Kemenag RI 2019:Sungguh, Allah benar-benar telah menolong kamu dalam Perang Badar, padahal kamu (pada saat itu) adalah orang-orang lemah. ) Oleh karena itu, bertakwalah kepada Allah agar kamu bersyukur. Prof. Quraish Shihab:
Dan demi (Allah)! Sungguh, Allah telah menolong kamu dalam perang Badar, sedangkan kamu (ketika itu) adalah orang-orang yang lemah Karena ini, bertakwalah kepada Allah, supaya k.imu mensyukuri-(Nya)
Prof. HAMKA:
Sesungguhnya Allah telah menolong kamu di Badar, padahal kamu (waktu itu) lemah. Dan takwalah kepada Allah, supaya kamu berterima kasih.
Allah SWT mengingatkan kepada Nabi SAW bahwa kaum muslimin di Perang Badar dibandingkan dengan musuh sangatlah lemahnya. Mereka hanya 313 orang, sedangkan musuh lebih dari 1.000 orang dengan perlengkapan yang lebih sempurna.
Namun demikian, di Badar kaum Muslimin beroleh kemenangan besar, karena mereka sabar dan takwa. Sedangkan di Perang Uhud kedua perlengkapan batin itu telah hilang, terutama mereka tidak taat kepada pimpinan. Sebab itu, Allah melanjutkan firman-Nya, "Dan takwalah kepada Allah," karena dengan takwalah kamu akan dapat menyadari dirimu kembali.
وَلَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ بِبَدْرٍ
Lafazh wa-la-qad (وَلَقَدْ) artinya : dan sungguh telah. Kata nashara-kumullah (نَصَرَكُمُ اللَّهُ) terdiri dari tiga kata yang berbeda.
Pertama adalah kata kerja berupa fi’il madhi yaitunashara (نَصَرَ) yang maknanya : menolong atau membela. Dalam bahasa Arab memang sudah lazim bila suatu kalimat dimulai dengan kata kerja. Namanya kalimat fi’liyah atau dikenal dengan istilah jumlah fi’liyah.
Kedua, adalah objeknya atau maf’ul bihi, yang dalam hal ini berupa dhamir atau kata ganti orang kedua, yaitu kum (كُمُ) dan berarti kamu. Dalam hal ini yang dimaksud dengan kamu adalah Nabi Muhammad SAW atau bisa juga termasuk para shahabat Beliau yang mulia.
Ketiga, adalah subjek atau pelaku. Dalam istilah bahasa Arab sering disebut dengan istilah fa’il, yaitu lafzhul-jalalah : Allah (الله). Uniknya posisinya justru di bagian akhir dari kalimat. Padahal kalau dalam bahasa Indonesia, pelaku selalu disebut terlebih dahulu, sedangkan objek diletakkan di belakang.
Kata bi-badrin (بِبَدْرٍ) artinya : di Badar. Maksudnya Allah SWT telah menolong Nabi Muhammad SAW dan para shahabat ketika Perang Badar.
Dinamakan Perang Badar karena tempat kejadiannya adalah di kawasan yang disebut dengan Badar. Badar adalah padang Pasir yang punya beberapa sumur dan mata air, biasa dilewati kafilah dagang sekedar untuk meneguk air. Lokasinya sejauh 2 hari perjalanan dari Madinah ke arah Barat Daya.
Di masa sekarang ini untuk mencapai lokasi Perang Badar butuh perjalanan mobil sekitar 2 jam lebih. Di lokasi itu ada tugu peringatan serta menjadi wilayah rest-area untuk beristirahat bagi pengendara yang melintas.
Perang Badar adalah perang besar yang pertama kali dijalani oleh Nabi SAW dan para shahabat. Perang ini awalnya tidak secara sengaja ditujukan untuk melakukan pertempuran fisik di medan laga, hanya operasi untuk mencegat kafilah dagang milik musyrikin Mekkah yang kebetulan pulang dari berniaga di negeri Syam.
Kebetulan turun ayat yang mengizinkan mereka mengangkat senjata. Itulah ayat pertama yang turun terkait dengan perang, turun di Madinah, dan sifatnya hanya memberi izin saja, bukan merupakan perintah untuk berperang.
Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. (QS. Al-Hajj : 39-40)
Nabi SAW mendengar kabar bahwa ada kafilah dagang Mekkah yang akan melintas dekat-dekat Madinah. Maka Beliau mengirim shahabat bernama Basbas bin Amr sebagai mata-mata dengan tugas mencari tahu kebenaran kabar itu.
Hasil laporannya bahwa kafilah itu diperkirakan membawa harta kekayaan tidak kurang dari 150 ribu dinar emas.[1] Selain itu juga membawa seribu ekor unta sebagaimana disebutkan oleh Al-Mubarakfuri[2].
Namun kabar bahwa kafilah dagang yang dipimpinnya mau dicegat terdengar sampai telinga Abu Sufyan. Langkah pertama adalah mengamankan dulu kafilah dagang dari pencegatan. Abu Sufyan segera berbelok ke Barat memutar menjauhi Madinah, menuju Mekkah lewat jalur pesisir laut Merah.
Abu Sufyan mengabarkan bahwa kafilah dagang mereka terancam dirampok oleh pengikut Muhammad, yang disambut dengan gegap gempita oleh para pemuka dan saudagar Mekkah. Jumlah pasukan yang berhasil dihimpun secara spontan sebanyak seribu orang pasukan.
Jumlah unta yang mereka tunggangi tidak terhitung, sedangkan yang menunggang kuda tidak kurang dari seratus orang. Setiap hari mereka menyembelih unta untuk konsumsi makan pasukan, antara sembilan hingga sepuluh ekor.
[1] Mausuah Nadhratun Naim fi Makarim Akhlaq Rasulil-karim, 1/286
Lafazh wa antum (وَأَنْتُمْ) artinya : dan kamu, maksudnya Nabi Muhammad SAW dan para shahabat. Sedangkan lafazh adzillah (أَذِلَّةٌ) artinya lemah. Setidaknya tiga versi terjemahan kompak menerjemahkannya dengan kata : lemah.
Sebenarnya di dalam Al-Quran kita sering juga menemukan kata ini dalam beberapa ayat yang berbeda, tentu dengan makna yang berbeda juga. Kadang bermakna ‘lemah lembut; seperti yang termuat di ayat berikut ini.
Dia berkata: "Sesungguhnya raja-raja apabila memasuki suatu negeri, niscaya mereka membinasakannya, dan menjadikan penduduknya yang mulia jadi hina. (QS. An-Naml : 34)
Namun untuk konteks ayat ini, makna yang lebih tepat memang lemah, bukan hina juga bukan lemah lembut. Lemahnya bisa kita diskripsikan sebagai berikut :
Pertama : Jumlah Pasukan
Secara jumlah pasukan, kaum muslimin kalah telak, karena hanya 313 atau 314 orang saja. Sedangkan pasukan musyrikin Mekkah jumlahnya seribu orang.
Kedua : Pengalaman
Pasukan musyirikin Mekkah itu boleh dibilang pasukan perang yang profesional, sebab mereka memang pasukan yang sudah terlatih sejak lama. Sedangkan pasukan muslimin, kebanyakannya memang orang-orang lemah, beberapa dari mereka adalah para budak.
Ketiga : Mental
Secara persiapan mental, kaum muslimin sama sekali tidak mengira bahwa mereka harus berhadapan dengan pasukan perang dengan jumlah tiga kali lipat. Sebab awalnya mereka hanya ingin mencegat kafilah dagang yang lewat.
Tiba-tiba di tengah jalan terjadi perubahan mendadak begitu saja. Tentu secara mental mereka tidak terlalu siap, kecuali dengan mental apa adanya.
Sebaliknya, pasukan musyrikin sudah sejak 14 tahun lamanya setiap hari berusaha membunuh Nabi SAW dan para pengikutnya.
Keempat : Perbekalan
Perbekalan kaum musyrikin Mekkah sangat lebih dari cukup, sebab donaturnya sangat banyak. Hampir semuanya adalah saudagar aktif yang berada pada puncak kejayaannya.
Sementara kaum muslimin tidak punya donatur perang, sehingga perang yang mereka lakukan memang modal dengkul saja.
Kelima : Persenjataan
Maka terbatasnya dana yang dimiliki kaum muslimin otomatis berdampak pada persenjataan yang mereka gunakan. Terlalu terbatas dari segi jumlah dan kualitas. Sebaliknya persenjataan milik kaum musyrikin Mekkah tentu saja jauh lebih unggul, baik dari segi kualitas ataupun juga dari segi kuantitas.
فَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
Lafazh fat-taqullah (فَاتَّقُوا اللَّهَ) artinya : maka bertaqwalah kepada Allah. Terdiri dari huruf fa’ (ف) yang artinya : maka, dan lafazh ittaqu(اتقوا) yang merupakan fi'il amr atau perintah untuk melakukan sesuatu. Asalnya dari (اتقى - يتقى) yang maknanya bisa bertaqwa namun juga bisa bermakna takut atau memelihara diri dari sesuatu. Dalam konteks ayat ini tentu makna yang paling cocok adalah perintah untuk bertaqwa kepada Allah.
Lafazh la’allakum (لعلكم) cukup banyak kita temukan di dalam Al-Quran dan sering diterjemahkan menjadi ‘agar supaya kamu’.
Secara rasa bahasa, ungkapan semacam ini pantas diucapkan oleh manusia sebagai bentuk harapan akan terjadinya sesuatu di masa datang yang saat ini masih belum terjadi.
Namun bagaimana kita terima kalau ungkapan harapan ini justru muncul dari perkataan Allah SWT sendiri? Masak sih Allah SWT berharap akan terjadinya sesuatu di masa mendatang? Bukankah Allah SWT tidak perlu berharap karena Dia Maha Kuasa?
Lagi pula di sisi lain, ada juga harapan Allah SWT sampaikan namun tidak pernah menjadi kenyataan. Misalnya harapan agar Fir’aun bisa mengambil pelajaran seperti dalam ayat ini :
Sungguh, Kami telah menghukum Fir‘aun dan kaumnya dengan (mendatangkan) kemarau panjang dan kekurangan buah-buahan agar mereka mengambil pelajaran. (QS. Al-A’raf : 130)
Ternyata dalam kenyataannya harapan itu tidak pernah terjadi, sebab Fir’aun dan rezimnya terus menerus melakukan kedurhakaan sehingga pada akhirnya mereka ditenggalamkan di laut Merah.
Oleh karena itulah ada sebagian ahli tafsir yang menanggapi masalah harapan di balik lafazh (لعل) sebenarnya merupakan perintah Allah SWT kepada yang sedang diajak bicara agar membuat harapan. Sehingga yang berharap pada dasarnya bukan Allah SWT, melainkan manusia. Jadi lengkapnya perintah itu sebagai berikut :
Wahai manusia, silahkah kamu mengharap agar dirimu bisa menjadi orang yang bertaqwa lewat cara mengerjakan ibadah.
Pakar tafsir dan bahasa Arab yaitu az-Zamakhsyari berpendapat bahwa kata (لعل) merupakan majaz dan bukan dalam arti harapan yang sebenarnya. Bahwa Allah SWT menciptakan hamba-hamba-Nya agar mereka menyembah-Nya sambil memberi mereka kebebasan untuk memilih. Dia menghendaki untuk mereka kebaikan dan agar mereka bertakwa.
Dengan demikian, mereka sebenarnya berada dalam posisi yang diharapkan memperoleh ketakwaan tetapi dalam kerangka kebebasan memilih antara taat atau durhaka. Ini serupa dengan, situasi sesuatu yang belum jelas apakah ia terjadi atau tidak. Ketidakjelasan itu lahir karena adanya pilihan untuk yang bersangkutan apa memilih yang ini atau yang itu.
Betapapun, pada akhirnya kita dapat berkata bahwa tidak ada sesusatu yang merupakan harapan bagi Allah jika maknanya dikaitakan dengan ketidakpastian. Keyakianan setiap penganut agama tentang kemahaluasan pengetahuan Allah menjadi dalil yang sangat kuat untuk menghindarkan makna ketidakpastian itu dari kandungan makna la'alla bila pelakunya adalah Allah SWT. Bila Anda telah menghindarkan makna itu, maka silahkan pilih makna yang Anda anggap tepat.
Lafazh tasykurun (تَشْكُرُونَ) adalah bentuk fi’il mudhari, asalnya dari (شكر - يشكر) yang dalam bahasa Indonesia diartikan menjadi : bersyukur.
Maksudnya bersyukur atas apa yang telah Allah SWT anugerahkan kepada kaum muslimin, berupa kemenangan atas musuh-musuhnya. Selain itu juga atas karunia Allah SWT berupa turunnya wahyu dan risalah samawiyah dari langit, padahal sudah 26 abad tidak pernah ada lagi turunnya nabi dan rasul di negeri Arab.