Shalat Menghadap (Arah) Ka | rumahfiqih.com

Shalat Menghadap (Arah) Ka

by : Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA
Sun 20 April 2014 06:37 | 4617 views | bagikan via

Perkara shalat memang penting untuk terus dibicarakan, paling tidak maksudnya adalah untuk mengingatkan kembali tentang pentingnya shalat, dan bahwa jika sudah baligh (sampai umur) bagaimana caranya agar shalat bisa terus dilaksanakan.

Fenomena meninggalkan shalat khususnya dinegri kita sudah bukan menjadi rahasia umum, hanya karena sebab sepele terkadang dengan beraninya bolos untuk tidak shalat. Berani bolos dari absen Tuhan, tapi sangat takut bolos dari absen bos.

Jutaan manusia disetiap sorenya tumpah-ruah di jalan-jalan raya ibu kota Jakarta, dari sebelum adzan ashar biasanya jalanan sudah mulai padat, terlebih ketika waktu maghrib, padatnya bahkan sudah tidak bisa merayap.

Kadang penulis hanya berusaha berbaik sangka bahwa mereka semua insya Allah melaksanakan shalat ashar dan magrib di tempat-tempat istirahat disepanjang jalanan tersebut.

Tentunya kita semua berharap bahwa shalat yang dikerjakan bisa diterima disisi Allah SWT. Selain keikhlasan ada faktor lain yang sangat mempengaruhi diterimanya sebuah ibadah, yaitu sesuai dengan aturan-aturan yang Allah dan RasuluNya jelaskan.

Dan diantara aturan shalat yang harus diperhatikan adalah arah menghadap ketika shalat dikerjakan. Terkhusus untuk shalat lima waktu yang dikerjakan disetiap harinya, dimanapun kita berada.  

Ayat Al-Quran

 

سَيَقُولُ السُّفَهَاءُ مِنَ النَّاسِ مَا وَلَّاهُمْ عَنْ قِبْلَتِهِمُ الَّتِي كَانُوا عَلَيْهَا قُلْ لِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ (142) وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا وَمَا جَعَلْنَا الْقِبْلَةَ الَّتِي كُنْتَ عَلَيْهَا إِلَّا لِنَعْلَمَ مَنْ يَتَّبِعُ الرَّسُولَ مِمَّنْ يَنْقَلِبُ عَلَى عَقِبَيْهِ وَإِنْ كَانَتْ لَكَبِيرَةً إِلَّا عَلَى الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ إِنَّ اللَّهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوفٌ رَحِيمٌ (143) قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ وَإِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ (144) وَلَئِنْ أَتَيْتَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ بِكُلِّ آيَةٍ مَا تَبِعُوا قِبْلَتَكَ وَمَا أَنْتَ بِتَابِعٍ قِبْلَتَهُمْ وَمَا بَعْضُهُمْ بِتَابِعٍ قِبْلَةَ بَعْضٍ وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ إِنَّكَ إِذًا لَمِنَ الظَّالِمِينَ (145)

142. “orang-orang yang kurang akalnya diantara manusia akan berkata: "Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Baitul Maqdis) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya?" Katakanlah: "Kepunyaan Allah-lah timur dan barat; Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus"

143. dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa Amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.

144. sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, Maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. dan dimana saja kamu berada, Palingkanlah mukamu ke arahnya. dan Sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.

145. dan Sesungguhnya jika kamu mendatangkan kepada orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al kitab (Taurat dan Injil), semua ayat (keterangan), mereka tidak akan mengikuti kiblatmu, dan kamupun tidak akan mengikuti kiblat mereka, dan sebahagian merekapun tidak akan mengikuti kiblat sebahagian yang lain. dan Sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah datang ilmu kepadamu, Sesungguhnya kamu -kalau begitu- Termasuk golongan orang-orang yang zalim.

Sebab Turun

Ketika Rasulullah SAW dan para sahabat merubah arah shalat ke Ka’bah setelah sebelumnya arah kiblatnya mengahdap ke Baitul Maqdis, maka orang-orang yang tidak senang dengan kejadian ini berkomentar: “gerangan apakah yang mnyebabkan mereka berpaling dari arah kiblat sebelumnya”, lalu Allah SWT menurunkan ayatNya:

سَيَقُولُ السُّفَهَاءُ مِنَ النَّاسِ مَا وَلَّاهُمْ عَنْ قِبْلَتِهِمُ الَّتِي كَانُوا عَلَيْهَا

“Orang-orang yang kurang akalnya diantara manusia akan berkata: "Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Baitul Maqdis) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya?...” (QS. Al-Baqarah: 142)

Al-Bukhari meriwayatkan seperti yang dinukil oleh Imam Ibnu Kastir dalam tafsirnya, dari sahabat Al-Bara’ ra bahwa pada mulanya Rasulullah SAW shalat menghadap ke Baitul Maqdis selama lebih kurang 16 – 17 bulan, dan selama itu juga beliau berharap agar bisa shalat menghadap ke Ka’bah, lalu kemudian Allah mengabulkan, dan awal mula perubahan kiblat menghadap Ka’bah ketika Rasulullah SAW shalat Ashar bersama sahabat yang lainnya, lalu para sahabat yang lainnya menyampaikan kepada penduduk lainnya, dan merekapun merubah arah kiblat shalatnya, lalu mereka semua bertanya bagaimanakah nasib shalatnya orang-orang yang sudah meninggal dunia duluan, dan mereka tidak sempat shalat menghadap Ka’bah, atas pertanyaan inilah turun ayat Allah:

 وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ إِنَّ اللَّهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوفٌ رَحِيمٌ

“dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia” (QS. Al-Baqarah: 143)

Imam Muslim meriwayatkan, juga dari sahabat Al-Bara’ bahwa Rasulullah SAW pada mulanya shalat menghadap Baitul Maqdis, lalu beliau sering melihat langit menunggu perintah Allah atas keinginan beliau untuk shalat menghadap ke Ka’bah, lalu Allah SWT menurunkan ayatNya:

قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ

“sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, Maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram” (QS. Al-Baqarah: 144)

Makna Ayat

Ada sedikit pebedaan diantara ulama terkait arah kiblat menghadap ke Baitul Maqdis apakah perintahnya dengan nash atau hanya ijtihad dari nabi Muhammad SAW saja. Namun yang jelas, pada mulanya Rasulullah SAW dan para sahabatnya shalat dengan menghadap ke arah Baitul Maqdis, dan perkara ini berlangsung lebih kurang 16 – 17 bulan.

Namun selama itu juga Rasulullah SAW berdoa agar Allah SWT menurunkan perintahnya untuk menghadap ke arah Ka’bah yang itu adalah kiblatnya nabi Ibrahim as. Dan Allah SWT pada akhirnya mengabulkan semua itu, lalu Rasulullah SAW menyampaikan berita itu kepada para sahabat.

Ali bin Abi Thalhah menuturkan dari sahabat Abbas bahwa perkara pertama yang dihapus keberlakukanya adalah perkara kiblat shalat, setelah sebelumnya ummat ini dalam pelaksanaan shalatnya mengahdap arah Baitul Maqdis.

Ialah masjid Bani Salamah yang didalamnya sedang berlangsung shalat zuhur atau ashar, lalu ada salah seorang sahabat Rasulullah SAW yang melintas dan mengabarkan bahwa Rasulullah SAW sudah menyampaikan perihal perubahan arah kiblat, lalu kemudian mereka semua merubah arah kiblatnya, setelah dua rakaat pertama shalat dengan mengahadap ke Baitul Maqdis, dua rakaat berikutnya mereka menghadap ke arah Ka’bah. Belakangan masjid ini disebut dengan majis Qiblatain (dua kiblat).

Setelah perubahan ini terjadi, orang-orang yang tidak senang dengan nabi dan para sahabat mulai menghardik, dengan melogikan kira-kira apakah yang membuat mereka berpaling dari Baitul Maqdis yang itu juga kiblatnya para nabi-nabi dari bani Israil sebelumnya?

Sepertinya orang-orang Yahudi-lah yang paling keras suaranya dalam hardikan ini, penulis pikir ini tidak lain karena simbol Baitul Maqdis juga sudah kadung dicintai oleh mereka, karena alasan agama juga karena alasan historis.

Makanya pada awal mula ketika Rasulullah SAW dan para sahabat menghadap ke Baitul Maqdis pada waktu itu mereka orang-orang Yahudi meresa senang dan gembira, mungkin mereka merasa bahwa kehadiran Islam di Madinah tidak banyak berpengaruh, dan dalam anggapannya mereka orang-orang muslim juga merasa segan dengan Yahudi, dengan bukti bahwa Rasulullah SAW dan para sahabat menghadapkan wajahnya ke Baitul Maqdis, yang itu juga tempat yang dianggap suci oleh Yahudi.

Kejadian ini sebenarnya sudah diketahui Rasulullah SAW melalui wahyu dari Allah yang memang sudah memberi tahu akan kejadian ini, ini dimaksudkan agar benturan yang akan dihadapi Rasulullah SAW dan para sahabat tidak terlalu membuat shok, yang bisa mematahkan semangat ibadah dengan mengahdap ke Ka’bah.

Pada ayat selanjutnya setelah menetapkan perihal Ka’bah yang itu adalah bagian keutamaan yang Allah berikan kepada ummat ini, Allah juga memberikan keutamaan lainnya bahwa Allah menjadikan ummat ini seagai ummat wasath.

Ibnu Katsir menjelaskan makna wasath disini bermakna pilihan dan terbaik, inilah satu keutamaan lain yang Allah berikan kepada ummat ini dengan menjadikannya sebagai ummat pilihan dan terbaik.

Ummat terbaik ini nanti pada akhirnya akan menjadi saksi atas semua cerita yang ada di bumi ini. Akan menjadi saksi dihadapan Allah untuk semua nabi dan rasul bahwa mereka semua sudah menyampaikan amanah yang Allah berikan agar ummat dimuka bumi ini beriman dengan Allah SWT.

Imam Ahmad meriwayatkan sebuah cerita dari Rsulullah SAW, seperti yang dinukil oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: "يدعى نوح يوم القيامة فيقال له: هل بلغت؟ فيقول: نعم. فيدعى قومه فيقال لهم: هل بلغكم؟ فيقولون: ما أتانا من نذير وما أتانا من أحد، فيقال لنوح: من يشهد لك؟ فيقول: محمد وأمته

“Nanti pada hari kiamat nabi Nuh as akan dipanggil, lalu dikatan kepadanya: Apakah sudang engkau menyaampaikan risalahmu”? Nuh as menajwab:  Iya. Lalu kaumnya juga dipanggil dan dikatakan kepada mereka: Apakah benar Nuh as sudah menyampaikan risalahnya kepada kalian? Mereka menjawab: Tidak ada yang datang kepada kami satupun. Lalu dikatakan kepada Nuh as: Siapa yang bersaksi untukmu? Dijawab oleh Nuh as: Muhammad dan ummatnya”

Jika ditanya bagaimana mungkin kita sebagai ummat Muhammad SAW yang datangnya belakanganan belum pernah sama sekali bertemu dengan ummat-ummat terdahulu malah menjadi saksi atas apa yang terjadi pada masa mereka?

Masih dalam riwayat Imam Ahmad lainnya bahwa nantinya kita semua akan menjawab:

جاءنا نبينا صلى الله عليه وسلم فأخبرنا أن الرسل قد بلغوا

“Sudah datang kepada kami nabi kami Muhammad SAW, dan beliau sudah memberitakan kepada kami bahwa semua rasu-rasul sudah menyampaikan risalahnya”

Apa yang Dimaksud Dengan Al-Masjid Al-Haram?

Dalam beberapa ayat Al-Quran dan Hadits kata Al-Masjid Al-Haram terjadi pengulangan, para ulama menyimpulkan bahwa pengulangan itu tidak menyebut makna yang sama, namun pengulangan itu mengindikasikan maksud yang berbeda.

Dalam hal ini setidaknya ada empat makna yang bisa kita ambil dalam memaknai apa yang dimaksud dengan Al-Masjid Al-Haram dalam setiap pengulangannya:

Pertama: Ka’bah, seperti maskud dari ayat berikut:

فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ

“Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram (ka’bah)” (QS. Al-Baqarah: 144)

Kedua: Seluruh bagian masjid Haram, seperti maksuda dari sabda Rasulullah SAW berikut:

لاَ تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلَّا إِلَى ثَلاَثَةِ مَسَاجِدَ: المَسْجِدِ الحَرَامِ، وَمَسْجِدِ الرَّسُولِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَمَسْجِدِ الأَقْصَى

“Janganlah kalian berusaha payah melakukan perjalanan kecuali pada tiga masjid berikut: Masjid Haram (maksudnya seluruh bagian masjid termasuk didalamnya ka’bah), masjd Rasul (masjid Nabawi), dan masjid Al-Aqsha” (HR. Bukhari)

Juga sabda Rasulullah SAW berikut:

صَلاةٌ فِي مَسْجِدِي هَذَا خَيْرٌ مِنَ ألفِ صَلاةٍ فِيمَا سِوَاهُ، إِلا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ

“Shalat di masjidku ini (masjid Nabawi) keutamaannya lebih baik dari pada seribu kali shalat pada selainnya, kecuali pada masjid Haram (HR. Ahmad)

Ketiga: Mekkah secara umum, seperti pada makan ayat Al-Quran berikut:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya  agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha mendengar lagi Maha mengetahui” (QS. Isra’: 1)

Masjid Haram yang dimaksud pada ayat di atas adalah Mekkah secara umum, bukan khusus untuk masjidnya, bukan juga bermakna K’abah secara khusus.

Dunia Islam dalam kaitannya dengan orang-orang non muslim tebagi menjadi tiga, seperti yang tuturkan oleh As-Syaukani dalam Fath Al-Qadir ketika menafsirkan QS. At-Taubah: 28:

Keempat: Tanah Haram secara keseluruhan, atau Mekkah dan sekitarnya, ini didasarkan pada makna dari firman Allah SWT berikut:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ فَلَا يَقْرَبُوا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ بَعْدَ عَامِهِمْ هَذَا

“Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis, Maka janganlah mereka mendekati Masjidilharam sesudah tahun ini. dan jika kamu khawatir menjadi miskin, Maka Allah nanti akan memberimu kekayaan kepadamu dari karuniaNya, jika Dia menghendaki. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana” (QS. At-Taubah: 28)

1. Tanah Haram, dimana menurut mayoritas ulama minus Imam Abu Hanifah tidak hukumnya orang-orang non muslim masuk ke tanah Haram ini, apapun alasannya. Sedangkan Imam Abu Hanifah membolehkan bagi non muslim untuk memasujiknya dengan izin khalifah.

2. Hijaz: Menurut mayoritas ulama tidak keharaman bagi mereka yang non muslim untuk memasuki wilayah Hijaz ini asalkan dengan izin.

3. Seluruh wilayah Islam: Dalam hal ini seluruh wilayah Islam boleh dimasuki oleh mereka non muslim, dengan izin dari pihak yang berwenang, dengan catatan tidak boleh memasuki masjid-masjid tanpa adanya keperluan yang jelas, dan harus dengan izin pihak yang terkait.


Lanjut ke Shalat Menghadap (Arah) Ka'bah? [2]

 

Bagikan via

Baca Lainnya :

Penetapan Awal Ramadhan
11 May 2017, 10:24 | 584 views
Qadha Shalat
8 February 2017, 08:52 | 1.838 views
Adzan
11 January 2017, 05:00 | 1.487 views
Mujtahid dan Muqallid
4 January 2017, 08:05 | 1.397 views
Fiqih Dalam Al-Quran
21 December 2016, 01:20 | 1.473 views
Faidah Fiqih Dari Kisah Nabi Khidhr dan Musa AS
5 December 2016, 07:29 | 1.853 views
Doa Khatam Al-Quran (2)
15 July 2016, 19:11 | 1.287 views
Doa Khatam Al-Quran (1)
4 July 2016, 10:28 | 984 views
Lakum Dinukum Waliyadin
16 December 2015, 00:00 | 20.101 views
Syariat Puasa
17 June 2015, 07:01 | 5.159 views
Nikah Beda Agama
11 September 2014, 04:29 | 55.364 views
Bolehkah Perempuan Berkarir?
11 July 2014, 09:58 | 12.597 views
Fidyah Puasa
14 June 2014, 06:00 | 25.123 views
Ibu Hamil dan Menyusui Boleh Berbuka
31 May 2014, 05:00 | 5.173 views
Mudik, Berbuka atau Tetap Berpuasa?
20 May 2014, 08:22 | 4.595 views
Sakit Yang Membolehkan Berbuka
17 May 2014, 21:47 | 3.487 views
Shalat Menghadap (Arah) Ka
20 April 2014, 07:58 | 5.851 views
Shalat Menghadap (Arah) Ka
20 April 2014, 06:37 | 4.617 views
Sekufu’ Dalam Menikah
12 April 2014, 05:00 | 14.031 views
Berapakah Jumlah Ayat Hukum?
2 April 2014, 06:29 | 5.313 views
Pengantar Tafsir Fiqih
1 April 2014, 21:30 | 4.936 views

total 761919 views