''Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah berserah diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allah-Lah mereka dikembalikan. "
Apakah yang lain dart agama Allah yang mereka kehendaki? Padahal kepada-Nyalah menyerah apa-apa yang ada di semua langit dan bumi, dengan suka sendirt, atau dengan terpaksa? Dan kepada-Nyalah mereka akan dikembalikan.
Lafazh a-fa-ghaira (أَفَغَيْرَ) terdiri dari tiga partikel yang berbeda, yaitu huruf alif (أ) yang artinya : apakah, huruf fa’ (ف) yang artinya : maka, lalu ghaira (غير) yang artinya : selain. Kalau kita gabungkan ketiganya itu, maka hasilnya adalah : apakah – maka – selain.
Tentu struktur seperti ini dalam bahasa Indonesia agak aneh dirasa. Oleh karena itu kalau kita perhatikan, dalam terjemahan yang utuh, lafazh afaghaira ini tidak diterjemahkan secara terpisah, melainkan disatukan dengan kata berikutnya.
Lafazh dinillahi (دِينِ اللَّهِ) artinya adalah agama Allah. Dalam hal ini agama Allah adalah semua yang dibawa oleh para nabi dan rasul sepanjang zaman, entah itu untuk bangsa Yahudi Nasrani alias Bani Israil, ataupun juga untuk bangsa Arab. Kesemua agama samawi itu termasuk dalam kategori agama Allah.
Lafazh yabghun (يَبْغُونَ) adalah fi’il mudhari’ yang maknanya menurut Kemenag RI dan Prof. Quraish Shihab adalah mencari, sedangkan Buya HAMKA menerjemahkannya menjadi : menghendaki.
Penggalan ini kalau digabungkan akan menjadi sebuah pertanyaan retoris. Pada versi Kemenag RI 2019 tertulis : “Mengapa mereka mencari agama selain agama Allah?”. Adapun Prof. Quraish Shihab menuliskannya menjadi : “''Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah”.
Lain lagi dengan Buya HAMKA, Beliau menuliskan : “Apakah yang lain dari agama Allah yang mereka kehendaki?”
Lafazh wa lahu (وَلَهُ) artinya : dan kepada-Nya. Yang dimaksud dengan Dia disini adalah Allah SWT. Makna aslama (أَسْلَمَ) adalah menyerahkan diri, meskipun terkadang bisa juga dimaknai dengan : masuk Islam. Dan masuk Islam itu pada hakikatnya menyerahkan diri kepada Allah SWT, dalam artinya meyerahkan segala dedikasi dan seluruh kehidupan kepada aturan dan perintah Allah SWT.
Kata man (مَنْ) itu menunjukkan jiwa yang hidup, seperti manusia, malaikat dan termasuk juga setan atau jin. Ketiganya itu tepat untuk disebut dengan man (مَنْ) alias siapa. Sedangkan bila yang dimaksud dengan benda-benda mati, biasanya yang digunakan bukan man tetapi maa (ما).
Makna fis-samawati (فِي السَّمَاوَاتِ) artinya : di banyak langit, sebab samawat itu bentuk jamak, bentuk tunggalnya adalah as-sama’ (السَّمَاء). Namun umumnya di berbagai versi terjemahan hanya diterjemahkan menjadi : langit saja. Sebab kalau kalau ditulis ‘langit-langit’, maknanya akan berubah jauh. Penulis pun lebih memilih untuk menyebutnya menjadi : banyak langit.
Kalau siapa yang hidup di langit, rasanya yang lebih tepat bukan manusia, tetapi malaikat atau pun mungkin juga jin. Mereka itu yang biasa dikonotasikan sebagai makhluk langit. Malaikat sering digambarkan punya sayap, sebagaimana tertuang dalam ayat ini :
جَاعِلِ الْمَلَائِكَةِ رُسُلًا أُولِي أَجْنِحَةٍ مَثْنَىٰ وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ ۚ
Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat. (QS. Fathir : 1)
Sedangkan setan atau jin bisa dikonotasikan dengan makhluk langit, karena dalam Al-Quran bisa melakukan pencurian berita-berita di atas langit.
وَحَفِظْنَاهَا مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ رَجِيمٍ إِلَّا مَنِ اسْتَرَقَ السَّمْعَ فَأَتْبَعَهُ شِهَابٌ مُبِينٌ
Kami menjaganya dari setiap setan yang terkutuk, kecuali (setan) yang mencuri-curi (berita) yang dapat didengar (dari malaikat) maka dia dikejar oleh bintang-bintang (berapi) yang terang. (QS. Al-Hijr : 18)
Sedangkan makna wal ardhi (وَالْأَرْضِ) artinya : dan bumi. Yang menghuni bumi adalah manusia, karena manusia itu memang ditempatkan oleh Allah SWT untuk ada di bumi. Allah SWT menjadikan bumi bagi manusia sebagai mustaqar alias tempat untuk tinggal, sebagaimana tertuang dalam ayat berikut :
وَلَكُمْ فِي الْأَرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَمَتَاعٌ إِلَىٰ حِينٍ
Dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan". (QS. Al-Baqarah : 36)
Bumi itu identik dengan manusia. Selain karena ayat di atas, secara teknik memang manusia tidak layak hidup di langit, dengan beberapa alasan. Yang pasti manusia tidak punya sayap untuk bisa terbang ke langit. Walaupun akhirnya manusia tetap bisa terbang ke langit dengan menggunakan teknologi, baik balon udara, pesawat terbang atau pun roket dan pesawat luar angkasa.
Namun meski dengan teknologi manusia bisa terbang ke langit, tetapi saja langit itu bukan tempat tinggal yang cocok buat manusia. Secara teknis, di luar angkasa atau di langit itu tidak ada oksigen, padahal manusia butuh oksigen untuk bernafas. Tanpa oksigen, manusia tidak bisa hidup.
Kalau pun manusia bisa hidup di satelite buatan semacam ISS, tetap saja tidak bisa hidup dengan normal seperti layaknya di bumi.
Selain tidak ada oksigen, di luar angkasa pun juga tidak ada gravitasi yang sesuai untuk tubuh manusia, juga tidak ada tekanan udara sebesar 1 atmosfer. Tanpa ada gravitasi dan tekanan yang cukup, manusia tidak bisa hidup dengan normal.
Namun yang lebih penting lagi kenapa manusia identik dengan bumi, karena bumi memiliki atmosfer yang menjadi shield alias pelindung manusia dari sinar jahat ultraviolet dari matahari.
Sekedar tambahan informasi, sinar ultraviolet itu memang dibutuhkan oleh tubuh kita, namun dalam kadar tertentu saja. Tapi kalau sudah berlebihan, maka sinar matahari itu justru menghancurkan tubuh manusia. Dan di luar bumi tanpa adanya atmosfer, manusia langsung musnah dan mati.
Lafazh thau’an (طَوْعًا) artinya : dengan suka rela, sedangkan maka wa karhan (وَكَرْهًا) artinya : dengan cara terpaksa. Maksudnya, mau berserah diri secara suka rela atau dengan cara terpaksa, tetap saja akan berserah diri saja.
Bedanya, kalau berserah diri dengan cara suka rela, maka itu adalah bentuk pengabdian dan peribadatan. Sedangkan kalau berserah diri dengan cara terpaksa, maka itu merupakan bentuk kemaksiatan dan kedurhakaan.
Lafazh wa-ilihi turjaun (وَإِلَيْهِ يُرْجَعُونَ) artinya : dan kepada-Nya mereka akan kembali. Ini dimaknai sebagai kematian, atau pun juga sebagian ulama mengatakan : akan dikumpulkan di pasang Mahsyar.