Kerja di Bank Ribawi, Haruskah Saya Berhenti? | rumahfiqih.com

Kerja di Bank Ribawi, Haruskah Saya Berhenti?

Thu 12 January 2006 02:35 | Muamalat > Bank | 12.180 views

Pertanyaan :

Bapak Ustadz yth.
Bagaimana hukumnya sebagai pegawai perbankan konvensional yang telah saya geluti selama +/- 10 tahun dan saya sangat tergantung dengan penghasilan di sini untuk nafkah keluarga. Saya bekerja pada bidang transfer dan pembayaran (payment point), tidak berhubungan dengan dana dan kredit (riba). Mohon petunjuk lebih lanjut

Wassalam,

Jawaban :

Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Masalah riba pada bank konvensional sesungguhnya tidak hanya berkaitan dengan pegawai bank atau penulisnya, tetapi hal ini sudah menyusup ke dalam sistem ekonomi kita dan semua kegiatan yang berhubungan dengan keuangan, sehingga merupakan bencana umum sebagaimana yang diperingatkan Rasulullah saw.:

Sungguh akan datang pada manusia suatu masa yang pada waktu itu tidak tersisa seorangpun melainkan akan makan riba; barangsiapa yang tidak memakannya maka ia akan terkena debunya.`(HR Abu Daud dan Ibnu Majah)

Kondisi seperti ini tidak dapat diubah dan diperbaiki hanya dengan melarang seseorang bekerja di bank atau perusahaan yang mempraktekkan riba. Tetapi kerusakan sistem ekonomi yang disebabkan ulah golongan kapitalis ini hanya dapat diubah oleh sikap seluruh bangsa dan masyarakat Islam. Perubahan itu tentu saja harus diusahakan secara bertahap dan perlahan-lahan sehingga tidak menimbulkan guncangan perekonomian yang dapat menimbulkan bencana pada negara dan bangsa.

Islam sendiri tidak melarang umatnya untuk melakukan perubahan secara bertahap dalam memecahkan setiap permasalahan yang pelik. Cara ini pernah ditempuh Islam ketika mulai mengharamkan riba, khamar, dan lainnya. Dalam hal ini yang terpenting adalah tekad dan kemauan bersama, apabila tekad itu telah bulat maka jalan pun akan terbuka lebar. Setiap muslim yang mempunyai kepedulian akan hal ini hendaklah bekerja dengan hatinya, lisannya, dan segenap kemampuannya melalui berbagaisarana yang tepat untuk mengembangkan sistem perekonomian kita sendiri, sehingga sesuai dengan ajaran Islam.

Sebagai contoh perbandingan, di dunia ini terdapat beberapa negara yang tidak memberlakukan sistem riba, yaitu mereka yang berpaham sosialis. Di sisi lain, apabila kita melarang semua muslim bekerja di bank, maka dunia perbankan dan sejenisnya akan dikuasai oleh orang-orang non muslim seperti Yahudi dan sebagainya. Pada akhirnya, negara-negara Islam akan dikuasai mereka.

Terlepas dari semua itu, perlu juga diingat bahwa tidak semua pekerjaan yang berhubungan dengan dunia perbankan tergolong riba. Ada di antaranya yang halal dan baik, seperti kegiatan perpialangan, penitipan dan sebagainya. Bahkan boleh dibilang sebenarnya tidak terlalu banyaktransaksiyang termasuk haram.

Oleh karena itu, tidak mengapalah seorang muslim menerima pekerjaan tersebut --meskipun hatinya tidak rela-- dengan harapan tata perekonomian akan mengalami perubahan menuju kondisi yang diridhai agama dan hatinya. Hanya saja, dalam hal ini hendaklah ia rnelaksanakan tugasnya dengan baik, hendaklah menunaikan kewajiban terhadap dirinya dan kepada Allah beserta umatnya sambil menantikan pahala atas kebaikan niatnya.

Sesungguhnya setiap orang memperoleh apa yang ia niatkan. (HR Bukhari)

Selain itu para fuqaha sering mengenalkan kita istilah darurat. Kondisi inilah yang mengharuskan Anda menerima pekerjaan tersebut sebagai sarana mencari penghidupan dan rezeki, sebagaimana firman Allah SWT:

Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.`(QS Al-Baqarah: 173)

Dalil ini memberikan syarat darurat untuk membolehkan seseorang memakan harta yang haram. Dan hal darurat itu harus disesuaikan dengan kadarnya.

Bila Anda punya kesempatan besar untuk mendapatkan job lain yang lebih bersih dan halal, tentu sebaiknya anda segera pindah. Namun bila anda tidak terlalu mudah untuk mendapatkan job lain, janganlah berhenti dulu. Sebab anak istri anda di rumah wajib diberikan nafkah oleh kepala keluarga. Kalau anda berhenti kerja begitu saja, sambil mengabaikan nafkah anak istri, tentu anda jauh lebih berdosa. Jadi sementara ini tetaplah dulu bekerja di sana, sambil mencari dan menunggu kesempatan untuk berhenti.

Wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc.


Baca Lainnya :

Anak Janda Menikah dengan Anak Duda Di mana Orang Tua Mereka Menikah. Bolehkah?
12 January 2006, 02:31 | Pernikahan > Mahram | 8.358 views
SABAT
11 January 2006, 06:32 | Umum > Ritual | 6.644 views
Bagaimana Cara Mendoakan Untuk Non Muslim ?
11 January 2006, 02:09 | Umum > Non muslim | 45.876 views
Pendistribusian Qurban
9 January 2006, 06:42 | Qurban Aqiqah > Qurban | 8.480 views
Diskusi Dengan Non Muslim Mengenai Perceraian Dan Poligami Dalam Islam
9 January 2006, 06:39 | Umum > Non muslim | 7.484 views
Wafat dan Lahir Nabi Muhammbad SAW
9 January 2006, 06:34 | Umum > Sejarah | 9.084 views
Bagaimana Cara Mencintai Allah
6 January 2006, 07:36 | Aqidah > Allah | 13.651 views
Bolehkah Menikahi Anak Tiri yang Bukan dalam Asuhan
6 January 2006, 06:29 | Pernikahan > Mahram | 7.549 views
Merencanakan kelahiran anak sesuai syari'at Islam
6 January 2006, 03:38 | Pernikahan > Anak | 7.549 views
Kulit Hewan Qurban
5 January 2006, 04:37 | Qurban Aqiqah > Qurban | 7.302 views
Dapat Bagian dari Daging Qurban
5 January 2006, 03:38 | Qurban Aqiqah > Qurban | 8.129 views
Bagaimana biar anak angkat jadi mahram?
4 January 2006, 09:50 | Pernikahan > Mahram | 8.035 views
Bisakah Ayahku Jadi Waliku?
4 January 2006, 04:09 | Pernikahan > Wali | 6.509 views
Apakah Boleh Menikah?
3 January 2006, 11:04 | Pernikahan > Nikah berbagai keadaan | 9.516 views
Hukum Menjual Kulit Hewan Qurban
3 January 2006, 04:53 | Qurban Aqiqah > Qurban | 9.039 views
Belajar Bahasa Arab
3 January 2006, 00:57 | Umum > Bahasa Arab | 11.998 views
Shalat Tahajud dan Muhasabah
2 January 2006, 05:58 | Shalat > Shalat Malam | 8.898 views
Haruskah Membayar Hutang Puasa Ramadhan?
29 December 2005, 08:11 | Puasa > Qadha Fidyah Kafarat | 7.129 views
Penjelasan Mazhab
29 December 2005, 07:31 | Ushul Fiqih > Mazhab | 21.284 views
Rujukan Kitab Untuk Ilmu Syariah
29 December 2005, 03:29 | Ushul Fiqih > Syariah | 12.574 views

TOTAL : 2.296 tanya-jawab | 45,409,098 views

KATEGORI

Jadwal Shalat DKI Jakarta

29-9-2021
Subuh 04:23 | Zhuhur 11:45 | Ashar 14:52 | Maghrib 17:51 | Isya 18:58 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Pustaka | Radio | Jadwal
Link Terkait :
Sekolah Fiqih