ini_set('display_errors', 1); session_start(); if ($_SESSION['is_logged'] != 1) { header('Location: index.php'); exit(); } ?>
Lafazh yaskharun (يَسْخَرُونَ) berbentuk fi’il mudhari, maknanya menyombongkan diri, merendahkan, memandang hina dan lainnya. Di dalam Al-Quran kita temukan beberapa kata yang sama, misalnya ayat berikut ini :
أَتَّخَذْنَاهُمْ سِخْرِيًّا أَمْ زَاغَتْ عَنْهُمُ الْأَبْصَارُ
Apakah kami dahulu menjadikan mereka olok-olokan, ataukah karena mata kami tidak melihat mereka?" (QS. Shad : 63)
Dan bentuk ejekan itu terkadang dengan cara mentertawakan, sebagaimana isi ayat berikut :
فَاتَّخَذْتُمُوهُمْ سِخْرِيًّا حَتَّىٰ أَنْسَوْكُمْ ذِكْرِي وَكُنْتُمْ مِنْهُمْ تَضْحَكُونَ
Lalu kamu menjadikan mereka buah ejekan, sehingga (kesibukan) kamu mengejek mereka, menjadikan kamu lupa mengingat Aku, dan adalah kamu selalu mentertawakan mereka, (QS. Al-Mukminun : 110)
Mengejek kaum muslimin ini dilakukan oleh kaum musyrikin Mekkah ketika Nabi SAW masih belum punya banyak pendukung di masa-masa awal dakwah.
Saat itu orang-orang besar belum banyak yang masuk Islam, kecuali hanya satu dua orang saja, seperti Hamzah dan Umar. Selebihkan kebanyakan para shahabat terdiri dari orang-orang yang miskin, tidak punya harta, juga bukan termasuk orang-orang terpandang.
Sebenarnya mengejek dan menghina ini hanya salah satu bentuk intimidasi yang dilancarkan orang-orang kafir. Di luar itu mereka juga aktif melancarkan intimidasi secara fisik, sehingga beberapa orang menjadi korban. Sumayya dan suami Yasir termasuk orang yang wafat secara syahid karena disiksa sampai mati.
Dengan posisi yang teramat lemah itu, tidak pernah ada perintah untuk melawan apalagi angkat senjata. Yang ada hanya himbauan untuk bersabar, sambil memberikan mereka hiburan dengan dijanjikan berbagai kebaikan di masa berikutnya.
Yang pertama, mereka dijanjikan akan masuk surga, dimana nanti di surga mereka akan ditempatkan pada posisi di atas, sementara orang kafir yang menghina mereka akan ditempatkan pada posisi yang rendah. Dengan demikian, mereka bisa membalaskan sakit hati yang selama ini mereka pendam. Namun pembalasan ini baru akan terjadi nanti di akhirat.
Yang kedua, mereka juga dijanjikan di dunia ini akan diberikan rejeki dengan tanpa ada batasnya. Dan itu nanti akan terjadi setelah mereka hijrah ke Madinah.