Doa Khatam Al-Quran (1) | rumahfiqih.com

Doa Khatam Al-Quran (1)

by : Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA
Mon 4 July 2016 10:28 | 1271 views | bagikan via

Sudah tidak asing lagi bahwa bulan ramadhan juga dikenal dengan syahru Al-Quran/bulan Al-Quran, bulan dimana Al-Quran diturunkan kepada baginda nabi besar Muhammad saw, sehingga salah satu amalan yang sangat digemari oleh para sahabat dan tabiin dahulunya ketika tiba bulan ramdhan adalah aktivitas mendekatkan diri dengan Al-Quran, baik kuantitas membacanya yang ditingkatkan, maupun tradisi lainnya berupa memahami makna dan isyarat Al-Quran untuk meniti kehidupan.

Mereka adalah orang yang oleh Al-Quran disifati dengan:

كَانُوا قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ، وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

“di dunia mereka sedikit sekali tidur diwaktu malamو dan selalu memohonkan ampunan diwaktu pagi sebelum fajar” (QS. Adz-Dzariyat: 17-18)

Kebersamaan mereka dengan Al-Quran sangat luar biasa sekali di bulan ini. Salafus saleh kita terdahulu ada yang menghatamkan Al-Quran per dua hari, ada yang menyelesaikanya per tiga hari, ada yang mengkhatamkannya dengan dijadikan bacaan pada shalat malam, bahkan dalam sebagian riwayat ada yang mengkhatamkan Al-Quran bahkan hingga 60 kali selama ramadhan.

Memang ada penjelasan hadits dari Rasulullah saw berkenaan dengan jangan sampai mengkhatamkan Al-Quran kurang dari tiga hari, seperti dalam riwayat Imam Ahmad misalnya, namun Imam Az-Zarkasyi dalam kitabnya al-Burhan fi Ulum al-Quran, jilid 1, hal. 470 menyebukan melalui hadits ini dan dengan melihat kenyataan yang ada bahwa banyak juga para sahabat yang mengkhatamkan Al-Quran kurang dari tiga hari menilai bahwa waktu mengkhatamkan Al-Quran itu disesuaikan dengan kualitas orang yang membacanya, sehingga tidak salah jika sahabat Utsman bin Affan misalnya justru sering mengkhatamkan Al-Quran dalam satu malam.

Mungkin orang-orang seperti kita inilah yang baiknya tidak mengkhatamkan Al-Quran dibawah tiga hari, mengingat sebagian besar kita bukanlah orang yang hafal Al-Quran, belum lagi bacaan Al-Quran kita masih banyak masalahnya, juga kualitas tadabur dan memahami makna bacaan yang juga butuh banyak waktu untuk sampai pada sebuah pemahaman yang benar. Ide satu bulan satu juz itu menurut penulis sudah benar, itupun kadang-akdang masih berat dijalani oleh sebagian besar kita khususnya umat Islam di Indonesia.

Keutamaan Khatam Al-Quran

Ada banyak riwayat yang menyebutkan tentang keutamaan mengkhatamkan Al-Quran, walaupun banyak juga riwayat-riwayat tersebut dikritisi oleh para ulama terkait kualitas haditsnya, namun gabungan dari semuanya bolehlah kita ambil secara umum untuk motivasi kita dalam amal baik ini. Berikut beberapa riwayat dari sunan Ad-Darimi:

عَنْ قَتَادَةَ، عَنْ زُرَارَةَ بْنِ أَوْفَى، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ: أَيُّ الْعَمَلِ أَفْضَلُ؟ قَالَ: «الْحَالُّ الْمُرْتَحِلُ» . قِيلَ: وَمَا الْحَالُّ الْمُرْتَحِلُ؟ قَالَ: «صَاحِبُ الْقُرْآنِ يَضْرِبُ مِنْ أَوَّلِ الْقُرْآنِ إِلَى آخِرِهِ، وَمِنْ آخِرِهِ إِلَى أَوَّلِهِ، كُلَّمَا حَلَّ، ارْتَحَلَ»

Dari Qatadah, dari Zurarah bin Aufa, bahwa nabi Muhammad saw ditanya: “Pekerjaan apakah yang paling utama?”, beliau bersabda: “al-Hal al-Murtahil”, dikatakan: “Apa itu al-Hal al-Murtahil?”, beliau bersabda: “Seseorang yang membaca Al-Quran dari awal hingga akhir, dan dari akhir hingga awal, setiap kali selesai dia mulai melanjutkan bacaannya”

«مَنْ شَهِدَ الْقُرْآنَ حِينَ يُفْتَحُ، فَكَأَنَّمَا شَهِدَ فَتْحًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ، وَمَنْ شَهِدَ خَتْمَهُ حِينَ يُخْتَمُ، فَكَأَنَّمَا شَهِدَ الْغَنَائِمَ حِينَ تُقْسَمُ»

“Barang siapa yang menyaksikan Al-Quran ketika mulai dibuka/dibaca, maka seakan-akan dia menyaksikan perang dijalan Allah, dan barang siapa yang menyaksikan khatam Al-Quran maka seakan-akan dia menyakiskan harta ghonimah ketika dibagikan” 

عَنْ قَتَادَةَ، قَالَ: «كَانَ رَجُلٌ يَقْرَأُ فِي مَسْجِدِ الْمَدِينَةِ، وَكَانَ ابْنُ عَبَّاسٍ قَدْ وَضَعَ عَلَيْهِ الرَّصَدَ، فَإِذَا كَانَ يَوْمُ خَتْمِهِ، قَامَ فَتَحَوَّلَ إِلَيْهِ»

Dari Qatadah: “Dahulu kala ada seseorang yang membaca Al-Quran dari awal hingga akhir dihadapan sahabatnya, lalu Ibnu Abbas mengutus seseorang untuk terus mengintai mereka, sehingga ketika mereka sudah mau khatam Ibnu Abbas ra hadir bersama mereka.”

عَنْ عَبْدَةَ، قَالَ: «إِذَا خَتَمَ الرَّجُلُ الْقُرْآنَ بِنَهَارٍ، صَلَّتْ عَلَيْهِ الْمَلَائِكَةُ حَتَّى يُمْسِيَ، وَإِنْ فَرَغَ مِنْهُ لَيْلًا، صَلَّتْ عَلَيْهِ الْمَلَائِكَةُ حَتَّى يُصْبِحَ»

Dari Abdah berkata: “Jika seseorang mengkhatamkan  Al-Quran pada siang hari maka Malaikat akan mendoakannya hingga sore hari, dan jika dia menyelesaikannya ketika malam, maka Malaikat akan mendoakannya hingga subuh”

Sebagian dari riwayat berikut penulis sarikan dari kitab Fadhail al-Quran, karya al-Qasim ibn as-Salam dan Ibn ad-Dharris:

قَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ: «مَنْ خَتَمَ الْقُرْآنَ فَلَهُ دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ»

Abdullah bin Masud berkata: “Siapa yang mengkhatamkan Al-Quran maka doanya mustajab”

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ شَهِدَ خَاتِمَةَ الْقُرْآنِ كَانَ كَمَنْ شَهِدَ الْغَنَائِمَ حِينَ تُقَسَّمُ»

Rasulullah saw bersabda: “Barang siapa yang hadir/menyaksikan khataman Al-Quran maka seakan-akan dia hadir saat pembagian harta ghanimah (harta rampasan perang)”

 لِأَنَّهُ كَانَ يُقَالُ: «إِذَا خُتِمَ الْقُرْآنُ نَزَلَتِ الرَّحْمَةُ عِنْدَ خَاتِمَتِهِ، أَوْ حَضَرَتِ الرَّحْمَةُ عِنْدَ خَاتِمَتِهِ»

Mujahid, Abdah bin Abi Lubabah dan sebagian yang lainnya mengatakan bahwa dahulu Rasulullah saw pernah bersabda: “Jika khataman Al-Quran turunlah rahmat ketika itu, atau rahmat akan hadir ketika ada khataman Al-Quran”.

عَنْ مَالِكِ بْنِ دِينَارٍ، قَالَ: كَانَ يُقَالُ: «اشْهَدُوا خَتْمَ الْقُرْآنِ»

Dari Malik bin Dinar, berkata, dikatakan bahwa: “Hadirilah/saksikanlah khatman Al-Quran”

Terakhir, Imam At-Thabrani, didalam al-Mu’jam al-Kabir meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda:

«مَنْ صَلَّى صَلَاةَ فَرِيضَةٍ فَلَهُ دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ، وَمَنْ خَتَمَ الْقُرْآنَ فَلَهُ دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ»

“Barang siapa yang selesai melaksanakn shalat fardu maka baginya doa yang mustajab, dan barang siapa yang selesai membaca Al-Quran maka baginya juga doa yang mustajab”

Mengumpulkan Keluarga Ketika Khataman

Ada hal yang menarik dari sahabat Rasulullah saw yang bernama Anas bin Malik, bahwa setiap kali beliau hendak mengkhatamkan Al-Quran beliau selalu mengumpulkan keluarganya, baik istri, anak-anaknya, dan lainnya, yang demikian beliau lakukan untuk kemudian menutup khataman Al-Quran itu dengan berdoa, dan salah satunya adalah guna mendoakan keluarganya, demikiana banyak meriwayat menyebutkan salah satunya yang diriwayatkan oleh Imam At-Thabrani dalam kitabnya al-Mujam al-Kabir, juga diriwayatkan oleh imam Al-Baihaqi dalam Syuab Al-Iman,  dengan redaksi:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَلِيِّ بْنِ شُعَيْبٍ السِّمْسَارُ، ثنا خَالِدُ بْنُ خِدَاشٍ، ثنا جَعْفَرُ بْنُ سُلَيْمَانَ، عَنْ ثَابِتٍ، «أَنَّ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ، كَانَ إِذَا خَتَمَ الْقُرْآنَ جَمَعَ أَهْلَهُ وَوَلَدَهُ، فَدَعَا لَهُمْ»

Muhammad bin Ali bin Syuaib As-Simsar bercerita kepada kami, Khalid bin Khidasy bercerita kepada kami, Ja’far bin Sulaiman bercerita kepada kami, dari Tsabit, bahwa sahabat Anas bin Malik ketika mengkhatamkan Al-Quran beliau mengumpulkan keluarga dan anaknya, lalu beliau mendoakan mereka.

Menurut Imam Al-Baihaqi, masih didalam Syuab Al-Iman, memang ada yang meriwayatkan bahwa cerita diatas sebenarnya sampai kepada Rasululah saw, namun Imam Al-Baihaqi bisa meyakinan bahwa riwayat diatas hanya sifatnya mauquf yaitu hanya sampai kepada sahabat Anas bin Malik saja.

Dengan demikian, Imam An-Nawawi misalnya dengan bersandarkan kepada perilaku sahabat Anas bin Malik, maka beliau berpendapat bahwa mustahab hukumnya menghadiri menghadiri majlis khataman Al-Quran, demikian beliau menuturkannya dalam kitab al-Majmu’, jilid 2, hal. 168. Bahkan fakar tafsir kontemporer Syaikh Rasyid Ridho, dalam Tafsir Al-Manar, jilid 9, hal. 462 dengan tegas menyebutkan bahwa mencontoh perilaku sahabat Anas bin Malik tersebut adalah perilaku yang dinilai baik/mustahab.

Ragam Doa Khatam Al-Quran

Masih menurut Imam An-Nawawi didalam kitabnya Al-Majmu’, jilid 2, hal. 186 bahwa berdoa setelah khatam Al-Quran itu sangat dianjurkan, terkait redaksi doa, beliau dalam hal ini hanya mengharapkan bahwa didalam doa tersebut ada kebaikan untuk orang-orang muslim, juga ada doa kebaikan untuk para pemimpin ummat Islam, walaupun secara redaksi doanya sederhana namun isinya mengena semuanya (ad-da’awat al-jamiah).

Untuk itulah misalnya kita akan menemukan ragam doa ketika khataman Al-Quran, diantara doa yang paling masyhur adalah:

وَهُوَ اللَّهُمَّ ارْحَمْنِي بِالْقُرْآنِ وَاجْعَلْهُ لِي إمَامًا وَنُورًا وَهُدًى وَرَحْمَةً اللَّهُمَّ ذَكِّرْنِي مِنْهُ مَا نُسِّيت وَعَلِّمْنِي مِنْهُ مَا جَهِلْت وَارْزُقْنِي تِلَاوَتَهُ آنَاءَ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ، وَاجْعَلْهُ لِي حُجَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ

Juga ada doa lainnya, seperti dalam riwayat Abu Daud dari Aisyah ra, yang dinukil dalam kitab Ithaf Fudhala al-Basyar, hal. 619 :

رواه أبو داود من حديث عائشة رضي الله تعالى عنها "وكان" من دعائه -صلى الله عليه وسلم: "اللهم إني أسألك الهدى والتقى والعفاف والغنى

اللهم إني أعوذ بك من العجز والكسل والجبن والهرم والبخل, ومن عذاب القبر وأعوذ بك من فتنة المحيا والممات وضلع الدين وغلبة الرجال

اللهم اغفر خطيئتي وجهلي وإسرافي في أمري, وما أنت أعلم به مني, اللهم اغفر لي جدي وهزلي وخطئي وعمدي, وكل ذلك عندي اللهم, اغفر لي ما قدمت وما أخرت وما أسررت وما أعلنت وما أسرفت وما أنت أعلم به مني أنت المقدم وأنت المؤخر وأنت على كل شيء قدير

اللهم إني أعوذ بك من علم لا ينفع ومن قلب لا يخشع ونفس لا تشبع ومن دعوة لا يستجاب لها

اللهم انفعني بما علمتني وعلمني ما ينفعني وارزقني علما ينفعني

اللهم أصلح لي ديني الذي هو عصمة أمري وأصلح لي دنياي التي فيها معاشي وأصلح لي آخرتي التي فيها معادي, واجعل الحياة زيادة لي في كل خير والموت راحة لي من كل شر

اللهم إني أسألك عيشة تقية وميتة سوية ومردا غير مخز ولا فاضح, اللهم أعنا على ذكرك وشكرك وحسن عبادتك آمين

اللهم لا تدع لنا ذنبا إلا غفرته ولا هما إلا فرجته ولا دينا إلا قضيته ولا حاجة من حوائج الدنيا والآخرة إلا قضيتها يا أرحم الراحمين

اللهم لك الحمد وإليك المشتكى وأنت المستعان ولا حول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم, اللهم إني أعوذ بك من الجوع فإنه بئس الضجيع, وأعوذ بك من الخيانة فإنها بئست البطانة

اللهم عافني في جسدي وعافني في بصري واجعله الوارث مني

اللهم أحسن عاقبتنا في الأمور كلها وأجرنا من خزي الدنيا وعذاب الآخرة, اللهم اجعل خير عملي آخره وخير عملي خواتمه وخير أيامي يوم ألقاك فيه"

.... lanjut ke bagian (2)

 

Bagikan via

Baca Lainnya : Muhammad Saiyid Mahadhir, Lc, MA

Penetapan Awal Ramadhan
11 May 2017, 10:24 | 1.754 views
Qadha Shalat
8 February 2017, 08:52 | 3.423 views
Adzan
11 January 2017, 05:00 | 2.643 views
Mujtahid dan Muqallid
4 January 2017, 08:05 | 2.506 views
Fiqih Dalam Al-Quran
21 December 2016, 01:20 | 2.458 views
Faidah Fiqih Dari Kisah Nabi Khidhr dan Musa AS
5 December 2016, 07:29 | 3.126 views
Doa Khatam Al-Quran (2)
15 July 2016, 19:11 | 1.458 views
Doa Khatam Al-Quran (1)
4 July 2016, 10:28 | 1.271 views
Lakum Dinukum Waliyadin
16 December 2015, 00:00 | 20.355 views
Syariat Puasa
17 June 2015, 07:01 | 5.361 views
Nikah Beda Agama
11 September 2014, 04:29 | 55.654 views
Bolehkah Perempuan Berkarir?
11 July 2014, 09:58 | 12.867 views
Fidyah Puasa
14 June 2014, 06:00 | 25.434 views
Ibu Hamil dan Menyusui Boleh Berbuka
31 May 2014, 05:00 | 5.342 views
Mudik, Berbuka atau Tetap Berpuasa?
20 May 2014, 08:22 | 4.807 views
Sakit Yang Membolehkan Berbuka
17 May 2014, 21:47 | 3.666 views
Shalat Menghadap (Arah) Ka
20 April 2014, 07:58 | 6.078 views
Shalat Menghadap (Arah) Ka
20 April 2014, 06:37 | 4.780 views
Sekufu’ Dalam Menikah
12 April 2014, 05:00 | 14.394 views
Berapakah Jumlah Ayat Hukum?
2 April 2014, 06:29 | 5.575 views
Pengantar Tafsir Fiqih
1 April 2014, 21:30 | 5.161 views

total 832373 views