Syariat Puasa | rumahfiqih.com

Syariat Puasa

by : Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA
Wed 17 June 2015 07:01 | 5438 views | bagikan via

Tidak lama lagi akan hadir bulan yang nilai kebaikan didalamnya setara dengan kebaikan 1000 bulan pada selainnya. Bulan ketika nilai ibadah sunnah dinilai kebaikannya seperti kebaikan ibadah wajib pada selainnya. Bulan ketika nilai ibadah wajib berlipat bahkan hingga tujuh puluh kali atau lebih.

Sungguh sangat merugi rasanya, jika dosa-dosa kita tidak terampuni pada saat itu, dan sungguh benar-benar celaka bagi mereka yang nilai kebaikannya tidak bertambah kala hadirnya bulan Allah ini.

Itulah bulan suci Ramadhan yang akan hadir dua bulan kedepan insya Allah. Tidak berlebihan jika dari sekarang kita banyak berdoa agar dipertemukan dengan bulan tersebut: “Ya Allah, berkahi kami dibulan Rajab dan Sya’ban dan pertemukan kami dengan bulan Ramadhan”.

Tidak perlu terlalu mempermasalahkan apakah redaksi doa dengan terjemahan diatas satatusnya doif (lemah) atau shahih (benar), karena pada dasarnya jangankan berdoa dengan yang riwayat yang lemah, berdoa dengan bahasa sendiri yang kita karang sendiri pun sangat boleh.

Tidak hanya perihal pahala, namun lebih dari itu dari pensyariatan ibadah puasa ini juga akan hadir hikmah-hikmah lainnya, ia berfungsi sebagai penyuci jiwa dan mempersempit ruang gerak Syaithan yang biasanya hadir lewat jalan nafsu. Maka dengan puasa setidaknya kita bisa mengendalikan nafsu yang kadang menjeruskan kita dari kemuliaan.

Tidak salah jika dalam Islam mereka yang sudah siap untuk menikah agar tidak menunda terlalu lama perihal pernikahannya, terlebih jika tidak ada alasan khusus yang membuat perihal pernikaha harus ditunda, namun bagi yang belum siap untuk menikah, sedang diri sudah sangat ngebet ingin menikah, maka Islam memerintahkan mereka untuk memperbanyak puasa, ini dimaksudkan agar jiwa tetap stabil, sebagai pembenteng diri dari godaan syaitahan.

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ

“Wahai para pemuda/pemudi, siapa diantara kalian sudah mempunyai kesiapan untuk menikah maka menikahlah, dan bagi siapa yang belum mampu agar berpuasa, karena sesungguhny yang demikian bisa menjadi benteng baginya” (HR. Bukhari dan Muslim)

Syariat puasa ini adalah syariat lama, dimana syariat ini juga hadir pada masa kenabian sebelum nabi Muhammad SAW. Bahkan Ibnu Katsir (Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim; Jilid 1, hal. 497) menyebutkan bahwa syariat puasa ini sudah ada semenjak nabi Nuh as.

Dilain kesempatan At-Thabari menambahkan bahwa Ramadhan ini juga menjadi syariat ummat nasrani, dengan cara berpuasa dimana mereka tidak boleh makan dan minum setelah tidur, dan tidak boleh menikahi (hubungan suami istri) selama Ramadhan, keadaan seperti ini semakin berat dirasa terutama karena ia hadir pada musim dingin dan panas, untuk itu mereka akhirnya menyepakati bersama untuk mengganti hari puasanya pada musim semi, dan mereka berani menambah dua puluh hari untuk perubahan yang mereka buat sendiri, hingga akhirnya mereka berpuasa selama lima puluh hari.

Pengertian

Secara bahasa puasa sering diartiakan dengan: الإِمْسَاكُ وَالكُفِّ عَنِ الشَّيْءِ yang berarti menahan diri dan mninggalkan dari melakukan sesuatu. Dan secara istilah puasa itu adalah:

الإْمْسَاكُ عَنِ الْمُفْطِرِ عَلَى وَجْهٍ مَخْصُوصٍ

”Menahan diri dari segala yang membatalkannya dengan cara tertentu”

Cara tertentu yang dimaksud dalam definisi diatas itulah yang nantinya akan dirinci dalam kitab-kitab furu’ (maksudnya: kitab fiqih) yang akan memberikan penjelasan utuh kepada kita tentang tata cara berpuasa yang benar dengan merujuk kepada dalil-dalil yang memadai.

Ayat-Ayat

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (183) أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (184) شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ (185) أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُونَ أَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ فَالْآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَقْرَبُوهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ (187)

  1. Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,

 

  1. (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka Barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi Makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, Maka Itulah yang lebih baik baginya. dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

 

  1. (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). karena itu, Barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan Barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.

 

  1. Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma'af kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan Makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, Yaitu fajar. kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri'tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, Maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.

 

Sebab Turun

 

At-Thobari dalam Jami’ Al-Bayan menuliskan bahwa Muadz bin Jabal ra berkata: Ketika Rasulullah SAW datang ke Mekkah maka puasa yang dilakukan oleh beliau adalah puasa Asyuro dan puasa tiga hari pada setiap bulannya, hingga akhirnya Allah mewajibkan puasa Ramadhan, dan Allah menurunkan ayatNya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa”

 

Hingga ayat:

وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ

“dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi Makan seorang miskin”

 

Pada awalnya siapa saja yang ingin berpuasa maka ia boleh berpuasa, dan siapa saja yang ingin berbuka maka dia boleh berbuka dan cukup menggantinya dengan memberi makan orang miskin. Namun pada akhirnya Allah mewajibkan kepada seluruh yang ummat yang sehat dan tidak dalam perjalanan untuk berpuasa, tidak ada pilihan untuk berbuka, dan untuk mereka yang sudah lanjut usia tetap diberikan keringanan boleh berbuka dengan syarat tetap memberikan makan fakir miskin, maka turunlah ayat:

فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

“Barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu”

 

Al-Qurthubi (Tafsir Al-Qurthubi, jilid 2, hal. 294) menjelaskan, bahwa Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Al-Bara’ bin Azib berkata: Bahwa (pada awalnya) para sahabat Rasulullah SAW ketika berpuasa tidak makan ketika ia tertidur sebelum berbuka hingga esoknya mereka lanjut berpuasa lagi tanpa makan.

 

Bahwa Qais bin Shirmah Al-Anshari pernah berpuasa, dimana siang harinya beliau habiskan untuk mengurus pohon kurma, ketika waktu berbuka sudah hampir tiba ia datang kepada istrinya seraya menanyakan apakah ada makanan? Namun istrinya menjawab tidak ada, akan tetapi istrinya berusaha mencarikannya.

 

Ketika menunggu istrinya mencari makan tidak sengaja Qais ini tertidur, karena capek dari bekerja siang hari tadi. Mengetahui suaminya tertidur, maka istrinya berucap: “Celakahlah engkau!”, esok harinya Qais tetap berpuasa walau tanpa berbuka, karena tidak boleh makan ketika bangun dari tidur. Tapi di pertengahan hari berikutnya Qais malah pingsan. Lalu cerita ini sampai kepada nabi, maka turunlah ayat:

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ

“Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu”

 

Dari sana mereka semua bergembira, lalu turun kelengkapan ayat berikutnya:

 

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ

“dan Makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, Yaitu fajar.”

 

Tahapan Pensyariatan Puasa

 

Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Quran Al-Azhim, jilid 1, hal. 498 menjelaskan bahwa sebenarnya proses pensyariatan puasa Ramadhan ini mempunyai kemiripan dengan proses pensyaraitan shalat, dimana keduanya melalui tiga tahapan pensyariatan.

 

Penjelasan ini didapat lewat riwayat Imam Ahmad melalui jalur Muadz bin Jabal, menceritakan: Bahwa pensyaritan shalat itu melui tiga tahapan dan pensyariatan puasa juga melalui tiga tahapan.

 

Adapun pensyaritan shalat, pada mulanya ketika nabi Muhammad SAW tiba di Madinah beliau shalat selama lebih kurang tujuh belas bulan menghadap arah Baitul Maqdis, hingga akhirnya Allah menurunkan ayatNya:

 

قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا

“Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, Maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai” (QS. Al-Baqarah: 144)

 

Sehingga terjadi perubahan arab kiblat dengan menghadap ke arah Masjid Haram, dan ini dinilai sebagai tahapan pertama dalam pensyariatan shalat.

 

Muadz Melanjutkan, tatkala mereka berkumpul di masjid untuk shalat maka satu dengan yang lainnya saling memanggil untuk shalat, hampir-hampir diantara mereka ada yang membunyikan suara lonceng agar dengan mudah mengumpulkan jamaah untuk shalat.

 

Kemudian datanglah Abdullah bin Zaid, laki-laki dari kalangan Anshar kepada Rasulullah SAW sambil menceritakan apa yang dilihatnya dalam mimpi, bahwa dia melihat seorang laki-laki dengan memakai kain hijau berdiri menghadap kiblat dan meneriakkan: Allahu Akbar… Allahu Akbar… dst (lafazh adzan sekarang), lalu setelah selesai tidak berapa lama dari sana lak-laki tadi kembali melafalkan lafazh tersebut, hanya saja kali ini dia menambahkan lafazh; “قد قامت الصلاة “ (seperti lafazh Iqamah sekarang)

 

Lalu Rasulullah SAW memerintahkan agar lafazh-lafzh itu diajarkan kepada Bilal untuk selanjutnya agar Bial bisa menyeru dengan lafazh itu untuk setiap shalat. Tidak lama setelah itu datang juga Umar bin Khattab yang juga menceritakan perihal mimpi yang sama tetang adzan dan iqamah. Dan cerita tentang adzan serta iqamah ini dinilai sebagai tahapan kedua dalam pensyariatan shalat.

 

Muadz melanjutkan, bahwa tatkala shalat sudah berlangsung sebagian dari sahabat ketinggalan jamaah, maka sebagian sahabat berijtihad sendiri dengan mempercepat shalat hingga pada akhirnya bisa menyusul roakaat imam, dan pada akhirnya bisa salam bersama imam.

 

Namun berbeda dengan apa yang dilakuakan oleh Muadz, beliau tidak melakuakan seperti itu. Ketika datang Muadz langsung mengikuti gerak Imam hingga akhir, tatkala imam salam, Muadz berdiri kembali menyempurnakan rokaat yang tertinggal, atas perilaku Muazd ini akhirnya Rasulullah SAW memerintahkan:

إِنَّهُ قَد سَنَّ لَكُمْ مُعَاذ، فَهَكَذَا فَاصْنَعُوا

“Sesungguhnya Muadz telah melakukan yang benar untuk kalian, maka perbuatlah seperti apa yang diperbuat Muadz”

 

Cerita perihal tatacara shalat masbuq (tertinggal) dari imam ini dinilai sebabagai tahapan ketiga dari pensyariatan sholat.

 

Sedangkan perihal perubahan tahapan dalam puasa juga terjadi hingga tiga kali. Awalnya ketika tiba di Madinah, Rasulullah SAW dan para sahabat berpuasa tiga hari pada setiap bulannya, dan beliau juga berpusa di hari Asyuro’, lalu kemudian turun syariat puasa Ramadhan (QS. Al-Baqarah: 183), dan ini dinilai sebagai tahapan pertama.

 

Namun diawal-awal puasa Ramadhan ini masih sifatnya pilihan, siapa yang dengan sengaja tanpa alasan tidak mau berpuasa mereka boleh tidak berpuasa, asalkan menggantinya dengan fidyah, tapi ketika Allah menurunkan ayatNya:

فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

“Barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu”

 

Maka tidak ada alasan lagi untuk tidak berpuasa, walaupun Allah tetap memberikan keringan bagi mereka yang sakit, dalam perjalanan dan lanjut usia untuk tidak berpuasa dengan cara menggantinya, baik dengan cara puasa qadha atau dengan fidyah. Dan sampai disini dinilai sebagai tahapan kedua dalam syariat puasa.

 

Seperti yang sudah disinggung pada sebab turun diatas, bahwa diawal pensyariatan para sahabat boleh untuk makan dan minum dan berhubungan suami istri setelah tiba waktu berbuka dengan syarat itu semua dialkukan sebelum tidur, dan jika sudah tertidur maka semua yang tadi tidak boleh dilakukan walaupun terjaganya sebelum fajar.

 

Adalah Shirmah, atau dalam riwayat lain dia adalah anaknya Shirmah yang bernama Qais, karena terlalu capek bekerja akhirnya dia tertidur kala waktu berbuka, dan dia belum memakan apapun, juga belum meminum walau seteguk air, tapi esoknya beliau tetap berpuasa dengan kondisi yang sangat lemah, dan bahkan dalam riwayat lain diceritan sempat pingsan karena fisik yang melemah.

 

Dan dalam waktu yang beramaan Umar bin Khattab juga menceritakan bahwa dia sempat mendatangi istrinya, padahal itu dialakukankannya setelah bangun dari tidur yang sebenarnya tidak boleh dilakukan, untuk kedua cerita inilah akhirnya Allah menurunkan:

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ

“Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu”

 

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ

“dan Makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, Yaitu fajar.

 

Dan cerita ini dinilai sebagai penyempurna dari syariat puasa, dan ini adalah tahapan ketiga dari pensyariatan puasa.

 

Demikianlah sejarah singkat tentang tahapan pensyariatan puasa, semoga Allah memberikan keberkahan umur kepada kita semua, dan semoga Allah mempertemuakn kita dengan Ramadhan ditahun ini. Insya Allah postingan berikutnya masih seputar puasa dari ayat yang kita mulai bahas pada hari ini.

 

Wallahu A'lam Bisshawab

Bagikan via

Baca Lainnya : Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA

Penetapan Awal Ramadhan
11 May 2017, 10:24 | 2.242 views
Qadha Shalat
8 February 2017, 08:52 | 4.141 views
Adzan
11 January 2017, 05:00 | 3.166 views
Mujtahid dan Muqallid
4 January 2017, 08:05 | 3.010 views
Fiqih Dalam Al-Quran
21 December 2016, 01:20 | 2.949 views
Faidah Fiqih Dari Kisah Nabi Khidhr dan Musa AS
5 December 2016, 07:29 | 3.677 views
Doa Khatam Al-Quran (2)
15 July 2016, 19:11 | 1.516 views
Doa Khatam Al-Quran (1)
4 July 2016, 10:28 | 1.386 views
Lakum Dinukum Waliyadin
16 December 2015, 00:00 | 20.485 views
Syariat Puasa
17 June 2015, 07:01 | 5.438 views
Nikah Beda Agama
11 September 2014, 04:29 | 55.764 views
Bolehkah Perempuan Berkarir?
11 July 2014, 09:58 | 12.975 views
Fidyah Puasa
14 June 2014, 06:00 | 25.494 views
Ibu Hamil dan Menyusui Boleh Berbuka
31 May 2014, 05:00 | 5.407 views
Mudik, Berbuka atau Tetap Berpuasa?
20 May 2014, 08:22 | 4.883 views
Sakit Yang Membolehkan Berbuka
17 May 2014, 21:47 | 3.733 views
Shalat Menghadap (Arah) Ka
20 April 2014, 07:58 | 6.163 views
Shalat Menghadap (Arah) Ka
20 April 2014, 06:37 | 4.851 views
Sekufu’ Dalam Menikah
12 April 2014, 05:00 | 14.580 views
Berapakah Jumlah Ayat Hukum?
2 April 2014, 06:29 | 5.669 views
Pengantar Tafsir Fiqih
1 April 2014, 21:30 | 5.272 views

total 862624 views