ini_set('display_errors', 1); session_start(); if ($_SESSION['is_logged'] != 1) { header('Location: index.php'); exit(); } ?>
Lafazh mubasysyirin (مُبَشِّرِينَ) merupan ism fail alias pelaku dari kata kerja yang asalnya (بَشَّرَ – يُبَشِّرُ - بُشْرَ) yang berarti kabar gembira. Maka mubasysyir itu artinya pembawa kabar gembira. Dan kabar gembira itu maksudnya adalah kabar tentang kehidupan yang jauh lebih baik dari pada kehidupan sekarang di dunia yaitu kehidupan di surga.
وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ
Dan beri kabar gembira kepada mereka dengan surga yang telah dijanjikan kepada kamu. (QS. Fushshilat : 30)
Tentu saja kabar gembira itu juga dilengkap dengan tata cara untuk bisa menggapainya, yaitu seperangkat ketentuan peribadatan dan tata kehidupan di dunia, yang sederhananya disebut dengan syariat.
Sedangkan lafazh mudzirin (مُنْذِرِينَ) adalah bentuk ism fail atau pelaku dari perbuatan dari asalnya dari (أنْذَرَ – يُنْذِرُ -). Artinya adalah : “orang yang memberi kabar yang sifatnya mengingatkan”. Sering juga diterjemahkan menjadi : “pemberi peringatan”. Kadang juga diterjemakahkan menjadi : “pemberi ancaman”. Contohnya seperti yang diungkapkan dalam ayat berikut :
وَأَنْذِرْهُمْ يَوْمَ الْحَسْرَةِ إِذْ قُضِيَ الْأَمْرُ وَهُمْ فِي غَفْلَةٍ وَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ
Dan berilah mereka peringatan tentang hari penyesalan, (yaitu) ketika segala perkara telah diputus. Dan mereka dalam kelalaian dan mereka tidak (pula) beriman. (QS. Maryam : 39)
Intinya, tugas seorang nabi itu adalah sebagai pembawa gembira dan memberi peringatan. Kabar gembira itu maksudnya adanya surga yang harus digapai dengan cara kita menjalankan syariat-Nya, lalu kabar yang satunya adalah kabar tentang neraka, dimana tugas nabi itu memberikan warning, alarm, peringatan dan juga himbauan untuk menghindari diri kita dari ancaman masuk neraka di hari akhir nanti. Caranya? Baliknya dengan cara menjalankan syariat Allah, yaitu meninggalkan semua perbuatan yang sekiranya dapat menyeret kita masuk ke dalam neraka.