Menukil Hadist Nabi Tanpa Perawi | rumahfiqih.com

Menukil Hadist Nabi Tanpa Perawi

Thu 1 November 2007 22:02 | Hadits > Status Hadits | 5.923 views

Pertanyaan :

Assalammu'laikum Wr. Wb

Pa ustadz yang dirahmati Allah SWT,

Saya terkadang mengisi dakwah/ ceramah di musholla atau di masjid ceramah terkadang mengalir begitu sajasesuai tema yang saya bawakan, di tengah ceramah terkadang ada rujukan beberapa hadits yang saya sampaikan ke jamaah namun saya mengambil poinnya saja seperti " Nabi SAW bersabda.....ila akhir, terkadang kalau ingat dengan arabnya baru artinya kalau lupa saya langsung terjemahanbahasa Indonesia.

Ini saya lakukan tanpadidahului dengan perawinya. Tapi saya ingat hadist tersebut sudah saya baca di sahih Bukhori Muslim, apakah cara seperti ini masih diperbolehkan?

Wassalammulaikum wr. Wb

Jawaban :

Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ketika seseorang sudah yakin dengan keshahihan suatu hadits, maka tidak ada salahnya dalam menyampaikan tidak lagi disebutkan bahwa hadits itu shahih atau terdapat dalam kitab Shahih Bukhari.

Walaupun sebenarnya akan jauh lebih baik kalau disebutkan, karena jusru akan menguatkan dalam berhujjah. Tapi memang bukan sebagai syarat mutlak.

Semua akan tergantung kepada audience yang ada di depan anda. Kalau mereka orang awam yang butuh penjelasan singkat tanpa menghiraukan urusan isnad, dan karena mungkin bukan farumnya untuk diskusi isnad, silahkan saja disampaikan meski tanpa bicara siapa perawinya.

Akan tetapi ada forum tertentu yang memang dikemas khusus untuk

Tidak Tahu Derajat Hadits

Yang seharusnya dihindari adalah ketika seseorang mengutip hadits yang dia sendiri tidak tahu apakah hadits itu shahih atau tidak. Sebab hal itu bisa menyesatkan umat.

Kalau memang ternyata shahih atau setidaknya maqbul derajatnya, mungkin aman dan tidak masalah. Tapi bagaimana seandainya yang kita sampaikan itu ternyata bukan hadits, melainkan lafadz karangan manusia yang dinisbahkan kepada perkataan nabi Muhammad SAW? Tentu amat besar ancaman adzab yang telah nabi SAW sendiri ingatkan.

Ada satu trik ketika kita tidak yakin derajat hadits tersebut, yaitu kita bisa menggunakan metode kutipan. Kita tidak berhujjah dengan diri kita namun pinjam hujjah orang lain. Jadi kita hanya mengutip hujjah suatu pendapat orang lain dan bukan kita yang sedang berhujjah.

Kalau dalam konteks mengutip pendapat orang lain, kita bisa mengutip pendapatnya itu sekaligus dengan hujjah hadits tersebut, yang kita tidak tahu kedudukannya. Kalau hujjah itu salah, maka yang salah bukan kita tetapi orang itu. Bahwa kita mengutip pendapatnya, itu lain urusan. Karena ketika kita mengutip sesungguhnya tidak lantas kita setuju dengan pendapatnya.

Dengan demikian, kita pun tidak berkewajiban untuk menjelaskan status kedudukan hadits yang kita kutip dari pendapat orang lain.

Hujjah dengan Hadits Dhaif

Bagaimana bila kita yakin suatu hadits dhaif? Masih bolehkah kita menyampaikannya?

Menyampaikan suatu hadits yang derajatnya lemah, misalnya hadits dha'if, tanpa menunjukkan kelemahannya, lalu dijadikan hujjah untuk masalah aqidah dan hukum syariah, tentu merupakan larangan. Sebab nanti akan timbul resiko orang akan berdalil dengan hadits yang kita kutip itu tanpa tahu bahwa ternyata hadits itu bermasalah dari segi kekuatannya.

Sebenarnya menyampaikan hadits yang dhaif tidak masalah, asalkan kita sebutkan bahwa hadits itu dhaif. Adapun apakah hadits dhaif itu bisa dijadikan hujjah atau tidak, di situ ulama berbeda pendapat.

Al-Imam An-Nawawi dan beberapa ulama lain mengatakan bahwa selama suatu hadits tidak parah dalam kedhaifannya, boleh dijadikan dasar penyemangat untuk masalah amal-amal tambahan (fadhailul-a'mal).

Sehingga berdasarkan pandangan seperti ini, sekiranya anda ingin mengikutinya, boleh saja anda kutipkan suatu hadits yang kedhaifannya tidak terlalu parah, sambil tidak lupa menjelaskan status kedhaifan hadits itu dan sekalian dijelaskan bahwa khusus untuk masalah pahala amal sebagian ulama masih membolehkannya.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc


Baca Lainnya :

Majelis Dzikir, Bid'ahkah?
1 November 2007, 08:45 | Kontemporer > Bidah | 9.078 views
Benarkah di Setiap Ayat Alquran Ada Khodam (Jin)?
1 November 2007, 01:10 | Al-Quran > Khazanah | 16.497 views
Pernikahan Rasulullah Saw dengan Aisyah Ra
31 October 2007, 02:48 | Pernikahan > Akad | 8.661 views
Menikah Jarak Jauh
30 October 2007, 01:20 | Pernikahan > Nikah berbagai keadaan | 6.226 views
Pil Penunda Haidh untuk Jamaah Haji Wanita
30 October 2007, 00:58 | Haji > Haji Berbagai Keadaan | 6.798 views
Larangan Nuzulul Qur'an, Maulud Nabi dan Isra Miraj
29 October 2007, 01:02 | Hadits > Penerapan hadits | 9.414 views
Ciri Utama Seorang Ahlusunnah Wal Jamaah
28 October 2007, 11:13 | Aqidah > Aliran-aliran | 10.072 views
Syahadat Haruskah Diulang Seorang Muslim?
27 October 2007, 15:23 | Aqidah > Syahadat | 7.563 views
Antara Hibah dan Waris
24 October 2007, 22:39 | Mawaris > Masalah terkait waris | 8.629 views
Kehidupan Baru Alam Kubur: Dapat Isteri Baru?
23 October 2007, 22:53 | Aqidah > Alam Barzakh | 8.209 views
Ibu Tidak Membagi Warisan Kecuali untuk Dua Anak
23 October 2007, 21:50 | Mawaris > Bagi waris berbagai keadaan | 6.183 views
Menikah dengan Lain Agama
23 October 2007, 02:57 | Pernikahan > Nikah berbagai keadaan | 6.676 views
Komisi Dokter dari Industri Obat
21 October 2007, 22:41 | Muamalat > Upah | 5.859 views
Apakah Honor Jaga Bisa Diqyaskan dengan Rikaz?
21 October 2007, 02:52 | Zakat > Apakah Kena Zakat? | 5.469 views
Salat Subuh Jam 10 Pagi Karena Hobi Nonton Bola
21 October 2007, 02:24 | Shalat > Shalat Qadha | 7.318 views
Mungkinkah Ikhwan, Hizbuttahrir dan Salafi Bergabung?
20 October 2007, 04:56 | Dakwah > Kelompok dan golongan | 9.932 views
Gaji PNS Halalkah?
20 October 2007, 04:55 | Muamalat > Syubhat | 8.229 views
Hadits Tuntutlah Ilmu Sampai ke Negeri Cina, Adakah?
20 October 2007, 04:52 | Hadits > Status Hadits | 11.157 views
Hadits Pahala yang Hilang Karena Diambil Orang
20 October 2007, 04:51 | Hadits > Syarah Hadits | 10.248 views
Mengapa Penetapan 1 Syawal Berbeda
20 October 2007, 04:50 | Puasa > Idul Fithr | 9.887 views

TOTAL : 2.296 tanya-jawab | 45,577,172 views

KATEGORI

Jadwal Shalat DKI Jakarta

28-10-2021
Subuh 04:09 | Zhuhur 11:38 | Ashar 14:52 | Maghrib 17:49 | Isya 18:59 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Pustaka | Radio | Jadwal
Link Terkait :
Sekolah Fiqih