Pengantar Tafsir Fiqih | rumahfiqih.com

Pengantar Tafsir Fiqih

by : Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA
Tue 1 April 2014 21:30 | 4936 views | bagikan via

Salah satu tujuan terpenting dari diturunkannya Al-Quran adalah sebagai media pensyariatan ragam taklif (beban) kehidupan bagi manusia, baik dalam hal ibadah maupun muamalah. Maka tidak berlebihan jika Ibnu Hazm Az-Zhahiri pernah berkomentar: Tidak ada satupun bab fiqih yang tidak ada sandarannya dari Al-Quran maupun Hadits.

Allah SWT sudah lama menegaskan bahwa tidak ada satupun peristiwa dimuka bumi kecuali sudah ada sandaran hukumnya di dalam Al-Quran:

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ

“…Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu..”(QS. An-Nahl: 89)

Mengomentari ayat diatas, Imam Syafi’i mengatakan:

فليست تنزل بأحد من أهل دين الله نازلة إلا وفي كتاب الله الدليلُ على سبيل الهدى فيها

“Tidaklah ada satu kejadianpun yang menimpa pemeluk agama Allah, kecuali di dalam kitab-Nya pasti terdapat dalil yang menunjukkan jalan penerang atas status hukumnya”

Dari sinilah para ulama sejagat sepakat untuk menjadikan Al-Quran sebagai sumber pokok (al-mashdar al-asasi) dan sumber pertama (al-mashdar al-awwal) dalam berbicara masalah hukum, terutama hukum fiqih.

Pengetahuan tentang Al-Quran ini penting adanya, sebagai syarat bagi mereka yang ingin intens berbicara hukum. Tidak heran menurut As-Syathibi ketika Rasulullah SAW mengatakan: hendaknya suatu kaum diimami oleh mereka yang paling faham tentang Al-Quran. Karena pengetahuan tentang agama ini bermula dari pahamnya seseorang tentang Al-Quran.

Lebih lanjut As-Syathibi mengungkapkan bahwa tidak ada satu ulama pun yang kembali kepada Al-Quran atas sebuah peristiwa kecuali dia akan mendapatkan pijakannya. Bahkan sosok besar Al-Qurthubi menyebut bahwa penjelasan tentang halal dan haram dari Al-Quran adalah bagian dari mu’jizat Al-Quran, dan kita tahu bahwa halal dan haram termasuk bahasan utama dalam fiqih.

Pengertian Tafsir Fiqih

Tafsir Fiqih ini terdiri dari dua kata; Tafsir dan Fiqih. Secara umum menurut Az-Zarkasyi para ulama sering memberikan pengertian tafsir dengan:

علم يفهم به كتاب الله المنزل على نبيه محمد صلى الله عليه وسلم وبيان معانيه واستخراج أحكامه وحكمه

“Ilmu yang dengannya digunaan untuk memahami kitab Allah (Al-Quran) yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, dan menjelaskan makna-maknanya, serta memberikan pengetahuan tentang hukum-hukum didalamnya, dan hikmah-hikmah”

Sedangkan pengertian fiqih sering diungkap dengan:

العلم بالأحكام الشرعية العملية المكتسب من أدلتها التفصيلية

”Ilmu yang membahas hukum-hukum syariat bidang amaliyah (perbuatan nyata) yang diambil dari dalil-dalil secara rinci”

Tafsir Fiqih ini juga dikenal dengan istilah Tafsir Fuqaha, ada juga ulama yang mnyebutnya dengan Tafsir Ahkam. Penulis sendiri lebih sepakat dengan sebutan Tafsir Fiqih, karena pada dasarnya tafsir ini mempunyai corak khusus, dimana tema bahasannya seputar hukum fiqih.

Jadi fiqih itu adalah pengkhususan dari kata Ahkam yang maknanya masih umum. Didalam Al-Quran pembicaraan tentang ahkam itu meliputi tiga hal; ahkam i’tiqadiyah, ahkam khuluqiyah, dan ahkam amaliyah (fiqhiyah).

Hukum i’tiqadi membahas masalah keyakinan, tema sentralnya berbicara masalah keimanan kepada Allah, malaikat, kitab, rasul, hari akhir dan takdir, lebih jelas ayat-ayat seputar hukum i’tiqadi ini aka dibahasa dalam bidang ilmu aqidah atau tauhid atau ilmu kalam.

Sedangkan hukum khuluqi membahas tentang akhlak, yang nantinya secara rinci akan dibahasa dalam ilmu tarbiyah, sehingga dari pengetahuan seperti ini diharapkan setiap muslim akam mempunyai akhlak yang baik, serta meninggalkan perilaku yang tercela.

Hukum amali adalah hukum yang berbicara tentang perilaku ‘nyata’ manusia, inilah yang disebut dengan fiqih Al-Quran yang menjadi objek bahasan para ulama dalam penulisan tafsir fiqih.

Kumpulan penafsiran atas ayat-ayat yang bertemakan fiqih inilah yang disebut dengan Tafsir Fiqih, atau Tafsir Ayat Ahkam, atau Fiqh Al-Kitab. Objek bahasannya seputar masalah fiqih ibadah; shalat, puasa, zakat, haji, nadzar, sumpah, dst, juga fiqih muamalah; berbagai aqad muamalah, jinayah, dan lain sebagainya.

Perkembangan Tafsir Fiqih

Sebenarnya keberadaan Fafsir Fiqih ini sudah lama adanya, kehadirannya bersamaan dengan diturunkannya Al-Quran kepada Rasulullah SAW selaku manusia pertama yang mempunyai otoritas dalam memberikan Tafsir Fiqih atas ayat yang diturunkan kepadanya.

Otoritas ini diberikan langsung oleh Allah SWT kepada baginda Muhammad SAW:

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

“…dan Kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan” (QS. An-Nahl: 44)

Lalu sepeninggal Rasulullah SAW penafsiran fiqih dilanjutkan oleh para sahabat yang benar-benar memumpuni dibidangnya, tidak asal sahabat berhak dan berani menafsirkan, sekaliber Abu Bakar pun rada takut, kalau – kalau apa yang ditafsirkannya berseberangan dengan apa yang diinginkan Allah dan Rasul-Nya, beliau berujar: “Langit mana yang menaungiku dan bumi mana yang membawaku, jika aku berkata tentang Al-Quran sesuatu yang tidak aku mengerti”

Pada fase ini sudah mulai muncul perdebatan dan perbedaan pendapat dalam menafsirkan ayat-ayat hukum, perbedaan ini adalah sebuah keniscyaan, seiring dengan munculnya permasalah baru yang belum pada masa Rasulullah SAW masih hidup.

Keberadaan khilaf dalam penafsiran ini bukanlah menjadi momok yang harus diatjuti, asalkan perbedaan itu bersumber dari mereka yang benar-benar layak untuk memberikan penafsiran.

Keberadaan para sahabat dalam dunia penafsiran ini menjadi teladan bagi para tabi’in yang datang setelahnya. Seorang pembesar tabi’in Abu Abdurrahamn As-Sulami mengatakan: "Tidaklah kami berpindah dari sepuluh ayat yang kami baca kecuali kami mengerti dulu perihal halal dan haram, perintah dan larangan-Nya”

Perkembangan penafsiran fiqih ini terus meluas seiring dengan berkembanganya Islam ke berbagai penjuru dunia, dan seiring dengan munculnya masalah-masalah baru, sampailah pada masa munculnya madzhab fiqih, dimasa ini hampir semua madzhab fiqih berusaha menulis tafsir fiqih sesuai dengan pemahaman madzhab fiqih yang mereka anut.

Dan menurut sebagian ulama Imam Syafi’ilah yang pertama kali menuliskan tafsir dengan corak fiqih ini pada masanya dalam kitabnya Ahkam Al-Quran, walaupun ada yang berpendapat lain, dengan menyebut nama semisal As-Syaikh Abu Al-Hasan Ali bin Hajar As-Sa’di (w. 244 H) dalam kibnya Ahkam Al-Quran.

Di lain pihak ada juga yang menyebutkan nama lain yaitu Abu An-Nashr Muhammad bin Sa’ib (w. 144) dalam kitabnya Ahkam Al-Quran, seperti yang ditulis oleh Abdullah bin Abdul Hamid dalam tesis magisternya dibawah bimbingan Dr. Abdul Aziz Ad-Dardir Musa.

Kitab-Kitab Tafsir Fiqih

Madzhab Hanafi

  1. Ahkam Al-Quran, Abu Ja’far Ahmad bin Muhammad bin Salamah At-Thahawi Al-Hanafi (w. 321 H)
  2. Ahkam Al-Quran, Abu Al-Hasan Ali bin Musa bin Yazdad Al-Hanafi (w. 350 H)
  3. Ahkam Al-Quran, Ahmad bin Ali Ar-Razi, lebih dikenal dengan Al-Jasshash Al-Hanafi (w. 370 H)
  4. Talkhish Ahkam Al-Quran, Tahdzib Ahkam Al-Quran, Jamauddin Mahmud bin Mas’ud, lebih dikenal dengan Ibnu Siraj Al-Hanafi (w. 770 H)
  5. At-Tafsirat Al-Ahmadiyah fi Bayan Al-Ahkam As-Syar’iyyah, Ahmad bin Abi Sa’id bin Ubaidillah Al-Hanafi (w. 1130 H)
Madzhab Maliki
  1. Ahkam Al-Quran, Abu Abdillah Muhammad bin Sahnun Al-Qairuwani (w. 255 H)
  2. Ahkam Al-Quran, Al-Qadhi Abu Ishaq Isma’il bin Ishaq bin Isma’il Al-Maliki (w. 282 H)
  3. Ahkam Al-Quran, Abu Al-Hakam Mundzir bin Sa’id bin Abdillah Al-Maliki (w. 355 H)
  4. Ahkam Al-Quran, Abu Bakr Muhammad bin Abdillah, yang dikenal dengan Ibnu Al-Arabi (w. 543 H)
  5. Al-Jami’ li Ahkam Al-Quran, Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad Al-Anshari Al-Qurthubi (w. 671 H)
Madzhab Syafi’i
  1.  Ahkam Al-Quran, Imam Syafi’i (w. 204)
  2. Ahkam Al-Quran, Abu Tsaur Ibrahim bin Khalid Al-Kalbi Al-Baghdadi As-Syafi’i (w. 240 H.)
  3. Ahkam Al-Quran, Imaduddin Abu Al-Husain Ali bin Muhammad At-Thabari, dikenal degan Al-Kiya Al-Harasi As-Syafi’i (w. 450 H)
  4. Al-Iklil fi Istinbath At-Tanzil, Jalaluddin As-Suyuthi As-Syafi’i (w. 911 H)
  5. Ahkam Al-Kitab Al-Mubin, Ali bin Abdillah bin Mahmud As-Syafi’i (w. 890 H)
Madzhab Hanbali
  1. Ahkam Al-Quran, Abu Ya’la Muhammad bin Al-Husain bin Muhammad bin Khalaf bin Farra’ Al-Hanbali (w. 458)
  2. Ahkam Ar-Ray bin Ahkam Al-Ay, Syamsuddin Muhammad bin Abdirrahman As-Sha’igh Al-Hanbali (w. 776 H)
  3. Azhar Al-Fulah fi Ayah Qashr As-Shalah, Mar’i bin Yusuf bin Abi Bakr Al-Maqdisi Al-Hanbali (w. 1033 H)

Wallahu A’lam Bisshawab

Bagikan via

Baca Lainnya :

Penetapan Awal Ramadhan
11 May 2017, 10:24 | 584 views
Qadha Shalat
8 February 2017, 08:52 | 1.838 views
Adzan
11 January 2017, 05:00 | 1.487 views
Mujtahid dan Muqallid
4 January 2017, 08:05 | 1.397 views
Fiqih Dalam Al-Quran
21 December 2016, 01:20 | 1.473 views
Faidah Fiqih Dari Kisah Nabi Khidhr dan Musa AS
5 December 2016, 07:29 | 1.853 views
Doa Khatam Al-Quran (2)
15 July 2016, 19:11 | 1.287 views
Doa Khatam Al-Quran (1)
4 July 2016, 10:28 | 984 views
Lakum Dinukum Waliyadin
16 December 2015, 00:00 | 20.101 views
Syariat Puasa
17 June 2015, 07:01 | 5.159 views
Nikah Beda Agama
11 September 2014, 04:29 | 55.364 views
Bolehkah Perempuan Berkarir?
11 July 2014, 09:58 | 12.598 views
Fidyah Puasa
14 June 2014, 06:00 | 25.123 views
Ibu Hamil dan Menyusui Boleh Berbuka
31 May 2014, 05:00 | 5.174 views
Mudik, Berbuka atau Tetap Berpuasa?
20 May 2014, 08:22 | 4.595 views
Sakit Yang Membolehkan Berbuka
17 May 2014, 21:47 | 3.487 views
Shalat Menghadap (Arah) Ka
20 April 2014, 07:58 | 5.851 views
Shalat Menghadap (Arah) Ka
20 April 2014, 06:37 | 4.618 views
Sekufu’ Dalam Menikah
12 April 2014, 05:00 | 14.031 views
Berapakah Jumlah Ayat Hukum?
2 April 2014, 06:29 | 5.314 views
Pengantar Tafsir Fiqih
1 April 2014, 21:30 | 4.936 views

total 761923 views