Shalat Menghadap (Arah) Ka | rumahfiqih.com

Shalat Menghadap (Arah) Ka

by : Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA
Sun 20 April 2014 07:58 | 5755 views | bagikan via

Hukum Fiqih

Dari beberapa ayat di atas setidanya ada pertanyaan besar yang harus dicarikan jawabannya terkait kiblat shalat; apakah harus benar-benar menghadap Ka’bah atau cukup menghadap arah tempat dimana Ka’bah berada?

Menghadap Kiblat atau Arah Kiblat?

Sudah bukan menjadi rahasia umum bahwa menghadap kiblat adalah bagian dari kewajiban shalat yang harus dilakukan, bahkan tidak sah jika dengan sengaja melaksanakan shalat fardhu dengan tidak menghadap kiblat tanpa adanya halangan yang menghalanginya untuk itu.

Namun ada sedikit keringanan untuk shalat sunnah yang dikerjakan di atas kendaraan, baik unta, kuda, maupun kendaraan moderen sekarang; mobil, kereta, pesawat, kapal laut, dan lainnya.

Keringanan yang dimaksud bahwa shalat sunnah tersebut boleh dilakukan walau tanpa menghadap kiblat, dan shalat tetap sah dengan menghadap ke arah dimana kendaaraan tersebut melaju. Hal ini karena memang Rasulullah SAW sendiri pernah melaksanakan shalat sunnah diatas kendaraan dan menghadap kearah dimana untanya berjalanan.

Imam Muslim meriwayatkan:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّي عَلَى رَاحِلَتِهِ حَيْثُ تَوَجَّهَتْ بِهِ

“Bahwa Rasulullah SAW pernah shalat diatas untanya sesuai dengan arah untanya menghadap” (HR. Ahmad)

Dalam riwayat lainnya, sahabat Jabir menceritakan:

عَنْ جَابِرٍ، قَالَ: كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبَعَثَنِي فِي حَاجَةٍ، فَرَجَعْتُ وَهُوَ يُصَلِّي عَلَى رَاحِلَتِهِ، وَوَجْهُهُ عَلَى غَيْرِ الْقِبْلَةِ، فَسَلَّمْتُ عَلَيْهِ فَلَمْ يَرُدَّ عَلَيَّ، فَلَمَّا انْصَرَفَ قَالَ: «إِنَّهُ لَمْ يَمْنَعْنِي أَنْ أَرُدَّ عَلَيْكَ إِلَّا أَنِّي كُنْتُ أُصَلِّي

“Kami pernah bersama Rasulullah SAW, lalu beliau mengutus saya untuk sebuah keperluan. Ketika saya kembali, Rasulullah SAW sedang shalat di atas kendaraan, dan wajahnya tidak menghadap kiblat, maka saya memberikan salam kepadanya, namun beliau tidak membalas salam saya, dan ketika telah selesai barulah Rasulullah SAW berkata: “Sebenarnya tidak ada yang menghalangi saya untuk menjawab salammu, namun tadi saya sedang shalat” (HR. Muslim)

Kebolehan untuk tidak menghadap kiblat juga beraku untuk shalat khauf, yaitu shalat yang dikerjakan dalam keadaan takut karena peperangan. Dalam kitab-kitab fiqih dijelaskan bagaimana caranya shalat dalam peperangan, shalat ini punya caranya tersendiri, namun yang jelas megerjakan shalat dalam keadaan terseut tidak mengharuskan menghadap kiblat.

Dan dalam pendapat sebagian ulama dari mazhab Hanafi dan Maliki kebolehan untuk shalat dengan tidak menghadap kiblat juga berlaku untuk mereka yang sakit parah, dimana tidak memungkinkan bagi merereka untuk merubah posisi berebaring.

Dari sini bisa kita simpulkan bahwa wajib hukumnya menghadap kiblat untuk shalat fardhu, namun ada sedikit keringanan dalam shalat sunnah, terutama jika shalat sunnah tersebut dikerjakan diatas kendaraan yang sedang melaju.

Namun yang menjadi perbedadan pendapat diantara para ulama adalah, apakah kewajiban yang dimaksud adalah wajib menghadap ka’bah secara khsusus, atau cukup menghadap arahnya saja?

Para ulama menyepakati bahwa jika ka’bah bisa dilihat dengan mata karena dekatnya, maka dalam hal ini tidak sah shalat seseorang kecuali dengan menghadap persis ke ka’bah.

Namun untuk mereka yang jauh dari ka’bah, maka menurut para ulama dari kalangan Syafi’iyah dan Hanabilah bahwa mereka wajib meniatkan untuk menghadap Ka’bah secara khsusus walaupun dalam kenyataannya mereka menghadap kearahnya saja.

Sedangkan menurut sebagian lainnya dari para ulama madzhab Hanafi dan Maliki cukup bagi mereka yang tinggal jauh dari Ka’bah untuk menghadap kearah dimana ka’bah itu berada.

Kewajiban menghadap kiblat didasari pada QS. Al-Baqarah: 144 di atas:

فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ

“Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram (ka’bah)” (QS. Al-Baqarah: 144)

Sedangkan untuk mereka yang tinggal jauh dari Ka’bah, seperti yang sudah dijelaskan di atas bahwa kewajiban mereka hanya menghadap ke arah Ka’bah saja, tanpa harus benar-benar tepat menghadap Ka’bah.

Lebih jelasnya Imam Al-Baihaqi dalam sunannya memberikan keterangan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda:

الْبَيْتُ قِبْلَةٌ لِلْمَسْجِدِ، وَالْمَسْجِدُ قِبْلَةٌ لِأَهْلِ الْحَرَمِ، وَالْحَرَمُ قِبْلَةٌ لِأَهْلِ الْأَرْضِ فِي مَشَارِقِهَا وَمَغَارِبِهَا مِنْ أُمَّتِي

“Ka’bah itu adalah kiblat untuk mereka yang berada di masjid (Haram), dan Masjid Haram adalah kiblat untuk penduduk yang mendiami tanah Haram, dan tanah Haram secara keseluruhan adalah kiblat untuk penduduk bumi seluruhnya dari ummatku” (HR. Baihaqi)

Belum lagi ditambah dengan hadits berikut:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:مَا بَيْنَ المَشْرِقِ وَالمَغْرِبِ قِبْلَةٌ

Dari Abu Hurairah ra berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Diantara timur dan barat itu adalah kiblat” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Jadi pada dasarnya perkara mengahadap kiblat itu sangat kondisonal, yang berbeda antara satu keadaan dengan keadaan yang lainnya, tidak bisa disamakan. Tidak juga penduduk bumi ini harus benar-benar menghadap ke ka’bah yang lebar perdindingnya tidak lebih dari 12 meter itu.

Jadi jika sebagian kita shalat di masjid Istiqlal yang lebarnya tidak kurang dari 100 meter dan semua berbaris dengan shaf yang sama, maka bisa dipastikan bahwa tidak semua jamaah akan persisis menghadap Ka’bah.

Jika memang mensyaratkan bahwa setiap mereka yang shalat harus menghadap persis ke Ka’bah, maka ada jutaan ummat muslim yang tidak sah shalatnya. Inilah hikmahnya bahwa perkara mengahadap kiblat dalam shalat menjadi agak flexibel, bahwa bagi mereka yang jauh dari Ka’bah kiblatnya adalah seluruh tanah Haram.

Tidak Perlu Dirubah

Belakangan perkara kiblat ini mencuat di negri kita Indonesia, terkait obrolan tentang adanya kesalahan arah kiblat untuk sebagian di Indonesia.

Isu ini menyebar luas hampir kesmua lapisan masyarakat, terlebih dalam anggapan sebagian kita bahwa shalat memang harus benar-benar menghadap Ka’bah. Dengan persepsi seperti ini semakin menambah keruh permasalahan, khawatir sekali jangan-jangan shalat yang selama ini dikerjakan salah kiblat.

Menyikapi hal seperti ini tentunya jangan dihadapi dengan terburu-buru. Secara umum arah kiblat bagi mereka yang tingga di dekat Ka’bah tidaklah sama dengan arah kiblat mereka yang  jauh dari Ka’bah.

Ada yang memang diwajibkan menghadap persis ke arah bangunan Ka’bah, ini khususnya nagi mereka yang berdomisili didekat Ka’bah sana, namun bagi kita yang di Indonesia cukuplah bagi kita dengan mengahadap arah dimana Ka’bah berada.

Hanya sekedar untuk diketahui bahwa posisi geografis Indonesia berada di bagian timur Ka’bah atau Makkah. Oleh karena itu, kiblat shalat Muslim di Indonesia menghadap ke arah barat.

Arah barat yang dimaksud adalah arah tempat di mana Ka’bah berada, karena keseluruhan wilayah Mekkah adalah kiblat bagi penduduk muslim yang berada jauh dari Ka’bah.

Jadi jangan terburu-buru membongkar masjid, kecuali jika seandainya masjid tersebut memang tidak menghadap ke barat, atau jug jangan juga terburu-buru merubah shaf di masjid, padahal arahnya tidak terlalu jauh beda.

Semoga Allah selalu menerima semua amal ibadah shalat yang selama ini kita kerjakan, dan semoga Allah memberikan kekuatan untuk kita agar kedepan kualitas shalat kita semakin membaik.

Wallahu A’lam Bisshawab

Bagikan via


Baca Lainnya :

Shalat Menghadap (Arah) Ka
20 April 2014, 06:37 | 4.504 views
Sekufu’ Dalam Menikah
12 April 2014, 05:00 | 13.847 views
Berapakah Jumlah Ayat Hukum?
2 April 2014, 06:29 | 5.214 views
Pengantar Tafsir Fiqih
1 April 2014, 21:30 | 4.823 views

total 731628 views