Bagaimana Akad Bagi Hasil yang Baik? | rumahfiqih.com

Bagaimana Akad Bagi Hasil yang Baik?

Fri 21 July 2006 10:20 | Muamalat > Bagi Hasil | 6.235 views

Pertanyaan :

Assalamu alaikum wr. wb.

Saya berniat ingin menjalankan usaha dengan jalan bagi hasil; modal dari pihak lain dan saya kelola menjadi sebuah usaha. Namun saya punya masalah dalam teknis pelaksanaannya. Misalnya saya menerima dana 20 juta dan saya gunakan untuk membuka warung sembako dan kebutuhan sehari-hari lainnya. Rasanya tidak mungkin jika saya harus mencatat 100% detil jual beli, misalnya ada anak-anak beli permen Rp 500. Sedangkan bagi hasil itu berdasarkan perhitungan keuntungan.

Jadi, bagaimanakah cara yang mudah dan mungkin dilaksanakan agar saya tetap dapat melaksanakan sistem bagi hasil tersebut dengan tidak menyulitkan usaha? Terima kasih.

Wassalamu alaikum wr. wb.

Jawaban :

Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Mencatat detail penjualan tidak menjadi syarat mutlak untuk mengetahui keuntungan sebuah usaha jualan. Yang penting anda tahu berapa keuntungan usaha itu, baik per bulan atau per tahun.

Seharusnya seorang pedagang harus tahu, berapakah keuntungan yang didapatnya. Teorinya pun sangat sederhana dan bisa dilakukan dengan mudah. Tapi kalau sampai seorang pedagang tidak mampu menghitung keuntungan yang didapat, justru malah menimbulkan tanda tanya. Sebenarnya bisa dagang atau tidak?

Sebab tidak mungkin dan tidak bisa dibayangkan, ada orang dagang lalu setelah berjalan, dia tapi tidak tahu untung apa tidak. Seharusnya, satu rupiah keuntungan yang bisa didapat, dengan mudah terdeteksi.

Barangkali hal ini juga yang membuat banyak orang berdagang, kelihatannya sibuk, capek dan pusing, tapi tidak pernah untung. Bukan karena tidak untung, jangan-jangan karena tidak tahu cara menghitung keuntungan.

Secara sederhana, sebelum bicara bagi hasil, anda harus sepakat dulu dengan pemilik modal tentang nilai modal masing-masing kalau diprosentasekan. Misalnya, anda punya tempat, kios dan rak-raknya serta anda yang jadi pengelola dinilai semua itu selama satu tahun usaha seharga 20 juta. Lalu teman anda siap membeli barang-barang yang akan dijual, juga seharga 20 juta. Sehingga nilai saham anda masing-masing adalah 50%: 50%.

Satu tahun kemudian, tinggal dihitung jumlah keuntungan. Yaitu semua pemasukan (penjualan) dikurangi dengan modal usaha dan semua biaya operasional. Katakanlah didapat angka 50 juta. Maka anda sebagai pengelola mendapat 25 juta dan teman anda sebagai investor mendapat 25 juta.

Untuk bisa mencatat modal dan keuntungan, anda tidak perlu mencatat semua detail penjualan secara manual. Cukup angka besarnya saja. Tapi pencatatan seperti itu bukan hal yang aneh. Buktinya, di hypermart, supermarket atau pusat-pusat perbelanjaan retail, semua penjualan tercatat dengan pasti, lengkap dengan catatan tanggal, jam, nama kasir, lokasi, harga, kode barang dan semua informasi yang dibutuhkan. Sehingga keuntungan tiap item pun sudah bisa terdeteksi. Padahal jumlah itemnya bisa jutaan banyaknya. Dan lalu lintas ke luar masuk barang pun sangat tinggi trafiknya.

Kalau yang retail kelas raksasa bisa mencatat dengan detail tiap transaksi, logika buat kelas warung seharusnya lebih mudah, bukan?

Wallahu a'lam bishshawab, wasssalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc.


Baca Lainnya :

Khitan untuk Anak Perempuan, Adakah Syariatnya?
21 July 2006, 03:43 | Wanita > Khitan | 10.161 views
Mengkreditkan Emas sebagai Solusi, Bolehkah?
21 July 2006, 03:36 | Muamalat > Riba | 26.508 views
Belum Yakin Nikah Jarak Jauh Lewat Wakil Dibolehkan
20 July 2006, 06:24 | Pernikahan > Nikah berbagai keadaan | 6.357 views
Asuransi yang Dibolehkan
20 July 2006, 01:11 | Muamalat > Asuransi | 8.951 views
Kebajikan dengan Niat Balasan Duniawi
19 July 2006, 06:26 | Umum > Tasawuf | 6.626 views
Mungkinkah Nabi Salah Berijtihad?
19 July 2006, 02:03 | Ushul Fiqih > Ijtihad | 6.735 views
Keluar Mani di Luar Rahim
19 July 2006, 01:57 | Pernikahan > Terkait jima | 8.347 views
Pajangan Patung di Rumah, Bolehkah?
18 July 2006, 05:10 | Aqidah > Syirik dan Bidah | 8.586 views
Israel Sumber Bencana
18 July 2006, 02:49 | Umum > Yahudi | 5.444 views
Kapan Makanan Menjadi Haram?
18 July 2006, 02:35 | Kuliner > Label Halal | 19.925 views
Bid'ahkah Niat Shalat dan Doa Bersama setelah Shalat Jamaah?
17 July 2006, 09:31 | Shalat > Ritual Terkait Shalat | 10.343 views
Ayah Kandung Tidak Menunaikan Kewajiban, Bolehkan Jadi Wali Nikah?
17 July 2006, 04:50 | Pernikahan > Wali | 7.836 views
Investasi Usaha dalam Bentuk Emas
17 July 2006, 04:44 | Muamalat > Syubhat | 6.457 views
Cairan Wanita selain Haid, Nifas dan Istihadhah
17 July 2006, 04:21 | Thaharah > Haidh Nifas Istihadhah | 8.164 views
Shalat Jumat Buat Security Bergiliran, Bolehkah?
17 July 2006, 02:51 | Shalat > Shalat Jumat | 9.159 views
Hukum Tukar Menukar Uang
14 July 2006, 08:39 | Muamalat > Riba | 8.720 views
Hutang Uang Disamakan dengan Hutang Emas
13 July 2006, 03:54 | Muamalat > Hutang | 7.371 views
Pembagian Harta Warisan
13 July 2006, 03:44 | Mawaris > Bagi waris berbagai keadaan | 8.813 views
Hukumnya Mengenakan Kondom
13 July 2006, 03:35 | Kontemporer > Hukum | 8.676 views
Agama adalah Nasehat
12 July 2006, 06:46 | Hadits > Syarah Hadits | 6.902 views

TOTAL : 2.296 tanya-jawab | 45,102,884 views

KATEGORI

Jadwal Shalat DKI Jakarta

30-7-2021
Subuh 04:45 | Zhuhur 12:01 | Ashar 15:23 | Maghrib 17:58 | Isya 19:08 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Pustaka | Radio | Jadwal
Link Terkait :
Sekolah Fiqih