Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Haramkah Menghias Masjid | rumahfiqih.com

Haramkah Menghias Masjid

Wed 20 March 2013 02:59 | Shalat | 7.512 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :

Ust. ketika saya berceramah di suatu masjid, seorang ibu bertanya kepada saya, apakah memang tidak dibolehkan untuk memasang kaligrafi di masjid? Ibu ini bilang ia mendengar dari khutbah Jumat, mubalighnya bilang memasang kaligrafi di masjid tidak dibolehkan. Sehingga di masjid tempat saya menjadi pembicara itu pun tidak ada kaligrafinya. Apa emang ada nash yang melarang, ustadz? Terima kasih.

Jawaban :

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wa barakatuh,

Masalah menghias masjid memang diperselisihkan para ulama di masa lalu. Namun perselisihan mereka berangkat dari kenyataan bahwa hiasan itu sangat mahal, karena terbuat dari ukiran kaligrasi dan aksesorisnya yang terbuat dari emas dan perak. Hiasan seperti itu tentu sangat mahal harganya, bahkan untuk ukuran seorang penguasa sekalipun.

Adapun hiasan yang biasa kita lihat di masjid-masjid di sekeliling kita ini, tidak lain hanya terbuat dari cat tembok. Indah memang, tetapi hanya imitasi belaka. Bukan emas dan perak seperti di masa lalu. Kalau hanya berupa kaligrafi dengan cat tembok, rasanya tidak ada nash yang secara langsung melarangnya. Sebaliknya, bila hiasan itu sampai menghabiskan dana yang teramat mahal, karena harus menghabiskan emas berton-ton, banyak para ulama di masa lalu yang memakruhkannya, bahkan sampai mengharamkannya.

Apalagi mengingat bahwa masjid nabawi di masa Rasulullah SAW itu sangat sederhana. Hanya sebagiannya yang beratap, itupun hanya berupa daun kurma. Alasnyabukan marmer, tetapi tanah atau pasir. Tiangnya bukan beton tetapi hanya batang-batang kurma. Dan hal itu terjadi hingga masa Al-Khulafa' Ar-Rasyidun. Barulah pada masa khilafah Al-Walid bin Abdil Malik, masjid-masijd dihias dengan berlebihan, yaitu dengan ukiran kaligrafi dari emas dan perak.

Realitas ini kemudian disimpulkan oleh sebagian ulama sebagai isyarat tidak bolehnya kita menghias masjid dengan hiasan yang mewah. Bahkan oleh sebagiannya dianggap bid'ah, buang harta dan haram. Namun masalah ini memang sejak awal termasuk masalah khilaf pada fuqaha. Bahkan ke-empat imam mazhab utama pun tidak seragam pendapatnya.

1. Al-Hanafiyah
Al-Hanafiyah beranggapan bahwa tidak mengapa untuk menghias masjid dengan beragam ukiran dan kaligrafi. Asalkan bukan pada bagian mihrabnya. Alasannya, agar orang yang shalat tidak terganggu konsentrasinya. Yang dimaksud ukiran di masjid adalah membuat hiasan dengan tatahan emas atau perak.

Namun bila dana yang digunakan untuk hiasan itu berasal dari harta waqaf secara umum yang niatnya untuk masjid, menurut beliau hukumnya haram. Jadi yang boleh adalah harta dari seseorang yang niatnya memang untuk keperluan perhiasan itu.

2. Al-Malikiyah
Al-Malikiyah memakruhkan penghiasan dinding masjid, termasuk atapnya, kayunya dan hijabnya, bila hiasan itu terbuat dari emas atau perak dan bila sampai mengganngu konsentrasi para jamah yang shalat. Namun bila hiasan itu di luar apa yang disebutkan, tidak ada kemakruhannya.

3. As-Syafi'iyah Mazhab As-Syafi'iyah sebagaimana yang disebutkan oleh Az-Zarkasyi mengemukakan bahwa mengukir masjid itu hukumnya makruh, terutama bila menggunakan harta waqaf yang diperuntukkan buat masjid secara umum. Sebab harta waqaf buat mereka tidak boleh diubah pemanfaatannya begitu saja.

4. Al-Hanabilah
Al-Hanabilah adalah satu-satunya mazhab yang tegas mengharamkan penghiasan masjid. Buat mereka, bila masjid sudah terlanjur dihias dengan emas dan perak, wajib untuk dicopot.

Pendapat mereka ini dikuatkan juga dengan hadits berikut:

Tidak akan terjadi hari kiamat kecuali orang-orang berbangga-bangga dengan masjid. (HR. Ahmad dan Ashabussunann kecuali At-Tirmizy)

Para ulama banyak yang memaknai sabda Rasulullah SAW tentang berbangga-bangga dengan masjid ini sebagai bentuk penghiasan masjid dengan ukiran/kaligrafi emas dan perak pada dindingnya. Dan oleh sebagian ulama dijadikan sebagai isyarat tidak bolehnya kita menghias masjid dengan hiasan yang mewah.

Jadi barangkali para takmir di masjid tempat anda ceramah itu cenderung kepada pendapat mazhab Hanabilah yang secara tegas mengharamkan penghiasan masjid. Meskipun sesungguhnya konteks di masa lalu adalah hiasan yang terbuat dari emas dan perak.

Sedangkan yang bukan terbuat dari emas dan perak, kelihatannya tidak terlalu menjadi masalah, apalagi bila kita perhatikan masjid Al-Haram Makkah dan Madinah, di mana keduanya dihias dengan marmer yang pasti harganya sangat mahal. Demikian juga Ka'bah al-Musyarrafah yang dihias dengan kalirafi indah terbuat dari benang emas dan kain sutera. Sementara umumnya mufti dan penduduk Saudi Arabia adalah pemeluk mazhab Al-Hanabilah. Belum pasti, apakah mereka diam saja karena takut atau setuju.

Tapi sekali lagi, masalah ini memang merupakan perbedaan pendapat di kalangan para ulama, baik di masa lalu maupun masa sekarang ini. Kita tidak perlu terperosok pada perdebatan panjang masalah ini, karena masing-masing punya dalil yang mereka yakini kebenarannya.

Wallahu a'lam bish-shawab
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wa barakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc.

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Mengapa Umat Islam Sulit untuk Bersatu?
19 March 2013, 00:01 | Kontemporer | 10.950 views
Benarkah Ada Ayat-ayat Yang Saling Kontradiktif
18 March 2013, 02:00 | Quran | 9.201 views
Bolehkah Wanita Jadi Saksi Dalam Pernikahan
17 March 2013, 23:33 | Nikah | 10.006 views
Apakah Kita Baca Al-Fatihah Ketika Shalat di Belakang Imam?
16 March 2013, 23:38 | Shalat | 19.830 views
Yahudi, Kristen dan Islam : Apakah Tuhannya Sama?
16 March 2013, 00:30 | Aqidah | 30.940 views
Tidak Berhukum dengan Hukum Allah: Kafir?
16 March 2013, 00:23 | Negara | 9.500 views
Bolehkah Nikah Tapi Sudah Niat Segera Mentalak?
15 March 2013, 01:18 | Nikah | 7.793 views
Bolehkah Membatalkan Niat Haji Kedua?
13 March 2013, 01:35 | Haji | 7.048 views
Hukum Sunat bagi Perempuan
13 March 2013, 00:56 | Wanita | 12.006 views
Bolehkah Menyembelih Hewan Tanpa Baca Bismillah?
12 March 2013, 00:16 | Qurban Aqiqah | 9.806 views
Hukum Barang Temuan Jam Tangan Di Mall
11 March 2013, 00:34 | Muamalat | 7.572 views
Perempuan Nikah Lagi Sebelum Resmi Cerai
10 March 2013, 11:51 | Nikah | 25.001 views
Satu Dari Empat Penduduk Dunia Adalah Muslim?
8 March 2013, 02:14 | Kontemporer | 7.287 views
Ayah Saya Non Muslim, Lalu Siapa Yang Jadi Wali Saya?
8 March 2013, 00:32 | Nikah | 14.590 views
Hukum Menerima Uang PILKADES
6 March 2013, 22:34 | Muamalat | 36.653 views
Apa Batasan Haramnya Tasyabbuh Dengan Non Muslim?
6 March 2013, 10:05 | Ushul Fiqih | 20.386 views
Panduan Agar Pengobatan Alternatif Tidak Melanggar Syariah
5 March 2013, 23:46 | Umum | 17.863 views
Apakah Orang Bertakwa Pasti Kaya?
5 March 2013, 23:08 | Umum | 7.566 views
Hukum Mengedit Photo Menggunakan Software
5 March 2013, 00:22 | Kontemporer | 17.838 views
Apakah NII Masih Ada dan Apakah Termasuk Kelompok Sesat?
5 March 2013, 00:20 | Dakwah | 29.077 views

TOTAL : 2.302 tanya-jawab | 38,513,360 views

KATEGORI
1. Aqidah 25 subtema
2. Quran 8 subtema
3. Hadits 11 subtema
4. Ushul Fiqih 7 subtema
5. Thaharah 9 subtema
6. Shalat 28 subtema
7. Zakat 11 subtema
8. Puasa 15 subtema
9. Haji 12 subtema
10. Muamalat 17 subtema
11. Nikah 20 subtema
12. Mawaris 9 subtema
13. Kuliner 7 subtema
14. Qurban Aqiqah 3 subtema
15. Negara 11 subtema
16. Kontemporer 7 subtema
17. Wanita 8 subtema
18. Dakwah 5 subtema
19. Jinayat 7 subtema
20. Umum 23 subtema

Jadwal Shalat DKI Jakarta

22-11-2019
Subuh 04:04 | Zhuhur 11:40 | Ashar 15:04 | Maghrib 17:55 | Isya 19:08 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio | Jadwal
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img