Berapakah Jumlah Ayat Hukum? | rumahfiqih.com

Berapakah Jumlah Ayat Hukum?

by : Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA
Wed 2 April 2014 06:29 | 5572 views | bagikan via

Ketika membahas Tafsir Ahkam (hukum) atau yang juga sering disebut dengan istilah Tafsir Fiqih, kita dihadapkan pada sebuah pertanyaan besar; Berapa jumlah ayat yang hukum tersebut didalam Al-Qur’an? Mengingat bahwa bahan rujukan utama ketika berbicara tafsir adalah ayat-ayat Al-Quran.

Ada dua pendapat besar dalam masalah perbedaan para ulama dalam menentukan berapa jumlah ayat hukum ini. Namun sepertinya perbedaan itu berangkat dari perbedaan sebelumnya dalam memaknai apa itu ayat hukum?

Satu pihak mungkin ada yang menilai bahwa ayat hukum yang dimaksud adalah memang ayat yang secara redaksi berbicara tentang hukum, namun pendapat lainnya menilai bahwa ayat apa saja asalkan darinya kita bisa menyimpulkan hukum walaupun secara redaksi tidka berbicara hkum, maka ayat seperti ini juga bisa masuk katagori ayat hukum.

Pendapat Pertama

Para ulama semisal Al-Ghazali, Ar-Razi, Al-Mawardi dan lainnya menilai bahwa jumlah ayat hukum itu terbatas dalam jumlah ayat tertentu. Pendapat ini disebutkan oleh Al-Ghazi dalam Al-Mustashfa, Ar-Razi dalam Al-Mahshul, dan Al-Mawardi dalam Adab Al-Qadhi.Akan tetapi mereka yang berpendapat seperti ini pada akhirnya juga berselesih faham dalam jumlah pastinya.

Ibnu Al-Arabi misalnya, beliau berpedapat bahwa jumlah ayat hukum dalam Al-Quran lebih dari 800 ayat, namun Al-Ghazali menilai bahwa jumlahnya kisaran 500an ayat saja, dilan pihak As-Shan’ani berpendapat bahwa jumlahnya berkisar 200an ayat, dan pendapat Ibnu Al-Qayyim hanya meyakini bahwa jumlahnya lebih kurang 150an ayat saja.

Pendapat Kedua

Ini adalah pendapat mayoritas ulama yang menilai bahwa ayat hukum itu tidak terbatas jumlahnya, semua ayat dalam Al-Quran memungkin bagi kita untuk menyimpulkan hukum darinya, walaupun dalam aslinya ayat tersebut secara redaksional tidak sedang berbicara masalah hukum, hal ini sesuai dengan penejeasan Az-Zarkasyi dalam Al-Burhan fi Ulum Al-Quran, pun begitu juga menurut keterangan As-Suyuthi dalam Al-Itqan.

Menurut Najmuddin At-Thufi seperti yang dinukil oleh Izzuddin bin Abdis Salam dalam kitabnya Al-Imam fi Bayani Adilah Al-Ahkam menerangkan bahwa kesimpulan hukum itu tidak hanya bisa didapat dari ayat-ayat perintah (al-awamir) atau ayat-ayat larangan (an-nawahi) saja, namun lebih jauh dari sana bahwa ayat-ayat yang isinya cerita pun (al-qashash) bisa dipakai untuk meng-istimbath (menyimpulkan) sebuah hukum, begitu dengan ayat-ayat yang isinya nasihat (mau’izhah).

Az-Zarkasyi menilai bahwa pendapat kedua lebih utama karena dua alasan. Pertama: bahwa memang banyak hukum-hukum didalam Al-Quran itu didapat memalui penjelasan ayat Al-Quran yang memang secara redaksi menyebutkannya dengan jelas.

Misalnya saja kita akan dengan mudah mendapatkan penjelasn hukum tentang puasa melalui ayat berikut:

يا أيها الذين آمنوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْصِّيَامُ

“Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa” (QS. Al-Baqarah: 183)

Dan bahwa keberadaan hukum puasa itu akan sangat bergantung dengan hitungan bulan bukan matahari, dan keterangan hukum seperti ini dengan tidak tertalu sulit biasa kita temukan lewat penjelasan ayat berikut:

فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الْشَهْرَ فَلْيَصُمْهُ

“Barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu”(QS. Al-Baqarah: 185)

Model ayat yang banyak menyebutkan hukum secara rekasi ini biasanya diapat pada ayat-ayat surat Al-Baqarah, An-Nisa dan Al-Maidah.

Kedua: Bahwa penjelasan hukum dalam Al-Quran juga bisa dapat dengan metode istinbath (menyimpulkan) karena memang secara redaksional ayat tersebut tidak menyebutkan hukum secara gamblang.

Kesimpulan ini bisa didapat baik lewat satu ayat, atau dengan menggabunggabungkan banyak ayat yang tersebar pada surat yang bebeda, atau juga menggabunggkan ayat dengan hadits Rasulullah SAW.

Misalnya pada ayat berikut:

فالآن بَاشِرُوْهُنَّ وَابْتَغُوْا مَا كَتَبَ اللهُ لَكُمْ وَكُلُوْا وَاشْرَبُوْا حَتَى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْر

“Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan Makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, Yaitu fajar”(QS. Al-Baqarah: 187)

Dari satu ayat ini para ulama berpendapat bahwa tidak mengapa untuk berpuasa walaupun ketika subuh datang masih dalam keadaan junub (hadats besar), walaupun pada ayat diatas secara redaksional tidak disebutkan dengan jelas hukumnya, namun mata bathin para ulama bisa menangkap sinyal itu.

Misal berikutnya adalah penjelasan Al-Quran mengenai masa minimal kehamilan seorang perempuan. Al-Quran tidak menyebut secara tegas tentang usia minimal hamil, namun paa ulama menyimpulkan bahwa usia minimal hamil bagi perempuan itu adalah enam bulan.

Batasan ini disandarkan kepada sebuah atsar (perkataan sahabat) bahwa dulunya ada seorang laki-laki yang menikah, lalu dalam kurun waktu enam bulan dari pernikahannya mereka sudah memperoleh anak.

Melihat kenyataan seperti ini maka Utsman bin Affan ra. seakan kaget, dan terdetik didalam hatinya untuk menghukum mereka dengan sangkaan zina, lalu datanglah Ibnu Abbas ra, kemudian beliau memberikan penjelasan.

Mula-mula, Ibnu Abbas membacakan potongan sebuah sebuah ayat berikut:

وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلاَثُونَ شَهْرًا

“Ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan”(QS. Al-Ahqaf: 15)

Lalu kemudian Ibnu Abbas melanjutkan penjelasannya dengan membaca ayat lainnya:

وَالْوَالِدَاتُ يَرْضِعْنَ أَوْلاَدَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ

“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh” (QS. Al-Baqarah: 233)

Ibnu Abbas mengatakan bahwa ayat yang pertama memberikan penjelasan kepada kita tentang rentang waktu kehamilan hingga menyapih anak dari susuan ibunya selama tiga puluh bulan, sedang ayat kedua menjelaskan kepada kita tentang waktu menyusui yaitu selama dua tahun (atau sama dengan dua puluh empat bulan).

Jadi jika waktu hamil sampai menyapih dikurangi waktu menyusui maka hasilnya adalah enam bulan, dan itulah sekurang-kurangnya umur kehamilan.

Kesimpulan hukum seperti ini tidak didapat secara redaksi ayat, namun kesimpulan ini justru didapat dari satu ayat yang digabungkan dengan ayat lainnya sehingga muncullah sebuah kesimpulan hukum.

Cara kerja menyimpulkan hukum seperti ini tidak semudah yang dibayangkan, yang demikian jobnya para ulama, bukan hanya sebatas ustadz saja, yang bukan ulama hendaknya tahu diri dengan tidak mencoba-coba mengutak-atik ayat sehingga darinya keluarlah sebuah kesimpulan hukum baru.

Para ulama yang dimaksud adalah mereka yang memang secara ilmu pengetahuan memenuhi kualifikasinya, dan secara ketaqawaan juga memenuhi standarnya, sehingga kesimpulan hukum dari mereka tidak hanya teruji dalam dunia akademis, namun lebih dari sana bahwa kesimpulan mereka layak untuk diikuti oleh mereka yang bukan ulama.

Dengan kenyataan seperti itulah maka salah satu bentuk mukjizat Al-Quran bahwa dari semua ayat-ayat nya ternyata bisa diambil sebuah hukum, dan dengan kenyataan ini juga mayoritas ulama menilai bahwa ayat hukum itu tidak ada batasannya.

Namun kita juga tidak bisa dengan serta-merta menyalahkan para ulama yang menilai bahwa ayat hukum itu terbatas, sebab pendapat itu muncul justru hadir karena mereka menilai bahwa ayat hukum yang dimkasud adalah memang ayat yang secara rekadsi menyebutkan tentang hukum.

Wallahu A’lam Bisshawab

Bagikan via

Baca Lainnya : Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA

Penetapan Awal Ramadhan
11 May 2017, 10:24 | 1.747 views
Qadha Shalat
8 February 2017, 08:52 | 3.412 views
Adzan
11 January 2017, 05:00 | 2.633 views
Mujtahid dan Muqallid
4 January 2017, 08:05 | 2.496 views
Fiqih Dalam Al-Quran
21 December 2016, 01:20 | 2.450 views
Faidah Fiqih Dari Kisah Nabi Khidhr dan Musa AS
5 December 2016, 07:29 | 3.116 views
Doa Khatam Al-Quran (2)
15 July 2016, 19:11 | 1.456 views
Doa Khatam Al-Quran (1)
4 July 2016, 10:28 | 1.269 views
Lakum Dinukum Waliyadin
16 December 2015, 00:00 | 20.351 views
Syariat Puasa
17 June 2015, 07:01 | 5.358 views
Nikah Beda Agama
11 September 2014, 04:29 | 55.652 views
Bolehkah Perempuan Berkarir?
11 July 2014, 09:58 | 12.863 views
Fidyah Puasa
14 June 2014, 06:00 | 25.432 views
Ibu Hamil dan Menyusui Boleh Berbuka
31 May 2014, 05:00 | 5.340 views
Mudik, Berbuka atau Tetap Berpuasa?
20 May 2014, 08:22 | 4.805 views
Sakit Yang Membolehkan Berbuka
17 May 2014, 21:47 | 3.665 views
Shalat Menghadap (Arah) Ka
20 April 2014, 07:58 | 6.077 views
Shalat Menghadap (Arah) Ka
20 April 2014, 06:37 | 4.777 views
Sekufu’ Dalam Menikah
12 April 2014, 05:00 | 14.388 views
Berapakah Jumlah Ayat Hukum?
2 April 2014, 06:29 | 5.572 views
Pengantar Tafsir Fiqih
1 April 2014, 21:30 | 5.159 views

total 831846 views