Raudhah 3 : Ini juga Taman Fiqih | rumahfiqih.com

Raudhah 3 : Ini juga Taman Fiqih

by : Sutomo Abu Nashr, Lc
Fri 12 December 2014 09:10 | 3131 views | bagikan via

Sebagai bentuk tabarruk dengan kitab-kitab para fuqaha diatas, rubrik sederhana ini juga penulis namai dengan menggunakan kata taman. Ar Raudhah al Fiqhiyyah, demikian penamaan dalam bahasa Arabnya. Dalam bahasa Indonesia dengan mudah bisa kita terjemahkan menjadi; Taman Fiqih.

    Motivasi lain yang melatarbelakangi penamaan rubrik ini dengan kata raudhah adalah sebuah harapan besar agar dengan wasilah rubrik ini, penulis di akhirat kelak bisa menikmati taman yang indah di surga. Dan dalam dua ayat suci Al Qur’an, penulis mendapati Al Qur’an melukiskan surga juga dengan kata raudhah. Ayat pertama ada dalam surat Ar Rum (30) ayat 15, dimana kata raudhah tampil dalam bentuk mufrad (tunggal). Sedangkan ayat kedua ada pada surat As Syura (42) ayat 22 yang tampil dalam bentuk jamak; raudhaat (taman-taman surga).

    Diantara taman-taman surga yang pasti sangat amat indah ini, ternyata dua diantaranya bisa kita saksikan di dunia. Dalam dua haditsnya Rasulullah SAW juga menyebutkan kata taman. Hadits Abu Said Al Khudri membawakan frasa raudhah min riyadh al Jannah (taman diantara taman-taman surga) yang posisinya diantara kamar Nabi dan mimbar beliau. Inilah yang populer saat ini dengan raudhah masjid Nabawi yang menjadi tempat shalat sunnah dua rokaat dengan berebutan di Madinah.

    Hadits kedua adalah hadits Anas ibn Malik. Dalam hadits kedua ini, Rasulullah menganjurkan ummatnya agar bersungguh-sungguh mengambil tempat dan bagian jika melewati riyadh al Jannah (taman-taman surga). Ketika ditanya para sahabatnya apa itu taman-taman surga, Rasulullah SAW menjawab, “Majalis ad Dzikr”

    Kurang lebih ada dua makna dari para ulama yang keduanya bisa dibenarkan dalam menafsiri frasa majalis ad Dzikr tadi. Makna pertama adalah dzikir dalam arti membaca dzikir-dzikir seperti tasbih, tahmid, takbir, tahlil dan lain-lain. Dan makna kedua adalah majlis halal dan haram, sebagaimana pemaknaan yang diberikan oleh ‘Atha al Khurasani. Tentu saja pemaknaan Al khurasani tersebut, dalam konteks rubruk raudhah ini bisa kita ungkapkan dengan majlis fiqih

    Kalaupun para pembaca nanti tidak berhasil mendapatkan dan menikmati raudhah dalam rubrik ini, setidaknya raudhah itu sudah penulis rasakan sendiri. Dan bagi penulis pribadi, rubrik ini -dengan mengingatnya sebagai raudhah- adalah media pengingat bagi penulis di kala rasa bosan menyerang saat lelah mentelaah kitab-kitab fiqih. Sebab, meluangkan waktu seluas-luasnya untuk menelaah pelbagai problematika fiqih itu jauh lebih utama dalam pandangan ulama daripada berlelah-lelah dalam ibadah sunnah.

    Alasannya cukup masuk akal. Ibadahnya mereka para ahli ibadah (sunnah) itu manfaatnya hanya terbatas untuk para pelakunya. Sedangkan ilmu fiqihnya para ulama manfaatnya akan keluar menyebar luas dan menular dari pemiliknya hingga ke seluruh umat manusia, termasuk para ahli ibadah itu tadi. Meski begitu, para fuqaha -apalagi di masa silam- tidak berarti bukan ahli ibadah (sunnah).

    Sebab, kalau fiqih adalah sebuah raudhah, maka ibadah sunnah adalah juga merupakan raudhah dalam bentuknya yang lain. Jika kita membaca biografi Imam Nawawi, para ulama yang menuliskan biografi beliau, melukiskan kuatnya ibadah sang Imam dengan dua kata; Sowwam (tak pernah putus berpuasa) dan Qowwam (selalu menghidupkan malam).

Bagikan via


Baca Lainnya :

Raudhah 2 : Taman Fiqih
12 December 2014, 08:47 | 3.346 views
Raudhah 1 : Sepenggal Kisah
22 August 2014, 08:51 | 4.229 views

total 731603 views