ini_set('display_errors', 1); session_start(); if ($_SESSION['is_logged'] != 1) { header('Location: index.php'); exit(); } ?>
Terjemahan penggalan ini tentu kebalikan dari penggalan sebelumnyam yaitu : “dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu”.
Lafazh syai’an (شَيْئًا) dua kali disebutkan dalam penggalan ayat ini. Secara umum bermakna : “sesuatu”. Meskipun demikian, keduanya punya maksud yang berbeda. Lafazh takrahu sya’an (تَكْرَهُوا شَيْئًا) yang artinya kamu membenci sesuatu, maksudnya adalah membenci perang. Sedangkan tuhibbu sya’an (تُحِبُّوا شَيْئًا) yang berarti kamu menyukai sesuatu, maksudnya adalah duduk di rumah tidak ikut turun bertempur.
Berbagai kejadian di masa kenabian membuktikan hal-hal yang dimaksud, antara lain :
Pertama : Ketika masih di Mekkah, Nabi SAW sangat mempriritaskan dakwahnya menyasar kepada para pemuka Quraisy, dengan harapan apabila para pemukanya bisa masuk Islam, maka kaumnya semua otomatis akan masuk Islam. Namun apa yang Nabi SAW harapkan nampaknya pupus, sebab mereka tidak ada yang mau masuk Islam. Disitulah terjadi apa yang disebut : menyukai sesuatu ternyata hasilnya tidak sesuai harapan.
Kedua : Awalnya Nabi SAW berharap penduduk Thaif mau menerima dakwah Islam. Ternyata setelah tiba disana, penduduknya justru menyambutnya dengan sambitan dan lemparan batu. Sampai luka-luka merata di sekujur tubuhnya. Sekali lagi terjadi apa yang disebut : menyukai sesuatu ternyata hasilnya tidak sesuai harapan.