Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Benarkah Wanita Haidh dan Nifas Tetap Wajib Mengganti Shalatnya? | rumahfiqih.com

Benarkah Wanita Haidh dan Nifas Tetap Wajib Mengganti Shalatnya?

Mon 25 May 2015 10:05 | Wanita | 16.743 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :
Assalamu 'alaikum wr. wb.

Ustadz, mohon perkenan menyampaikan pertanyaan terkait kewajiban shalat.

Saya pernah mendengar ada seorang penceramah yang mengatakan bahwa meski seorang wanita tidak boleh shalat di waktu haidh, tetapi setelah suci seusai haidh tetap diwajibkan untuk mengganti shalatnya.

Setahu saya selama ini kan tidak wajib diganti. Tetapi kok ada yang bilang begitu? Kira-kira pendapat ini benar atau salah ya ustadz?

Mohon klarifikasi dari ustadz. Sebelumnya saya ucapkan terima kasih. Jazakallah khairal jaza'

Wassalam

Jawaban :
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Kita harus bedakan kasusnya dan wajib lebih teliti. Benar bahwa pada umumnya seorang wanita yang sedang mendapatkan darah haidh (dan juga nifas) adalah orang yang memiliki udzur syar'i. Sehingga kewajiban shalat lima waktu yang asalnya merupakan fardhu 'ain, dengan adanya haidh atau nifas, dicabut kewajibannya. Statusnya menjadi gugur kewajiban, sehingga tidak perlu diganti di kemudian hari.

Dasar dari dicabutnya kewajiban shalat bagi wanita yang sedang haidh atau nifas adalah hadits berikut ini :

عَنْ عَائِشَةَ رضيَ اللهُ عَنْهَا: أنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ أَبِي حُبَيْشٍ كَانَتْ تُسْتَحَاضُ فَقَالَ لَهَا رَسُولُ الله إِنَّ دَمَ الحَيْضِ دَمٌ أَسْوَدُ يُعْرَفُ فَإِذا كَانَ ذَلِكَ فَأَمْسِكِي عَنِ الصَّلاةِ فَإِذا كَانَ الآخَرُ فَتَوَضَّئِي وَصَلِّي

Dari Aisyah ra berkata"Fatimah binti Abi Hubaisy mendapat darah istihadha maka Rasulullah SAW bersabda kepadanya"Darah haidh itu berwarna hitam dan dikenali. Bila yang yang keluar seperti itu janganlah shalat. Bila sudah selesai maka berwudhu'lah dan lakukan shalat. (HR. Abu Daud dan An-Nasai).

Selain itu juga ada hadis lainnya:

إِذَا أَقْبَلَتِ الْحَيْضَةُ فَدَعِي الصَّلاَةَ

‘Dari Fatimah binti Abi Khubaisy bahwa Rasulullah SAW bersabda: ‘Bila kamu mendapatkan haid maka tinggalkan shalat’

Namun gugurnya kewajiban shalat itu hanya manakala sepenuh waktu shalat dia berada di dalam keadaan haidh. Sedangkan bila seorang wanita mengalami haidh hanya pada sebagian waktu shalat, sedangkan sebagian waktu shalat yang lainnya dia dalam keadaan suci, maka kewajiban shalatnya tidak gugur. Artinya dia tetap diwajibkan mengganti shalat yang terlewat, meski pada sebagian waktunya berada dalam keadaan haidh.

Dalam hal ini bisa terjadi dua kasus :

1. Suci Dari Haidh Sebelum Waktu Shalat Berakhir

Seorang wanita dalam haidh, kemudian masuklah waktu shalat fardhu. Sebelum waktu shalat itu habis, dia telah suci dari haidh. Maka wanita itu tetap wajib mengerjakan shalat, karena ada durasi waktu dimana dia dalam keadaan suci.

Contohnya ketika masuk waktu Dzhuhur seorang wanita masih dalam keadaan haidh. Namun jam 14.00, dipastikan darah haidhnya telah berhenti mengalir. Artinya dia telah suci dan waktu shalat Dhuhur masih ada.

Dalam kejadian ini, yang wajib dilakukan adalah segera mandi janabah untuk mengangkat hadats besar, lalu segera mengerjakan shalat. Bila waktu shalat sudah habis, maka tetap saja shalat, karena kewajiban shalat tidak gugur dengan lewatnya waktu shalat.

Sebagian ulama menyebut bahwa shalat yang dilakukan setelah lewat waktunya, apapun alasannya, dengan istilah shalat qadha'.

2. Sudah Masuk Waktu Shalat Belum Sempat Shalat Terlanjur Haidh

Seorang wanita dalam keadaan suci lalu masuk waktu shalat dan belum sempat mengerjakannya, tiba-tiba dia mendapat darah haidh.

Contoh gambarannya misalnya, ada seorang wanita yang ketika masuk waktu Dzhuhur masih dalam perjalanan. Niatnya akan mengerjakan shalat di rumah. Tapi ketika hampir mau mengerjakan shalat, tiba-tiba keluar darah haidh.

Dalam dalam kasus ini, dia tidak boleh shalat, namun kewajiban shalatnya tidak gugur. Alasannya, karena ada masa waktu dimana dia masih suci dan waktu shalat sudah tiba.

Untuk itu, nanti setelah masa haidh berlalu, seusai mengerjakan mandi janabah untuk mengangkat hadats, dia harus mengganti shalatnya yang terlewat. Orang sering menyebutnya dengan istilah shalat qadha'.

Namun benar sekali bahwa kebanyakan wanita muslimah kurang mengerti aturan main ini. Sehingga banyak yang lalai dan menggampangkan saja. Akibatnya banyak yang 'tidak mengerjakan shalat'. 

Catatan :

Apa yang saya tuliskan ini memang sedikit terkandung masalah khilafiyah. Karena ketentuan ini adanya di mazhab Asy-Syafi'iyah.

Sedangkan dalam pandangan mazhab Al-Hanafiyah, seorang wanita yang ketika masuk waktu shalat fardhu dalam keadaan suci, lalu di tengah waktu shalat dia mendapatkan darah haidh, padahal belum sempat shalat, maka kewajiban shalatnya gugur. Dan untuk itu tidak perlu diqadha' bila nanti telah suci.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc., MA

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Shalat Dua Rakaat, Duduk Tasyahudnya Tawarruk atau Iftirasy?
20 May 2015, 10:26 | Shalat | 44.353 views
Terlambat ke Masjid Bolehkah Ikut Jamaah Gelombang Kedua?
19 May 2015, 07:32 | Shalat | 13.002 views
Baca Quran Langgam Jawa, Haramkah?
18 May 2015, 10:39 | Quran | 138.258 views
Benarkah Hukuman Buat Muslim Yang Minum Khamar Dicambuk 80 Kali?
15 May 2015, 10:30 | Jinayat | 9.837 views
Kapankah Jatuhnya Puasa Hari Syak dan Haramkah Hukumnya?
13 May 2015, 08:02 | Puasa | 14.605 views
Shalat Saat Melintasi Daerah Beda Zona Waktu
11 May 2015, 02:10 | Shalat | 14.201 views
Sembilan Orang Anggota Keluarga Terdekat Namun Ternyata Bukan Ahli Waris
10 May 2015, 16:11 | Mawaris | 10.598 views
Benarkah Haram Menyentuh Mushaf Quran Tanpa Wudhu?
9 May 2015, 07:50 | Quran | 16.442 views
Mengapa Kita Tidak Boleh Menggambar Nabi Muhammad SAW?
8 May 2015, 06:30 | Aqidah | 23.519 views
Bolehkah Kita Makan Benda Yang Terbuat Dari Najis
6 May 2015, 10:50 | Kuliner | 9.570 views
Apakah Makanan Yang Syubhat Berarti Hukumnya Haram?
5 May 2015, 10:00 | Kuliner | 26.618 views
Bolehkah Membatalkan Puasa Sunnah dan Haruskah Diqadha?
4 May 2015, 18:32 | Puasa | 40.307 views
Ingin ke Mesir dan Suriah Untuk Berjihad
3 May 2015, 18:35 | Negara | 17.721 views
Keliru Menyebutkan Bin dalam Ijab Kabul, Apakah Sah Akadnya?
1 May 2015, 13:20 | Nikah | 28.049 views
Khamar Haram Diminum, Tetapi Apakah Khamar Najis?
30 April 2015, 09:49 | Thaharah | 15.661 views
Dimana Kita Bisa Belajar Ilmu Pembagian Harta Waris?
28 April 2015, 06:05 | Mawaris | 9.697 views
Apa Yang Dimaksud Dengan Haji Tamattu' dan Berapa Dendanya ?
26 April 2015, 02:00 | Haji | 22.238 views
Bermalam Bersama Istri dan Menggilir Para Istri, Wajibkah Hukumnya?
25 April 2015, 14:50 | Nikah | 11.212 views
Terkena Najis Saat Rakaat Terakhir Shalat
24 April 2015, 07:50 | Shalat | 11.211 views
Apakah Shalat Sunnah Wudhu Termasuk Disyariatkan? Haruskah Menghadap Kiblat?
23 April 2015, 05:50 | Shalat | 17.620 views

TOTAL : 2.302 tanya-jawab | 38,457,582 views

KATEGORI
1. Aqidah 25 subtema
2. Quran 8 subtema
3. Hadits 11 subtema
4. Ushul Fiqih 7 subtema
5. Thaharah 9 subtema
6. Shalat 28 subtema
7. Zakat 11 subtema
8. Puasa 15 subtema
9. Haji 12 subtema
10. Muamalat 17 subtema
11. Nikah 20 subtema
12. Mawaris 9 subtema
13. Kuliner 7 subtema
14. Qurban Aqiqah 3 subtema
15. Negara 11 subtema
16. Kontemporer 7 subtema
17. Wanita 8 subtema
18. Dakwah 5 subtema
19. Jinayat 7 subtema
20. Umum 23 subtema

Jadwal Shalat DKI Jakarta

20-11-2019
Subuh 04:04 | Zhuhur 11:40 | Ashar 15:03 | Maghrib 17:55 | Isya 19:07 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio | Jadwal
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img