dimana ini tidak terlalu sering dilakukannya. Maka, dalam hal ini madzhab Hambali mengharuskan wanita untuk mengurai kepangan dan gelungannya saat mandi untuk bersuci. Dalilnya adalah sabda Rasulullah SAW pada bunda Aisyah saat beliau baru bersih dari haid:

انقضي شعرك وامتشطي

"uraikanlah rambutmu, dan bersisirlah"

Disini, Rasul memerintahkan Aisyah agar menguraikan dan menyisir rambutnya terlebih dahulu sebelum mandi janabah dari haidnya. Memang pada dasarnya, wanita harus membuka kepangan dan gelungannya pada saat mandi agar air mudah merata sampai pada kulit kepada dan rambutnya.

Adapun bolehnya untuk tidak membuka kepangan dan gelungan pada saat mandi janabah dari jima' itu merupakan keringanan untuk menghilangkan masyaqqah (kesulitan) karena lebih sering dilakukan dari pada mandi dari haid dan nifas.

Walau terbagi menjadi 2 pendapat, namun yang menjadi pendapat resmi dalam madzhab Hambali adalah bahwa membuka gelungan rambut saat mandi janabah, baik dari jima' maupun haid tidaklah wajib bagi wanita, melainkan sekedar anjuran saja. Yang penting kulit kepala dan rambutnya dapat terbasahi oleh air saat mandi.

Hal ini disebutkan oleh Ibnu Qudamah dalam kitabnya Al-Mughni jilid 1 halaman 226-227 :

قال بعض أصحابنا: هذا مستحب غير واجب، وهو قول أكثر الفقهاء، وهو الصحيح إن شاء الله؛ لأن في بعض ألفاظ حديث أم سلمة أنها قالت للنبي: صلى الله عليه وسلم إني امرأة أشد ضفر رأسي فأنقضه للحيضة والجنابة؟ فقال: لا، إنما يكفيك أن تحثي على رأسك ثلاث حثيات، ثم تفيضين عليك الماء فتطهرين . وهي زيادة يجب قبولها، وهذا صريح في نفي الوجوب

"Sebagian ulama dari madzhab kami (Hambali): hal ini (mengurai rambut) sifatnya mustahab (dianjurkan), dan inilah pendapat mayoritas ulama fiqih, dan inilah pendapat yang benar insyaa Allah, Sebagaimana hadits dari Ummu Salamah yang isinya:
'Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku adalah wanita yang memiliki kepangan rambut yang sangat kuat, apakah aku harus menguraikannya pada saat mandi janabah (dari jima') dan dari haid?
Tidak, cukup engkau memercikkan air tiga kali ke atas kepalamu, kemudian mengguyurkan air ke atasnya, lalu engkau menjadi suci'.
Lafadz HAID dalam hadits ini adalah tambahan dalil yang wajib untuk diterima, dan hadits tersebut menjelaskan tidak adanya kewajiban untuk menguraikan rambutnya (saat mandi janabah, baik dari haid maupun jima'
)".

Kesimpulan

Sebagian ulama dari madzhab Hambali mewajibkan wanita membuka gelungan dan kepangan rambutnya pada saat mandi janabah dari Haid dan Nifas. Namun itu bukan menjadi pendapat resmi madzhab ini.

Adapun pendapat resmi dari madzhab Hambali adalah bahwa membuka gelungan dan kepangan rambut bagi wanita pada saat mandi janabah itu TIDAK WAJIB, melainkan anjuran saja. Baik mandi dari Jima' maupun dari Haid dan Nifas. Asalkan air bisa merata di kulit kepala dan rambutnya. Dan inilah yang disepakati oleh Mayoritas ulama dari empat madzhab.

Wallahu A'lam bishshowab

Aini Aryani, Lc

Bagikan via


Baca Lainnya :

Bolehkah Wanita Mengusap Bagian Atas Kerudungnya Sebagai Ganti Mengusap Kepala Saat Wudhu
7 June 2016, 10:34 | 2.465 views
Bersentuhan Dengan Isteri, Batalkah Wudhu Suami?
28 May 2016, 17:21 | 3.918 views
Angin Keluar Lewat Vagina, Apakah Membatalkan Wudhu Seperti Buang Gas?
20 March 2016, 16:22 | 3.315 views
Belajar Fiqih Wanita Itu Penting. Mengapa?
23 February 2016, 11:27 | 2.044 views
Batasan Bolehnya Mencumbui Isteri Yang Sedang Haid
3 December 2015, 21:01 | 6.794 views
Masuk Waktu Shalat Tapi Belum Mengerjakan, Lalu Keluar Darah Haid. Wajibkah Mengqadha
10 November 2015, 22:11 | 5.054 views
Bolehkah Ayah Biologis Menikahi Puterinya dari Hasil Zina?
30 October 2015, 18:35 | 6.005 views
Sikap Suami-Isteri Yang Syari Tapi Tidak Patut
14 September 2015, 00:24 | 20.754 views
Siapa Keluarga Istri yang Jadi Mahram Bagi Suaminya?
13 July 2015, 07:22 | 9.390 views
Berzina Menjadikannya Mahram Dengan Ibunya?
8 June 2015, 09:41 | 6.625 views
Batasan Aurat Wanita Bagi Mahramnya
5 May 2015, 11:12 | 13.016 views
Hamil, Dicerai, Lalu Keguguran. Selesaikah Iddahnya?
30 April 2015, 17:18 | 3.828 views
Nifas Lebih Dari 60 Hari, Apakah Jadi Haid Atau Istihadlah?
21 April 2015, 17:54 | 17.761 views
Apakah Suara Wanita Termasuk Aurat?
1 May 2014, 05:59 | 24.428 views
Haramkah Potong Rambut dan Kuku Waktu Haidh?
11 April 2014, 05:19 | 47.498 views
Belum Qadha' Puasa Tapi Sudah Datang Ramadhan Berikutnya
10 April 2014, 05:18 | 16.864 views
Wanita Hamil & Menyusui : Qadha Atau Fidyah?
9 April 2014, 05:17 | 17.512 views
Al-Muzani dan At-Thabary Membolehkan Wanita Mengimami Laki-laki, Benarkah?
8 April 2014, 01:17 | 6.405 views
Darah Terputus-putus; Antara Haid & Istihadlah
7 April 2014, 06:32 | 12.812 views
Halal Haram Menyambung Rambut
6 April 2014, 07:10 | 6.222 views
Denda Berhubungan Seksual Saat Haid
5 April 2014, 18:13 | 5.867 views
Islam Cenderung Patriarkal, Benarkah?
3 April 2014, 18:12 | 4.668 views
Masa Iddah, Istri Masih Berhak Dinafkahi?
1 April 2014, 18:11 | 7.980 views

total 731619 views