![]() | Tanya Jawab Fiqih Dr. Ahmad Sarwat., Lc.,MA : |
Mendirikan Televisi Khusus Konsumsi Umat Islam |
| PERTANYAAN Assalamu'alaikum Saya merasa amat prihatin kalau memperhatikan perkembangan dunia pertelevisian di negeri ini. Begitu banyak acara yang langsung menyakiti hati umat Islam, bahkan cenderung merusak aqidah, moral, etika dan akhlaq Islami. Konyolnya, kerusakan itu datang terus menerus, 24 jam dalam sehari. |
| JAWABAN Assalamu 'alaikum warahmatullahi waarakatuh Membangun media televisi Islam? Pasti, wajib, mesti, kudu dan harus. Hukumnya fardhu kifayah bagi umat Islam. Kalau sampai umat Islam di negeri ini tidak punya media sendiri yang besar, kuat, mandiri, netral, berwibawa, sehat secara fikrah dan finansial, maka 200 juta umat ini berdosa. Sama kasusnya dengan bila ada mayat muslim yang tidak dimandikan, dikafani, dishalatkan dan dikuburkan, maka semua umat Islam menjadi berdosa karenanya. Apalagi mengingat umat Islam habis dijadikan bulan-bulanan oleh semua media yang ada. Nyaris semua kompak menyudutkan umat Islam serta dengan paksa mendudukkan kita di kursi terdakwa. Jaringan koran, majalah, radio, televisi dan kantor berita seakan kompak dalam meruntuhkan bangunan Islam di negeri ini. Ke depan, sudah bukan musimnya lagi kita sebagai muslim meributkan urusan internal kelompok, partai, fraksi, kepentingan ormas, jamaah kecil-kecil dan seterusnya. Kita harus secara bersama mengusung berdirinya TV Islam. Cukup menggelikan memang, umat Islam ini hobinya bikin ormas sampai bikin partai baru. Sampai-sampai para pendukungnya sikut-sikutan rebutan konstituen sampai rebutan kursi. Tapi kok ngga ada ya yang rebutan bikin televisi untuk umat Islam? Padahal masih sedikit yang menggarapnya, berarti lahannya masih terbuka luas. Sementara dari segi bisnis, sebenarnya tetap menjanjikan. Dan ke depan, kita wajib punya jaringan televisi. Bukan sekedar satu atau dua stasiun televisi, tapi jaringan televisi yang tersebar di seluruh wilayah negeri ini, menjangkau semua wilayah NKRI, bukan hanya di kota saja tetapi masuk sampai ke pinggir peradaban. Yang harus disiapkan sekarang ini bukan hanya modal besar, tetapi lebih dari itu kita perlu jutaan SDM, baik yang bersifat teknik maupun kebijakan. Kita juga butuh teknologi yang sudah semakin berkembang, di mana kita telah tertinggal puluhan tahun dari negeri lain. Anda mungkin satu dari sekian juta umat Islam yang gregetan karena sampai hari ini nyaris belum ada satu pun televisi milik umat Islam ya g ideal dan sehat secara finansial. Kegeraman anda itu kami rasakan juga di berbagai tempat, juga dari pemuda seperti anda. Namun perlu diingat bahwa membangun stasiun televisi memang bukan hal yang murah, langkahnya pun tidak mudah, meski masa depannya tetap cerah. Maka sebelum impian kita bersama tercapai, kita perlu juga membuat step demi step road map-nya. Mungkin tidak ada salahnya, untuk kalangan kita yang belum berduit, memulai dengan kemampuan dan kreatifitas seadanya dulu. Sebelum bicara tentang TV broadcast yang pro, tidak ada salahnya kita juga memulai dari yang amatir, setidaknya potensi umat di wilayah amatir ini perlu dipertimbangkan. Sebab begitu banyak orang berhasil meski bermula dari amatiran dulu. Membangun TV komunitas seperti TV kampus, TV Sekolah, TV Pesantren, TV di kapal laut, kereta api, hotel, rumah sakit dan tempat-tempat publik lainnya, kami kira perlu dipikirkan sebagai sarana latihan dan uji kemampuan. Selama ini rasanya belum ada yang menggarapnya secara serius dari umat Islam. Belum lagi kalau kita bicara teknologi yang semakin marak. Seharusnya umat Islam punya situs internet berteknologi video streeming, semacam You Tube. Selain lebih murah, model ini bisa mengajak para pembacanya untuk ikut sharing meng-upload karya mereka. Sehingga bisa menjadi model TV masa depan yang menjadi terobosan. Namun memilki stasiun teleisi konvensional tetap perlu, karena biar bagaimana pun objek dakwah kita memang ada di sana. Barangkali tidak mengada-ada bila kita katakan bahwa lebih banyak jumlah pesawat televisi di negeri ini dari pada komputer. Maka pendirian stasiun televisi sendiri tetap wajib hukumnya bagi ummat Islam, apalagi mengingat jumlah umat Islam paling banyak di negeri ini. Saran dan Masukan Buat Televisi Islam Alhamdulillah sedikit demi sedikit kesadaran umat Islam akan pentingnya media massa mulai nampak. Kita sudah mulai punya beberapa stasiun televisi milik umat Islam, yang tentunya didirikan demi kepentingan umat Islam juga. Namun tidak ada salahnya kita juga ikut mendukung dengan memberikan masukan positif, agar ke depan nanti, televisi Islam yang mulai bermunculan ini bisa saling menguatkan dan menambah porsi amal ibadah serta manfaat buat umat. Di antara masukan itu antara lain ; 1. Jangan Jadi Televisi Milik Kelompok Namanya saja media massa, maka tujuannya tentu harus demi kepentingan massa, yang dalam hal ini umat Islam. Jangan sampai ada televisi yang hanya menjadi corong dari kelompok atau ormas tertentu. Maksudnya, isinya cuma memuji-muji kelompoknya, sambil menjelek-jelekkan kelompok lain. Televisi seperti ini kurang produktif buat persatuan dan ukhuwah Islam. Alih-alih menguatkan, yang terjadi nanti malah menghancurkan. Sayang sekali, justru yang banyak muncul saat ini malah televisi milik kelompok, bahkan isinya kadang kontra produktif. Sebagai misal, sebut saja TV milik kelompok Ahmadiyah. Ajaran sesat di luar Islam tetapi berkedok Islam ini justru punya dua stasiun televisi international yang bisa ditangkap lewat parabola. Atau televisi milik kelompok tertentu, misalnya milik kalangan yang mengaku-ngaku sebagai kelompok salafi. Kita khawatir isinya malah bikin keresahan di tengah masyarakat yang kurang sejalan dengan ajaran mereka. Mungkin kalau televisi itu siaran di Saudi Arabia yang masyarakatnya merasa cocok dengan esensi ajarannya, tidak akan jadi masalah. Tetapi ketika bersiaran di negeri Indonesia yang menjunjung tinggi para ulama salafush-shalih, khususnya ulama yang tergabung dalam empat mazhab, dan juga berpaham tauhid Asy'ariyah dan Maturidiyah, tiba-tiba isi televisi itu malah mencaci-maki para ulama salaf, menyalah-nyalahkan ulama empat mazhab, bahkan menganggap aqidah Asy'ariyah dan Maturidiyah sebagai aqidah sesat di luar Islam, tentu akan mendapatkan resistensi besar. 2. Punya Sumber Dana Yang Independen Sebaiknya stasiun televisi Islam punya sumber dana yang independen, tetapi cukup deras alirannya. Sebab kalau tidak punya, lalu mengandalkan iklan saja, maka ujung-ujungnya bukan berdakwah tetapi malah berdagang saja. Kasusnya mirip-mirip beberapa situs keislaman yang kekurangan dana, dimana pengurusnya hanya mengandalkan iklan. Ujung-ujungnya, lebih banyak iklan dari pada isinya. Konyolnya, kadang iklannya pun malah tidak sejalan dengan visi misi televisinya. Atau kualitas yang dijual itu kurang berbobot, karena cuma menawarkan obat kuat, atau pengobatan alternatif yang lebih sering bohongnya dari pada benarnya. Contoh televisi milik umat Islam yang bagus dalam hal ini misalnya Al-Jazeera. Kita jarang-jarang melihat iklan di dalamnya, kalau pun ada, durasinya sangat singkat. 3. Melibatkan Para Ulama Yang Ahli di Bidangnya Biar bagaimanapun yang namanya televisi Islam itu didirikan untuk dakwah. Artinya, visi dan misinya ingin mengajarkan dan menceraskan umat Islam atas agama yang dianutnya. Dan pihak yang paling mengerti dan paham atas esensi ajaran Islam tentu tidak lain adalah para ulama. Maksudnya adalah para ulama yang ahli di bidangnya masing-masing. Jangan sampai televisi Islam hanya diisi oleh pelawak-pelawak berjubah yang mengaku-ngaku ulama, tetapi ternyata tidak lain hanya badut-badut yang kepalanya kosong dari ilmu agama. Kalau sampai terjadi demikian, maka ini jelas musibah kubra. Namun fenomana inilah yang kini sedang melanda televisi nasional kita. Bukannya tidak ada acara keislaman, tetapi yang jadi masalah adalah narasumbernya itu lho. Kok bukan ulama malah artis, pelawak, ustadz palsu, penyanyi, atau ustadz 'jadi-jadian'. Lebih parahnya lagi, mereka kemudian berfatwa tanpa ilmu, sehingga bukan hanya sesat, tetapi juga menyesatkan banyak orang. Semoga cita-cita itu bisa segera menjadi kenyataan, dan semoga Allah SWT mendengar doa kita. Amien. Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi waarakatuh Ahmad Sarwat, Lc |