ini_set('display_errors', 1); session_start(); if ($_SESSION['is_logged'] != 1) { header('Location: index.php'); exit(); } ?>
Lafazh massat-hum (مَسَّتْهُمُ) adalah bentuk fi’il madhi dimana asal katanya dari (مَسَّ - يَمَسُّ). Secara bahasa artinya menyentuh, atau dalam ungkapan bahasa Arab didefinisikan sebagai (اتِّصالُ الجِسْمِ بِجِسْمٍ آخَرَ) yaitu menempelnya badan seseorang dengan badan orang lain. Dalam ayat Al-Quran juga ada disebutkan kata massa:
ذُوقُوا مَسَّ سَقَرَ
Rasakanlah sentuhan api neraka!" (QS. Al-Qamar : 48)
Namun yang dimaksud dengan lafazh massathum di ayat ini tentu saja bukan urusan sentuh menyentuh, tetapi merupakan sebuah metafora untuk menggambarkan tertimpa sesuatu dengan sesuatu yang lain hingga merasuk. Oleh karena itulah ada ungkapan orang yang kesurupan setan itu dikaitkan dengan al-mass (المّسُّ) sebagaimana disebutkan dalam ayat Al-Quran berikut ini :
إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ
Seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. (QS. Al-Baqarah : 275)
Lafazh al-ba’saa’u (الْبَأْسَاءُ) artinya keadaan yang sempit dan kemiskinan. Lafazh adh-dharra’ (وَالضَّرَّاءِ) artinya sakit. Sedangkan terjemahan Kementerian Agama RI menuliskan bahwa al-ba’saa’u (الْبَأْسَاءُ) artinya malapetaka, sedangkan adh-dharra’ (وَالضَّرَّاءِ) artinya kesengsaraan.