Ahmad Zarkasih, Lc

Imam Abu Hanifah dan Imam Al-Baqir

Thu, 3 April 2014 02:08

Suatu ketika Imam Abu Hanifah (150 H) sempat bertemu dan berdialog dengan Imam Muahmmad Al-Baqir (114 H), yang mana beliau adalah guru dan faqihnya Ahl Bait. (Ada yang mengatakan bahwa yang berdialog itu Zaid bin Ali Zainal-‘Abidin (122 H), yang merupakan adik dari Imam Muhammad Al-baqir).

Ketika itu Imam Abu Hanifah memang sudah dikenal sebagai salah satu dari Fuqaha’ Al-‘Iraq (ahli fiqih Iraq), ada juga yang menyebutnya sebagai faqih Al-Kufah yang terkenal banyak menggunakan qiyas dalam mengistinbath sebuah hukum syariah.

Sayangnya, kabar penggunaan qiyas dan juga ra’yun (Istihsan) sering dinegatifkan oleh sebagian orang ketika itu, sehingga Imam Abu Hanifah dan beberapa ulama fiqih Iraq sering sekali dituduh sebagai ulama yang banyak meninggalkan atsar/hadits dalam menentukan sebuah hukum syariah. Padahal sejatinya tidak demikian.

Kabar itu sangat membuat Imam Muhammad al-Baqir marah, akhirnya ketika bertemu dalam salah satu perjalanan hajinya, Imam Abu Hanifah yang memang sudah tahu kebesaran dan keluasan ilmu Imam Muhammad Al-Baqir langsung mendatangi beliau dan mempekenalkan diri. Kemudian Imam Muhammad Al-Baqir bertanya:

“kamu yang bernama Nu’man bin Tsabit yang dari kufah itu? Kamu yang merubah agama kakekku (Nabi Muhammad saw) dengan qiyas?”

Imam Abu Hanifah menjawab; “Maadzallahu. Aku sama sekali tidak pernah merubah agama kakek anda wahai guru dengan qiyas! Aku menggunakan qiyas pada perkara yang memang tidak ada dalilnya dari al-quran dan sunnah serta qaol sahabiy”

Imam Abu Hanifah meneruskan: “sebagai bukti kalau aku tidak merubah agama Muhammad saw dengan qiyas, aku punya 3 pertanyaan untuk anda, tua guru! Mana yang lebih lemah, laki-laki atau wanita?”

Imam Muhammad Al-Baqir menjawab: “wanita lebih lemah dari laki-laki!”, Imam Abu Hanifah: “baik, agama kakekmu katakana bahwa untuk laki-laki itu 2 jatah (waris), dan wanita satu jatah. Dan aku pun mengatakan demikian, sama seperti kakekmu. Kalau seandainya aku menggunakan qiyas, pastilah aku katakana bahwa wanita dapat jatah 2 dan laki-laki satu, karena wanita itu lebih lemah dari laki-laki. Karena ia lemah maka pantas untuk mendapat lebih. Tapi aku tidak katakan demikian.”

Imam Abu Hanifah: “kedua, mana yang lebih afdhol, puasa atau sholat?”, Imam Muhammad Al-Baqir: “tentu sholat lebih afdhol dari puasa!”.

Imam Abu Hanifah: “ya. Sholat lebih afdhol dari puasa. Agama kakekmu bilang bahwa wanita yang haidh tidak mengqadah sholatnya tapi mengqadha puasanya. Dan akupun berendapat seperti apa yang dikatakan oleh kakekmu. Kalau seandainya aku menggunakan qiyas, pastilah aku katakan wanita haidh harus mengqadah sholatnya bukan puasanya, karena sholat lebih afdhol dari puasa.”

Imam Abu Hanifah: “ketiga, mana yang lebih najis, air mani atau air kencing?”, Imam Al-Baqir: “air kencing lebih najis dari air mani.”

Imam Abu Hanifah: “ya. Air kencing lebih najis daripada air mani. Agama kakekmu juga katakan bahwa cukup wudhu untuk air kencing dan harus mandi (janabah) untuk air mani. Dan akupun mengatakan demikian! Kalau seandainya aku menggunakan qiyas, pastilah aku katakana bahwa untuk air kencing mandi, dan untuk air mani cukup wudhu saja, karena air kencinglebih najis daripada air mani. Tapi aku tidak katakana begitu!”

Mendengar jawabannya itu, Imam Muhammad bin Ali langsung memeluk Imam Abu Hanifah An-Nu’man dan mencium keningnya.

Fatwa Sahabat Lebih Didahulukan dari Qiyas

Terkait kabar tentang ahli fiqih Irqa meninggalkan hadits dan beralih kepada qiyas atau ra’yu, tidak mutlak dibenarkan. Karena mereka juga menggunakan hadits, hanya saja memang kadar penggunaan qiyas jauh lebih banyak dibanding dengan hadits atau atsar. Tentu bukan karena tanpa sebab.

Banyak factor yang membuat ahli Iraq menggunakan ra’yu dalam pengambilan hukum, sebagaimana sahabat yang menjadi bibit terciptanya madrasah Al-Iraq ini, yaitu Ibnu Mas’ud 932 H) dan juga Imam Ali bin Abi Thalib (40 H).

Fuqaha Al-Hijaz (Mekah dan Madinah) pun demikian, mereka dikenal sebagai madrasah fiqih yang banyak menggunakan hadits. Padahal tidak demikian, mereka juga punya kadar tertentu yang mana mereka menggunakan ra’yu sebagai media pengambilan hukum, yang hasilnya sering disebut dengan istilah maslahah. Dan ini banyak dipraktekan oleh Imam mereka sendiri, sayyidina Umar bin Khaththab (23 H).

Dan kemudian juga diteruskan oleh para 7 AHli Fiqih Madinah yang hampir kesemuanya menjadi penasehat keagamaan bagi khalifah ketika itu. Di antaranya ialah Said bin Al-Musayyib (94 H), juga ‘Ubaidillah bin Abdillah bin ‘Utbah (94 H) yang menjadi penasehat khalifah Umar bin Abdul Aziz (101 H).

Dan sejatinya agak keliru juga kalau madzhabnya Imam Abu Hanifah dikatakan sebagai pewaris madrasah Kufah/’Iraq saja, karena dalam catatan hidupnya, Imam Abu Hanifah jua mewarisi fiqih Madrasah Atsar dari Mekkah melalui ‘Atha’ bin Abi Rabah (114 H). yang mana beliau berguru langsung kepada ‘Atha’ ketika berada di Mekkah dan sempat tinggal lama, bahkan terulang setiap tahun. Karena sejarawan menyebutkan bahwa Imam Abu Hanifah pergi haji dalam hidupnya sebanyak 55 kali, jadi frekuensi pertemuannya pun sangat lama.

Baiknya kita tutup tulisan ini dengan berpakataan Imam Hanani yang masyhur ini yang kemudian dijadikan sebagai ushul madzhabnya, bahwa Imam Abu Hanifah tidak asal berijtihad, bahkan fatwa sahabat pun menjadi dalil bagi mereka.

Di tengah majli yang dihadiri oleh para muridnya, termasuk Imam Abu Yusuf (182 H) dan Imam Muhammad bin Al-Hasan Al-Syaibani (189 H):

“Aku mengambil (hukum) dengan kitab Allah swt (al-Quran), dan apa yang aku tidak dapati di Al-Quran, aku mengambil dari hadits-hadits Nabi saw. Kalau aku tidak menemukannya di Al-Quran dan juga tidak di hadits Nabi saw, aku mengambil dari fatwa (perkataan) para sahabat Nabi saw, aku mengambil dari mereka yang aku mau, dan aku tingalkan yang aku mau (memilih), akan tetapi aku tidak keluar dari perkataan mereka kepada selain mereka (sahabat).

Kalau dari para sahabat juga aku tidak menemukan, atau perkara ini sampai pada Ibrahim Al-Nakho’i, SUfyan Al-Tsauri, Al-Sya’bi, Hasan Al-Bashri, ‘Atho, dan Said bin Al-Musayyib dan beberapa orang lain (dari kalangan tabi’in), maka aku berijtihad sebagaimana mereka berijtihad!”

Begitu juga dengan redaksi yang sama disebutkan oleh Imam Al-Mizi dalam kitabnya Tahdzib Al-Kamal (29/443). Begitu oleh Imam Ibnu Abdil Barr (463 H) dalam kitabnya Al-Intiqo’ fi Fadhoil Al-Tsalastah Al-Aimmah Al-Fuqoha’ (hal 144).

LAINNYA
Sanad Fiqih Imam Asy-Syafii (bag-1-masyayikh-hijaz)
Ahmad Zarkasih, Lc | Mon, 22 May 2017 09:30
Mencampuradukan Madzhab, Bolehkah?
Ahmad Zarkasih, Lc | Tue, 24 January 2017 04:39
Sanad Fiqih Imam Malik
Ahmad Zarkasih, Lc | Tue, 10 January 2017 04:36
Madzhab, Apa dan Bagaimana?
Ahmad Zarkasih, Lc | Tue, 27 December 2016 05:20
Lebih Utama Tidak Berbeda
Ahmad Zarkasih, Lc | Sun, 4 December 2016 07:24
Saya Pilih Madzhab Apa?
Ahmad Zarkasih, Lc | Sat, 23 July 2016 05:33
Bermadzhab, Untuk Apa?
Ahmad Zarkasih, Lc | Tue, 5 July 2016 17:12
Mencatut Nama Qur'an dan Sunnah, Bukan Pekerjaan Ulama Salaf!
Ahmad Zarkasih, Lc | Tue, 26 January 2016 05:24
Sahabat Nabi SAW Tidak Bermadzhab, Benarkah?
Ahmad Zarkasih, Lc | Mon, 25 January 2016 05:43
Bermadzhab, Untuk Apa?
Ahmad Zarkasih, Lc | Sat, 1 August 2015 11:10
Bermadzhab, Untuk Apa?
Ahmad Zarkasih, Lc | Thu, 15 January 2015 16:40
Orang Awam Wajib Taqlid Kepada Ulama
Ahmad Zarkasih, Lc | Mon, 8 December 2014 00:00
Relativisme Kebenaran Dalam Fiqih
Ahmad Zarkasih, Lc | Tue, 12 August 2014 17:55
Madzhab Fiqih Yang Hilang [Bag. 1]
Ahmad Zarkasih, Lc | Tue, 3 June 2014 04:23
Semua Orang Mengaku Syafiiyah Karena Haditsnya Shahih?
Ahmad Zarkasih, Lc | Tue, 20 May 2014 11:27
Selain Madzhab Empat
Ahmad Zarkasih, Lc | Fri, 2 May 2014 16:37
Kenapa Imam Ahmad Punya Banyak Riwayat Fatwa?
Ahmad Zarkasih, Lc | Tue, 22 April 2014 14:24
Kenapa Imam Syafii Digelari Pembela Sunnah?
Ahmad Zarkasih, Lc | Thu, 17 April 2014 09:19
Ini Pendapatku, Bukan al-Quran dan Sunnah
Ahmad Zarkasih, Lc | Sun, 6 April 2014 17:09
Sebelum Imam Syafi'i, Imam Madzhab Tidak Punya Ushul?
Ahmad Zarkasih, Lc | Fri, 4 April 2014 09:13
Imam Abu Hanifah dan Imam Al-Baqir
Ahmad Zarkasih, Lc | Thu, 3 April 2014 02:08
Madzhab Fiqih Zaidiyah
Ahmad Zarkasih, Lc | Wed, 2 April 2014 02:07
Imam Malik, Hadits Mursal dan Amal Ahli Madinah
Ahmad Zarkasih, Lc | Tue, 1 April 2014 02:06
Imam Abu Hanifah dan Qiyas
Ahmad Zarkasih, Lc | Mon, 31 March 2014 02:05
Mengenal Madzhab-Madzhab Fiqih (Bag. 3)
Ahmad Zarkasih, Lc | Sun, 30 March 2014 02:04
Mengenal Madzhab-Madzhab Fiqih (Bag. 2)
Ahmad Zarkasih, Lc | Sat, 29 March 2014 02:04
Mengenal Madzhab-Madzhab Fiqih (Bag. 1)
Ahmad Zarkasih, Lc | Fri, 28 March 2014 02:03

Jadwal Shalat DKI Jakarta

8-8-2020
Subuh 04:44 | Zhuhur 12:00 | Ashar 15:22 | Maghrib 17:58 | Isya 19:08 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Pustaka | Radio | Jadwal
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img