ini_set('display_errors', 1); session_start(); if ($_SESSION['is_logged'] != 1) { header('Location: index.php'); exit(); } ?>
Makna zhulal (ظُلَلٍ) jamak dari zhullah (ظُلَّة) yang artinya bayangan, sebagaimana tertuang dalam ayat lain :
أَلَمْ تَرَ إِلَىٰ رَبِّكَ كَيْفَ مَدَّ الظِّلَّ وَلَوْ شَاءَ لَجَعَلَهُ سَاكِنًا ثُمَّ جَعَلْنَا الشَّمْسَ عَلَيْهِ دَلِيلًا
Apakah kamu tidak memperhatikan (penciptaan) Tuhanmu, bagaimana Dia memanjangkan (dan memendekkan) bayang-bayang dan kalau Dia menghendaki niscaya Dia menjadikan tetap bayang-bayang itu, kemudian Kami jadikan matahari sebagai petunjuk atas bayang-bayang itu, (QS. Al-Furqan : 45)
Namun Kemenag RI dan Prof. Dr. Quriash Shihab menerjemahkannya menjadi naungan. Naungan itu maksudnya tempat bernaung dari teriknya sinar matahari (ما يُسْتَظَلُّ به من الشمس). Makna seperti itu bisa kita temukan di dalam ayat lain :
وَظِلٍّ مَمْدُودٍ
dan naungan yang terbentang luas, (QS. Al-Waqiah : 30)
Namun ada juga yang memaknainya sebagai lapisan-lapisan, sebagaimana juga digunakan dalam surat Az-Zumar berikut ini dimana ada istilah zhulalun minan-nar (ظُلَلٌ مِنَ النَّارِ).
لَهُمْ مِنْ فَوْقِهِمْ ظُلَلٌ مِنَ النَّارِ وَمِنْ تَحْتِهِمْ ظُلَلٌ ۚ ذَٰلِكَ يُخَوِّفُ اللَّهُ بِهِ عِبَادَهُ ۚ يَا عِبَادِ فَاتَّقُونِ
Bagi mereka lapisan-lapisan dari api di atas mereka dan di bawah merekapun lapisan-lapisan (dari api). Demikianlah Allah mempertakuti hamba-hamba-Nya dengan azab itu. Maka bertakwalah kepada-Ku hai hamba-hamba-Ku. (QS. Az-Zumar : 16)
Buya HAMKA menerjemahkan (ظُلَلٍ مِنَ الْغَمَامِ) menjadi gumpalan awan. Namun dalam tafsirnya Beliau menjelaskan lebih jauh bahwa yang dimaksud adalah gumpalan awan yang menyelimuti seseorang dari kebenaran.
Sedangkan makna ghamam (الْغَمَامِ) adalah awan. Biasanya datangnya awan itu merupakan bentuk kabar gembira, karena mengandung tetes air hujan yang akan menyuburkan tanah, memberi minum hewan dan manusia, serta dari air hujan itulah kehidupan bisa tumbuh dan berkembang.
Namun penggambaran awan di ayat ini justru bersifat anomali dan tidak biasanya, karena justru awan yang dimaksud awan yang sifatnya menghancurkan serta mematikan, bahkan merupakah bentuk tehnik mengazab. Lantas apa hikmah dibalik penggunaan siksaan berkedok awan?
Para ulama mengatakan bahwa di balik itu ada maksud untuk menambah keras bentuk siksaan, yaitu apa yang awalnya dikira sebagai kebaikan, ternyata isinya justru keburukan. Hal itu akan menambah penderitaan dan kesengsaraan, setidaknya sebagai tekanan psikologis. Hal yang tidak disangka dan tidak diduga sebelumnya. Kurang lebih seperti apa yang diungkapkan dalam ayat lain, yaitu :
وبَدا لَهم مِنَ اللَّهِ ما لَمْ يَكُونُوا يَحْتَسِبُونَ
Dan jelaslah bagi mereka azab dari Allah yang belum pernah mereka perkirakan. (QS. Az-Zumar : 47)
Namun ada juga ulama yang mengatakan bahwa ayat ini merupakan penggambaran datangnya hari kimat. Dan memang salah satu cirinya kiamat kubra turunnya awan dari langit.
ويَوْمَ تَشَقَّقُ السَّماءُ بِالغَمامِ ونُزِّلَ المَلائِكَةُ تَنْزِيلًا
Dan (ingatlah) hari (ketika) langit pecah belah mengeluarkan kabut putih dan diturunkanlah malaikat bergelombang-gelombang. (QS. Al-Furqan : 25)