Maka, mereka kembali dengan nikmat dan karunia yang besar dari Allah. Keburukan tidak menyentuh mereka dan mereka mengikuti (dengan sungguh-sungguh) keridhaan Allah. Dan Allah Pemilik karunia yang sangat besar
Maka kembalilah mereka dengan nikmat dan kurnia dari Allah, dalam keadaan tidak satu pun bahaya menyinggung mereka. Mereka ikuti keridhaan Allah. Allah mempunyai kurnia yang besar.
Lafazh lam yamsas-hum (لَمْ يَمْسَسْهُمْ) terdiri dari tiga unsur :
- Pertama, kata lam (لَمْ) yang bermakna tidak atau bukan.
- Kedua, kata kerja dalam bentuk fi’il mudhari’ yamsas (يَمْسَسْ) yang bermakna : menyentuh. Secara ilmu Nahwu, bila kata lam terletak sebelum fi’il mudhari’, maka akan membuat fi’il mudhari yang tadinya marfu’ berubah menjadi majzum. Itu bisa diketahui dengan memperhatikan harakat pada huruf terakhirnya, seharusnya dhammah dibaca yamsasu (يَمْسَسُ) berubah menjadi berharakat sukun dibaca yamsas saja (يَمْسَسْ).
- Ketiga adalah objek atau maf’ul bihi, yaitu dhamir -hum (هُمْ) yang secara penulisan memang disambung menjadi satu kata dengan kata kerjanya.
Sedangkan yang menjadi pelaku atau subjeknya adalah lafazh suu’un (سُوءٌ) yang justru terletak di belakang. Makna aslinya adalah keburukan. Terjemah Kemenag RI menuliskan : bencana, sedangkan dalam Prof. Quraish Shihab menerjemahkannya menjadi : keburukan. Dan Buya HAMKA menerjemahkannya menjadi : bahaya.
Sebenarnya dalam konteks turunnya ayat ini bencana, keburukan atau bahaya yang dimaksud adalah perang atau atau bertemunya mereka dengan pasukan lawan, yaitu pasukan musyrikin Mekkah di bawah pimpinan Abu Sufyan.
Ketika disebutkan bahwa mereka tidak disentuh oleh bencana, keburukan atau bahaya, maksudnya bahwa dalam perang itu mereka tidak jadi berperang. Maka tidak ada bencana, keburukan atau bahaya sedikitpun yang menyentuh mereka.
Mengapa hal itu terjadi? Ternyata penyebabnya unik, yaitu lawannya mundur teratur tidak berani datang mendekat. Padahal lawan itu lebih besar dan lebih kuat, tetapi entah bagaimana tiba-tiba mereka mundur begitu saja.
Rupanya memang Allah SWT telah membantu pasukan muslimin dengan dimasukkannya rasa takut di hati musuh-musuh itu, sebagaimana sudah pernah disinggung pada ayat yang sudah kita bahas sebelumnya.
سَنُلْقِي فِي قُلُوبِ الَّذِينَ كَفَرُوا الرُّعْبَ
Akan Kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut. (QS. Ali Imran : 151)
Nampaknya yang terjadi memang perang urat syaraf, perang mental. Secara mentalitas, pasukan muslimin ternyata juaranya. Sebaliknya, kondisi mentalitas kaum musyrikin saat itu dalam posisi yang serba salah, banyak perhitungan, dan akhirnya memilih untuk mundur saja.
Perang Itu Keburukan
Perang memiliki dampak yang sangat dahsyat dan kompleks bagi penduduk negara yang terlibat, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Perang dapat menyebabkan hilangnya nyawa, kerusakan fisik, trauma psikologis, kerusakan ekonomi dan sosial, serta dampak jangka panjang seperti generasi yang hilang, dendam dan kebencian, dan kerusakan lingkungan.
Negara-negara yang terlibat perang dipastikan menjadi negara yang miskin dan lemah ekonominya. Kemudian menjadi negara yang gagal dan kolapse, bahkan bisa hilang dari catatan sejarah. Perhatikan negara yang sampai hari ini masih terlibat perang, maka negara itu menjadi negara gagal.
- Perang Suriah (2011-sekarang): Perang ini telah menyebabkan ratusan ribu korban jiwa, jutaan pengungsi, dan krisis kemanusiaan yang parah.
- Perang Irak (2003-2011): Perang ini telah menyebabkan kematian ratusan ribu orang, jutaan pengungsi, dan ketidakstabilan politik yang berkepanjangan di Irak.
- Konflik Israel-Palestina (1948-sekarang): Konflik ini telah menyebabkan ribuan korban jiwa, jutaan pengungsi, dan ketegangan yang berkepanjangan di wilayah tersebut.
- Perang Afghanistan (2001-2021): Perang ini telah berlangsung selama 20 tahun dan menyebabkan kematian ratusan ribu orang, jutaan pengungsi, dan ketidakstabilan politik di Afghanistan.
Maka sudah benar ketika Allah SWT menyebut bahwa perang di ayat ini dengan sebutan : suu’ yang artinya keburukan. Dan sudah benar ketika Allah SWT menyebutkan bahwa perang itu sesuatu yang dibenci.
كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ
Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. (QS. Al-Baqarah : 216)
Perang Itu Merugikan
Berikut beberapa kerugian yang dapat dialami:
1. Kehilangan Nyawa dan Kerusakan Fisik:
Kematian: Perang mengakibatkan korban jiwa yang tinggi, baik dari kalangan militer maupun sipil. Contohnya, dalam perang Suriah yang dimulai tahun 2011, diperkirakan ratusan ribu orang tewas dan jutaan lainnya mengungsi.
Cedera: Banyak orang mengalami luka-luka serius akibat peperangan, yang dapat menyebabkan cacat permanen atau kematian. Contohnya, banyak tentara dan warga sipil di Suriah yang mengalami luka bakar, patah tulang, dan kehilangan anggota tubuh akibat serangan bom.
Penyakit: Perang dapat memperburuk kondisi kesehatan masyarakat karena infrastruktur kesehatan yang rusak, kurangnya akses air bersih dan sanitasi, serta penyebaran penyakit menular. Contohnya, di Yaman, perang telah menyebabkan krisis kemanusiaan dengan jutaan orang kekurangan makanan, air bersih, dan obat-obatan, yang mengakibatkan peningkatan kasus kolera dan difteri.
2. Kerusakan Psikologis:
Trauma: Perang dapat menyebabkan trauma psikologis yang mendalam bagi para korban, seperti stres pasca-trauma (PTSD), depresi, dan kecemasan. Contohnya, banyak anak-anak di Suriah yang mengalami trauma akibat menyaksikan kekerasan dan kehilangan orang tua atau anggota keluarga.
Gangguan mental: Perang dapat memperburuk kondisi kesehatan mental yang sudah ada atau memicu gangguan mental baru. Contohnya, banyak veteran perang di Irak dan Afghanistan mengalami PTSD dan depresi yang parah.
3. Kerusakan Ekonomi dan Sosial:
Kehancuran infrastruktur: Perang dapat menyebabkan kerusakan infrastruktur yang luas, seperti jalan, jembatan, sekolah, dan rumah sakit. Contohnya, di Suriah, banyak infrastruktur penting yang hancur akibat serangan udara dan darat, sehingga menghambat pemulihan ekonomi dan sosial.
Kemiskinan: Perang dapat memperburuk kemiskinan yang sudah ada dan mendorong lebih banyak orang ke jurang kemiskinan. Contohnya, di Yaman, perang telah menyebabkan krisis ekonomi yang parah dengan jutaan orang kehilangan pekerjaan dan mata pencaharian.
Kelaparan: Perang dapat menyebabkan kelaparan karena mengganggu produksi dan distribusi makanan. Contohnya, di Somalia, perang dan kekeringan telah menyebabkan kelaparan yang parah, dengan jutaan orang membutuhkan bantuan makanan.
Pengungsian: Perang dapat memaksa orang-orang untuk meninggalkan rumah mereka dan menjadi pengungsi di negara lain atau di dalam negeri mereka sendiri. Contohnya, jutaan orang Suriah telah mengungsi ke negara tetangga seperti Turki, Lebanon, dan Yordania, dan banyak lainnya yang mengungsi di dalam negeri.
Ketidakstabilan politik: Perang dapat menyebabkan ketidakstabilan politik dan memperburuk konflik yang sudah ada. Contohnya, di Irak, perang telah menciptakan kekosongan kekuasaan yang dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok ekstremis.
4. Dampak Jangka Panjang:
Generasi yang hilang: Perang dapat menyebabkan hilangnya generasi muda yang terbunuh, terluka, atau trauma. Hal ini dapat menghambat kemajuan sosial dan ekonomi negara dalam jangka panjang.
Dendam dan kebencian: Perang dapat menumbuhkan dendam dan kebencian antara kelompok-kelompok yang berbeda, yang dapat memperpanjang konflik dan menghambat perdamaian.
Dampak lingkungan: Perang dapat mencemari lingkungan dengan bahan kimia beracun dan bom, serta merusak habitat alam.
Lafazh wat-taba’u (وَاتَّبَعُوا) artinya : dan mereka mengikuti. Kata ridhwanallahi (رِضْوَانَ اللَّهِ) artinya : keridhaan Allah. Maksudnya kalau secara hitung-hitungan logika semata, seharusnya para shahabat saat itu bisa saja untuk tidak perlu berangkat maju berperang. Sebab baru saja mereka menderita kekalahan dalam Perang Uhud.
Namun karena turun perintah langsung dari langit kepada Nabi SAW untuk berangkat perang, maka yang ada hanya satu pilihan saja, yaitu tetap berangkat menuju medan perang, meski keadaan mereka tidak dalam kondisi yang paling baik.
Semua itu bisa mereka lakukan hanya bilamana mereka semata-mata mengikuti keridhaan Allah SWT semata. Dan terkadang di balik keridhaan Allah yang sulit didapat itu tersembunyi berbagai karunia yang besar. Dan memang demikian, sebab ujung-ujungnya para shahabat itu memang mendapatkan begitu banyak karunia yang besar.
Maka ayat ini ditutup dengan penggalan yang sejalan, yaitu ungkapan bahwa Allah mempunyai karunia yang besar. Lafazh wallahu (وَاللَّهُ) artinya : dan Allah. Kata dzu fadhlin (ذُو فَضْلٍ) artinya : memiliki karunia. Kata azhim (عَظِيمٍ) artinya besar. Karunia Allah SWT itu bisa saja dalam bentuk keuntungan dalam berdagang, sebagaimana tafsir di atas, tetapi juga bisa dalam bentuk yang lain yang tidak bisa diduga. Sifatnya berupa aneka macam surpraise.
Kalau secara subjektif, menurut pendapat pribadi Penulis, justru yang menjadi keutamaan itu adalah gelar sebagai : “orang-orang yang diridhai oleh Allah” kepada para shahabat itu. Gelar ini sakti luar biasa, karena hanya orang-orang khusus saya yang punya gelar dimana ditetapkan mereka adalah orang-orang yang Allah ridhai.
Di beberapa ayat Al-Quran memang Allah SWT menyebut-nyebut para shahabat sebagai orang-orang yang mendapatkan keridhaan dari Allah. Misalnya ayat berikut ini :
قَالَ اللَّهُ هَٰذَا يَوْمُ يَنْفَعُ الصَّادِقِينَ صِدْقُهُمْ ۚ لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
Allah berfirman: "Ini adalah suatu hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka. Bagi mereka surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; Allah ridha terhadap-Nya. Itulah keberuntungan yang paling besar". (QS. Al-Maidah : 119)
وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar. (QS. At-Taubah : 100)
لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا
Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya). (QS. Al-Fath : 18)
أُولَٰئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الْإِيمَانَ وَأَيَّدَهُمْ بِرُوحٍ مِنْهُ ۖ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ
Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. (QS. Al-Mujadilah : 22)
Gelar radhiyallahuanhu bukan gelar yang didapat karena faktor genetis, keturunan ataupun keberuntungan. Tetapi juga diiringi dengan begitu banyak pengorbanan habis-habisan. Salah satunya dengan berangkat perang di saat-saat yang sangat kurang menguntungkan.