ini_set('display_errors', 1); session_start(); if ($_SESSION['is_logged'] != 1) { header('Location: index.php'); exit(); } ?>
Yang lebih parah adalah fakta bahwa kedengkian yang muncul itu bukan hanya terjadi antara sesama pemeluk agama yang berbeda, namun terjadi juga kedengkian yang teramat dahsyat justru di internal satu agama yang sama.
Memang benar kalau kita telusuri lebih jauh, penyebab utama perang internal di tengah umat Islam bukan karena agama Islamnya, melainkan karena mentalitas pemimpinnya yang terjadi saling dengki, iri hati, dan lebih mementingkan kepentingan pribadi dan kelompok.
Yang paling mencolok adalah dua perang yang kejadiannya masih di zaman para shahabat mulia, yaitu Perang Jamal dan Perang Siffin. Kedua perang itu adalah dua konflik yang terjadi pada masa awal sejarah Islam yang memiliki dampak besar terhadap umat Muslim. Kedua perang ini memecah belah komunitas Muslim dan menyebabkan perpecahan yang berlangsung selama beberapa tahun.
1. Perang Jamal (656 M)
Perang Jamal terjadi pada tahun 656 M setelah pembunuhan Khalifah ketiga, Utsman bin Affan. Saat itu, situasi di dunia Muslim sangat tegang. Sebagian besar Muslim tidak puas dengan pemerintahan Utsman, dan ini menciptakan ketidakstabilan. Setelah Utsman tewas, Ali bin Abi Thalib, sepupu dan menantu Nabi Muhammad, terpilih sebagai Khalifah keempat.
Namun, sejumlah sahabat dan tokoh Muslim terkemuka, seperti Aisyah istri Nabi SAW, Talhah bin Ubaidillah dan Az-Zubair bin Awam menentang kepemimpinan Ali bin Abi Thalib radhiyallahuanhu. Mereka merasa bahwa Ali seharusnya menyelidiki pembunuhan Utsman dengan lebih serius. Konflik mencapai puncaknya ketika pasukan Ali bertemu dengan pasukan tiga tokoh itu yang disebut Perang Jamal dan pertempuran pun pecah. Konon dinamakan Perang Jamal karena ibunda Mukminin Aisyah radhiyallahuanha waktu ikut turun ke medan peperangan dengan naik di atas seekor unta.
Perang Jamal berakhir dengan kematian Talhah dan Zubair serta luka parah yang dialami Aisyah. Ali memenangkan pertempuran ini, tetapi konflik ini meninggalkan luka emosional yang dalam di antara umat Muslim dan meningkatkan ketegangan politik dalam komunitas Muslim.
2. Perang Siffin (657 M)
Setelah perang Jamal, konflik internal berlanjut dengan munculnya kelompok yang disebut Khawarij, yang menuntut Ali untuk bertanggung jawab atas kematian Talha dan Zubair. Ali mencoba menyelesaikan masalah ini dengan berunding, tetapi perundingan dengan Khawarij tidak berhasil.
Kemudian, pada tahun 657 M, Ali dan pasukannya berhadapan dengan pasukan dari kelompok yang mendukung Muawiyah, gubernur Syam, dalam sebuah pertempuran di dekat Sungai Efrat di suatu tempat bernama Shiffin. Pertempuran Siffin berakhir tanpa keputusan yang jelas, dan banyak korban jiwa. Namun, kedua belah pihak setuju untuk menyelesaikan konflik mereka melalui perundingan.
Sayangnya, perundingan ini juga tidak menghasilkan kesepakatan, dan perpecahan antara umat Islam semakin mendalam. Beberapa pengikut Ali merasa bahwa perundingan ini adalah pengkhianatan terhadap keadilan, dan kelompok ini menjadi kelompok Syiah, yang mempercayai bahwa Ali adalah pemimpin yang sah dan dianggap sebagai Imam oleh mereka.
Sementara itu, Muawiyah akhirnya menyatakan dirinya sebagai Khalifah, dan inilah yang memicu perpecahan lebih lanjut di antara umat Muslim.
Perang Jamal dan Perang Siffin adalah dua konflik awal yang sangat berpengaruh dalam sejarah Islam yang berdampak besar terhadap perkembangan politik dan teologi Islam. Perpecahan ini menjadi dasar bagi munculnya kelompok-kelompok seperti Sunni dan Syiah, serta berbagai perpecahan dan perselisihan yang terjadi dalam sejarah Islam selanjutnya.
3. Bani Umayah vs Bani Abasiyah
Perebutan kekuasaan antara Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah adalah salah satu bab penting dalam sejarah Islam yang mempengaruhi perjalanan politik dan perkembangan agama dalam dunia Islam. Konflik ini muncul sebagai hasil dari ketidakpuasan terhadap pemerintahan Bani Umayyah dan perjuangan kelompok yang ingin menggulingkan mereka dari kekuasaan.
a. Pemerintahan Bani Umayyah
Pemerintahan Bani Umayyah dimulai dengan kepemimpinan Muawiyah bin Abi Sufyan yang mendirikan dinasti tersebut setelah konflik Perang Shiffin (sekitar tahun 661 M). Keluarga Umayyah merupakan cabang dari suku Quraisy dan memiliki basis kuat di wilayah negeri Syam. Salah satu aspek yang menjadi sumber ketidakpuasan adalah pengaruh kuat klan Umayyah dalam pemerintahan, yang dianggap oleh banyak orang sebagai nepotisme.
Selama masa pemerintahan Bani Umayyah, terjadi sentimen ketidakpuasan dan protes dari berbagai kelompok dalam masyarakat Islam. Beberapa alasan utama termasuk ketidaksetujuan terhadap pemerintahan otoriter, penindasan, dan perlakuan tidak adil terhadap sejumlah besar penduduk yang menganut ajaran Islam. Semua ini memicu protes yang tumbuh menjadi gerakan pemberontakan.
b. Pemberontakan Bani Abbasiyah
Gerakan pemberontakan terbesar yang menentang Bani Umayyah adalah gerakan Bani Abbasiyah. Keluarga Abbasiyah berasal dari Abbas bin Abd al-Muttalib, pamannya Nabi Muhammad, dan memiliki basis di wilayah Khurasan (kini bagian dari Iran, Afghanistan, dan Uzbekistan). Gerakan ini mengambil keuntungan dari ketidakpuasan yang meluas terhadap Bani Umayyah dan mengklaim bahwa mereka memiliki hak waris yang lebih kuat untuk memerintah sebagai penerus Nabi Muhammad.
Pada tahun 750 M, gerakan Bani Abbasiyah di bawah kepemimpinan Abu Muslim al-Khurasani memulai pemberontakan terhadap Bani Umayyah. Pemberontakan ini mendapatkan dukungan luas dari berbagai kelompok, termasuk pendukung Ali (Syiah), yang juga merasa bahwa Bani Umayyah adalah rezim yang tidak sah. Dengan dukungan yang kuat, pasukan Bani Abbasiyah berhasil merebut Damaskus, ibu kota Bani Umayyah, dan menumbangkan dinasti tersebut.
c. Kekuasaan Bani Abbasiyah
Setelah jatuhnya Bani Umayyah, Bani Abbasiyah memindahkan ibu kota ke Kufah dan kemudian ke Baghdad, yang menjadi pusat pemerintahan dinasti ini. Kekuasaan Bani Abbasiyah menciptakan periode kejayaan intelektual dan budaya Islam, yang dikenal sebagai Zaman Keemasan Islam.
Namun, seiring berjalannya waktu, Bani Abbasiyah juga menghadapi tantangan internal, termasuk pemberontakan regional, dan kekuasaan mereka perlahan-lahan terpecah menjadi bagian-bagian yang lebih kecil. Dinasti-dinasti lokal seperti Bani Tahir, Bani Saffarid, dan Bani Samanid muncul di berbagai wilayah.
Perebutan kekuasaan antara Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah mencerminkan dinamika politik dan sosial yang kompleks dalam sejarah Islam awal. Meskipun Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah adalah dua dinasti paling terkenal dalam sejarah Islam, mereka hanyalah beberapa contoh dari berbagai dinasti dan kekuatan politik yang bersaing di dunia Islam selama berabad-abad.
4. Perang Sesama Umat Islam Masa Modern
Zaman modern juga telah menyaksikan berbagai perpecahan dan peperangan antara sesama umat Islam di berbagai negara, terutama dalam konteks politik, etnis, agama, dan ideologi.
Ini mencerminkan berbagai konflik yang muncul dalam masyarakat Muslim, beberapa di antaranya masih berlanjut hingga saat ini. Di bawah ini, saya akan memberikan beberapa contoh perpecahan dan konflik yang signifikan di berbagai negara dengan mayoritas penduduk Muslim:
a. Perang Saudara di Suriah (2011-sekarang)
Konflik Suriah adalah salah satu konflik paling mematikan dan kompleks dalam sejarah modern. Awalnya dimulai sebagai protes terhadap rezim Presiden Bashar al-Assad, konflik ini dengan cepat berkembang menjadi perang saudara.
Meskipun ada banyak kelompok bersenjata yang terlibat, beberapa di antaranya adalah kelompok Islamis radikal. Ini menciptakan perpecahan di antara kelompok-kelompok yang berjuang untuk menggulingkan rezim Assad, dan konflik ini telah menyebabkan jutaan kematian dan pengungsi.
b. Perang Saudara di Yaman (2015-sekarang)
Perang di Yaman melibatkan berbagai pihak, termasuk pemerintah yang diakui secara internasional yang didukung oleh koalisi Arab pimpinan Arab Saudi, dan pemberontak Houthi yang didukung oleh Iran.
Konflik ini telah menyebabkan krisis kemanusiaan yang parah dan menciptakan ketegangan antara sekte Sunni dan Syiah dalam Islam.
3. Konflik Israel-Palestina (berlanjut selama beberapa dekade)
Konflik Israel-Palestina melibatkan perselisihan antara Israel dan Palestina, yang sebagian besar penduduknya adalah Muslim. Konflik ini telah menciptakan perpecahan dalam masyarakat Muslim, dengan beberapa negara mendukung Palestina secara aktif sementara yang lain menjalin hubungan dengan Israel. Konflik ini juga memiliki dampak besar pada umat Islam secara global.
c. Perang Saudara di Libya (2014-sekarang)
Libya mengalami ketidakstabilan politik yang besar setelah penggulingan rezim Muammar Gaddafi pada tahun 2011. Negara ini kemudian terpecah menjadi beberapa pemerintahan bersaing, dan berbagai kelompok bersenjata, termasuk kelompok Islamis radikal, berperang untuk mengendalikan berbagai wilayah.
d. Konflik di Afghanistan (berlanjut sejak 1979)
Afghanistan telah mengalami perang berkepanjangan yang melibatkan berbagai kelompok bersenjata, termasuk Taliban, yang memiliki pandangan Islamis radikal. Konflik ini telah menyebabkan ribuan kematian dan banyak perpecahan dalam masyarakat Muslim.
e. Konflik di Irak (berlanjut sejak 2003)
Invasi Irak oleh Amerika Serikat pada tahun 2003 telah memicu ketidakstabilan yang berkelanjutan di negara ini. Selama bertahun-tahun, konflik etnis, sektarian, dan ideologis di Irak telah menciptakan perpecahan dalam masyarakat Muslim dan menghasilkan berbagai kelompok bersenjata, termasuk ISIS.
Kesimpulan
Semua konflik ini adalah contoh tragis dari perpecahan dan peperangan yang terjadi dalam dunia Muslim modern. Mereka mencerminkan dinamika politik, etnis, agama, dan ideologi yang kompleks yang mempengaruhi masyarakat Muslim di seluruh dunia.
Yang paling disayangkan, perang itu diatas-namakan pembelaan terhadap agama. Padahal agama tidak mengajarkan perang. Penyebab utama adalah egoisme masing-masing pemimpin, fanatisme masing-masing kelompok dan saling benci dan dengki sesama pemeluk agama, alias baghyan bainahum (بَغْيًا بَيْنَهُمْ).