Kemenag RI 2019:(yaitu) orang-orang yang memenuhi (seruan) Allah dan Rasul setelah mereka menderita luka-luka (dalam Perang Uhud). Orang-orang yang berbuat kebaikan dan bertakwa di antara mereka akan mendapat pahala yang sangat besar, Prof. Quraish Shihab:
(Yaitu) orang-orang yang memenuhi (seruan) Allah dan Rasul (Nabi Muhammad saw.) dengan sepenuh hati, sesudah mereka mendapat luka berat. Bagi orang-orang yang berbuat kebajikan di antara mereka lagi bertakwa ada pahala yang sangat besar.
Prof. HAMKA:
Orang-orang yang menyambut ajakan Allah dan Rasul sesudah mereka ditimpa keparahan. Untuk orang-orang yang berbuat baik dan bertakwa antara mereka suatu pahala yang besar.
Ayat ini sebagai lanjutan ayat yang sebelumnya, yaitu pujian kepada orang-orang yang beriman itu yang bergirang hati dengan nikmat dan kurnia Allah dan janji Allah, bahwa Dia tidak akan menyia-nyiakan ganjaran bagi mereka.
Kemudian diberikanlah pujian istimewa kepada seluruh angkatan perang yang hadir di Uhud. Sebagaimana diketahui, sehabis perang mereka telah kembali ke Madinah. Mereka kembali sesudah meninggalkan jenazah kawan-kawan mereka yang syahid di Uhud 70 orang itu.
Dan yang pulang itu banyak pula yang luka-luka, berat atau ringan. Abdurrahman bin Auf menderita luka-luka sampai 20 liang. Akan tetapi, hanya satu malam saja mereka dapat istirahat di rumah dengan badan yang penat. Sedang besok paginya penyeru perang telah menyorakkan perintah Nabi SAW supaya segera berangkat mengejar musuh di bawah pimpinan Abu Sufyan itu.
Penyeru perang menyampaikan perintah bahwa yang boleh ikut hanyalah yang ikut dalam Perang Uhud kemarin saja. Yang lain tidak perlu ikut. Maka, diujilah mereka dalam ayat ini, karena mereka telah menyambut seruan Allah dan Rasul, padahal mereka dalam keparahan. Hal ini tidak akan terjadi kalau bukan semangat iman yang berkobar-kobar. Dan dalam penilaian terhadap ilmu perang, ini adalah suatu taktik perang yang amat tinggi.
الَّذِينَ اسْتَجَابُوا لِلَّهِ وَالرَّسُولِ
Lafazh alladzina (الَّذِينَ) artinya : yaitu mereka yang. Kata istajabu (اسْتَجَابُوا) adalah kata kerja dalam bentuk fi’il madhi, artinya : menjawab, maksudnya ikut berangkat perang. Kata lillahi (لِلَّهِ) artinya : kepada Allah. Dan kata war-rasuli (وَالرَّسُولِ) adalah dan rasul-Nya.
مِنْ بَعْدِ مَا أَصَابَهُمُ الْقَرْحُ
Lafazh min-ba’di-ma (مِنْ بَعْدِ مَا) artinya : setelah. Kata ashaba-hum (أَصَابَهُمُ) artinya : menimpa, sedangkan dhamir hum yang berarti mereka menjadi objek atau maf’ul bihi. Dan yang menjadi pelaku atau failnya adalah al-qarhu (الْقَرْحُ) yaitu luka berat atau luka yang parah.
Lafazh lil-ladzina (لِلَّذِينَ) artinya : bagi mereka orang-orang. Kata ahsanu (أَحْسَنُوا) artinya : berbuat baik. minhum (مِنْهُمْ) artinya : dari mereka. wa ittaqau (وَاتَّقَوْا) artinya : dan bertaqwa. Kata ajrun azhim (أَجْرٌ عَظِيمٌ) artinya : balasan yang besar.
Ujung ayat ini adalah isyarat penghormatan bagi orang yang tidak bisa turut pergi mengejar musuh ke Hamraul Asad itu, karena ada halangan yang paling besar yang patut dipertimbangkan.
Ibnu Ishaq meriwayatkan bahwa Jabir bin Abdullah yang telah syahid ayahnya di Perang Uhud itu tidak dapat pergi. Ketika telah didengar seruan menyuruh siap pada pagi hari itu, Jabir bin Abdullah datang menemui Rasulullah saw. menyampaikan wasiat ayahnya, "Ya Rasulullah! Ketika ayahku akan pergi ke Perangan Uhud, beliau mewasiatkan kepadaku supaya aku menjaga tujuh orang saudaraku perempuan yang masih kecil-kecil.” Beliau berkata, "Wahai anakku! Tidaklah selayaknya bagiku dan bagimu pergi semua, sehingga tidak ada seorang laki-laki pun yang menjaga mereka di rumah. Sekarang biarlah ayah pergi menaati Rasulullah dalam Perang Uhud ini dan engkau hendaklah tinggal di rumah menjaga adik-adikmu!" Lalu Jabir lanjutkan, "Itulah sebabnya saya tidak turut dalam Perang Uhud, ya Rasulullah. Sekarang kalau engkau perintahkan juga aku pergi, aku akan ikut, ya Rasulullah. Akan tetapi, demikianlah wasiat ayahku, yang kebetulan beliau telah mencapai syahidnya di Perang Uhud itu."
Usulnya itu diterima oleh Rasulullah. Jabir bin Abdullah tidak turut ke Hamraul Asad karena menjaga ketujuh adiknya. Penjagaan atas ketujuh adiknya perempuan yang belum terlepas dari tanggungannya, termasuklah ihsan pada Jabir. Pekerjaannya adalah baik dan terpuji dan dilakukannya dengan penuh takwa kepada Allah. Bagi orang yang semacam Jabir itu pun disediakan Allah suatu pahala yang besar. Akan tetapi, sudahlah dapat dipahamkan bahwa pahala besar yang disediakan untuk dia itu tidaklah sebesar pahala yang didapat oleh kawan-kawannya yang pergi.