Kemenag RI 2019:Mereka beriman kepada Allah dan hari Akhir, menyuruh (berbuat) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan bersegera (mengerjakan) berbagai kebajikan. Mereka itu termasuk orang-orang saleh. Prof. Quraish Shihab:
Mereka beriman kepada Allah dan Hari Kemudian, mereka menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah yang munkar dan bersegera (mengerjakan) berbagai kebajikan; mereka itu termasuk orang-orang saleh.
Prof. HAMKA:
Mereka pun percaya kepada Allah dan hari Kemudian, dan mereka pun menyuruh berbuat yang ma’ruf (baik) dan melarang perbuatan yang mungkar dan mereka pun berlomba-lomba di dalam kebaikan. Mereka itu adalah golongan orang-orang saleh.
Ayat ke-114 ini masih sambungan langsung dari ayat sebelumnya, yang melengkapi sifat dan karakteristik sebagian kalangan Yahudi yang beriman kepada Nabi Muhammad SAW.
Kalau di ayat sebelumnya mereka digambarkan membaca ayat-ayat Allah di malam hari dan bersujud, maka di ayat ini digambarkan bahwa mereka itu beriman kepada Allah, percaya akan adanya kehidupan negeri akhirat, bahkan mereka ber-amar makruf nahyi munkar, serta berlomba-lomba dalam menjalankan kebaikan.
Dan secara tegas mereka ini disebut sebagai orang yang shalih oleh Allah SWT.
يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ
Lafazh yu’minuna (يُؤْمِنُونَ) merupakan kata kerja fi’il mudhari, asal katanya dari (آمن – يؤمن - إيمانا) yang artinya : beriman. Beriman itu maksudnya meyakini dan mempercayai. Sedangkan makna billahi (بِاللَّهِ) adalah kepada Allah.
Orang-orang Yahudi itu bukan bangsa yang tidak bertuhan, mereka justru sangat bertuhan sekali. Tidak sama mereka itu dengan anggapan kita tentang masyarakat Eropa dan Barat pada umumnya yang rada-rada atheis alias tidak percaya kepada adanya Tuhan. Orang-orang Yahudi itu sangat religius dan percaya sekali tentang adanya tuhan yang patut disembah.
Dan sikap mental bertuhan itu terlihat dalam pecahan uang dolar Amerika yang bertuliskan : In God We Trust, kepada Tuhan kita percaya. Konon raja moneter dunia adalah taipan-taipan Yahudi, ternyata begitu mereka menciptakan mata uang dolar, mereka sisipkan jenis kelamin aslinya yaitu percaya kepada Tuhan.
Kurang lebih agak miriplah dengan bangsa Indonesia yang juga amat religius, sampai sila pertama dalam Pancasilanya adalah : “Ketuhanan Yang Maha Esa”.
Uniknya lagi, Al-Quran menyebutkan bahwa mereka itu percaya kepada Allah, tuhan yang kita sembah juga. Bukan tuhan yang lain, juga bukan YHWH yang banyak disebut-sebut dalam literatur terkait dengan Zionis Yahudi. Memang istilah YHWH ini rada bikin kita kebingungan tentang maksudnya.
Orang yahudi zaman sekarang ini kalau menyebut nama tuhan, mereka menyebutkan YHWH. Apakah itu hanya sebutan saja padahal maksudnya Allah SWT, ataukah YHWH itu berhala yang disembah oleh mereka?
Ternyata YHWH adalah salah satu nama yang digunakan oleh orang Yahudi untuk menyebut Tuhan dalam agama mereka. Nama ini terkait erat dengan konsep monotheisme dalam agama Yahudi, yang menekankan bahwa hanya ada satu Tuhan yang disembah. YHWH sering kali diterjemahkan sebagai "I AM" atau "Yang Esa" dalam bahasa Indonesia.
Ternyata YHWH bukanlah berhala yang disembah oleh orang Yahudi. Sebaliknya, itu adalah nama khusus untuk Tuhan mereka yang dianggap suci dan tidak boleh disebut dengan sembarangan. Sejarah dan penggunaan YHWH dalam agama Yahudi sangatlah kuno dan memiliki makna yang dalam bagi umat Yahudi.
YHWH bukanlah singkatan, melainkan transliterasi dari salah satu nama khusus untuk Tuhan dalam agama Yahudi. Dalam teks-teks kuno Ibrani, nama ini ditulis dengan empat huruf konsonan יהוה (Yod Heh Vav Heh), yang tidak mengandung huruf vokal. Sebagai hasilnya, pengucapan yang sebenarnya dari nama ini telah menjadi objek perdebatan di antara para cendekiawan agama dan bahasa.
Dalam kepercayaan Yahudi, nama YHWH dianggap suci dan sangat dihormati, sehingga seringkali tidak diucapkan dengan jelas dalam percakapan sehari-hari. Sebagai gantinya, digunakanlah penggantian seperti "Adonai" (Yang Maha Tinggi) saat membaca teks-teks agama. Transliterasi YHWH menjadi "Yahweh" merupakan salah satu usaha modern untuk memberikan pengucapan yang lebih mendekati bunyi aslinya.
Terlepas dari sejarah YHWH, namun kalau kita cermati ayat-ayat Al-Quran, hadits-hadits nabawi serta Sirah Nabawiyah, orang-orang Yahudi di masa kenabian itu memang bertuhankan Allah SWT. Tuhannya Nabi Muhammad SAW juga.
Bahkan Allah-nya orang-orang Yahudi itulah yang mengutus Nabi Musa alaihisalam. Kita pun sebagai umat Nabi Muhammad mengakui kenabian Musa di masanya serta menyebut Nabi Musa dalam rangkaian kata : alaihissalam.
Allah yang sama juga yang menurunkan kitab suci Taurat, dimana Nabi Muhammad SAW di masa awal masih diperintahkan untuk menjadikan Taurat sebagai kitab rujukan hukum dalam memutuskan perkara di Madinah kala itu.
وَالْيَوْمِ الْآخِرِ
Kata wal-yaumil-akhir (وَالْيَوْمِ الْآخِرِ) artinya : dan hari akhir. Maksudnya Bani Israil atau orang-orang yahudi yang masuk Islam ini memang asalnya mereka punya keyakinan akan adanya hari akhir. Dan hari akhir yang dimaksud itu punya banyak periode, mulai dari adanya hari kiamat dalam arti hari dihancurkannnya alam semesta. Sampai dikatakan tidak ada lagi makhluk yang hidup, termasuk malakul maut Izrail sendiri pun mencabut sendiri nyawanya atas perintah Allah.
Kemudian masuk ke periode berikutnya, yaitu hari berbangkit. Di hari itu semua yang dahulu pernah ada dan bernyawa akan dibangkitkan lagi. Mereka kemudian akan dimintai pertanggung-jawaban alias diadili atas semua yang dikerjakannya. Mereka dikumpulkan di Mahsyar, sejak dari manusia di zaman Nabi Adam alaihissalam hingga manusia terakhir yang hidup di dunia.
Kemudian masing-masing akan diberikan balasan sesuai dengan amal-amal mereka. Sebagian masuk surga, sebagian lagi masuk neraka.
Semua itu tentunya tidak dipercaya oleh bangsa Arab di masa itu, sebab terhitung sejak masa Nabi Ibrahim dan puteranya Nabi Ismail, bangsa Arab tidak pernah lagi kedatangan nabi dan rasul yang memberikan mereka keimanan atas pasti terjadinya hari akhir. Akibatnya, bangsa Arab selama berabad-abad berada dalam alam jahiliyah yang tidak percara pada adanya hari akhir.
Bangsa Arab menyakini bahwa siapa pun yang hidup di dunia ini, lalu dia mati, selesai sudah segalanya. Kalau sudah mati dan jadi tanah, berarti sudah musnah untuk selamanya. Mereka tidak pernah bisa menerima konsep adanya kehidupan lain, entah itu di alam akhirat atau pun juga alam barzakh.
Maka bila mendengar dakwah Nabi Muhammad SAW tentang adanya kehidupan setelah kematian, orang-orang Arab langsung melecehkan ajaran itu. Dalam logika mereka, bagaimana mungkin manusia yang mati sudah jadi tanah, kemudian bisa hidup lagi?
Al-Quran ternyata cukup banyak mengutip logika para musyrikin Arab yang tidak bisa menerima adanya kehidupan setelah kematian. Penulis coba tampilkan beberapa ayat yang terkait dengan hal itu sebagai berikut :
Mereka berkata: "Apakah betul, apabila kami telah mati dan kami telah menjadi tanah dan tulang belulang, apakah sesungguhnya kami benar-benar akan dibangkitkan? (QS. Al-Mukminun : 82)
Berkatalah orang-orang yang kafir: "Apakah setelah kita menjadi tanah dan (begitu pula) bapak-bapak kita; apakah sesungguhnya kita akan dikeluarkan (dari kubur)? (QS. An-Naml : 67)
Apakah apabila kami telah mati dan telah menjadi tanah serta menjadi tulang belulang, apakah benar-benar kami akan dibangkitkan (kembali)? (QS. Ash-Shaffat : 16)
Apakah bila kita telah mati dan kita telah menjadi tanah dan tulang belulang, apakah sesungguhnya kita benar-benar (akan dibangkitkan) untuk diberi pembalasan?" (QS. Ash-Shaffat : 53)
Dan mereka selalu mengatakan: "Apakah bila kami mati dan menjadi tanah dan tulang belulang, apakah sesungguhnya kami akan benar-benar dibangkitkan kembali? (QS. Al-Waqiah : 47)
Lalu bagaimana dengan Bani Israil dan ahli kitab? Apakah mereka juga tidak percaya adanya hari akhir? Apakah mereka ingkar atas adanya kehidupan pasca kematian?
Jawabannya mereka sangat-sangat percaya atas adanya kehidupan akhirat. Mereka percaya adanya hari kiamat, hari berbangkit, hari pengadilan, hari pembalasan dan juga adanya surga dan neraka.
Justru ketika bangsa Arab secara keseluruhan mengingkari dakwah Nabi Muhammad yang mengajarkan adanya hari akhir, Bani Israil itulah yang lebih dahulu mengajarkan keyakinan atas adanya hari akhir kepada bangsa Arab.
Namun mana bisa orang Arab percaya terhadap apa yang diajarkan oleh Bani Israil. Dianggapnya itu merupakan mitos, hayalan dan tahayul di kalangan ahli kitab saja.
Logika yang digunakan oleh bangsa Arab sebenarnya masuk akal juga. Mereka bilang kalau benar apa yang diklaim oleh Bani Israil bahwa nanti akan ada hari berbangkit, dimana orang yang sudah mati jadi tanah lantas bisa bangkit lagi, faktanya hal itu belum pernah terjadi.
Belum pernah sekalipun ada orang yang sudah mati jadi tanah, lantas kembali lagi jasadnya lalu hidup dan berjalan. Walaupun hanya satu orang saja sebagai sample, sama sekali tidak pernah ada. Kalau dibilang semua orang yang sudah mati jadi tanah dikubur bertahun-tahun, ternyata bisa tersusun kembali jasadnya lalu hidup, maka itu tidak lain adalah lelucon bangsa Yahudi yang otaknya rada miring.
Dilecehkan seperti itu, bangsa Yahudi pun marah dan pecah perang antara Arab dan Yahudi. Dalam hati orang Arab, apa yang dipercayai oleh Yahudi-yahudi itu adalah sebuah kebodohan dan tanda sudah berakhirnya era kewarasan berpikir.
Maka kita tidak heran kalau di ayat ini justru Allah SWT seperti membela orang Yahudi yang percaya kepada Allah dan hari akhir. Sebenarnya memang mereka itu percaya kepada Allah dan hari akhir. Yang tidak percaya itu justru bangsa Arab, karena terlalu lama mereka tidak pernah bersentuhan dengan nabi utusan Allah.
Kata wa-ya’muruna (وَيَأْمُرُونَ) artinya : dan mereka memerintahkan, sedangkan kata bil-ma’ruf (بِالْمَعْرُوفِ) artinya : dengan yang ma’ruf. Secara bahasa, kata ma’ruf berarti sesuatu yang dikenal, asalnya dari kata (عرف – يعرف - معروف), namun banyak dianggap sebagai ungkapan dari sesuatu yang diridhai oleh Allah SWT dan diterima oleh syariat.
Kata wa yanhauna (وَيَنْهَوْنَ) artinya : mencegah atau menolak. Sedangkan makna ‘anil-munkar (عَنِ الْمُنْكَرِ) artinya : dari kemunkaran. Kata al-munkar ini diposisikan sebagai lawan dari kata al-ma’ruf, maka bisa diartikan sebagai segala yang tidak diridhai Allah dan menyelisihi syariat-Nya.
وَيُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ
Kata yusari’una (وَيُسَارِعُونَ) artinya menurut Kemenag dan Prof. Quraish Shihab adalah : bersegera, sementara Buya HAMKA mengatakan artinya : berlomba-lomba.
Kata fil-khairat (فِي الْخَيْرَاتِ) merupakan bentuk jamak dari bentuk tunggalnya yaitu al-khair. Secara umum artinya adalah kebaikan.
Namun kalau kita agak sedikit lebih teliti, terjemah Kemenag RI dan Prof. Quraish Shihab adalah ‘kebajikan’, sedangkan terjemahan Buya HAMKA adalah : ‘kebaikan’. Bedanya apa?
Namun secara umum makna al-khair (الخير) adalah apa yang menjadi dambaan semua orang dengan cakupannya memang amat luas, termasuk kebaikan dalam moral, akhlaq, etika pergaulan, sopan santun, hukum dan keadilan, ilmu pengetahuan, akal dan logika, bahkan dalam hal ekonomi, politik hingga dalam masalah perang.
Kalau boleh Penulis merumuskannya dengan sederhana, al-khairat itu artinya kehidupan yang berkualitas.
وَأُولَٰئِكَ مِنَ الصَّالِحِينَ
Lafazh wa-ulaika (وَأُولَٰئِكَ) artinya : dan mereka itu, yaitu orang-orang Yahudi yang masuk Islam di masa kenabian Muhammad SAW. Lafazh minashshalihin (مِنَ الصَّالِحِينَ) artinya : termasuk orang-orang shalih.