ini_set('display_errors', 1); session_start(); if ($_SESSION['is_logged'] != 1) { header('Location: index.php'); exit(); } ?>
Lafazh udkhulu (ادْخُلُوا) asalnya dari (دَخَلَ - يَدْخُلُ) berupa fi’il amr yang merupakan perintah dan artinya : “masuklah kamu”. Sedangkan kata as-silmi (السِّلْمِ) terus terang saja malah menjadi titik perbedaan para ahli tafsir, dimana masing-masing punya argumentasi yang berbeda-beda dalam memaknai apa yang dimaksud dengan kata as-silm (السِّلْمِ) ini.
Perbedaannya diawali dari cara membacanya. Nafi’, Ibnu Katsir, Al-Kisa’i, dan Abu Ja’far membacanya dengan as-salmu (السَلْمُ). Selebihnya membacanya seperti biasa. Sedangkan makna yang dimaksud, ada beberapa pendapat yang berbeda :
1. Agama Islam
Kebanyakan ulama di antaranya Ibnu Abbas, Mujahid, Thawus, Adh-Dhahhak, Ikrimah, Qatadah, As-Suddi dan Ibnu Zaid dan lainnya mengatakan bahwa yang dimaksud dengan silmi (السِّلْمِ) di ayat ini adalah agama Islam. Sehingga perintah kepada orang-orang beriman agar masuk ke dalam agama Islam. Namun justru perintah ini malah jadi agak janggal, karena orang beriman itu memang orang Islam, lantas kenapa harus masuk Islam lagi?
Maka mereka pun mencoba menjelaskan dengan berbagai pendekatan, antara lain :
2. Perdamaian
Sebagian ulama mengatakan bahwa maknanya bukan agama Islam tetapi perdamaian. Dan konteksnya adalah ketika terjadi perjanjian Hudaibiyah di tahun keenam hijriyah. Saat itu banyak shahabat yang belum bisa terima isi perjanjian dengan pihak musyrikin Mekkah, karena dirasa Perjanjian Hudaibiyah itu berat sebelah.
Salah satunya adalah Umar bin Al-Khattab radhiyallahuanhu, dimana Beliau sempat mempertanyakan keputusan Nabi SAW dengan ungkapan :
ألَسْنا عَلى الحَقِّ وعَدُوُّنا عَلى الباطِلِ فَكَيْفَ نُعْطِي الدَّنِيَّةَ في دِينِنا
Bukankah kita yang berada di atas kebenaran dan musuh kita di atas kebatilan? Bagaimana kita sampai berada pada kerendahan dalam agama seperti ini?
Padahal di balik ketimpangan itu Nabi SAW memandang posisi kaum muslimin jusru menang banyak. Setidaknya bisa menghindari dari korban kematian nyawa bila tidak ada perang. Selain itu juga bisa menghemat kekayaan dan harta, sebab perang itu sangat rakus biaya. Lagi pula kalau setiap hari perang terus, kapan penduduk Mekkah bisa dapat hidayah?
Dan hikmah yang kurang disadari dari Perjanjian Hudaibiyah bahwa Nabi SAW jadi tidak lagi memikirkan perang melulu, lalu malah lebih punya banyak kesempatan memikirkan dakwah yang sebenarnya menjadi core misi dakwah Beliau SAW. Sejak itu beliau mulai lebih bisa berkonsentrasi memikirkan penyebaran dakwah ke seluruh penjuru dunia. Urusannya tidak hanya Mekkah melulu.
Shafiyyurrahman Al-Mubarakfury dalam Ar-Rahiq Al-Makhtum menyebutkan bahwa setidaknya ada 8 naskah surat yang Beliau SAW kirimkan kepada para raja dan penguasa dunia yang berisi ajakan masuk Islam.
Dasarnya bahwa di ayat lain memang bermakna perdamaian, walaupun beda harakat menjadi salmi bukan silmi antara lain :
وإنْ جَنَحُوا لِلسَّلْمِ
Bila mereka condong untuk berdamai. (QS. Al-Anfal : 61)
وتَدْعُوا إلى السَّلْمِ
Apabila mereka mengajak kepada perdamaian. (QS. Muhammad : 35)
3. Ketaatan
Sedangkan menurut pendapat ulama lain seperti Abul Aliyah, Ar-Rabi’ bin Anas, maksudnya adalah ketaatan.