Kata Ganti Orang Dalam Al-Quran | rumahfiqih.com

Kata Ganti Orang Dalam Al-Quran

Fri 23 November 2007 04:23 | Al-Quran > Khazanah | 7.635 views

Pertanyaan :

Ass. Wr. Wb.

Ustadz yang terhormat,

Saya kalau membaca terjemahan Al-Quran selalu beberapa kata menyatakan "Kami", apakah itu artinya? Misalkan "Kami Maha Berkenhendak" Sedangkan dalam tafsirnya dinyatakan Kami adalah Allah.

Padahal sepengetahuan saya kata "Kami" bermakna jamak. Apakah hal itu berarti Kami (Allah) jamak? Dan beberapa kata yang lain Aku (Allah) tunggal.

Apakah Malaikat Jibril sebagai utusan wahyu Allah merupakan substansi ataukah makna kias saja? Karena ada yang mengatakan bahwa Malaikat adalah simbolisasi dari sifat kebaikan saja.

Mohon penjelasanya.

Wassalaamu 'alaikum

Yunan

Jawaban :

Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Allah SWT Maha Esa, berarti Dia itu satu, bukan dua atau tiga. Maha Suci Allah dari sifat lebih dari satu.

Allah SWT itu bukan manusia dan bukan pula makhluk hidup dengan jenis kelamin. Maka Dia bukan laki-laki dan juga bukan perempuan, bukan pula banci (naudzubillah minta dzalik).

Adapun bahasa arab, memang punya 14 dhamir atau kata ganti orang. Mulai dari huwa sampai nahnu. Huwa adalah kata ganti untuk orang ketiga, tunggal dan laki-laki.

Di dalam Al-Quran, penggunaan kata ganti orang ini sering juga diterapkan untuk lafadz Allah SWT. Al-Quran membahasakan Allah dengan kata ganti Dia (huwa). Di mana makna aslinya adalah dia laki-laki satu orang. Tetapi kita tahu bahwa Allah SWT bukan laki-laki dan juga bukan perempuan atau banci.

Kalau ternyata Al-Quran menggunakan kata ganti Allah dengan lafadz huwa, dan bukan hiya (untuk perempuan), sama sekali tidak berarti bahwa Allah itu laki-laki.

Penggunaan kata ganti huwa (yang sebenarnya untuk laki-laki) adalah ragam keistimewaan bahasa arab yang tidak ada seorang pun meragukannya.

Maka demikian pula dengan penggunaan kata nahnu, yang meski secara penggunaan asal katanya untukkata ganti orang pertama, jamak (lebih dari satu), baik laki-laki maupun perempuan, namun sama sekali tidak berarti Allah itu berjumlah banyak.

Orang arab sendiri akan terpingkal-pingkal kalau melihat cara orang Indonesia berusaha menyesatkan orang lain lewat logika aneh bin ajaib seperti ini, yaitu mengatakan Allah itu banyak hanya lantaran di Al-Quran Allah seringkali menggunakan kata ganti kami (nahnu). Betapa kerdilnya logika yang dikembangkan, niatnya mau sok tahu dengan bahasa arab, sementara orang arab sendiri mafhum bahwa bahasa mereka istimewa.

Tidak semua kata nahnu (kami) selalu berarti pelakunya banyak. Memang benar secara umum kata nahnu menunjukkan jumlah yang banyak, tetapi orang yang bodoh dengan bahasa arab terkecoh besar dengan ungkapan ini. Sebenarnya kata kami tidak selalu menunjukkan jumlah yang banyak, tetapi juga menunjukkan kebesaran orang yang menggunakannya.

Misalnya, seorang presiden dari negara arab mengatakan begini, "Kami menyampaikan salam kepada kalian", apakah berarti jumlah presiden negara itu ada lima orang? Tentu saja tidak. Sebab kata "kami" yang digunakannya menggambarkan kebesaran negara dan bangsanya, bukan menunjukkan jumlah presidennya.

Tukang becak di pinggir jalan pun tahu bahwa yang namanya presiden di semua negara pastilah jumlahnya cuma satu, tidak mungkin ada lima. Hanya orang bodoh saja yang mengatakan presiden ada lima. Dan hanya orang bodoh tidak pernah makan sekolahan saja yang mengatakan bahwa Allah itu ada banyak, hanya gara-gara Dia menyebut dirinya dengan lafadz KAMI.

Ini adalah logika paling gila yang pernah diucapkan oleh hewan yang merayap di muka bumi yang mengaku bernama manusia. Dan sayangnya, dengan logika jungkir balik tidak karuan seperti ini, masih saja ada orang yang mau melahapnya mentah-mentah. Masih saja jatuh korban kesesatan tidak lucu dari massa mengambang muslim.

Dan sayangnya, masih saja ada yang bertanya seperti ini di situs Eramuslim, cukup aneh dan tidak jelas apa motivnya.

Jibril Adalah Malaikat

Orang yang mengingkari malaikat sebagai makhluk Allah yang mulai adalah orang kafir, keluar dari Islam dan murtad. Sebab percaya kepada keberadaan malaikat sebagai makhluk Allah yang eksis adalah bagian dari rukun iman yang enam perkara. Satu di antaranya dipungkiri, maka gugurlah syahadat dan iman kita kepada Allah.

Lagian, apa sih ruginya kita percaya pada keberadaan para malaikat itu? Apa sih yang salah kalau kita meyakini ada sekian banyak makhluq ghaib dan salah satunya adalah malaikat Allah yang mulia?

Apakah dengan mempercayai adanya malaikat, kita lantas jadi bangsa yang mundur, tertinggal, miskin, kurang makan dan penyakitan?

Apakah kalau kita paksa-paksa akal kita untuk menafsirkan malaikat sebagai kekuatan, energi, power, atau sebuah mekanisme tertentu, lalu kita akan bangkit jadi umat yang kuat dan dapat mengalahkan yahudi?

Apakah dengan mengingkari keberadaan malaikat, kita bisa merdeka terbebas dari penjajahan ekonomi barat? Apakah kita lantas menjadi bangsa yang maju?

Sekali-kali tidak. Justru kita malah semakin terbenam di dalam lumpur kebodohan yang telah disediakan oleh kalangan sekular. Kita jutru semakin jauh dari agama Islam dan sumber-sumbernya yang original.

Bagaimana mungkin kita belajar agama Islam tapi bukan merujuk kepada sumber-sumber Islam, malah merujuk kepada logika ngawur yang tidak jelas ujung dan pangkalnya?

Semoga kita diberi hidayah dan kembali ke jalan yang lurus sesuai dengan apa yang telah digariskan oleh Rasulullah SAW, Amien

Wallahu a'alm bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc


Baca Lainnya :

Mau Shalat Tapi Celana Kena Kencing
22 November 2007, 15:42 | Thaharah > Najis | 8.331 views
Cara Mencari Sanad dan Matan Dalam Hadist
22 November 2007, 13:05 | Hadits > Penerapan hadits | 21.814 views
Shalat Arbain di Masjid Nabawi Bagi Jamaah Haji Wanita
20 November 2007, 23:29 | Haji > Ritual terkait haji | 7.176 views
Hukum Mawaris dan Sistem Keluarga Dalam Islam
20 November 2007, 00:39 | Mawaris > Substansi ilmu waris | 6.067 views
Bagaimana Caranya untuk Mendapatkan Sholat Khusyu'
19 November 2007, 23:42 | Shalat > Shalat Dalam Berbagai Keadaan | 7.946 views
Shalat Shubuh di Pesawat Terbang
16 November 2007, 09:30 | Shalat > Shalat Dalam Berbagai Keadaan | 5.867 views
Tahallul: Menggunduli Rambut atau Mencukur Sebagian?
15 November 2007, 10:33 | Haji > Rukun Haji | 7.476 views
Pergi Haji Harus Pindah Mazhab?
15 November 2007, 10:01 | Haji > Haji Berbagai Keadaan | 6.094 views
Mengapa Allah Tidak Menjadikan Syetan Taat Kepadanya?
14 November 2007, 05:32 | Aqidah > Ghaib | 7.390 views
Hubungan dengan Peristiwa Bom Bali
14 November 2007, 05:22 | Umum > Konflik | 5.276 views
Peristiwa Serangan Gedung WTC Dilakukan Mujahidin atau Bush?
13 November 2007, 00:53 | Umum > Konflik | 5.624 views
Siapakah Haba'ib atau Habib Itu?
12 November 2007, 00:06 | Umum > Istilah | 14.186 views
Apakah Membagi Ilmu Islam Menjadi Usul dan Furu, Bid'ah?
11 November 2007, 22:28 | Ushul Fiqih > Ijtihad | 6.930 views
Mengapa Indonesia Memusuhi Israel Tapi Berteman dengan Komunis?
11 November 2007, 00:44 | Negara > Arus politik | 6.651 views
Apakah Wali Songo Termasuk Generasi Salafussaleh?
9 November 2007, 00:56 | Umum > Sejarah | 13.678 views
Sepupu, Antara Wali Nikah dan Bukan Mahram?
8 November 2007, 22:24 | Pernikahan > Wali | 7.824 views
10 Kriteria Aliran Sesat
8 November 2007, 00:55 | Aqidah > Aliran-aliran | 7.288 views
Bolehkah Ayat Alqur'an Dijadikan Ringtone?
8 November 2007, 00:55 | Al-Quran > Hukum | 5.941 views
Bertanya Lagi Tentang Hak Waris Ibu
6 November 2007, 22:59 | Mawaris > Hak waris | 5.653 views
Apakah Tabungan Perlu Dikeluarkan Zakatnya?
6 November 2007, 22:19 | Zakat > Zakat Uang Harta Emas | 7.155 views

TOTAL : 2.296 tanya-jawab | 45,348,794 views

KATEGORI

Jadwal Shalat DKI Jakarta

18-9-2021
Subuh 04:29 | Zhuhur 11:48 | Ashar 15:01 | Maghrib 17:53 | Isya 19:00 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Pustaka | Radio | Jadwal
Link Terkait :
Sekolah Fiqih