ini_set('display_errors', 1); session_start(); if ($_SESSION['is_logged'] != 1) { header('Location: index.php'); exit(); } ?>
Terus terang ayat ke-210 ini amat sangat sulit dipahami maknanya, karena terlalu tinggi dan dalam cara Allah SWT mengungkapkannya. Diperlukan banyak kitab tafsir untuk saling diperbandingkan agar bisa menerka apa maksud sebenarnya kandungan ayat ini.
Yang jelas ayat ini masih sangat erat terkait dengan ayat-208 dan 209 sebelumnya, yaitu masih membicarakan orang yang tidak masuk Islam secara kaffah dan mengikuti langkah setan, serta diancam bahwa Allah SWT Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Hanya saja nampaknya para mufassir klasik dan modern pun seperti juga berbeda-benda ketika memberikan penjelasan, sehingga kita pun jadi perlu berpikir panjang untuk menangkap pesan yang tertuang di dalamnya.
Penulis mulai dari Tafsir Al-Misbah karya Prof. Dr. Quraish Shihab, yang menggambarkan bahwa pada intinya orang yang kafir yang tidak menerima Islam secara keseluruhan itu akan dihukum di akhirat. Namun gaya bahasa yang Allah SWT gunakan cukup unik, yaitu dengan mengatakan tidak ada yang mereka tunggu kecuali hanya adzab berupa awan gelap membawa siksaan. Terjemahan yang dituliskan adalah :
Apakah yang mereka nantikan hanya Allah yang datang bersama para malaikat (pada Hari Kiamat) dalam naungan awan? (Jelas bukan itu yang mereka nantikan).[1]
Sementara dalam kitab tafsir lain, sebut saja Fakhruddin Ar-Razi, justru yang diangkat masalah aqidah, karena ayat ini menyebutkan Allah SWT mendatangi mereka dalam bentuk awan gelap bersama para malaikat. Secara panjang lebar isi kitab tafsirnya membahas tentang perdebatan akademis antar berbagai kelompok aliran aqidah.
Muqatil bin Sulaiman[2] dalam tafsirnya mengatakan bahwa ayat ini menjadi dalil bahwa kita di dalam surga nanti akan bisa melihat wujud Allah SWT dengan mata kita. Menurutnya hal ini merupakan bentuk kenikmatan ukhrawi yang tidak bisa dilakukan selama kita masih di dunia. Pendapat bisa melihat Allah SWT ini juga dikuatkan dengan ayat lainnya, yaitu :
إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ
Kepada Tuhannyalah mereka melihat. (QS. Al-Qiyamah : 23)
Dan versi lain lagi mengaitkan awan gelap itu dengan sejarah yang pernah dialami oleh Bani Israil di masa lalu ketika tersesat di gurun pasir Sinai.
@$@
[1] Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah : pesan, kesan dan keserasian Al-Quran (Tangerang, PT. Lentera Hati, 2017), jilid 1 hal. 546
[2] Muqatil bin Sulaiman, Tafsir Muqatil, (Beirut, Darul Ihya’it-turats, Cet. 1 – 1423 H), jilid 5 hal. 115