Khitan Bagi Wanita, Wajibkah? | rumahfiqih.com

Khitan Bagi Wanita, Wajibkah?

by : Aini Aryani, Lc
Sun 21 August 2016 09:20 | 848 views | bagikan via

Khitan bagi anak perempuan tidak semasyhur khitan yang dilakukan pada anak laki-laki. Jika khitan pada anak laki-laki adalah menyunnat kulup dari batang dzakar (penis), maka tindakan khitan pada anak perempuan adalah menyunnat bagian 'clitoral hood'.

Menurut Wikipedia: "Clitoral Hood atau disebut juga preputium clitoridis and clitoral prepuce adalah lipatan kulit yang mengelilingi dan melindungi clitoral glans [batang klitoris]. Berkembang sebagai bagian dari labia  [bibir]minora dan merupakan homolog dari kulup penis [biasa disebut preputium] pada kelamin laki-laki".

Dalil yang menjadi dasar pensyariatan khitan adalah sebagai berikut:

  1. Kemudian kami wahyukan kepadamu untuk mengikuti millah Ibrahim yang lurus (QS. An-Nahl: 23).
  2. Dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah SAW, "Khitan itu sunnah buat laki-laki dan memuliakan buat wanita." (HR. Ahmad dan Baihaqi)
  3. Dari Abi Hurairah ra. Berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Nabi Ibrahim as. Berkhitan saat berusia 80 tahun dengan qadur / kapak. (HR Bukhari dan muslim)
  4. Dari Aisyah ra, Rasulullah bersabda : “Potonglah rambut kufur darimu dan berkhitanlah” (HR. Muslim)

Dari dalil-dalil diatas, khitan bagi anak perempuan jelas disyariatkan. Namun jika ditinjau dari hukumnya, para ulama fiqih berbeda pendapat. Ada yang mengatakan wajib, tidak wajib, dan ada juga yang memandang itu pemuliaan atas perempuan.

1. Mazhab Al-Hanafiyah

Madzhab ini sepakat bahwa berkhitan tidak diwajibkan bagi perempuan, mayoritas ulama dari madzhab ini tidak memandangnya dari kacamata hukum taklifi, namun sebagai kemuliaan bagi perempuan.

Ibnul Humam (w. 681 H) salah satu ulama mazhab Al-Hanafiyah dalam kitab Fathul Qadir menuliskan sebagai berikut :

  الختانان موضع القطع من الذّكر والفرج وهو سنّةٌ للرّجل مكرمةٌ لها

Khitan itu memotong sebagian dari zakar (kemaluan laki-laki) dan farji (kemaluan perempuan). Hukumnya Sunnah bagi laki-laki, dan bagi perempuan merupakan sebuah kemuliaan.

Az-Zaila’i (w. 743 H) salah satu ulama mazhab Al-Hanafiyah dalam kitab Tabyin Al-Haqaiq Syarh Kanzu Ad-Daqaiq menuliskan sebagai berikut :

وختان المرأة ليس بسنة، وإنما هو مكرمة للرجال لأنه ألذ في الجماع

Tidaklah sunnah bagi perempuan berkhitan, tetapi sebuah kemuliaan bagi laki-laki, karena dapat menambah keintiman dalam berhubungan suami istri.[1]

2. Mazhab Al-Malikiyah

Al-Qarafi (684 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Adz-Dzakhirah sebagai berikut :

كرهه مالك يوم الولادة ويوم السابع لأنه من فعل اليهود قال وحد الختان الأمر بالصلاة من سبع سنين إلى عشر قال ابن حبيب الختان سنة للرجال مكرمة للنساء

Makruh bagi imam Malik mengkhitan anak pada hari kelahiran ataupun hari ke tujuh, Karena itu perbuatannya orang-orang Yahudi. Dan membatasi usia khitan ketika anak berumur 7 tahun, sebagaimana diperintah untuk mereka shalat dari umur tujuh tahun hingga sepuluh tahun. Ibnu Hubaib mengatakan, berkhitan bagi laki-laki sunnah, sedangkan bagi perempuan merupakan kemuliaan.[2]

Al-Hathab Ar-Ru'aini (954 H), salah satu ulama di kalangan mazhab Al-Malikiyah menuliskan dalam kitabnya Mawahibul Jalil fi Syarhi Mukhtashar Khalil sebagai berikut :

وأما الخفاض فقال ابن عرفة والخفاض في النساء الرسالة مكرمة وروى

Adapun khitan bagi perempuan, Ibnu ‘Arafah mengatakan bahwa itu adalah syari’at yang mulia.[3]

2. Mazhab Asy-Syafi’i

Madzhab ini  memandang bahwa berkhitan bagi laki-laki dan perempuan itu hukumnya wajib. Sebagaimana penuturan di bawah ini:

An-Nawawi (w. 676 H) salah satu ulama dalam mazhab Asy-Syafi'iyah di dalam kitabnya Minhaj At-Thalibin wa Umdatu Al-Muftiin fi Al-Fiqh menuliskan sebagai berikut :

ويجب ختان المرأة بجزء من اللحمة بأعلى الفرج والرجل بقطع ما يغطي حشفته بعد البلوغ ويندب تعجيله في سابعة

Wajib bagi perempuan berkhitan, dengan memotong sebagian daging kecil yang berada di bagian atas kemaluan, dan bagi laki-laki dengan menghilangkan sebagian kulit penutup bagian depan dari kemaluan, dan disunnahkan bagi laki-laki untuk menyegerakan khitan di umur tujuh tahun.[4]

Zakaria Al-Anshari (w. 926 H) yang juga ulama mazhab Asy-syafi'iyah di dalam kitabnya Asnal Mathalib Syarah Raudhu Ath-Thalib menuliskan sebagai berikut.

(و) من (قطع شيءٍ من بظر المرأة) (الخفاض) أي اللّحمة الّتي في أعلى الفرج فوق مخرج البول تشبه عرف الدّيك، وتقليله أفضل

Dengan memotong sebagian daging kecil -yang berada di bagian atas farji, letaknya diatas tempat keluarnya urin, dan bentuknya menyerupai jengger ayam-, itu hukumnya afdhal (utama).[5]

Ibnu Hajar Al-Haitami (w. 974 H) salah satu ulama mazhab Asy-Syafi'iyah di dalam kitab Tuhafatu Al-Muhtaj menuliskan sebagai berikut :

ويجب أيضًا (ختان) المرأة والرّجل

Diwajibkan juga berkhitan bagi perempuan dan laki-laki .[6]

Al-Khatib Asy-Syirbini (w. 977 H) salah satu ulama mazhab Asy-Syafi'iyah di dalam kitab Mughni Al-Muhtaj menuliskan sebagai berikut :

(ويجب ختان المرأة بجزءٍ) أي قطعه

Diwajibkan berkhitan bagi perempuan, dengan menghilangkan sebagian daging kecil di atas kemaluannya.[7]

3. Mazhab Al-Hanabilah

Adapun madzhab Al-Hanabilah, hukum berkhitan dibedakan antara laki-laki dan perempuan. Wajib bagi laki-laki, dan tidak wajib bagi perempuan.

Ibnu Qudamah (w. 620 H) ulama dari kalangan mazhab Al-Hanabilah di dalam kitabnya Al-Mughni menuliskan sebagai berikut :

فأمّا الختان فواجبٌ على الرّجال، ومكرمةٌ في حقّ النّساء، وليس بواجبٍ عليهنّ

Diwajibkan bagi laki-laki berkhitan, sedangkan bagi perempuan tidaklah diwajibkan, melainkan hanya sebuah kemuliaan bagi yang mengerjakannya.[8]

Kesimpulan

Demikian pemaparan para ulama dari empat madzhab. Madzhab Syafi’i mengatakan bahwa hukum khitan itu wajib atas laki-laki maupun perempuan. Sedangkan madzhab Hanafi, Maliki dan Hambali tidak memandang khitan atas perempuan dari sisi hukum taklifi, melainkan dari sisi afdhaliyyah (keutamaan). Ketiga madzhab tersebut mengatakan bahwa khitan yang dilakukan pada anak perempuan merupakan tindakan pemuliaan Islam atas perempuan.

Wallahu a’lam bishshawab
Aini Aryani, Lc

Referensi :

  1. Az-Zaila'i, Tabyin Al-Haqaiq Syarh Kanzu Ad-Daqaiq, jilid 1, hal 227
  2. Al-Qarafi, Adz-Dzakhirah, jilid 4, hal 167
  3. Al-Hathab Ar-Ru'aini, Mawahibul Jalil fi Syarhi Mukhtashar Khalil, jilid 3, hal 258
  4. An-Nawawi, Minhajut Thalibin Wa Umdatul Muftiin, jilid 1, hal 306
  5. Zakaria Al-Anshari, Asnal Mathalib Syarah Raudhu Ath-Thalib, jilid 4, hal 164
  6. Al-Haitami, Tuhfatul Muhtaj bi Syarhi Al-Minhaj, jilid 9, hal 198
  7. Al-Khatib Asy-Syirbini, Mughni Al-Muhtaj , jilid 5, hal 539
  8. Ibnu Qudamah, Al-Mughni, jilid 1, hal 64

Bagikan via


Baca Lainnya :

Haid Sudah Selesai, Tapi Belum Mandi Janabah, Bolehkah Berhubungan Suami-Isteri ?
2 August 2016, 08:26 | 2.264 views
Suci Dari Haid di Waktu Ashar, Wajibkah Meng-qadha Shalat Dzuhurnya?
27 July 2016, 09:17 | 1.384 views
Mahram Bagi Wanita Dari Jalur Nasab, Siapa Sajakah?
24 June 2016, 06:05 | 1.626 views
Saat Mandi Janabah, Haruskah Wanita Mengurai Rambutnya Yang Digelung Atau Dikepang?
21 June 2016, 15:50 | 1.181 views
Bolehkah Wanita Mengusap Bagian Atas Kerudungnya Sebagai Ganti Mengusap Kepala Saat Wudhu
7 June 2016, 10:34 | 2.367 views
Bersentuhan Dengan Isteri, Batalkah Wudhu Suami?
28 May 2016, 17:21 | 3.756 views
Angin Keluar Lewat Vagina, Apakah Membatalkan Wudhu Seperti Buang Gas?
20 March 2016, 16:22 | 3.220 views
Belajar Fiqih Wanita Itu Penting. Mengapa?
23 February 2016, 11:27 | 1.964 views
Batasan Bolehnya Mencumbui Isteri Yang Sedang Haid
3 December 2015, 21:01 | 6.667 views
Masuk Waktu Shalat Tapi Belum Mengerjakan, Lalu Keluar Darah Haid. Wajibkah Mengqadha
10 November 2015, 22:11 | 4.982 views
Bolehkah Ayah Biologis Menikahi Puterinya dari Hasil Zina?
30 October 2015, 18:35 | 5.893 views
Sikap Suami-Isteri Yang Syari Tapi Tidak Patut
14 September 2015, 00:24 | 20.585 views
Siapa Keluarga Istri yang Jadi Mahram Bagi Suaminya?
13 July 2015, 07:22 | 9.318 views
Berzina Menjadikannya Mahram Dengan Ibunya?
8 June 2015, 09:41 | 6.563 views
Batasan Aurat Wanita Bagi Mahramnya
5 May 2015, 11:12 | 12.928 views
Hamil, Dicerai, Lalu Keguguran. Selesaikah Iddahnya?
30 April 2015, 17:18 | 3.777 views
Nifas Lebih Dari 60 Hari, Apakah Jadi Haid Atau Istihadlah?
21 April 2015, 17:54 | 17.709 views
Apakah Suara Wanita Termasuk Aurat?
1 May 2014, 05:59 | 24.303 views
Haramkah Potong Rambut dan Kuku Waktu Haidh?
11 April 2014, 05:19 | 47.369 views
Belum Qadha' Puasa Tapi Sudah Datang Ramadhan Berikutnya
10 April 2014, 05:18 | 16.788 views
Wanita Hamil & Menyusui : Qadha Atau Fidyah?
9 April 2014, 05:17 | 17.443 views
Al-Muzani dan At-Thabary Membolehkan Wanita Mengimami Laki-laki, Benarkah?
8 April 2014, 01:17 | 6.357 views
Darah Terputus-putus; Antara Haid & Istihadlah
7 April 2014, 06:32 | 12.725 views
Halal Haram Menyambung Rambut
6 April 2014, 07:10 | 6.153 views
Denda Berhubungan Seksual Saat Haid
5 April 2014, 18:13 | 5.755 views
Islam Cenderung Patriarkal, Benarkah?
3 April 2014, 18:12 | 4.578 views
Masa Iddah, Istri Masih Berhak Dinafkahi?
1 April 2014, 18:11 | 7.885 views

total 714411 views