Kemenag RI 2019:Apakah orang yang mengikuti (jalan) rida Allah sama dengan orang yang kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah dan tempatnya adalah (neraka) Jahanam? Itulah seburuk-buruk tempat kembali. Prof. Quraish Shihab:
Apakah orang yang mengikuti (dengan sungguh-sungguh) keridhaan Allah sama dengan orang yang kembali membawa kemurkaan dari Allah dan tempatnya adalah (neraka) Jahannam? Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.
Prof. HAMKA:
Apakah orang yang menuruti keridhaan Allah akan serupa dengan orang yang pulang dengan kemurkaan Allah? Dan tempat mereka kembali ialah neraka Jahannam; itulah seburuk-buruk tempat kembali.
Lafazh a fa man (أَفَمَنِ) artinya : apakah orang yang. Kata ittaba’a (اتَّبَعَ) artinya : mengikuti. Kata ridhwanallah (رِضْوَانَ اللَّهِ) artinya : keridhaan Allah.
Lafazh ka man (كَمَنْ) artinya seperti. Kata ba’a (بَاءَ) artinya : kembali. Kata bi sakhathin (بِسَخَطٍ) artinya : dengan murka. Kata minallah (مِنَ اللَّهِ) artin ya : dari Allah.
Maksudnya dalam berperang tidak melakukan kecurangan dalam pembagian harta rampasan perang, karena yang dicari hanyalah keridhaan dari Allah.
Urusan harta rampasan perang itu urusan Allah dan rasul-Nya. Bila memang diberikan, tentu diterima. Sedangkan bila tidak diberikan, maka perang yang dia lakukan sama sekali bukan bertujuan untuk mendapatkan harta rampasan perang.
Fakhrudin Ar-Razi dalam tafsir Mafatih Al-Ghaib[1] menukilkan beberapa pendapat mufassir tentang makna penggalan ini dalam empat pendapat, yaitu :
Pendapat pertama, bahwa yang dimaksud dengan (أفَمَنِ اتَّبَعَ رِضْوانَ اللَّهِ) adalah meninggalkan tindakan penyelewangan, sedangkan yang dimaksud dengan kembali dengan murka Allah (كَمَن باءَ بِسَخَطٍ مِنَ اللَّهِ) adalah melakukan penyelewengan harta rampasan perang. Ini adalah pendapat Al-Kalbi dan Adh-dhahhak.
Pendapat kedua, bahwa yang dimaksud dengan (أفَمَنِ اتَّبَعَ رِضْوانَ اللَّهِ) adalah beriman kepada Allah SWT dan beramal dengan cara mentaati perintah-Nya. Sedangkan yang dimaksud dengan kembali dengan murka Allah (كَمَن باءَ بِسَخَطٍ مِنَ اللَّهِ) adalah kufur kepada Allah dan sibuk dengan bermaksiat.
Pendapat ketiga, bahwa yang dimaksud dengan (أفَمَنِ اتَّبَعَ رِضْوانَ اللَّهِ) adalah para muhajirin. Sedangkan yang dimaksud dengan kembali dengan murka Allah (كَمَن باءَ بِسَخَطٍ مِنَ اللَّهِ) adalah orang-orang munafik.
Pendapat keempat, merupakan pendapat Az-Zajjaj bahwa ketika orang-orang musyrik menyerang kaum muslimin, Nabi SAW memanggil sahabat-sahabatnya untuk menyerang balik orang-orang musyrik. Sebagian dari mereka melakukannya, dan sebagian lainnya tidak melakukannya. Maka beliau bersabda: Apakah orang yang mengikuti keridhaan Allah (أفَمَنِ اتَّبَعَ رِضْوانَ اللَّهِ), yaitu mereka yang mematuhi perintah-Nya - sama dengan orang yang kembali dengan kemurkaan dari Allah? (كَمَن باءَ بِسَخَطٍ مِنَ اللَّهِ) yaitu mereka yang tidak menerima ucapannya.
Lafazh wa ma’wa-hu (وَمَأْوَاهُ) artinya : dan tempat kembali mereka, maksudnya nanti di akhirat mereka akan dikembalikan tetapi ke neraka. Namun ada juga yang mengatakan bahwa ma’wa itu artinya tempat berlindung, sebagaimana disebut dalam ayat berikut :
Anaknya menjawab: "Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!" (QS. Hud : 43)
Lafazh jahannam (جَهَنَّمُ) diterjemahkan menjadi : neraka jahannam. Sebagian ulama mengatakan bahwa kata jahannam itu adalah nama lain dari neraka. Namun ada juga yang mengatakan bahwa jahannam adalah nama salah satu bagian dari neraka.
Di dalam Al-Quran, kata jahannam (جَهَنَّمُ) ini terulang-ulang berkali-kali mencapai 77 kali di berbagai surat.
وَبِئْسَ الْمَصِيرُ
Lafazh bi’sa (بِئْسَ) diterjemahkan menjadi : “buruk sekali”, atau bisa juga menjadi : “alangkah buruknya”. Sedangkan al-mashir (الْمَصِيرُ) bermakna : “tempat kembali” dan bisa juga bermakna : “tempat tujuan”.
Secara umum yang dimaksud dengan bi’sal-mashir itu ujung akhir perjalanan hidupnya amat memelas dan sangat buruk sekali, karena berakhir di kubangan neraka.
Padahal boleh jadi dia pernah menjadi orang yang mulia, terpandang bahkan juga pernah berada di dalam hidayah. Seharusnya semua itu berakhir dengan ending yang mulus dan indah, akan tetapi ternyata semua itu berakhir menyedihkan bahkan menyeramkan bahkan horor.
Kenapa horor? Karena adegannya itu bikin miris hati, yaitu diseret dan dipaksa masuk neraka.