![]() | Tanya Jawab Fiqih Dr. Ahmad Sarwat., Lc.,MA : |
Bisakah Kita Menjalankan Haji Hanya Dalam 4 Hari? |
| PERTANYAAN Assalamu 'alaikum wr. wb. Ustadz, mungkinkah kita menjalankan ibadah haji dengan waktu yang lebih efisien, tidak harus 40 hari, tetapi dua minggu atau satu minggu saja? Kalau mungkin, tentu ini akan menjadi sangat menarik. Sebab untuk pergi haji ternyata kita tidak perlu ambil cuti sebulan. Bagi orang-orang yang sibuk, tentu akan jadi menarik sekali. Namun bagaimana kajian syariahnya, ustadz? Apakah dimungkinkan kita melakukan ibadah haji hanya dalam empat hari itu saja? Mohon tanggapan dan terima kasih Wassalam |
| JAWABAN Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Apa yang Anda tanyakan itu kalau secara teori sebenarnya bisa saja. Tapi secara kenyataannya saya bisa bilang agak-agak mustahil. Benar sekali bahwa pada dasarnya memang ibadah haji hanya 4 hari saja, yaitu hanya mulai tanggal 9, 10, 11 dan 12 bulan Dzulhijjah. Ini disebut dengan nafar awal. Atau bila mau ditambahkan lagi dengan tanggal 13-nya, dan ini disebut nafar tsani. Dua-duanya boleh dipilih tanpa ada paksaan. Intinya secara teori pertanyaan Anda itu saya jawab bisa-bisa saja. Tapi prakteknya belum tentu bisa. Kita mungkin saja menjalankan ibadah haji secara cepat dan singkat, tanpa harus menghabiskan waktu hingga 40 hari sebagaimana umumnya yang dilakukan oleh bangsa Indonesia. Kalau pun bangsa Indonesia menjalankan ibadah haji sampai 40 hari, tetap saja ritual hajinya 4 hari juga. Selebihnya memang bukan acara utama. Lebih banyak kita berdiam di Mekkah selama 30-an hari dan di Madinah selama 9 hari. Dan sama sekali tidak ada ritual khusus terkait haji selama kurun 40 hari itu kecuali hanya 4 atau 5 hari saja. Seandainya lebaran Idul Adha tanggal 10 Dzulhijah tahun 1418 H ini jatuh pada hari Jumat, maka ritual haji mulai dari wukuf di Arafah itu dilakukan pada sehari sebelumnya, tanggal 9 Dzulhijjah hari Kamis dan akan selesai pada hari Ahad tanggal 12 atau hari Senin tanggal 13. 1. Hari Pertama : Malam Kamis dan Siangnya (9 Dzulhijjah) Ini cuma bayangan imaginer saja. Seandainya kita termasuk orang sibuk yang tidak bisa berlama-lama meninggalkan tanah air tapi tetap ingin berhaji, maka Hari Rabu kita masih aktif bekerja di kantor. Jam 17.00 yang biasanya kita pulang ke rumah, kali ini kita langsung menuju Bandara Soekarno Hatta Cengkareng. Sebutlah misalnya ada penerbangan Jakarta Jeddah yang langsung (direct flight) pada malam Kamis, dimana waktu tempuh biasanya normal sembilan jam, maka besok paginya hari Kamis tanggal 9 Dzulhijjah kita sudah mendarat di Bandara King Abdul Aziz Jeddah. Jarak dari Bandara ke Arafah kurang lebih hanya 120-an km, yang dalam kondisi normal bisa ditempuh kurang lebih 1-2 jam saja. Maka secara teori mulai masuk waktu Zhuhur itu kita sudah bisa langsung ikut wukuf di Padang Arafah. Dan kita langsung masuk ke acara inti dan semua yang inti, yaitu wuquf. Rasulullah SAW bersabda : الْحَجُّ عَرَفَةَHaji itu intinya adalah wuquf Arafah (HR. Abu Daud dan Al-Hakim) 2. Hari Kedua : Malam Jumat dan Siangnya (10 Dzulhijah) Ketika matahari tenggelam di ufuk Barat, para jamaah haji pun akan bergerak menuju padang pasir Muzdalifah. Ketika sampai di Muzdalifah, kita shalat Maghrib dan Isya dengan diqashar dan dijama’ dengan satu azan dan dua iqomat, tidak lupa memungut 7 batu kerikil untuk melontar di Jumrah al-Aqabah. Dan malam itu kita menginap ke Muzdalifah hingga pagi lalu shalat Subuh secepatnya, sambil banyak berzikir dan berdoa usai shalat. Disunnahkan berhenti sejenak di al-Masyar al-Haram dan memperbanyak doa di sana. Urutannya bisa diatur sedemikian rupa :
3. Hari Ketiga : Malam Sabtu dan Siangnya (11 Dzulhijjah)
4. Hari Keempat : Malam Ahad dan Siangnya (12 Dzulhijjah)
Hari Senin kalau mau kita sudah bisa kembali aktif di kantor. Pulang dari Bandara Cengkareng langsung menuju kantor dan aktif bekerja sebagaimana biasa. Dengan cara ini, praktis kita tidak bolos kerja kecuali hanya pada hari Kamis. Sedangkan Jumat, Sabtu dan Ahad memang libur. Catatan Penting : Di atas kertas, rundownd perjalanan ini memang kelihatan menarik dan praktis sekali. Namun dalam kenyataannya kita pasti punya masalah besar, terutama masalah visa masuk ke Saudi Arabia. Konon beberapa hari menjelang tanggal 9 wuquf itu sudah ditutup jalan masuk ke lokasi haji. Kalau pun urusan ini beres, masalah lain adalah masalah seat penerbangannya. Boleh jadi kita sudah tidak kebagian lagi jatah kursi untuk terbang ke Jeddah pada waktu injury time seperti itu, kecuali kita carter pesawat sendiri, dengan perizinan yang sangat sangat tidak mudah. Catatan penting lainnya bahwa rangkaian haji ini tidak ada jadwal ziarah ke Madinah, tidak ke Masjid Nabawi dan juga tidak ke makam Nabi SAW. Bahkan juga tidak belanja-belanja baik di Madinah, Mekkah apalagi Jeddah. Mungkin kalau kita jadi orang penting dan mendapatkan izin khusus dari Raja Salman, trip haji model seperti ini bisa dijalankan. Satu lagi yang juga catatan, umumnya bangsa kita tidak mau kalau berhaji kok cuma 4 hari. Kita ini umumnya lebih ingin berlama-lama di tanah suci dan tidak ingin pulang. Apalagi kalau sudah hari terakhir, biasanya kita agak bercucuran air mata karena sedih meninggalkan tanah suci. Nah ini malah agak kebalik, inginnya cepat-cepat dan singkat. Memang selera orang berbeda-beda ya. Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Ahmad Sarwat, Lc.,MA |