Setelah menekankan secara khusus petunjuk-Nya tentang riba, maka di ayat ini Allah SWT kemukakan tuntunan umum menyangkut kewajiban taat kepada Allah dan Rasul Muhammad SAW. Ayat ini menggandengkan kewajiban taat kepada Rasul dengan kewajiban taat kepada Allah. Dengan tidak diulanginya kata taatilah, maka dipahami sebagai perintah menaati-Nya dalam hal-hal yang serupa dengan apa yang diperintahkan Allah SWT.
وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ
Lafazh athi’ullah (أَطِيعُوا اللَّه) bermakna : taatilah Allah, maksudnya jalankan apa-apa yang Allah SWT perintahkan kepada kamu serta jauhi apa-apa yang Allah SWT larang dari kamu.
Sedangkan lafazh ar-rasul (الرَّسُولَ) artinya : yang diutus, dalam hal ini maksudnya adalah Nabi Muhammad SAW.
Konteks turunnya ayat ini sulit dipungkiri masih terkait dengan faktor kekalahan kaum muslimin dalam Perang Uhud, yaitu tidak ditaatinya pesan Nabi SAW oleh pasukan pemanah yang berjumlah 50 orang.
Padahal Nabi SAW sudah mewanti-wanti mereka agar dalam keadaan apapun jangan turun dari atas bukit. Pesan Nabi SAW kepada Abdullah bin Jubair jelas sekali :
قوموا على مصافّكم هذه فاحموا ظهورنا فإن رأيتمونا قد انتصرنا فلا تشركونا وإن رأيتمونا نقتل فلا تنصرونا
Tetaplah bertahan dengan shaf kalian seperti ini dan jagalah punggung kami. Bila kalian melihat kami (di bawah) telah menang, jangan ikut turun bersama kami. Begitu juga bila kalian lihat kami terbunuh, jangan bantu kami.
لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
Lafazh la’allakum (لَعَلَّكُمْ) artinya : agar kamu. Lafazh turhamun (تُرْحَمُونَ) artinya : diberi rahmat.
Penggalan terakhir yang menjadi penutup ini unik, karena selain di ayat ini, kita temukan di 7 ayat lainnya. Sehingga ada 8 ayat yang berbeda yang ditutup oleh ungkapan la’allakum turhamun.