Kemenag RI 2019:Katakanlah (Nabi Muhammad), “Jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu menampakkannya, Allah pasti mengetahuinya.” Dia mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Prof. Quraish Shihab:
Katakanlah, "jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu melahirkannya, pasti Allah mengetahui. "Allah mengetahui apa yang di langit dan apa yang di bumi. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.
Prof. HAMKA:
Katakanlah, "Jika kamu sembunyikan apa yang ada dalam dada kamu ataupun kamu tampakkannya, tetapi Allah mengetahuinya juga." Dan Dia pun mengetahui apa yang ada di semua langlt dan apa yang di bumi. Dan, Allah atas tiap-tiap sesuatu Mahakuasa.
Lafazh qul (قُلِ) adalah perintah dalam bentuk fi’il amr dari asalnya (قَالَ - يَقُول) dan maknanya berkata, sehingga qul itu adalah perintah untuk berkata,”Katakanlah”. Yang memerintah adalah Allah SWT dan yang diperintah adalah Nabi Muhammad SAW.
Kemudian ada huruf in (إِنْ) yang maknanya : jika atau apabila. Namun secara ilmu nahwu, keberadaannya memberi pengaruh kepada dua fi’il mudhari’ setelahnya. Fi’il mudhari’ yang pertama disebut fi’il syarth (فعل الشرط), maka dari i’rab-nya berubah menjadi jazm atau disebut majzum.
Tandanya bisa bermacam-macam, salah satunya bahwa harakatnya menjadi sukun dan bukan dhammah pada bagian akhirnya. Atau huruf nun-nya menjadi hilang apabila jamak. Seharusnya tukhfuna tetapi kalau diawali dengan in (إِنْ), maka cukup jadi tukhfu (تُخْفُو) saja.
Lafazh tukhfu (تُخْفُوا) adalah fi’il mudhari, asalnya tukhfuna (تُخْفُون) namun huruf nun (ن) di bagian akhirnya hilang, karena adanya harf in (إِنْ) sebelum fi’il mudhari’. Secara makna menjadi : Jika kamu menyembunyikan, atau bisa juga diterjemahkan menjadi : jika kamu merahasiakan.
Lafazh maa fii shudurikum (مَا فِي صُدُورِكُمْ) artinya : apa-apa yang ada di dalam hatimu.
Lafazh tubdu-hu (تُبْدُوهُ) artinya : kamu menampakkannya. Maksudnya menampilkan apa-apa yang ada di hatimu. Posisinya secara nahwu mirip dengan sebelumnya, yaitu asalnya adalah tubduna (تُبْدٌوْنَ) tetapi kehilangan huruf nun di akhir karena adanya syarat in (إِنْ).
Lafazh ya'lam-hu (يَعْلَمْهُ) adalah fi’il mudhari’ yang ternyata juga majzum dengan tanda sukun (ْ) pada harakat di huruf terakhirnya. Kemajzumannya terjadi karena posisinya sebagi fi’il mudhari’ yang menjadi jawabusy-syarth (جواب الشرط). Lalu secara bahasa artinya : maka Allah SWT pasti mengetahuinya.
Karena bagi Allah tidak ada sesuatu yang tersembunyi. Semua sama saja di sisi Allah, semua terbuka lebar tanpa ada penghalang. Karena semua itu adalah makhluk ciptaan Allah. Sebagai Sang Khaliq, Dia-lah yang menciptakan segala sesuatu, maka logikanya sederhana sekali bahwa pasti Allah mengetahui semua itu.
وَيَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ
Lafazh ya’lamu (يَعْلَمُ) artinya : Dia mengetahui, maksudnya Allah SWT mengetahui.
Sedangkan makna maa fis-samawati (مَا فِي السَّمَاوَاتِ) artinya : segala apa yang ada di banyak langit. Yang banyak terlewat dari berbagai versi terjemahan adalah kata samawat yang berbentuk jamak, sedangkan bentuk tunggalnya adalah as-sama’ (السماء). Uniknya keduanya sama-sama diterjemahkan dengan : langit dan tidak dibedakan.
Padahal di Al-Quran sering juga disebut-sebut kata sab’a samawat (سبع سماوات) yang terlanjur banyak diartikan menjadi tujuh langit.
Lepas dari itu, apa sebenarnya yang dimaksud dengan ungkapan bahwa Allah SWT mengetahui apa yang ada di banyak langit itu?
Ada banyak penafsiran, namun Penulis cenderung memaknai bahwa yang dimaksud dengan langit adalah hal-hal yang bersifat ghaib di luar kemampuan manusia. Hal itu mengingat bahwa para malaikat yang termasuk makhluk ghaib itu adanya di langit.
Selain itu masalah taqdir juga urusan di langit. Buktinya ketika Allah SWT memerintahkan para malaikat untuk mengerjakan ini dan itu, banyak jin yang naik ke langit untuk mencuri dengar perintah-perintah itu.
Dan Kami menjaganya dari tiap-tiap syaitan yang terkutuk,kecuali syaitan yang mencuri-curi (berita) yang dapat didengar (dari malaikat) lalu dia dikejar oleh semburan api yang terang. (QS. Al-Hijr : 17-18)
Maka tidak terlalu keliru kalau kita katakan bahwa mengetahui yang di langit itu bukan hanya mengetahui hal-hal yang ghaib, tetapi termasuk mengetahui masa depan, yaitu apa-apa yang belum lagi terjadi.
Secara sains modern, pengetahuan manusia tentang langit pun jadi amat sangat terbatas. Setelah ribuan tahun menghuni bumi, baru di abad-abad terakhir ini saja manusia sadar kalau mereka ternyata hidup menempel di atas sebuah bola raksasa yang disebut planet. Keberadaan planet sudah lama diketahui umat manusia, namun kesadaran bahwa umat manusia ternyata menghuni salah satu planet, rupanya baru-baru ini saja disadari.
Tadinya semua orang berpikir bahwa pusat alam semesta adalah daratan yang kita sebut bumi ini. Bentuknya pun dahulu masih dianggap rata seperti meja. Baru belakangan publik menerima bahwa tanah yang kita anggap rata seperti meja ini ternyata tidak ada tepiannya. Kalau pun kita paksakan berjalan ke tepi meja, tiba-tiba kita sudah berada di bagian lagi dari bumi ini.
وَمَا فِي الْأَرْضِ
Lafazh wa maa fil ardh (وَمَا فِي الْأَرْضِ) artinya : dan apa-apa yang ada di bumi. Kalau kita teruskan logika di atas, maka apa-apa yang ada di bumi merepresentasikan makhluk-makhluk yang nyata, baik makhluk hidup seperti manusia, hewan dan tumbuhan, atapun makhluk yang mati seperti tanah, air, gunung, awan, angin, sungai, laut, danau dan lainnya.
Semua itu adanya di bumi yang kita injak, dimana wujudnya adalah makhluk yang nyata, bukan makhluk yang ghaib.
وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Sedangkan ungkapan ’ala kulli sya’in (عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ) artinya : atas segala sesuatu. Dan makna qadir (قَدِيرٌ) adalah : Maha Kuasa.
Ayat ini ditutup dengan penggalan yang menyatakan bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Penutup model kalimat seperti ini biasa terkait apabila konten suatu ayat punya bobot yang cukup berat dan dirasa sulit atau mustahil dalam ukuran kita sebagai manusia.
Maka pernyataan bahwa Allah SWT Maha Kuasa tentunya menjawab masalah bahwa tidak ada yang tidak Allah SWT ketahui. Ketika semua ada dalam genggaman kekuasan-Nya, maka kita akan mendapatkan akses pengetahuan dari-Nya.