![]() | Tanya Jawab Fiqih Dr. Ahmad Sarwat., Lc.,MA : |
Diminta Jadi Wakil Rakyat Demi Memperjuangkan Agama |
| PERTANYAAN Assalamu 'alaikum wr. wb. Saya beberapa bulan lalu diminta oleh Ayah mertua yang juga kebetulan pimpinan pondok pesantren di kampung kami, untuk maju menjadi wakil rakyat. Menurut ayah kami, saya satu-satunya harapan buat pondok pesantren agar bisa maju mewakili kepentingan pesantren. Sebab selama ini pesantren hanya dimintai dukungan oleh para calon kandidat yang mau maju, tetapi tidak punya kader sendiri yang benar-benar mewakili kepentingan pesantren. Saat itu terus terang saya agak bingung ustadz, karena dalam diri saya tidak ada niat sedikit pun untuk jadi politikus. Saya sudah menyelesaikan pendidikan agama di Universitas Islam terbesar di Timur Tengah. Dalam diri saya, ada keinginan kuat membaktikan diri di bidang agama dan bukan jadi pejabat. Saya lebih ingin menjadi ustadz dan mengajarkan ilmu-ilmu syariah, seperti yang seringkali ustadz anjurkan. Tidak terbayang dalam hati tiba-tiba harus mengubah cita-cita demi hanya sekedar menjadi pejabat, sebuah jalan yang amat tidak saya sukai, mengingat resiko jadi pejabat itu sangat besar, dan juga banyak sekali jebakan di tengah jalan. Mohon pencerahan dari ustadz, saya agak bimbang. Wassalamu 'alaikum wr. wb. |
| JAWABAN Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Tidak ada salahnya kalau seorang mau berjuang membela agama dan kelompoknya lewat jalur politik parlementer. Itu merupakan hak asasi yang menjadi anugerah bagi tiap warga negara. Ketiga, dan ini yang paling penting, apakah tidak sia-sia ilmu yang sudah antum pelajari sepanjang waktu, bahkan sampai ke luar negeri segala, kalau tiba-tiba harus dilupakan begitu saja dengan menceburkan diri di dunia politik? Lalu mau dibawa kemana murid-murid antum yang tulus ingin belajar ilmu agama? Memang teorinya bisa saja diplintir-plintir begitu. Tetapi bukti yang otentik selama ini menyatakan sebaliknya. Sebut saja Almarhum KH. Zainuddin MZ. Beliau pernah suatu ketika lupa diri dan tergiur terjun ke dunia politik praktis, lalu ikut partai dan kemudian bikin partai sendiri. Lebih baik tekuni saja pekerjaan yang sudah ada selama ini, jangan sampai terkena 'ujub alias rasa jumawa dengan memandang bahwa diri kita ini punya potensi besar berpolitik. Serahkan saja pekerjaan politik itu kepada mereka yang memang sudah ahli di bidangnya. Godaan dari semua pihak biasanya sulit dibendung. Seorang ustadz yang baru sedikit kondang memang seringkali diiming-imingi dengan tawaran-tawaran menarik hati, tetapi semua ibarat fatamorgana. Jangan terjun ke dunia politik niatnya mau memperjuangkan agama, tetapi setelah masuk ke dalamnya, lupa dari tujuan semua, akhirnya malah memperjuangkan kepentingan kelompoknya sendiri, bahkan memperjuangkan kesejahteraan diri sendiri dan keluarga. Mentang-mentang punya jamaah dan pengikut dimana-mana. Naudzbillahi min dzalik. Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Ahmad Sarwat, Lc., MA |