Kemenag RI 2019:Akan tetapi, orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya, mereka akan mendapat surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai dan mereka kekal di dalamnya sebagai karunia dari Allah. Apa yang di sisi Allah itu lebih baik bagi orang-orang yang selalu berbuat baik. Prof. Quraish Shihab:
Tetapi orang-orang yang bertakwa kepada Tuhan Pemelihara mereka, bagi mereka surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, sedangkan mereka kekal di dalamnya (sebagai anugerah) yang dihidangkan dari sisi Allah. Dan apa yang di sisi Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang sangat luas dan banyak kebajikan.
Prof. HAMKA:
Tetapi orang-orang yang bertakwa kepada Allah, untuk mereka surga yang mengalir di bawahnya air sungai, kekal mereka di dalamnya, sebagai pemberian dari sisi Allah. Dan yang di sisi Allah itu adalah lebih baik bagi orang-orang yang berbakti.
Ayat ke-198 ini sekali lagi juga meneruskan pembicaraan dari ayat-ayat sebelumnya, yaitu Allah SWT memberikan perbadingan di ayat ini bahwa orang-orang yang bertaqwa kepada Tuhan mereka, yaitu para shahabat yang sempat mengalami kehidupan yang menyulitkan dan dalam keadaan kesusahan di dunia, nantinya akan dimasukkan ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya.
Kepada mereka Allah SWT besarkan hati dan janjikan akan mendapatkan kehidupan yang jauh lebih menyenangkan.
لَٰكِنِ الَّذِينَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ
Lafazh lakin (لَٰكِنِ) artinya : akan tetapi, sedangkan kata alladzinat-taqau (الَّذِينَ اتَّقَوْا) artinya : orang-orang yang bertaqwa. Yang menjadi objek atau maf’ul-bihi adalah kata rabbahum (رَبَّهُمْ) yang artinya : Tuhan mereka, yang tidak lain maksudnya adalah Allah SWT.
Yang dimaksud tentu tidak lain adalah para shahabat Nabi SAW yang telah hidup susah di negeri orang dalam pengungsian dan hijrah. Semua itu semata-mata karena bertaqwa, yaitu mempertahankan taqwa yang sudah mereka jadikan sebagai jalan hidup. Pilihannya adalah melepaskan ketaqwaan dan hidup enak di Mekkah, atau tetap mempertahannnya tapi sementara hidup tidak enak di negeri orang.
Ternyata yang mereka pilih adalah hidup tidak enak di negeri orang, asalkan tetap masih bisa bertaqwa kepada Allah. Maka sebagai balasannya, Allah SWT janjikan kepada mereka surga.
Kata jannaat (جَنَّاتٍ) adalah bentuk jamak dari bentuk tunggalnya yaitu jannah (جَنَّة). Secara umum dimaknai sebagai surga. Meski banyak juga kata jannah di dalam Al-Quran yang bukan bermakna surga, tetapi bermakna kebun di dunia ini yang banyak tumbuhan dan pepohonan.
Lafazh tajri (تَجْرِي) secara makna berarti berlari, namun maksudnya adalah mengalir. Sebenarnya sungai itu tidak mengalir, karena yang mengalir itu air dan bukan sungainya. Sungai adalah tempat air mengalir. Namun tanpa harus disebutkan air mengalir di sungai, dan langsung dari disebutkan bahwa sungai itu mengalir, semua orang sudah paham bahwa yang mengalir itu airnya dan bukan sungainya. Gaya bahasa ini termasuk salah satu bentuk majaz atau metafora.
Metafora adalah suatu bentuk kiasan yang menggunakan perbandingan tidak langsung antara dua hal yang berbeda, dengan tujuan untuk memberikan makna yang lebih dalam atau memperkuat makna suatu kata, frasa, atau kalimat.
Ketika Allah SWT menyebutkan, "sungai mengalir" merupakan metafora untuk menggambarkan sesuatu yang terus bergerak atau berjalan dengan lancar. Sementara "air mengalir" merupakan kalimat yang tidak menggunakan metafora, tetapi merupakan deskripsi langsung dari sesuatu yang terjadi.
Lafazh min tahtiha (مِنْ تَحْتِهَا) sering diterjemahkan menjadi : mengalir di bawahnya. Kemudian muncul pertanyaan : apa yang dimaksud dengan dari bawah surga mengalir sungai? Apakah sungainya ada di dalam surga, ataukah di luar surga namun sumber asal muasal airnya dari bawah surga?
Dan menjadi pertanyaan pula, kenapa digunakan istilah 'dari bawah' surga. Apakah maksudnya air sungai di surga bersumber dari bawah tanah yang jadi pijakan penduduk surga? Lalu mata air di surga itu kemudian menjadi sungai sebagaimana air sungai yang sumbernya dari mata air dari dalam tanah?
Memang benar bahwa di dalam surga disebutkan terdapat beberapa mata air, salah satunya mata air salsabil :
عَيْنًا فِيهَا تُسَمَّىٰ سَلْسَبِيلًا
Sebuah mata air (di surga) yang dinamakan Salsabil.(Q.S. Al-Insan: 17-18)
Nama Salsabil ialah cerminan dari sifat mata air tersebut yaitu airnya mengalir deras, lancar di tenggorokan saat diminum, serta lezat dan indah.
Selain itu juga ada mata air lain yang disebut bernama Tasnim.
Dan campurannya dari tasnim, (yaitu) mata air yang diminum oleh mereka yang dekat (kepada Allah). (Q.S. Al-Muthaffifin: 27-28)
Al-Qurthubi rahimahullah menjelaskan bahwa Tasnim ialah minuman penduduk surga yang dialirkan dari atas. Minuman termulia yang ada di surga. Dalam bahasa Arab, tasnim artinya tinggi. Sumber tasnim ada di tempat yang tinggi, lalu mengalir ke bawah.
Lafazh al-anhar (الْأَنْهَارُ) merupakan bentuk jamak dari an-nahr yang bermakna sungai-sungai. Meski pun surga tidak bisa dibayangkan, namun penggambaran di surga ada banyak sungai nampaknya merupakan pendekatan ungkapan bahasa yang disesuaikan dengan sudut pandang bangsa Arab, khususnya dalam hal ini Nabi Muhammad SAW dan para shahabat yang mulia.
Setidaknya ada empat macam sungai yang digambarkan di dalam surga berdasarkan apa yang mengalir di dalamnya, yaitu sungai air, sungai susu, sungai khamar dan sungai madu. Allah SWT berfirman :
Perumpamaan surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari susu yang tidak berubah rasanya, sungai-sungai dari khamar yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang disaring. (QS. Muhammad : 15)
خَالِدِينَ فِيهَا
Lafazh khalidina fiha (خَالِدِينَ فِيهَا) bermakna : mereka abadi atau kekal di dalamnya. Ayat ini menjelaskan perbedaan paling hakiki antara kenikmatan duniawi dengan kenikmatan ukhrawi yaitu faktor keabadian.
Dikatakan bahwa orang-orang yang tinggal di surga itu hidup abadi, karena tubuhnya juga tidak mengalami proses penuaan. Sementara yang kita tahu, salah satu taqdir Allah SWT yang tidak bisa dilawan adalah proses penuaan pada organ tubuh manusia itu merupakan sebuah kepastian. Jangankan untuk hidup abadi, sekedar untuk bisa hidup ratusan tahun pun mustahil.
Secara ilmiah, ada beberapa faktor biologis yang mendasari mengapa tubuh manusia tidak mungkin mencapai usia ratusan tahun dalam keadaan masih hidup:
1. Penuaan Sel
Seiring waktu, sel-sel dalam tubuh manusia mengalami kerusakan dan pemendekan telomer, bagian pelindung pada ujung kromosom. Pemendekan telomer ini menandakan penuaan sel dan pada akhirnya membatasi kemampuan sel untuk membelah dan beregenerasi. Kapasitas regenerasi sel yang berkurang ini berkontribusi pada berbagai proses penuaan, seperti keriput, kelemahan otot, dan penurunan fungsi organ.
2. Kerusakan DNA
Setiap hari, DNA dalam sel kita mengalami kerusakan akibat faktor-faktor seperti radikal bebas, radiasi, dan produk sampingan metabolisme. Kerusakan DNA ini dapat menumpuk seiring waktu dan menyebabkan mutasi, yang dapat memicu kanker, penyakit neurodegeneratif, dan gangguan terkait usia lainnya. Mekanisme perbaikan DNA memang ada, namun tidak sempurna dan seiring waktu kemampuannya menurun.
3. Penumpukan Senyawa Beracun
Tubuh kita menghasilkan produk sampingan metabolisme yang bersifat racun, seperti radikal bebas. Seiring waktu, racun ini dapat menumpuk di organ dan jaringan, menyebabkan kerusakan sel dan penurunan fungsi organ. Sistem detoksifikasi tubuh memang ada, namun kapasitasnya bisa menurun seiring usia.
4. Ketidakseimbangan Sistem Imun
Sistem kekebalan tubuh memainkan peran penting dalam melawan infeksi dan penyakit. Namun, seiring usia, sistem kekebalan tubuh menjadi kurang efektif dalam melawan patogen dan lebih rentan terhadap autoimunitas, yaitu kondisi di mana sistem kekebalan tubuh menyerang sel-sel sehat.
5. Batasan Hayflick
Pada tahun 1965, Leonard Hayflick menemukan bahwa sel manusia normal hanya memiliki jumlah pembelahan yang terbatas, sekitar 50-70 kali pembelahan. Batasan ini, yang dikenal sebagai Batasan Hayflick, dianggap sebagai faktor penentu usia maksimum manusia.
Maka kehidupan abadi manusia di surga itu tentu tidak bisa disamakan dengan kehidupan manusia di bumi. Boleh jadi mereka memiliki tubuh ‘super’ yang tidak mengalami apa yang dialami oleh kita yang hidup di dunia.
نُزُلًا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ
Kata nuzulan (نُزُلًا) asalnya dari kata nuzul (نُزُل) yang dalam bahasa Arab artinya adalah : apa yang dipersiapkan untuk menghormati tetamu (ما يُهَيَّأُ لِلضَّيْفِ). Namun dalam konteks ayat ini, terjemahannya menjadi : balasan.
Padahal sebenarnya apa yang dihidangkan untuk tamu bukanlah balasan, namun lebih merupakan penghormatan. Sebab tamu itu diberi hidangan bukan karena dia berjasa memberi kita sesuatu, tetapi memang kita sebagai tuan rumah ingin memberinya semacam hibah atau hadiah. Penyebabnya bukan karena adanya jasa, melainkan karena posisinya sebagai tetamu yang sudah seharusnya dihormati.
Makna nuzul disebut sebagai hidangan yang dipersembahkan kepada tamu, memang mendapat konfirmasi dari ayat dalam surat Fushshilat berikut, yaitu bahwa orang disurga diberikan hidangan yang sesuai dengan selera mereka.
Di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Fushshilat : 31-32)
وَمَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ لِلْأَبْرَارِ
Lafazh wa ma indallah (وَمَا عِنْدَ اللَّهِ) artinya : apa yang ada di sisi Allah, maksudnya surga dengan segala kenikmatannya. Kata khairun () artinya lebih baik.
Lafaz abrar (الْأَبْرَارِ) adalah bentuk jamak, dari kata barr (بَرّ) yang artinya : orang baik. Ada juga yang mengatakan bentuk tunggalnya adalah baarr dengan tambahan alif (بَارّ).
Terjemahan versi Kemenag RI : “orang-orang yang selalu berbuat baik”. Sedangkan terjemahan Prof. Quraish Shihab adalah : “orang-orang yang sangat luas dan banyak kebajikan”. Buya HAMKA menerjemahkannya sebagai : “orang-orang yang berbakti”.
Ibnu Hayyan Al-Andalusi dalam tafsir Al-Bahru Al-Muhith fi At-Tafsir[1] menuliskan bahwa yang dimaksud dengan al-abrar (الْأَبْرَارِ) adalah orang-orang yang taat kepada Allah (الطّائِعُونَ لِلَّهِ). Dan ada juga yang mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang melakukan birrul- walidain yaitu taat kepada orang tua dan berbuat baik kepada mereka (هم هُنا الَّذِينَ بَرُّوا الآباءَ والأبْناءَ).
Namun kebanyakan mufassir mengaitkan doa agar dimatikan bersama dengan al-abrar dengan ayat lain yang seirama yaitu permintaan agar dimasukkan ke dalam barisan orang-orang shalih.
Dan orang-oranng yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya. (QS. Ath-Thur : 21)