Kemenag RI 2019:Bagaimana kamu (sampai) menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kamu dan Rasul-Nya (Nabi Muhammad) pun berada di tengah-tengah kamu? Siapa yang berpegang teguh pada (agama) Allah, sungguh dia telah diberi petunjuk ke jalan yang lurus. Prof. Quraish Shihab:
Bagaimana kamu menjadi kafir, padahal dibacakan (disampaikan) kepada kamu ayat-ayat Allah, dan Rasul-Nya pun berada di tengahtengah kamu? Barang siapa berpegang teguh kepada (agama) Allah, maka sungguh dia telah diberi petunjuk kepada jalan lebar yang lurus.
Prof. HAMKA:
Dan bagaimana kamu akan kufur, padahal telah dibacakan kepada kamu ayat-ayat Allah, dan di antara kamu ada Rasul-Nya? Dan barangsiapa yang berpegang teguh dengan Allah, maka sesungguhnya telah diberi petunjuk dia kepada jalan yang lurus.
Ayat ke-101 ini masih lanjutan dari ayat sebelumnya, yang mana di ayat sebelumnya Allah SWT melarang kaum muslimin untuk mentaati sebagian dari para ahli kitab, karena akan membawa mereka kepada kekafiran.
Maka di ayat ini Allah langsung mempertanyakan para ahli kitab alias orang-orang Yahudi, bagaimana bisa mereka sampai jadi kafir, padahal mereka punya kitab Taurat dan sudah ada Nabi Muhammad SAW.
وَكَيْفَ تَكْفُرُونَ
Kata wa-kaifa (وَكَيْفَ) merupakan kata tanya yang tidak membutuhkan jawaban, karena sifatnya hanya mempertanyakan namun sebenarnya justru merupakan pengingkaran.
Istilahnya adalah istifham inkari (إستفهام إنكاري). Atau bisa juga dikatakan sebagai kata yang mengekpresikan keheranan (kalimatut-ta’ajjub).
Kata takfurun (تَكْفُرُونَ) adalah fi’il mudhari’ atau kata kerja yang artinya : melakukan perbuatan kafir atau menjadi orang kafir.
وَأَنْتُمْ تُتْلَىٰ عَلَيْكُمْ آيَاتُ اللَّهِ
Kata wa antum (وَأَنْتُمْ) artinya : dan kamu. Az-Zajjaj mengatakan tentang siapakah yang dimaksud ‘kamu’ dalam hal ini, memang ada dua kemungkinan.
Kemungkinan pertama, bahwa yang diajak bicara oleh Allah SWT dalam hal ini adalah para shahabat nabi ridhwanullahi ‘alaihim. Dasarnya karena pada ayat sebelumnya, Allah SWT menyapa mereka dengan sebutan : wahai orang-orang yang beriman. Maka apa yang termuat dalam ayat ini masih terkait pembicaraan kepada orang beriman.
Apalagi ditambah dengan penggalan selanjutnya yang menyebutkan bahwa di tengah-tengah kamu adalah rasulullah. Maka yang paling tepat mereka itu adalah para shahabat nabi yang mulia.
Kemungkinan kedua, bahwa yang diajak bicara dalam hai ini justru orang-orang Yahudi. Dasarnya karena di ayat ini disebutkan pertanyaan yang merupakan pengingkaran, yaitu : “Bagaimana kamu menjadi kafir”. Yang kafir itu orang-orang Yahudi dan bukan para shahabat yang mulia.
Kata tutla ‘alaikum (تُتْلَىٰ عَلَيْكُمْ) asalnya dari (تلا-يتلو-تلاوة) yang artinya : membacakan, dalam hal ini maksudnya membacakan untuk orang lain dan bukan hanya untuk diri sendiri. Dan biasanya membacakan itu dengan suara yang keras, maksudnya agar yang dibacakan itu bisa mendengarnya.
Dalam hal ini ada sedikit perbedaan antara tilawah dengan qiraah. Qiraah itu meskipun artinya sama-sama membaca juga, namun sifatnya lebih umum, bisa dengan suara keras ataupun bisa dengan suara yang lirih ataupun berbisik. Sedangkan tilawah lebih ke arah memperdengarkan atau membacakan.
Kata ayaatullahi (آيَاتُ اللَّهِ) artinya : ayat-ayat Allah. Dalam hal ini yang dimaksud adalah firman Allah dalam bentuk kitab suci samawi, baik berupa kitab suci Taurat yang turun kepada Nabi Musa alaihissalam di tahun 1.300-an sebelum Masehi, maupun juga Al-Quran yang turun kepada Nabi SAW.
Kalau kita berpegang pada pandangan bahwa yang diajak bicara dalam ayat ini adalah para shahabat yang mulia, berarti yang dimaksud dengan ayat-ayat Allah SWT tidak lain adalah Al-Quran Al-Karim. Namun kalau kita berpegang pada pandangan bahwa yang diajak bicara dalam hal ini adalah orang-orang Yahudi, maka ayat-ayat Allah yang dimaksud tentunya kitab Taurat.
وَفِيكُمْ رَسُولُهُ
Kata wa fiikum rasuluhu (وَفِيكُمْ رَسُولُهُ) artinya : dan di tengah kalian ada rasulullah, yaitu Nabi Muhammad SAW. Makna kata rasul sendiri adalah utusan, namun yang dimaksud tidak lain adalah seorang nabi yang mendapat wahyu samawi dan diperintahkan untuk mengajarkan umatnya tentang berbagai ketentuan perintah dari Allah SWT.
Kalau pun ayat ini ditujukan kepada kalangan Yahudi, tidak jadi mengapa. Sebab orang-orang Yahudi itu tahu persis bahwa Nabi Muhammad SAW memang benar-benar seorang nabi utusan Allah.
Hanya saja yang jadi masalah, mereka tidak mau jadi pengikut Nabi SAW dan lebih memilih untuk berjalan sendiri, sambil mengklaim diri mereka adalah pengikut dari Nabi Musa ‘alahissalam. Padahal yang menjadi fakta sesungguhnya, mereka adalah kaum yang selalu mengaku-ngaku sebagai anak keturunan dari para nabi dan membanggakannya di hadapan umat manusia. Namun begitu, ada begitu banyak nabi yang akhirnya mereka ingkari sendiri. Bahkan sebagian dari para nabi itu ada juga yang mereka bunuh.
وَمَنْ يَعْتَصِمْ بِاللَّهِ
Kata wa-man (وَمَنْ) artinya : dan orang-orang yang, sedangkan kata ya’tashim billah (يَعْتَصِمْ بِاللَّهِ) artinya : berpegang teguh kepada Allah. Maksudnya berlaku tekun dengan mengikuti serta mentaati semua perintah yang Allah SWT turunkan, serta setia terus untuk meninggalkan apa-apa yang Allah SWT larang.
Namun dalam terjemahan, baik Kemenag RI atau pun Prof. Quraish Shihab menambahkan kata agama dalam kurung, sehingga yang dimaksud dengan berpegang-teguh kepada Allah, maknanya adalah berpegang teguh kepada agama Allah, yaitu agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW.
Sedangkan Buya HAMKA tidak menambahkan kata agama dan hanya langsung menyebutkan berpegang teguh kepada Allah.
فَقَدْ هُدِيَ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
Kata fa-qad (فَقَدْ) artinya : sungguh telah benar-benar. Sedangkan kata hudiya (هُدِيَ) artinya : diberikan petunjuk, atau dengan kata lain : diberi hidayah.
Secara teknis bahwa dia diarahkan, dikawal dan juga tanpa terasa digiring ke satu titik, yaitu ke arah ash-shirath al-mustaqim.
Lafazh shirath (الصراط) secara bahasa bermakna jalan yang lebar, namun makna aslinya adalah menelan. Hubungannya bahwa saking lebarnya jalan itu sehingga seolah menelan orang yang melewatinya.
Kata shirath ditemukan dalam al-Quran sebanyak 45 kali. Kesemuanya dalam bentuk tunggal, 32 kali di antaranya dirangkaikan dengan kata mustaqim, selebihnya dirangkaikan dengan berbagai kata yang lain.
Selanjutnya, bila shirath dinisbahkan kepada sesuatu, penisbahannya adalah kepada Allah SWT seperti katashirathaka (jalan-Mu), atau shirathi (jalan-Ku), atau shirath al-aziz al-hamid (jalan Allah Yang Mahamulia lagi Maha terpuji), dan kepada orang-orang mukmin, yang mendapat anugerah nikmat Ilahi seperti dalam ayat al-Fatihah shiratha allazina an 'amta 'alaihim.
Lafazh shirath (صراط) ini berbeda dengan kata yang mirip yaitu sabil (سبيل) yang juga sering kali diterjemahkan dengan jalan. Kata sabil ada yang berbentuk jamak, seperti subul as-salam (jalan-jalan kedamaian), ada pula yang tunggal yang dinisbahkan kepada Allah, seperti sabilillah, atau kepada orang bertakwa, seperti sabil al-muttaqin. Ada juga yang dinisbahkan kepada setan dan tirani seperti sabil ath-thdghut atau orang-orang berdosa seperti sabil al-mujrimin.
Cukup banyak tafsiran para ulama ahli tafsir terhadap makna kata ash-shirath ini. Dalam tafsir Jami' Al-Bayan, Ibnu Jarir Ath-Thabari banyak mengutipkan pendapat mereka satu per satu. Di antaranya adalah jalan lurus, Al-Quran Al-Kariem, agama Islam, Nabi Muhammad SAW dan lainnya.
1. Jalan Yang Lurus
Ibnu Jarir Ath-Thabari menyebutkan bahwa para ahli ilmu telah bersepakat bahwa secara umum makna shirat adalah :
وَفّقنا للثبات على ما ارتضيتَه ووَفّقتَ له مَنْ أنعمتَ عليه من عبادِك، من قولٍ وعملٍ، وذلك هو الصِّراط المستقيم
Teguhkan kami agar tetap berada pada apa yang Engkau ridahi sebagaimana orang-orang yang Engkau berikan nikmat-Mu di kalangan hamba-hamba-Mu, baik berupa perkataan atau perbuatan. Itulah ash-shirath al-mustaqim.
b. Al-Quran Al-Karim
Namun Ibnu Jarir Ath-Thabari juga tidak menampik adanya banyak penafsiran yang lain. Salah satunya bahwa ash-shirat al-mustaqim adalah Al-Quran Al-Karim, sebagaimana disebutkan beberapa riwayat yang berbeda-beda dalam tafsirnya, namun semuanya berujung kepada perkataan Ali bin Abi Thalib dan Ibnu Mas'ud radhiyallahu'anhuma.
c. Agama Islam
Selanjutnya juga ada riwayat dari Jabir bin Abdillah dan Muhammad bin Al-Hanafiyah yang menafsirkan bahwa ash-shirath al-mustaqim adalah Agama Islam.
d. Rasulullah SAW
Tafsiran lain atas ash-shirath al-mustaqim adalah diri Rasulullah SAW sendiri, sebagaimana dikatakan oleh Hasan Al-Bashri dan Ashim dari Abul Aliyah.