Raudhah 6 : Fatwa dalam Bingkai Sastra | rumahfiqih.com

Raudhah 6 : Fatwa dalam Bingkai Sastra

by : Sutomo Abu Nashr, Lc
Fri 13 March 2015 11:34 | 4765 views | bagikan via

Barangkali takdir sejarah akan berbicara lain jika saja Muhammad ibn Idris kecil tak pernah bertemu dengan Muslim ibn Khalid Az Zanji. Mufti Mekah ini benar-benar telah merubah jalan hidup Muhammad Ibn Idris. Di saat Muhammad ibn Idris sedang menikmati hobinya menghafalkan syair-syair, sang mufti menyapanya dengan seuntai nasihat berharga. Nasihat yang menjadikannya kemudian memiliki hobi baru; mempelajari fiqih. Namun hal ini bukan berarti bahwa ia telah meninggalkan sastra. Sebab saat seseorang bertanya tentang ambisinya terhadap sastra, beliau menjawab, “saya mencarinya seperti seorang ibu yang mencari anaknya yang hilang, sementara ia tak memiliki anak lagi selainnya”. 

    Muhammad ibn Idris. Beliaulah yang lebih kita kenal saat ini dengan julukan Imam Syafi’i. Imam madzhab fiqih yang mencintai sastra ini telah memiliki banyak koleksi syair yang digubah selama beliau hidup. Syair-syair gubahannya kemudian atas jasa banyak ulama berhasil dihimpun dalam satu kitab. Para penghimpun itu antara lain ada Ahmad Al ‘Ajmi, Musthafa As Syadzili, M. Ibrahim Haibah dan ‘Abdurrahman Al Mushthawi. 

    Pesan-pesan yang terkandung dalam sastra-sastra Imam syafi’i memang cukup beragam. Ada kritik sosial, etika seorang pelajar, filsafat ilmu, dan juga fatwa-fatwa. Iya, dalam menjawab beberapa persoalan fiqih, Imam syafi’i pernah menyampaikannya dalam bingkai sastra. Apa yang dilakukan oleh Imam syafi’i ini dulu juga pernah dilakukan oleh salah satu khalifah diantara Al Khulafa ar-Rasyidun; Ali ibn Abi Thalib.

Masalah Mimbariyah
Saat itu, Ali Ibn abi Thalib berada diatas mimbar. Dari sinilah salah satu kasus ‘aul yang populer dalam fiqih mawaris itu disebut dengan mimbariyah. Ali ibn abi Thalib yang dikenal bukan saja sangat amat cerdas ini, diatas mimbarnya ia ditanya. Saat itu, ia baru saja akan membuka khutbahnya. Pertanyaannya adalah seputar kematian seseorang yang meninggalkan ahli waris ; seorang istri, dua putri, ayah dan ibu.

    Dalam hitungan yang sebenarnya membutuhkan proses sedikit rumit ini, bisa dijelaskan bahwa istri mendapatkan hak 1/8 karena adanya dua putri. Sedangkan dua putri ini mendapatkan 2/3 yang dibagi dua untuk mereka secara merata. Adapun ayah dan ibu, masing-masing mendapatkan 1/6 dari peninggalan anaknya. Untuk mempermudah perhitungan, semua penyebut dari empat pecahan tersebut kita samakan menjadi 24. Hasilnya ; istri mendapatkan 3/24, dua putri 16/24, ayah 4/24 dan ibu 4/24 yang kalau kita jumlahkan semuanya menjadi 27/24. Inilah ‘aul, yaitu sebuah kondisi dimana pembilangnya jauh lebih banyak daripada penyebutnya.

    Dalam rumusan para ulama fiqih mawaris di kemudian hari, ashlul masalah 24 merupakan satu-satunya ashlul masalah yang paling sedikit ‘aulnya yaitu hanya sekali saja. Ashlul masalah 24 ber ‘aul ke 27. Jadi, kalau kita terapkan pecahan kasus mimbariyah diatas dengan merubah ashlul masalah ke ‘aulnya, maka akan didapatkan perubahan dari 3/24 untuk istri menjadi 3/27, yang kalau pecahan ini kita kecilkan akan menjadi 1/9 yang dalam bahasa arab disebut tusu’ (menggunakan ‘ain).    

    Proses yang rumit ini ternyata berjalan dengan amat cepat dalam akal cerdas Ali ibn Abi Thalib. Maka seperti tanpa jeda untuk berpikir, Ali ibn Abi Thalib langsung memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut dari atas mimbar tepat setelah pertanyaan selesai diajukan. Lebih mengagumkan lagi, fatwa beliau yang seolah tanpa dipikir itu, ia selipkan dalam muqaddimah pidatonya yang bersajak-sajak. Dalam rima ‘ain berfathah itulah jawaban indah atas pertanyaan tersebut beliau sampaikan secara spontan. Dengan membaca hamdalah, beliau memulai untuk menjawab :

الحمد لله الذي يحكم بالحق قطعًا، ويَجْزي كلَّ نفسٍ بما تسعى، وإليه المآب والرجعى، صار ثُمْنُ المرأة تُسعًا

    Rangkaian tulisan ini bukan hendak menghadirkan terjemahannya secara harfiah. Karena betapapun penulis sanggup untuk menemukan terjemahan kata demi kata, himpunan kata-kata terjemahannya nanti benar-benar belum mewakili dan mewadahi setiap rasa dan makna. Penulis terlalu miskin diksi-diksi untuk mengalihbahasakan keindahannya.

    Sebab keindahan sastra dalam muqaddimah pidato ini memang benar-benar hanya bisa dirasakan oleh mereka yang memahami bahasa Arab. Demikian juga dengan hikmah-himah dan fatwa-fatwa Ali Ibn Abi Thalib yang lain. Untuk bisa menikmatinya, dibutuhkan satu ketrampilan dalam memahami bahasa Arab. Yang ingin dijelaskan dalam tulisan ini hanyalah kalimat jawaban yang menyoroti pertanyaan. Itu saja. Kalimat itu ada pada penggal terakhir dari potongan pidato diatas. Maka berubahlah 1/8 hak istri itu menjadi 1/9 (Tusu’a).

    Lalu bagaimana dengan sastra Imam Syafi’i ? Sepertinya kita membutuhkan raudhah atau taman tersendiri untuk rangkaian tulisan yang akan menceritakannya.      

Bagikan via

Baca Lainnya : Sutomo Abu Nashr, Lc

Bibliografi Dalam Islam (bagian-2)
13 January 2017, 08:58 | 1.410 views
Bibliografi Dalam Islam (bagian-1)
8 January 2017, 20:15 | 1.715 views
Fiqih dan Sastra
3 December 2016, 07:21 | 1.619 views
Madrasah Fiqhiyah An-Nizhamiyah
4 July 2016, 02:12 | 2.045 views
Raudhah 6 : Fatwa dalam Bingkai Sastra
13 March 2015, 11:34 | 4.765 views
Raudhah 5 : Mata yang Lapar
17 December 2014, 07:06 | 5.761 views
Raudhah 4 : Nasihat Sang Faqih kepada Calon Faqih
15 December 2014, 23:50 | 4.494 views
Raudhah 3 : Ini juga Taman Fiqih
12 December 2014, 09:10 | 3.380 views
Raudhah 2 : Taman Fiqih
12 December 2014, 08:47 | 3.625 views
Raudhah 1 : Sepenggal Kisah
22 August 2014, 08:51 | 4.545 views

total 811986 views