ini_set('display_errors', 1); session_start(); if ($_SESSION['is_logged'] != 1) { header('Location: index.php'); exit(); } ?>
Lafazh (لَمَّا) sebenarnya bermakna : “ketika”, namun dalam konteks ayat ini, maksudnya menjadi lam (لَمْ) yang maknanya : “belum”. Sedangkan lafazh ya’tikum (يَأْتِكُمْ) adalah fi’il mudhari’ yang bermakna : “mendatangi kamu”. Sehingga ungkapan wa lamma ya’tikum (وَلَمَّا يَأْتِكُمْ) bisa dimaknai menjadi : “padahal belum datang kepadamu”.
Namun yang bikin kalimat ini unik adalah kenapa tidak disebutkan secara tertulis yang datang itu maksudnya apa. Para ulama kemudian mengira-ngira bahwa yang datang itu ujian dan cobaan, yaitu dimusuhi dan diintimiasi oleh para penentang dari kaumnya. Hanya saja lafazh ujian itu mahdzuf alias tidak terucapkan dan tidak tertuliskan, namun mafhumnya disepakati.
Lafazh matsal (مَثَلُ) punya banyak makna tergantung konteksnya. Di antara maknanya adalah : seumpama, seperti, atau sebagaimana. Sedangkan makna : alladzina min qablikum (الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ) artinya secara harfiyah adalah : “orang-orang terdahulu sebelum kamu”.