| ◀ | Jilid : 5 Juz : 3 | Ali Imran : 2 | ▶ |
اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ
Kemenag RI 2019: Allah, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup lagi Maha Mengurus (makhluk-Nya) secara terus-menerus.Allah, tidak ada Tuhan melainkan Dia. Yamg Hidup kekal lagi terus-menerus mengurus makhluk-Nya.
Allah, tidak ada Tuhan selain Dia, Yang Hidup, Yang Berdiri Sendiri-Nya.
| TAFSIR AL-MAHFUZH | REFERENSI KITAB TAFSIR |
...
Sementara sifat-Nya sebagai al-qayyum atau Yang Maha Berdiri Sendiri, Yang Mengurus segala sesuatu menggambarkan kekuasaan-Nya yang terus-menerus memelihara, mengatur, dan menjaga seluruh ciptaan tanpa lelah dan tanpa henti.
الم
Lafazh alif-laam-miim (ملأ) dibaca dengan menyebut nama hurufnya satu per satu menjadi alif laam mim. Huruf-huruf yang seperti ini disebut dengan ahruf muqatha’ah (ةعطقم َفرحأ). Panjang harakat laam 6 harakat dan mim dua harakat. Meski hanya berupa huruf-huruf yang terpotong, namun membacanya tetap mendapatkan pahala bahkan nilainya dilipat-gandakan sepuluh kali, berdasarkan hadits berikut :
مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ، وَالحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، لاَ أَقُولُ الْمِيمُ حَرْفٌ، وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ، وَلَامٌ حَرْفٌ، وَمِيمٌ حَرْفٌ
Siapa yang membaca satu huruf dari kitabullah, dia mendapatkan satu kebaikan, dan satu kebaikan itu digandakan menjadi sepuluh. Aku tidak katakan alif lam mim itu satu huruf, namun alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf. (HR. Tirmizy).
Huruf-huruf semacam ini tidak ditemukan di dalam Al-Quran kecuali hanya pada awal-awal surat saja, kadang juga menjadi nama dari surat itu, meskipun tidak selalu jadi nama surat. Jumlah totalnya ada 14 huruf hijaiyah. Lalu biar mudah menghafalnya, ada ulama yang membuat singkatannya sebagaimana dikutip oleh Prof. Quraish Shihab dalam tafsirnya :
نصٌّ حَكِيمٌ قَاطِعٌ لَهُ سِرٌّ
Teks yang bijaksana dan tegas punya rahasia[1]
Keberadaan huruf-huruf itu ada yang hanya terdiri dari 1 huruf, 2 huruf, 3 huruf, 4 huruf dan 5 huruf.
§ Satu (1) Huruf : Yang hanya berupa satu huruf ada tiga yaitu, yaitu huruf shaad (ص), huruf qaaf (ق) dan huruf nuun (ن). Huruf shaad (ص) terdapat di awal surat ke-38 sebagai ayat pertama dan surat itu pun diberi nama surat Shad. Huruf qaf (ق) terdapat di awal surat ke-50 sebagai ayat pertama dan surat itu juga diberi nama surat Qaf. Sedangkan huruf nun (ن) terdapat pada awal surat ke-68, namun jadi satu dengan lafazh lainnya. Ayat pertama selengkapnya adalah : (ن ۚ وَالْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُونَ). Oleh karena itu surat itu tidak diberi nama surat Nun melainkan diberi nama surat Al-Qalam.
§ Dua (2) Huruf : Yang terdiri dari dua huruf adalah (طه - طس– يس - حم). Huruf haamiim (حم) terdapat di tujuh surat yang berbeda, yaitu surat ke-40 (Al-Mu’min), surat ke-41 (Fushshilat), surat ke 42 (Syura), surat ke 43 (Az-Zukhruf), surat ke-44 (Ad-Dukhan), surat ke-45 (Al-Jatsiyah), dan surat ke-46 (Al-Ahqaf). Tak satupun dari ketujuh surat itu diberinama haamiim (حم).
§ Tiga (3) Huruf : Yang terdiri dari tiga huruf adalah (ألم – ألر - طسم). Alif-laam-miim (ألم) terdapat pada surat ke-2 (Al-Baqarah), surat ke-3 (Ali Imran), surat ke-29 (Al-Ankabut), surat ke-30 (Ar-Ruum), surat ke-31 (Luqman) dan surat ke-32 (As-Sajdah).
§ Empat (4) Huruf : Yang terdiri dari empat huruf hanya ada satu yaitu (ألمص) dan terdapat pada surat ke-7 yaitu Surat Al-A’raf.
§ Lima (5) Huruf : Yang terdiri dari lima huruf juga hanya ada satu, yaitu (كهيعص) dan terdapat pada surat ke-19 yaitu surat Maryam.
Ke-14 huruf itu kalau kita periksa tersebar di 29 surat yang berbeda Berikut rinciannya :
[2] al-Baqarah (الم)
[20] Thaha (طه),
[40] al-Mu’min (حم)
[3] Ali Imran (الم)
[26] as-Syu’ara (طسم)
[41] Fushshilat (حم)
[7] Al-A’raf (المص)
[27] an-Naml (طس)
[42] Syura (حم)
[10] Yunus (آلر)
[28] al-Qashash (طسم)
[43] Az-Zukhruf (حم)
[11] Hud (آلر)
[29] al-Ankabut (آلم),
[44] Ad-Dukhan (حم)
[12] Yusuf (آلر)
[30] ar-Rum (آلم)
[45] Al-Jatsiyah (حم)
[13] Ar-Ra’d (آلر),
[31] Luqman (آلم)
[46] Al-Ahqaf (حم)
[14] Ibrahim (آلر),
[32] As-Sajdah (ألم)
[50] Qaf (ق)
[15] Al-Hijr (آلر)
[36] Yasin (يس)
[68] al-Qalam (ن)
[19] Maryam (كهيعص)
[38] Shaad (ص)
Apakah Huruf-huruf Ini Punya Makna?
Para ulama ahli tafsir terpecah dua dalam hal apakah huruf-huruf ini punya makna atau tidak. Sebagian dari mereka mengatakan keberadaan huruf-huruf ini tidak ada maknanya, atau dalam kata lain yang tahu maknanya hanya Allah SWT semata. Bahkan seorang Nabi Muhammad SAW pun juga tidak tahu. Namun sebagian lain mengatakan semua huruf ini ada maknanya, meski tidak semua oran tahu.
1. Tidak Punya Makna
Sebagian mufassir seperti Sufyan At-Tsauri dan Asy-Sya’bi menggolongkan huruf-huruf di awal-awal surat sebagai huruf yang tidak diketahui maknanya dan hanya Allah SWT yang tahu maknanya. Diriwayatkan bahwa pendapat ini bersumber dari Abu Bakar dan Ali bin Abi Thalib radhiyallahuanhuma. Abu Bakar mengatakan : [2]
لِلَّهِ فِي كُلِّ كِتَابٍ سِرٌّ وَسِرُّهُ فِي الْقُرْآنِ أَوَائِلُ السُّوَرِ
Pada setiap kitab Allah SWT punya rahasia dan rahasia di dalam Al-Quran adalah pada huruf awal-awal surat.
Ali bin Abi Thalib radhiyallahuanhu juga mengemukakan hal serupa dalam pernyataannya :
إِنَّ لِكُلِّ كِتَابٍ صَفْوَةٌ وَصَفْوَةُ هَذَا الْكِتَابِ حُرُوفُ التَّهَجِّي
Setiap kitab memiliki shafwah. Shafwah kitab ini (Al-Quran) adalah huruf hijaiyah.
Asy-Sya’bi menyebutkan bahwa huruf-huruf itu adalah rahasia maka tidak usah dipertanyakan maknanya. Abu Zhabyan meriwayatkan dari Ibnu Abbas menyebutkan bahwa para ulama tidak mampu memahaminya. Al-Husein bin Fadhl berkata bahwa huruf-huruf ini merupakan ayat musytabihat.
2. Punya Makna
Namun ada juga yang mengatakan bahwa huruf-huruf ini punya makna dengan berbagai dalil baik dari Al-Quran, Sunah atau dalil-dalil lainnya.
Dalil secara ayat Al-Quran bahwa Allah SWT memerintahkan kita untuk melakukan tadabbur Al-Quran, bila ternyata ada ayat-ayat yang tidak ada maknanya, lalu buat apa perintah tadabbur itu.
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ ۚ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا
Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya. (QS. An-Nisa : 82)
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا
Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci? (QS. Muhammad : 24)
Selain itu Allah SWT memerintahkan kita memberi peringatan kepada manusia dengan Al-Quran. Kalau Al-Qurannya sendiri tidak bisa dipahami, lalu buat apa perintah itu?
وَإِنَّهُ لَتَنْزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ عَلَىٰ قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنْذِرِينَ
Dan sesungguhnya Al Quran ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), . ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan (QS. Asy-Syu’ara’ : 193-195)
Selain itu dalam Al-Quran juga disebutkan tentang keberadaan orang yang ahli istimbath yang mengetahui makna ayat-ayat Al-Quran, sehingga tidak menutup kemungkinan bagi mereka untuk melakukannya.
وَإِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِنَ الْأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ ۖ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَىٰ أُولِي الْأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ ۗ
Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri (QS. An-Nisa : 83)
Lalu disebutkan juga bahwa Al-Quran merupakan kitab petunjuk, maka bila ada ayat yang tidak bisa dipahami, lalu buat apa disebut sebagai petunjuk?.
ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ
Kitab (Al-Quran) ini tidak ada keraguan di dalamnya; (ia merupakan) petunjuk bagi orang yang bertakwa, (QS. Al-Baqarah : 2)
Dan masih banyak lagi dalil dari ayat Quran lainnya, Imam Ar-Razi menuliskan sampai 14 dali Quran tentang masalah ini.[3]
Namun kelompok pertama juga memberi bantahan. Mereka sebutkan bahwa Allah SWT sendiri yang menyebutkan adanya mutasyabihat di dalam Al-Quran, misalnya huruf-huruf di awal-awal surat. Dan mereka yang mempertanyakan ayat-ayat mutashabihat disebut sebagai orang yang sesat.
هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ ۖ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ ۗ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ
Dialah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi Al qur´an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta´wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta´wilnya melainkan Allah. (QS. Ali Imran : 7)
Makna Huruf
Meski para pendukungnya sama-sama meyakini bahwa setiap huruf di awal surat itu punya makna yang jadi misteri, namun mereka tidak sepakat dan punya pendapat yang berbeda-beda. Rinciannya sebagai berikut :
1. Nama Surat
Sebagian dari mereka ada yang berpendapat bahwa huruf-huruf ini berfungsi sebagai nama-nama surat.[4] Di antara mereka yang mendukung pendpat ini antara lain adalah Sibawaih dan al-Khalil.
Pendapat ini memang ada benarnya, walaupun tidak berlaku secara keseluruhan surat. Ada banyak surat yang dinamakan dengan nama yang tidak sesuai dengan huruf-huruf di awalnya. mendukung pendapat ini.
2. Nama Allah :
Said bin Jubair mengatakan bahwa sebagian dari huruf itu merupakan nama-nama Allah.
3. Nama Al-Quran :
Al-Kalbi, As-Suddi dan Qatadah mengatakan bahwa huruf-huruf itu merupakan nama-nama Al-Quran.[5]
4. Singkatan Nama Allah
Ibnu Abbas diriwayatkan telah menyebutkan bahwa masing-masing huruf itu merupakan singkatan dari nama-nama Allah SWT.
§ Huruf alif mewakili nama Allah : al-Ahad (الأحد), al-Awwal (الأول), al-Akhir (الأخير), al-Azali (الأزلي), al-Abadi (الأبدي).
§ Huruf lam mewakili nama Allah : Al-Latif (اللطيف)
§ Huruf mim mewakili nama Allah : al-Majid (المجيد), al-Malik (الملك) dan al-Mannan (المنان).[6]
[1] Prof. Dr. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah : pesan, kesan dan keserasian Al-Quran (Tangerang, PT. Lentera Hati, 2017), Cet 1 Edisi 2017 Vol 1 h. 105 407 Jilid 5 Juz 3A
[2] Fakhruddin Ar-Razi (w. 606 H), Mafatih Al-Ghaib, (Beirut, Daru Ihya’ At-Turats Al-Arabi, Cet. 3, 1420 H), jilid 2 hal. 250
[3] Fakhruddin Ar-Razi (w. 606 H), Mafatih Al-Ghaib, (Beirut, Daru Ihya’ At-Turats Al-Arabi, Cet. 3, 1420 H), jilid 2 hal. 250-251
[4] Ibnu Jarir Ath-Thabari (w 310 H), Jami Al-Bayan fi Ta’wil Al-Quran fi Ta’wil Al-Quran (Muassasah Ar-Risalah, 2000 M), jilid 1 hal. 206
[5] Ibnu Jarir Ath-Thabari (w 310 H), Jami Al-Bayan fi Ta’wil Al-Quran fi Ta’wil Al-Quran (Muassasah Ar-Risalah, 2000 M),jilid 1 hal. 205
[6] Fakhruddin Ar-Razi (w. 606 H), Mafatih Al-Ghaib, (Beirut, Daru Ihya’ At-Turats Al-Arabi, Cet. 3, 1420 H), jilid 2 hal. 253
اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ
Lafazh Allah (اللَّهُ) adalah sebutan untuk Allah SWT, sering diistilahkan dengan sebutan lafzhul jalalah yang posisinya dalam kalimat menjadi mubtada’ pertama.
Lafazh laa ilaha (لَا إِلَٰهَ) yang berarti ‘tidak ada tuhan’ menjadi mubtada’ kedua. Namun yang menjadi khabarnya justu tidak tertulis alias mahdzuf dengan taqdir al-ma’bud (المعبود) yaitu Yang Disembah atau al-maujud (الموجود) yaitu Yang Ada.
Sedangkan lafazh illa huwa (إِلَّا هُوَ) menjadi badal dari la ilaha. Makna kata ilaah (إِلَٰهَ) sering diartikan dengan tuhan, sebagaimana juga kata rabb (رَبّ) juga sering diartikan tuhan. Namun tentunya tidak sama pengertian atau sudut pandangnya. Terjemah Al-Quran versi Kementerian Agama RI menuliskan perbedaan itu ketika menerjemahkan surat An-Nas :
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ مَلِكِ النَّاسِ إِلَٰهِ النَّاسِ
Katakanlah: "Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. Sembahan manusia. (QS. An Nas : 1-3)
Beberapa kalangan mencoba menjelaskan perbedaan istilah antara rabb (رب) dan ilaah (إله) bahwa : Tuhan dalam penyebutan rabb punya konotasi Tuhan sebagai Tuhan yang menciptakan makhluk, memelihara serta menguasai, memberi rezeki dan seterusnya. Sedangkan Tuhan dalam penyebutan ilah berkonotasi sebagai pihak yang disembah, ditaati, diikuti dan dijadikan tujuan hidup.
Ibnu Taimiyah berpendapat adanya pembedaan antara konsep ilah dan rab meski tetap saling berhubungan. Ilah adalah sesembahan, sedangkan rabb adalah pengatur dan pemelihara. Ilah adalah sesuatu yang disembah dan dipuja oleh seseorang. Seseorang bisa menjadikan apa saja sebagai ilah, baik itu benda, makhluk, atau bahkan dirinya sendiri. Namun, hanya Allah yang berhak menjadi ilah yang sebenarnya.
Rabb artinya yang mengatur dan memelihara. Allah adalah rabb bagi seluruh alam semesta. Dialah yang menciptakan, mengatur, dan memelihara seluruh makhluk di alam semesta.[1]
Dalam Tafsir al-Qur'an al-'Azim, Ibnu Taimiyah juga menuliskan bahwa rab adalah Tuhan yang mengatur dan memelihara. Allah adalah rabb bagi seluruh alam semesta. Dialah yang menciptakan, mengatur, dan memelihara seluruh makhluk di alam semesta.[2]
Prof. Quriasih Shihab dalam tafsir Al-Misbah[3] menjelaskan bahwa merujuk pada sifat Zat-Nya, yaitu uluhiyah atau ketuhanan. Sifat ini menunjukkan esensi dari keberadaan Allah sebagai Tuhan yang disembah dan tidak ada hubungannya dengan interaksi-Nya dengan makhluk Nya. Sifat ketuhanan Allah adalah mutlak dan tidak dapat menyentuh atau berdampak kepada makhluk-Nya.
Sedangkan makna kata rabb mengandung makna kepemeliharaan dan kependidikan, yang mencakup segala bentuk interaksi Allah dengan makhluk-Nya, seperti pemberian rezeki, pengampunan, kasih sayang, amarah, ancaman, dan siksaan. Konsep Rabb menekankan pada peran Allah sebagai pemelihara dan pendidik yang mengarahkan makhluk-Nya tahap demi tahap menuju kesempurnaan kejadian dan fungsinya.
Pembagian tauhid menjadi rububiyah dan uluhiyah merupakan ijtihad yang dilakukan oleh ulama seperti Ath-Thahawi, Ibnu Taimiyah, dan diikuti oleh murid-muridnya hingga Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab dan para ulama di Saudi Arabia. Pembagian ini tidak ditemukan secara eksplisit dalam Al-Quran.[4]
الْحَيُّ الْقَيُّومُ
Makna al-hayyu (الْحَيُّ) artinya adalah yang hidup, atau lebih tepat diterjemahkan Yang Maha Hidup. Lafazh ini adalah salah satu nama dalam rangkaian Asma’ul Husna.
Sedangkan lafazh al-qayyum (الْقَيُّومُ) diartikan menjadi : “Yang terus-menerus mengurus makhluk-Nya”. Buya HAMKA menerjemahkannya menjadi : “Yang berdiri sendiri-Nya.”
Kedua kata al-hayyu al-qayyum (الْحَيُّ الْقَيُّومُ) bisa dianggap sebagai badal dari lafazh huwa (هو), namun bisa juga dianggap sebagai na’at bagi lafazh Allah (الله), atau bisa juga menjadi khabar ba’dal khabar, pokoknya terserah para ahli nahwu saja mengaturnya.
Disebutkan bahwa ketika Nabi Isa alaihissalam diberi mukjizat bisa menghidupkan orang mati, beliau membaca lafaz : “ya hayyu ya qayyum” yang sejalan dengan ayat ini.
Begitu juga Asif bin Barkhia ketika menjalankan perintah Nabi Sulaiman untuk memindahkan singgasana Ratu Balqis, dia membaca lafazh ya hayyu ya qayyum ini. Hal itu sebagaimana dituliskan oleh Ats-Tsa’labi dalam tafsirnya Al-Kasyfu wa Al-Bayan ‘an Tafsir Al-Quran [5]
إِنَّ اسْمَ اللَّهِ الْأَعْظَمَ الَّذِي دَعَا بِهِ آسِفُ يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ
Sesungguhnya nama Allah yang mulia yang digunakan oleh Asif adalah : Ya hayyu ya qayyum. (HR. Ahmad)
Kisah pemindahan singgasana Ratu Saba sendiri termuat dalam ayat berikut :
قَالَ الَّذِي عِنْدَهُ عِلْمٌ مِنَ الْكِتَابِ أَنَا آتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ يَرْتَدَّ إِلَيْكَ طَرْفُكَ
Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al Kitab: "Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip”. (QS. An-Naml : 40)
Kehidupan Non Biologis
Namun jangan sekali-kali kita mengaitkan makna hidup dalam ayat ini dengan makna hidup secara biologis, karena pastinya akan sangat berbeda. Allah SWT itu Maha hidup dengan definisi yang terlepas dari definisi hidup secara biologis.
Di masa modern ini untuk menetapkan apakah suatu benda tergolong sebagai makhluk hidup secara biologis atau bukan, terdapat beberapa syarat umum yang harus terpenuhi. Konsep ini biasanya dikenal sebagai syarat hidup. Berikut adalah beberapa syarat umum yang harus terpenuhi:
1. Sel Terdiri dari Satu atau Lebih Sel
Makhluk hidup umumnya terdiri dari satu atau lebih sel sebagai unit dasarnya. Sel adalah unit struktural dan fungsional dasar dari semua makhluk hidup.
2. Reproduksi
Makhluk hidup mampu melakukan reproduksi untuk menghasilkan keturunan. Reproduksi bisa bersifat seksual atau aseksual.
3. Perkembangan dan Pertumbuhan
Makhluk hidup mengalami perkembangan dan pertumbuhan. Mereka melalui serangkaian tahapan dalam siklus hidup mereka.
4. Respon terhadap Stimulus
Makhluk hidup dapat merespons rangsangan atau stimulus dari lingkungannya. Ini mencakup respons terhadap perubahan suhu, cahaya, atau rangsangan lainnya.
5. Perubahan dalam Waktu
Makhluk hidup mengalami perubahan sepanjang waktu. Proses ini mencakup metabolisme, adaptasi, dan evolusi.
6. Pertukaran Materi dan Energi dengan Lingkungan:
Makhluk hidup melakukan pertukaran materi dan energi dengan lingkungannya melalui proses seperti respirasi, fotosintesis, dan nutrisi.
7. Homeostasis
Makhluk hidup mampu menjaga keseimbangan internal atau homeostasis untuk mempertahankan kondisi internal yang sesuai untuk kelangsungan hidup.
8. Adaptasi dan Evolusi
Makhluk hidup dapat beradaptasi dengan lingkungannya melalui proses seleksi alam, dan seiring waktu, mereka mengalami evolusi untuk bertahan dalam lingkungan yang berubah.
9. Sistem Genetik
Makhluk hidup memiliki materi genetik, seperti DNA atau RNA, yang mengandung informasi genetik yang diwariskan dari generasi ke generasi.
10. Eksistensi Biokimia
Makhluk hidup memiliki basis biokimia yang serupa, termasuk penggunaan molekul organik dan reaksi kimia yang khas dalam proses biologis.
Kesepuluh syarat di atas adalah sebuah tolok ukur untuk menetapkan adanya kehidupan secara biologis di dunia atau di alam semesta ini. Dan sampai hari ini, secara biologis para ahli mengatakan bahwa yang terdapat kehidupan secara biologis barulah hanya sebatas di permukaan bumi ini saja. Sedangkan di alam semesta di luar bumi, bukti-bukti adanya kehidupan biologis masih jadi perdebatan para ahli.
Di ayat lain ada disebutkan bahwa Allah SWT menjadikan kehidupan itu dari air :
وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ ۖ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ
Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman? (QS. Al-Anbiya : 30)
Penelitian para ahli terkait benda-benda di alam semesta, kebanyakannya tidak mengandung air. Memang ada beberapa planet yang diduga memiliki kandungan air dalam bentuk tertentu, namun apakah airnya sudah bisa menjadi dasar kehidupan, mereka masih bersilang pendapat.
[1] Ibnu Taimiyah (w. H), Majmu'ah al-Fatawa, juz 11, hal. 501
[2] Ibnu Taimiyah (w. H), Tafsir al-Qur'an al-'Azim, juz 2, hal. 277
[3] Prof. Dr. Quraish Shihab, TAFSTR AL-MISBAH Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Qur'an, jilid 1 hal. 67
[4] Dr. Ahmad Sarwat, Lc., MA, Tafsir Tahlili Surat Al-Fatihah, hal. 28.
[5] Ats-Tsa’labi (w. 427 H), Al-Kasyfu wa Al-Bayan ‘an Tafsir Al-Quran, (Jeddah, Darut-Tafsir, Cet-1, 1436 H – 2015 M), jilid 20 hal. 266