ini_set('display_errors', 1); session_start(); if ($_SESSION['is_logged'] != 1) { header('Location: index.php'); exit(); } ?>
Lafazh kurhun (كُرْهٌ) artinya : sesuatu yang tidak disukai atau dipaksa. Di dalam Al-Quran, ada beberapa ayat yang menggunakan kata ini.
وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ
Walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai. (QS. At-Taubah : 32)
إِلَّا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالْإِيمَانِ
Kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran. (QS. A-Nahl : 106)
Yang menjadi pertanyaan penting disini, kenapa Allah SWT menyatakan bahwa perang itu sesuatu yang mereka benci? Padahal bukankah bangsa Arab sejak dulu suka berperang?
Apalagi buat para shahabat muhajirin yang terusir dari negeri mereka dan hidup seadanya di rantau orang, bukankah perang itu didambakan untuk bisa membalaskan dendam mereka selama ini? Lantas kenapa Allah SWT justru mengatakan bahwa para shahabat tidak suka dengan peperangan? Tentu pertanyaan semacam ini cukup menggelitik untuk dianalisa lebih lanjut.
Ada beberapa asumsi yang bisa digunakan untuk menganalisa pernyataan ini, antara lain :
Pertama, benar bahwa orang Arab itu gemar berperang, namun tidak semua demikian. Harus dibedakan antara suku-suku yang tinggal di gurun pasir yang mana merkea memang gemar berperang antar suku. Perang memang seakan menjadi jati diri mereka. Bahkan kalau ditanyakan kenapa harus perang, atau dengan logika apa sampai harus membunuh suku lain, boleh jadi mereka pun tidak bisa menjelaskan secara logis. Sebab sudah turun temurun mereka dikenalkan hanya dengan perang dan perang saja. Itulah warisan leluhur mereka,
Kita harus membedakan profil suku-suku Arab itu kalangan Quraisy yang dikenal sebagai kabilah paling mulia di seluruh kalangan bangsa Arab. Mereka dimuliakan karena dikenal sebagai penjaga Ka'bah secara turun temurun. Mereka adalah ‘tuan rumah’ untuk ritual ibadah haji tahunan bagi bangsa Arab. Pada bulan apa haji akan dilaksanakan setiap tahunnya, itu hak preogratif kaum Quraisy. Maka tidak mungkin suku-suku Arab yang tukang perang itu bermusuhan dengan kaum Quraisy.
Kalau sampai bermusuhan dengan pihak Quraisy berarti tamatlah riwayat ke-arab-an mereka, karena mereka jadi tidak bisa berhaji. Padahal tuhan-tuhan yang mereka sembah disimpan di sekitaran Ka’bah. Ribut kepada Quraisy berarti jadi arab atheis tidak bertuhan. Maka kemanapun orang Quraisy ini bepergian, posisi mereka selalu aman. Tidak ada suku yang cari gara-gara dengan mereka. Kelaparan pun akan diberi makan oleh semua bangsa Arab yang bertemu mereka.
الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ وَآمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ
Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan. (QS. Quraisy : 3)
Mereka itu nyaris tidak punya musuh. Justru mereka dikenal sebagai saudagar yang butuh kestabilan politik. Al-Quran secara khusus menyebutkan karakteristik orang-orang Quraisy ini :
لِإِيلَافِ قُرَيْشٍ إِيلَافِهِمْ رِحْلَةَ الشِّتَاءِ وَالصَّيْفِ
Karena kebiasaan orang-orang Quraisy, (yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas. (QS. Quraisy : 2)
Suku para saudagar ini termasuk yang mereka yang membenci peperangan. Sebab perang itu akan mengganggu bisnis mereka. Maka ayat ini menemukan kejelasannya, bahwa mereka tidak suka dengan perang, alias disebut kurhun lakum (كُرْهُ لَكُمْ).
Adapun yang disebut-sebut gemar perang itu adalah orang-orang Arab penghuni gurun pasir di luar suku Qurasiy. Mereka hidup dari menggantungkan hasil perang antar suku di antara mereka, atau pun juga melakukan pembegalan, perampokan dan perampasan kafilah dagang yang lewat.
Jadi ada yang suka perang dan ada yang benci perang. Para shahabat generasi pertama termasuk mereka yang benci perang. Nabi SAW, Abu Bakar, Umar, Ustman, Ali dan lainnya adalah orang Quraisy.
Kedua, boleh jadi yang dimaksud dengan : ‘mereka benci perang’ karena perang yang mereka hadapi saat itu adalah perang Badar. Dalam Sirah Nabawiyah, kejadian Perang Badar sendiri sebenarnya perang yang tidak terlalu mereka harapkan, karena musuhnya masih sesama keluar mereka sendiri. Kalaupun sampai pecah, hal itu karena terjadi insiden dan keterpaksaan semata.
Nabi SAW awalnya hanya ingin menghadang kafilah Quraisy Mekkah yang melintas di sekitaran Madinah menuju ke negeri Syam. Ternyata Abu Sufyan malah meminta dikirimkan pasukan perang bersenjata lengkap berjumlah seribu orang.
Nabi SAW akhirnya harus memilih, antara melarikan diri atau tetap menghadapi musuh yang masih keluarga sendiri. Kedua pilihan ini seperti makan buah simalakama. Dimakan bapak mati, tidak dimakan ibu mati. Kalau melarikan diri, pasti ada resikonya. Sedangkan kalau dihadapi, resikonya juga besar. Setidaknya, jumlah kekuatan tidak berimbang, plus yang dihadapi ternyata masih keluarga dan saudara sendiri.
Maka Perang Badar ini adalah perang yang tidak terlalu diharapkan terjadinya. Itu terbukti bahwa di tengah kecamuk Perang itu, Nabi SAW sampai merasa harus menghentikan perang begitu saja. Tak ayal turunkan ayat Al-Quran yang menegur tindakan menghentikan perang di tengah jalan.
مَا كَانَ لِنَبِيٍّ أَنْ يَكُونَ لَهُ أَسْرَىٰ حَتَّىٰ يُثْخِنَ فِي الْأَرْضِ
Tidak patut, bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. (QS. Al-Anfal : 67)
Ketiga, boleh jadi ayat ini turun ketika para shahabat sedang dalam keadaan kurang semangat untuk berperang, sebagaimana yang menjadi latar belakang turunnya ayat berikut ini :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَا لَكُمْ إِذَا قِيلَ لَكُمُ انْفِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ اثَّاقَلْتُمْ إِلَى الْأَرْضِ ۚ أَرَضِيتُمْ بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا مِنَ الْآخِرَةِ ۚ فَمَا مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا قَلِيلٌ
Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya bila dikatakan kepadamu: "Berangkatlah (untuk berperang) pada jalan Allah" kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) diakhirat hanyalah sedikit. (QS. At-Taubah : 38)