ini_set('display_errors', 1); session_start(); if ($_SESSION['is_logged'] != 1) { header('Location: index.php'); exit(); } ?>
Lafazh jaatkum (جَاءَتْكُمُ) artinya telah datang kepadamu, sedangkan al-bayyinat (الْبَيِّنَاتُ) secara bahasa artinya menurut Buya HAMKA adalah penjelasan, atau kalau menurut Kemenag dan Quraish Shihab artinya bukti-bukti kebenaran.
Namun tentang apa kongkritnya yang dimaksud dengan bayyinat itu, para ulama berbeda pendapat. Al-Mawardi di dalam An-Nukat wa Al-‘Uyun merangkumnya sebagai berikut :[1]
1. Mukjizat
sebagian ulama memaknai bayyinat sebagai mukjizat, yaitu kejadian luar biasa yang sumbernya dari Allah SWT dan menyertai seorang nabi dalam membuktikan kenabiannya.
Mukjizat Nabi Muhammad SAW ada banyak, namun yang paling besar justru turunnya kitab suci Al-Quran yang sedemikian indah dari sisi kekuatan bahasanya dan tak satupun dari bangsa Arab yang mampu menjawab tantangan untuk membuat yang seperti Al-Quran.
2. Nabi Muhammad SAW
ini adalah pendapat As-Suddi. Sehingga seolah-olah makna (مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَتْكُمُ الْبَيِّنَاتُ) adalah setelah datangnya Nabi Muhammad SAW.
Kedatangan Nabi SAW memang benar-benar sebuah bukti otentik sebagaimana yang sudah diceritakan oleh semua kitab suci samawi sebelumnya, serta juga diberitakan oleh semua nabi dan rasul sebelumnya.
3. Al-Quran dan Agama Islam :
ini adalah pendapat Ibnu Juraij. Sehingga makna (مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَتْكُمُ الْبَيِّنَاتُ) adalah : setelah turunnya Al-Quran, atau setelah munculnya agama Islam.
[1] Al-Mawardi (w. 450 H), An-Nukat wa Al-‘Uyun, (Beirut, Darul-kutub Al-Ilmiyah, Cet. 1), jilid 1 hal. 268