Kemenag RI 2019:Mereka itu balasannya adalah ampunan dari Tuhan mereka dan surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya. (Itulah) sebaik-baik pahala bagi orang-orang yang mengerjakan (amal-amal saleh). Prof. Quraish Shihab:
Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan Pemelihara mereka dan surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik ganjaran (yang dianugerahkan Allah swt. bagi) orang-orang yang menger
Prof. HAMKA:
Balasan bagi mereka itu adalah ampunan dari Tuhan mereka dan surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; kekal mereka di dalamnya. Dan alangkah eloknya balasan bagi orang-orang yang beramal
Ayat ke-136 ini sambungan langsung dari ayat sebelumnya. Di ayat ini Allah SWT menyebutkan bahwa mereka mendapatkan dua jenis balasan, yaitu ampunan dan surga.
Khusus tentang surga, Allah SWT mendeskripsikan dengan indah, yaitu mengalir di bawahnya sungai-sungai. Selain itu juga bahwa mereka akan hidup abadi di dalam surga itu. Dan itulah puncak kenikmatan balasan bagi orang yang beramal ketika di dunia.
أُولَٰئِكَ جَزَاؤُهُمْ مَغْفِرَةٌ
Lafazh ulaaika (أُولَٰئِكَ) artinya : mereka, maksudnya adalah orang-orang yang bertaqwa, yaitu sebagaimana yang disebutkan dalam ayat 133 bahwa surga itu disediakan bagi orang-orang yang bertaqwa (أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ).
Kata jazaa’uhum (جَزَاؤُهُمْ) artinya : balasan bagi mereka. Yang dimaksud dengan balasan bahwa setiap perbuatan manusia di dunia ini akan selalu berbalas dari Allah SWT. Kalau perbuatannya baik, maka balasan dari Allah SWT pun baik. Sedangkan bila perbuatannya jahat, keji, mungkar ataupun haram, maka balasan dari Allah SWT pun akan ikut menyesuaikan.
Di ayat ini Allah SWT menegaskan bahwa orang bertaqwa dan telah banyak melakukan amal shalih itu diberi balasan dengan dua hal, yaitu dengan ampunan dan juga dengan surga. Kata maghfiratun (مَغْفِرَةٌ) artinya adalah ampunan.
Balasan atas suatu amal biasanya disebut dengan pahala, kesannya semacam suatu ‘kekayaan’ dengan nilai mata uang akhirat. Orang yang pahalanya banyak, maka nanti di akhirat menjadi orang kaya yang hidup mewah berfoya-foya.
Namun ternyata balasan amal itu bisa saja bukan dalam bentuk pahala, namun dalam bentuk penghapusan dosa. Yang seharusnya dia dihukum masuk neraka dan dibakar, dengan balasan atas amalnya, maka dia tidak jadi masuk neraka, sebab dosa-dosanya sudah diampuni.
مِنْ رَبِّهِمْ
Ungkapan min rabbihim (مِنْ رَبِّهِمْ) artinya : dari Tuhan mereka. Ada semacam penekanan khusus bahwa yang namanya ampunan itu merupakan hak preogratif Allah SWT. Bahwa hanya Allah SWT saja yang punya hak untuk mengampuni dan bukan yang selain Allah.
Kalau dikaitkan dengan perilaku para rahib dan pendeta di kalangan Bani Israil, banyak dari mereka yang mengeluarkan kartu pengampunan dosa, asalkan mau membayar sejumlah uang kepada mereka. Seolah-olah mereka menjadi agen Tuhan di bumi, sehingga permohonan ampunan kepada Tuhan yang seharusnya dimintakan secara langsung, menurut mereka harus lewat jalur resmi yang mereka keluarkan.
Di gereja Khatolik misalnya, ada bilik pengakuan dosa, dimana pendeta akan memberikan ampunan. Bilik pengakuan dosa, atau sering disebut sebagai "confessional booth," adalah tempat khusus di dalam gereja Katolik di mana umat beriman mengaku dosa mereka kepada seorang imam. Praktik pengakuan dosa ini adalah bagian penting dari sakramen rekonsiliasi dalam tradisi Katolik.
Sejarah Bilik Pengakuan Dosa
Bilik pengakuan dosa mulai muncul sekitar abad ke-16. Sebelum adanya bilik pengakuan, pengakuan dosa dilakukan secara terbuka atau dalam pengaturan yang kurang tertutup. Pada Konsili Lateran IV pada tahun 1215, pengakuan dosa tahunan kepada seorang imam diresmikan sebagai kewajiban bagi umat Katolik. Namun, bentuk bilik pengakuan yang kita kenal sekarang, dengan pemisah antara imam dan peniten, baru mulai umum digunakan pada abad ke-16, khususnya untuk meningkatkan privasi dan anonimitas proses pengakuan dosa.
Bilik pengakuan dosa adalah praktik yang khas dalam Gereja Katolik. Gereja Protestan, yang muncul dari Reformasi pada abad ke-16, umumnya tidak mengadopsi praktik ini. Martin Luther dan tokoh-tokoh Reformasi lainnya menolak gagasan pengakuan dosa kepada imam sebagai satu-satunya cara untuk memperoleh pengampunan dosa. Sebaliknya, mereka menekankan hubungan langsung antara individu dan Tuhan tanpa perantara manusia.
Hak Mengampuni Dosa
Dalam teologi Katolik, imam dianggap memiliki otoritas untuk mengampuni dosa berdasarkan mandat yang diberikan oleh Yesus Kristus kepada para rasulnya, yang diteruskan melalui suksesi apostolik. Dalam Injil Yohanes 20:23, Yesus berkata kepada para rasul, "Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada." Berdasarkan ayat ini, Gereja Katolik mengajarkan bahwa imam, sebagai penerus para rasul, memiliki kuasa untuk mengampuni dosa dalam nama Tuhan.
Namun, ini bukan berarti imam memiliki kekuatan pribadi untuk mengampuni dosa. Mereka bertindak sebagai alat Tuhan, dan pengampunan yang diberikan berasal dari Tuhan sendiri. Pengakuan dosa dan penerimaan sakramen rekonsiliasi mencerminkan penyesalan sejati dan niat untuk bertobat dari dosa-dosa yang dilakukan.
وَجَنَّاتٌ
Lafazh wa jannatun (وَجَنَّاتٌ) artinya : dan suga. Surga ini adalah balasan yang kedua, setelah balasan yang pertama berupa ampunan dari Allah.
Lafazh jannah dalam ayat ini dan juga dalam kebanyakan ayat lain dalam Al-Quran umumnya diterjemahkan sebagai surga, yaitu tempat yang Allah SWT sediakan untuk kita orang-orang yang beriman ketika sudah berada di akhirat nanti.
Allah SWT menyebutkan jannaat dalam bentuk jamak taksir, yang dipahami bahwa surga itu tidak hanya satu, melainkan ada beberapa. Yang disebutkan dalam Al-Quran diantaranya bernama Firdaus (فردوس), Adn (عدن), An-Na'im (النعيم), Al-Ma'wa (المأوى) dan lainnya.
Namun kalau kita telusuri lebih dalam, ternyata ada juga kata jannah di dalam Al-Quran yang bukan bermakna surga, tetapi bermakna kebun di dunia ini yang banyak tumbuhan dan pepohonan. Setidaknya ditemukan hingga 30-an ayat berbeda yang menyebut jannah sebagai kebun dan bukan sebagai surga. Di antaranya ayat berikut :
Seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. (QS. Al-Baqarah : 265)
Dan Dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung (QS. Al-Anam : 141)
تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ
Lafazh tajri (تَجْرِي) secara makna berarti berlari, namun maksudnya adalah mengalir.
Sebenarnya sungai itu tidak mengalir, karena yang mengalir itu air dan bukan sungainya. Sungai adalah tempat air mengalir. Namun tanpa harus disebutkan air mengalir di sungai, dan langsung dari disebutkan bahwa sungai itu mengalir, semua orang sudah paham bahwa yang mengalir itu airnya dan bukan sungainya. Gaya bahasa ini termasuk salah satu bentuk majaz atau metafora.
Metafora adalah suatu bentuk kiasan yang menggunakan perbandingan tidak langsung antara dua hal yang berbeda, dengan tujuan untuk memberikan makna yang lebih dalam atau memperkuat makna suatu kata, frasa, atau kalimat.
Ketika Allah SWT menyebutkan, "sungai mengalir" merupakan metafora untuk menggambarkan sesuatu yang terus bergerak atau berjalan dengan lancar. Sementara "air mengalir" merupakan kalimat yang tidak menggunakan metafora, tetapi merupakan deskripsi langsung dari sesuatu yang terjadi.
Lafazh min tahtiha (مِنْ تَحْتِهَا ) sering diterjemahkan menjadi : mengalir di bawahnya. Kemudian muncul pertanyaan : apa yang dimaksud dengan dari bawah surga mengalir sungai? Apakah sungainya ada di dalam surga, ataukah di luar surga namun sumber asal muasal airnya dari bawah surga?
Dan menjadi pertanyaan pula, kenapa digunakan istilah 'dari bawah' surga. Apakah maksudnya air sungai di surga bersumber dari bawah tanah yang jadi pijakan penduduk surga? Lalu mata air di surga itu kemudian menjadi sungai sebagaimana air sungai yang sumbernya dari mata air dari dalam tanah?
Memang benar bahwa di dalam surga disebutkan terdapat beberapa mata air, salah satunya mata air salsabil :
عَيْنًا فِيهَا تُسَمَّىٰ سَلْسَبِيلًا
Sebuah mata air (di surga) yang dinamakan Salsabil.(Q.S. Al-Insan: 17-18)
Nama Salsabil ialah cerminan dari sifat mata air tersebut yaitu airnya mengalir deras, lancar di tenggorokan saat diminum, serta lezat dan indah.
Selain itu juga ada mata air lain yang disebut bernama Tasnim.
Dan campurannya dari tasnim, (yaitu) mata air yang diminum oleh mereka yang dekat (kepada Allah). (Q.S. Al-Muthaffifin: 27-28)
Al-Qurthubi rahimahullah menjelaskan bahwa Tasnim ialah minuman penduduk surga yang dialirkan dari atas. Minuman termulia yang ada di surga. Dalam bahasa Arab, tasnim artinya tinggi. Sumber tasnim ada di tempat yang tinggi, lalu mengalir ke bawah.
Ada pula ulama yang menerangkan bahwa tasnim ialah mata air yang mengalir di udara, semua terjadi atas kuasa Allah. Airnya dibagikan ke wadah-wadah milik penghuni surga tepat sesuai ukurannya. Jika telah penuh, airnya berhenti mengalir, sehingga tidak setetes pun tumpah ke tanah.
Lafazh al-anhar (الأنهار) merupakan bentuk jamak dari an-nahr yang bermakna sungai-sungai. Meski pun surga tidak bisa dibayangkan, namun penggambaran di surga ada banyak sungai nampaknya merupakan pendekatan ungkapan bahasa yang disesuaikan dengan sudut pandang bangsa Arab, khususnya dalam hal ini Nabi Muhammad SAW dan para shahabat yang mulia.
Buat bangsa Arab yang umumnya tinggal di gurun pasir, atau setidaknya wilayah mereka memang banyak gurunnya, penggambaran bahwa di dalam surga terdapat banyak aliran sungai merupakan metafora yang paling mudah untuk menggambarkan keindahan secara pandangan umum.
Mengapa demikian?
Sebab bila dibandingkan dengan kita bangsa Indonesia yang tinggal di negeri dengan banyak hutan tropis dan sungai, penggambaran surga dengan penyebutan banyak sungai menjadi tidak terlalu eksotik lagi. Toh setiap hari memang sudah tinggal di daerah yang banyak sungai.
Dan ungkapan di surga ada banyak sungai menjadi semakin simbolik ketika Al-Quran malah menggambarkan sungai dengan aliran susu, khamar dan madu. Tentu akan menjadi sangat abstrak untuk membayangkan sungai yang airnya bukan air. Namun demikian lah memang Allah ingin memberikan gambaran yang abstrak terkait sungai di surga.
(Apakah) perumpamaan (penghuni) jannah yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tidak berubah rasanya, sungai-sungai dari khamar yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang disaring. (QS. Muhammad : 15).
خَالِدِينَ فِيهَا
Lafazh khalidina (خَالِدِينَ) artinya : kekal atau abadi. Sedangkan makna fiha (فِيهَا) artinya : di dalamnya.
Dalam hal ini Allah SWT menegaskan bahwa orang-orang yang hidup di surga itu akan mengalami kehidupan yang kekal atau abadi. Istilah yang sering digunakan adalah immortal, yaitu orang yang hidup terus menerus dan tidak mengalami kematian.
Dalam beberapa kisah legenda, ada tokoh-tokoh tertentu yang digambarkan hidup abadi dan tidak mati, setidaknya usianya panjang, sehingga mengalami berbagai pergantian dari satu zaman ke zaman yang lain.
Dalam berbagai legenda dan mitologi di seluruh dunia, ada banyak tokoh yang dianggap immortal atau tidak mengalami kematian. Beberapa tokoh terkenal yang termasuk dalam kategori ini adalah:
Achilles (Mitologi Yunani): Meskipun Achilles akhirnya mati karena luka di tumitnya, sebelum itu dia dianggap hampir tak terkalahkan dan semi-immortal karena telah dicelupkan ke dalam Sungai Styx oleh ibunya, Thetis.
Gilgamesh (Mitologi Mesopotamia): Dalam Epos Gilgamesh, dia mencari keabadian setelah kematian sahabatnya, Enkidu. Meskipun dia tidak mencapai keabadian fisik, cerita ini sering menyinggung konsep kehidupan abadi melalui kenangan dan prestasi.
Tithonus (Mitologi Yunani): Kekasih dari dewi Eos, yang diberikan keabadian namun tidak diberikan pemuda abadi, sehingga dia terus menua selamanya.
Chiron (Mitologi Yunani): Centaurus yang bijak dan immortal. Akhirnya dia memilih untuk melepaskan keabadiannya sebagai gantinya melepaskan rasa sakit yang dia alami.
Vampir (Berbagai mitologi): Makhluk-makhluk ini dianggap tidak mengalami kematian alami dan memiliki kehidupan abadi dengan menghisap darah manusia.
Phoenix (Mitologi Yunani dan Mesir): Burung mitologis yang mengalami siklus kematian dan kelahiran kembali dari abunya sendiri, sehingga dianggap abadi.
Dewa dan Dewi (Mitologi berbagai budaya): Sebagian besar dewa dan dewi dari mitologi Yunani, Romawi, Norse, Hindu, dan lainnya dianggap immortal. Misalnya, Zeus, Hera, Odin, Thor, Vishnu, dan Shiva.
Al-Khidr (Mitologi Islam): Figur dalam tradisi Islam yang diyakini hidup abadi dan memiliki pengetahuan luas yang diberikan oleh Allah.
Dalam legenda dan mitologi Nusantara, terdapat beberapa tokoh yang digambarkan memiliki sifat immortal atau hidup abadi. Berikut beberapa di antaranya:
Semar: Dalam tradisi wayang kulit Jawa, Semar adalah tokoh punakawan yang merupakan penasehat dan pengasuh para ksatria Pandawa. Semar digambarkan sebagai sosok yang abadi dan memiliki kekuatan spiritual yang sangat besar.
Nyi Roro Kidul: Nyi Roro Kidul adalah ratu dari laut selatan yang sangat terkenal dalam mitologi Jawa dan Bali. Ia dianggap sebagai sosok yang abadi dan memiliki kekuasaan besar atas laut dan seisinya. Banyak cerita yang menyebutkan bahwa ia masih eksis dan berkomunikasi dengan manusia melalui medium spiritual.
Batara Kala: Dalam mitologi Jawa, Batara Kala adalah dewa waktu dan kehancuran. Ia sering digambarkan sebagai makhluk yang abadi yang memiliki tugas untuk menjaga keseimbangan antara hidup dan mati.
Sangkuriang: Dalam legenda Sangkuriang dari Sunda, Sangkuriang dikatakan tidak mati meskipun telah melakukan banyak kesalahan. Dalam beberapa versi cerita, ia dianggap sebagai sosok yang terus hidup dan menjadi penjaga alam di Gunung Tangkuban Perahu.
Jaka Tarub dan Nawang Wulan: Dalam cerita Jaka Tarub, Nawang Wulan adalah seorang bidadari dari kahyangan yang turun ke bumi dan kemudian menikah dengan Jaka Tarub. Meskipun Nawang Wulan akhirnya kembali ke kahyangan, ia digambarkan sebagai makhluk yang abadi dan memiliki kekuatan magis.
Tokoh-tokoh ini menunjukkan bagaimana konsep keabadian atau kehidupan abadi hadir dalam mitologi dan cerita rakyat Nusantara, sering kali digunakan untuk menggambarkan kekuatan spiritual, pelindung alam, atau figur yang memiliki hubungan khusus dengan dunia gaib.
Secara logika memang seharusnya kehidupan akhirat itu adalah kehidupan yang kekal dan kehidupan dunia adalah kehidupan yang tidak kekal. Sebab pada akhirnya kehidupan di dunia ini akan berujung semuanya ke akhirat. Maka memang sudah seharusnya akhirat itu kekal.
Kekekalan Adalah Puncak Kebahagiaan
Para ulama mengatakan bahwa kekekalan dan keabadian di surga sebernya adalah puncak kebahagiaan yang jadi tujuan semua manusia. Sebab buat apa masuk surga kalau ada masa berakhirnya?
Dengan pandangan seperti ini maka jadi wajar kenapa dahulu Nabi Adam alaihissalam sampai melanggar larangan untuk tidak makan buah di surga, sehingga dikeluarkan dari surga. Boleh jadi tujuannya demi agar bisa mendapatkan kekekalan dan keabadian hidup.
Tentu saja itu tipu daya setan yang berhasil membujuknya Nabi Adam untuk melanggar larangan tersebut. Tipu dayanya apabila memakan buah itu maka hidupnya akan abadi, imortal, tidak mati-mati hingga selamanya.Al-Quran menceritakan dengan gamblang :
Kemudian syaitan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata: "Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa?" (QS. Thaha : 120)
وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ
Lafazh wani’ma ajrul-‘amilin (وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ) diterjemahkan oleh Kemenag RI menjadi : “(Itulah) sebaik-baik pahala bagi orang-orang yang mengerjakan (amal-amal saleh)”.
Kurang lebih sama juga dengan terjemahan dari Prof. Quraish Shihab : “dan itulah sebaik-baik ganjaran (yang dianugerahkan Allah swt. bagi) orang-orang yang mengerjakan amal shaleh”.
Namun sedikit agak berbeda dengan versi terjemahan Buya HAMKA. Terjemahan beliau adalah :”Dan alangkah eloknya balasan bagi orang-orang yang beramal”. Dalam terjemah versi Buya HAMKA ini, kalimat ini menjadi pujian alias madah. Yang dipuji adalah surga atau jannah, meskipun sifatnya mahdzuf alias tidak muncul teksnya tetapi dipahami maksudnya.
Kalau kita preteli secara ilmu nahwu, huruf wawu (وَ) yang bermakna dan adalah isti’nafiyah. Lalu ni’ma (نِعْمَ) merupakan fi’il madhi jamid li-insya’il-madah, Kata ajr (أَجْرُ) yang artinya : balasan atau imbalan, menjadi fa’il dari ni’ma dengan status marfu’.
Lalu kata ‘amilin (عاملين) yang berarti orang yang beramal menjadi mudhaf ilaih.