ini_set('display_errors', 1); session_start(); if ($_SESSION['is_logged'] != 1) { header('Location: index.php'); exit(); } ?>
Makna ungkapan min badi maa jaathu (مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَتْهُ) adalah : setelah kenikmatan itu mendatanginya, maksudnya setelah diberi kesempatan untuk hidup bertemu langsung dengan Nabi Muhammad SAW yang telah diberitakan di dalam semua kitab suci samawi sebelumnya.
Dan memang demikian lah yang terjadi. Cukup lama orang-orang Yahudi menunggu-nunggu datangnya Nabi Muhammad SAW. Semua ciri tentang diri nabi terakhir itu sudah mereka ketahui, bahkan ciri-ciri para shahabat yang punya tanda bekas sujud di akhirat pun termaktub dalam kitab Taurat dan Injil.
سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ۚ ذَٰلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ ۚ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ
Tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil. (QS. Al-Fath : 29)
Bahkan keberadaan orang-orang Yahudi di Madinah pada awalnya justru karena ingin segera bertemu dengan nabi terakhir yang dijanjikan. Sebegitu yakinnya mereka dengan akan datangnya rasul terakhir, sampai mereka pun berhasil meyakinkan orang-orang Arab asli penduduk Madinah untuk ikut percaya juga.
Ini tentu saja sangat anomali, sebab tidak ada kamusnya bagi bangsa Arab untuk mempercayai kenabian dan kitab suci samawi. Mengingat tidak pernah ada kisah kenabian di tanah Arab sebelumnya. Mereka tidak kenal legenda para nabi, kecuali sebagai cerita dari negeri asing di seberang sana.
Kalau pun mereka mengenal leluhur mereka Nabi Ibrahim dan Ismail, lebih sebagai tokoh suci yang mendekatkan mereka kepada Allah. Namun bahwa Nabi Ibrahim itu mendapatkan wahyu apalagi kitab suci, sama sekali tidak pernah ada bukti yang kongkrit. Dan pada kenyataannya yang mendapatkan kitab suci hanya nab-nabi di kalangan Bani Israil, yaitu Musa mendapat Taurat, Daud mendapat Zabur dan Isa mendapat Injil. Sedangkan Nabi Ibrahim sekedar mendapatkan beberapa lembar yang disebut dengan suhuf.
إِنَّ هَٰذَا لَفِي الصُّحُفِ الْأُولَىٰ صُحُفِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَىٰ
Sesungguhnya ini benar-benar terdapat dalam kitab-kitab yang dahulu, (yaitu) Kitab-kitab Ibrahim dan Musa (QS. Al-Ala : 18-19)
Bagi seluruh bangsa Arab di masa itu, Allah itu ada di langit. Tapi mereka tidak bisa terima kalau Allah berfirman dengan mengutus malaikat membawa firman-Nya itu untuk diberikan kepada manusia pilihan yang disebut dengan nabi itu merupakan lelucon yang ditertawakan.
Apalagi ternyata yang disebut sebagai nabi utusan Allah itu justru seorang manusia biasa, yang makan, minum, beristri, beranak, berdagang dan berjalan di pasar. Buat mereka konsep semacam itu menggelikan dan jadi lucu-lucuan.
وَقَالُوا مَالِ هَٰذَا الرَّسُولِ يَأْكُلُ الطَّعَامَ وَيَمْشِي فِي الْأَسْوَاقِ ۙ لَوْلَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مَلَكٌ فَيَكُونَ مَعَهُ نَذِيرًا
Dan mereka berkata: "Mengapa rasul itu memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar? Mengapa tidak diturunkan kepadanya seorang malaikat agar malaikat itu memberikan peringatan bersama-sama dengan dia?, (QS. Al-Furqan : 7)
وَمَا أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ مِنَ الْمُرْسَلِينَ إِلَّا إِنَّهُمْ لَيَأْكُلُونَ الطَّعَامَ وَيَمْشُونَ فِي الْأَسْوَاقِ ۗ وَجَعَلْنَا بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍ فِتْنَةً أَتَصْبِرُونَ ۗ وَكَانَ رَبُّكَ بَصِيرًا
Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu, melainkan mereka sungguh memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar. Dan kami jadikan sebahagian kamu cobaan bagi sebahagian yang lain. Maukah kamu bersabar?; dan adalah Tuhanmu maha Melihat. (QS. Al-Furqan : 20)
Adanya kehidupan setelah kematian dan negeri akhirat bagi mereka adalah dongeng serta mitos yang tidak masuk akal sama sekali.
وَقَالُوا إِنْ هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا وَمَا نَحْنُ بِمَبْعُوثِينَ
Dan tentu mereka akan mengatakan (pula): "Hidup hanyalah kehidupan kita di dunia ini saja, dan kita sekali-sekali tidak akan dibangkitkan". (QS. Al-Anam : 29)
Akan tetapi khusus untuk bangsa Arab di Madinah, ternyata berbeda. Mereka benar-benar percaya tentang adanya kenabian dan kitab suci samawi. Mereka pun mau diperintah untuk mencari sosok nabi terakhir di Mekkah dan mengajaknya pindah ke Madinah.
Bahwa orang-orang Yahudi sudah mendapatkan kesempatan bertemu langsung dengan sosok nabi terakhir yang termaktub dalam kitab suci mereka adalah fakta yang tidak bisa dipungkiri. Bahkan mereka berhasil mengajak pindah sang nabi ke Madinah untuk hidup bersama dan membangun masyarakat.
Tapi ketika kemudian mereka malah tidak mau memeluk agama Islam dan enggan mengikuti apa yang telah dibawa oleh Nabi Muhammad SAW, maka itulah yang disebut dengan : “menukar kenikmatan setelah berhasil menemukannya”.
Ibaratnya ada orang kehausan di gurun pasir membutuhkan air, tetapi begitu air ditemukan, tapi dia malah ogah minum air itu. Ini jelas aneh, tidka masuk dan juga sekaligus tidak normal.
Maka wajar kalau mereka diancam untuk dijatuh hukuman yang berat, yaitu syadidul ‘iqab (شَدِيدُ الْعِقَابِ).