Mahram Bagi Wanita Dari Jalur Nasab, Siapa Sajakah? | rumahfiqih.com

Mahram Bagi Wanita Dari Jalur Nasab, Siapa Sajakah?

by : Aini Aryani, Lc
Fri 24 June 2016 06:05 | 2191 views | bagikan via

Mahram berasal dari kata ‘haram’ yang maksudnya adalah orang-orang yang haram untuk dinikahi, baik keharaman itu  bersifat selamanya maupun bersifat temporer.

Mereka yang haram dinikahi untuk selama-lamanya disebut dengan istilah Mahram Mu’abbad. Maksudnya, orang-orang yang masuk dalam kategori ini tidak boleh kita nikahi selama-lamanya, apapun yang terjadi. Misalnya, seorang wanita tidak boleh menikah dengan ayah kandungnya selama-lamanya. Sebab ayah kandung adalah mahram mu’abbad baginya.

Sedangkan mereka yang haram dinikahi untuk sementara / temporer disebut dengan Mahram Mu’aqqat. Artinya, orang-orang yang masuk dalam kategori ini tidak boleh ia nikahi dalam waktu sementara, karena adanya satu sebab yang melarang. Jika sebab tersebut sudah hilang, maka hilanglah pula kemahraman, yang akhirnya menjadikan keduanya boleh menikah.

Contoh Mahram Mu'aqqat misalnya antara seorang wanita dengan abang iparnya. Selama iparnya masih menjadi suami dari kakak perempuannya, maka ia tidak boleh menikahi abang iparnya itu. Sebab, selama abang iparnya itu terikat pernikahan dengan kakak perempuannya, maka abang iparnya itu menjadi mahram mu'aqaat baginya.

Sedangkan jika lelaki itu sudah tidak lagi menjadi iparnya, maka mereka boleh menikah. Misalnya jika abang iparnya itu sudah bercerai dari kakak perempuannya, atau jika kakak perempuannya sudah meninggal dunia. Sebab, ketika abang iparnya tidak lagi terikat pernikahan dengan kakak perempuannya, maka (mantan) abang ipar itu bukan lagi menjadi mahram mu'aqqat baginya.

Maka, dalam satu waktu, wanita dilarang menikahi iparnya. Sedangkan di waktu yang lain ia boleh menikahi (mantan) iparnya itu.

Penting bagi wanita muslimah untuk mengetahui siapa saja mahramnya. Sebab itu memberikan banyak konsekwensi hukum. Adapun konsekuensi hukum antara mahram mu’abbad dengan mu’aqqat adalah sebagai berikut:

  1. Seorang wanita tidak boleh menikah dengan laki-laki yang menjadi mahramnya, baik mahram mu’abbad maupun mu’aqqat.
  2. Seorang wanita juga boleh memperlihatkan sebagian auratnya pada mahram mu’abbad, namun tidak pada mahram mu’aqqat.
  3. Seorang wanita boleh berkhalwat dan bepergian berdua dengan salah satu dari mahram mu’abbad-nya, namun tidak demikian pada mahram mu’aqqat-nya.

Siapa Saja Laki-Laki Yang Menjadi Mahram Mu'abbad Bagi Wanita?

Ada beberapa sebab yang menjadikan seorang wanita menjadi mahram mu’abbad bagi orang lain. Yakni sebab hubungan darah/nasab atau kekerabatan (Al-Qarabah), hubungan yang terjadi akibat pernikahan (mushaharah), dan hubungan persusuan (radha’ah).

Adapun dari jalur nasab, disebutkan dalam Al-Quran surah At-Thalaq ayat 23 disebutkan:

Artinya:

“Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan;.....”

Dalam ayat diatas disebutkan wanita-wanita yang menjadi mahram bagi seorang laki-laki, yakni:

  • Ibu kandung,
  • Anak perempuan,
  • Kakak/adik perempuan,
  • Kakak/adik perempuan dari ayah (Bibi dari pihak ayah)
  • Kakak/adik perempuan dari ibu (Bibi dari pihak ibu)
  • Anak perempuan dari kakak/adik perempuan (keponakan)
  • Anak perempuan dari kakak/adik laki-laki (keponakan)

Ayat diatas secara tidak langsung menjelaskan pihak-pihak yang menjadi mahram mu’abbad bagi seorang wanita dari jalur Al-Qarabah, sebagai berikut:

  • Ayah kandung, kakek kandung (ayahnya ayah /ayahnya ibu), dst.
  • Anak laki-laki, Cucu laki-laki, dst
  • Kakak/adik laki-laki,
  • Kakak/adik laki-laki dari ayah (Paman dari pihak ayah)
  • Kakak/adik laki-laki dari ibu (Paman dari pihak ibu)
  • Anak laki-laki dari kakak/adik perempuan (Keponakan)
  • Anak laki-laki dari kakak/adik laki-laki (Keponakan)

‘Paman’ yang dimaksud disini adalah laki-laki yang punya hubungan persaudaraan langsung dengan ayah atau ibu kita. Artinya ia merupakan kakak/adik dari ayah atau ibu. Baik si ‘Paman’ ini punya hubungan persaudaraan kandung, atau seayah tapi lain ibu, atau seibu tapi lain ayah. Dalam bahasa kita biasanya disebut: Paman Kandung dan Paman tiri.

Sedangkan ‘Keponakan’ yang dimaksud disini adalah anak laki-laki dari kakak/adik. Artinya, kita dengan orang tua si ‘Keponakan’ ini punya hubungan persaudaraan. Baik hubungan itu sekandung (seayah dan seibu), atau seayah tapi lain ibu, atau seibu tapi lain ayah.

Inilah 7 pihak yang menjadi mahram bagi seorang wanita dari jalur nasab. Adapun mahram dari jalur mushaharah (yang terjadi sebab terjadinya pernikahan) dapat dibaca disini : Siapa Keluarga Isteri Yang Jadi Mahram Bagi Suaminya?

Wallahu A'lam Bishshawab.

Aini Aryani, Lc

Bagikan via

Baca Lainnya : Aini Aryani, Lc

Feminis Kurang Piknik
23 April 2017, 01:00 | 2.855 views
Darah Keluar Saat Hamil, Haid Atau Bukan?
9 January 2017, 06:43 | 3.375 views
Darah Keluar Menjelang Persalinan; Nifas Atau Istihadhah?
2 January 2017, 23:44 | 3.641 views
Poligami (2) : Sakitpun Suami Masih Wajib Menggilir Isteri-Isterinya?
18 December 2016, 12:32 | 4.001 views
Al Muwalah : Bolehkah Mencicil Mandi Janabah ?
13 December 2016, 05:53 | 2.567 views
Poligami (1) : Adil Menggilir Para Isteri Ala Rasulullah
9 December 2016, 15:09 | 1.512 views
Khitan Bagi Wanita, Wajibkah?
21 August 2016, 09:20 | 1.604 views
Haid Sudah Selesai, Tapi Belum Mandi Janabah, Bolehkah Berhubungan Suami-Isteri ?
2 August 2016, 08:26 | 3.048 views
Suci Dari Haid di Waktu Ashar, Wajibkah Meng-qadha Shalat Dzuhurnya?
27 July 2016, 09:17 | 2.001 views
Mahram Bagi Wanita Dari Jalur Nasab, Siapa Sajakah?
24 June 2016, 06:05 | 2.191 views
Saat Mandi Janabah, Haruskah Wanita Mengurai Rambutnya Yang Digelung Atau Dikepang?
21 June 2016, 15:50 | 1.677 views
Bolehkah Wanita Mengusap Bagian Atas Kerudungnya Sebagai Ganti Mengusap Kepala Saat Wudhu
7 June 2016, 10:34 | 2.876 views
Bersentuhan Dengan Isteri, Batalkah Wudhu Suami?
28 May 2016, 17:21 | 4.781 views
Angin Keluar Lewat Vagina, Apakah Membatalkan Wudhu Seperti Buang Gas?
20 March 2016, 16:22 | 4.312 views
Belajar Fiqih Wanita Itu Penting. Mengapa?
23 February 2016, 11:27 | 2.478 views
Batasan Bolehnya Mencumbui Isteri Yang Sedang Haid
3 December 2015, 21:01 | 7.262 views
Masuk Waktu Shalat Tapi Belum Mengerjakan, Lalu Keluar Darah Haid. Wajibkah Mengqadha
10 November 2015, 22:11 | 5.356 views
Bolehkah Ayah Biologis Menikahi Puterinya dari Hasil Zina?
30 October 2015, 18:35 | 6.534 views
Sikap Suami-Isteri Yang Syari Tapi Tidak Patut
14 September 2015, 00:24 | 21.508 views
Siapa Keluarga Istri yang Jadi Mahram Bagi Suaminya?
13 July 2015, 07:22 | 9.741 views
Berzina Menjadikannya Mahram Dengan Ibunya?
8 June 2015, 09:41 | 6.960 views
Batasan Aurat Wanita Bagi Mahramnya
5 May 2015, 11:12 | 13.448 views
Hamil, Dicerai, Lalu Keguguran. Selesaikah Iddahnya?
30 April 2015, 17:18 | 4.104 views
Nifas Lebih Dari 60 Hari, Apakah Jadi Haid Atau Istihadlah?
21 April 2015, 17:54 | 18.086 views
Apakah Suara Wanita Termasuk Aurat?
1 May 2014, 05:59 | 24.918 views
Haramkah Potong Rambut dan Kuku Waktu Haidh?
11 April 2014, 05:19 | 48.052 views
Belum Qadha' Puasa Tapi Sudah Datang Ramadhan Berikutnya
10 April 2014, 05:18 | 17.485 views
Wanita Hamil & Menyusui : Qadha Atau Fidyah?
9 April 2014, 05:17 | 18.014 views
Al-Muzani dan At-Thabary Membolehkan Wanita Mengimami Laki-laki, Benarkah?
8 April 2014, 01:17 | 6.787 views
Darah Terputus-putus; Antara Haid & Istihadlah
7 April 2014, 06:32 | 13.211 views
Halal Haram Menyambung Rambut
6 April 2014, 07:10 | 6.593 views
Denda Berhubungan Seksual Saat Haid
5 April 2014, 18:13 | 6.270 views
Islam Cenderung Patriarkal, Benarkah?
3 April 2014, 18:12 | 5.068 views
Masa Iddah, Istri Masih Berhak Dinafkahi?
1 April 2014, 18:11 | 8.353 views

total 832978 views