| ◀ | Jilid : 8 Juz : 4 | An-Nisa : 1 | ▶ |
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
Kemenag RI 2019: Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakanmu dari diri yang satu (Adam) dan Dia menciptakan darinya pasangannya (Hawa). Dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. ) Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.Hai seluruh manusia! Bertakwalah kepada Tuhan Pemelihara kamu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan menciptakan darinya pasangannya; Dia mem-perkembangbiakkan dari keduanya laki-laki yang banyak dan perempuan. Dan bertakwalah kepada Allah Yang dengan (nama)-Nya kamu saling meminta dan (pelihara pula) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah adalah Maha mengawasi kamu.
Hai sekalian manusia! Bertakwalah kamu kepada Tuhanmu, yang telah menjadikan kamu dari satu diri, dan daripadanya dijadikan-Nya istrinya serta dari keduanya Dia memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah, yang kamu telah tanya-bertanya tentang (nama)-Nya, dan (peliharalah) kekeluargaan. Sesungguhnya Allah Pengawas atas kamu.
| TAFSIR AL-MAHFUZH | REFERENSI KITAB TAFSIR |
...
Ayat pertama dari surat An-Nisa’ ini punya kembaran, yaitu teks dan lafazh yang sama persis dengan ayat pertama surat ke-22 yaitu Al-Hajj. Perhatikan teksnya :
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ ۚ إِنَّ زَلْزَلَةَ السَّاعَةِ شَيْءٌ عَظِيمٌ
Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu; sesungguhnya kegoncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (QS. Al-Hajj : 1).
Pada ayat pertama ini setelah memerintahkan untuk bertaqwa kepada-Nya, Allah SWT mengingatkan asal muasal umat manusia yang berasal dari seorang manusia yaitu Nabi Adam alaihissalam. Kemudian Allah SWT menciptakan pasangannya yaitu Hawa, sehingga manusia jadi punya anak keturunan.
Pesan taqwa kemudian diulangi lagi namun kali ini dikaitkan dengan hubungan antar keluarga. Sebenarnya seluruh manusia itu masih satu keluarga, satu nenek moyang, sehingga mereka harus saling memelihara hubungan baik, karena pada dasarnya semuanya adalah keluarga sendiri.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ
Huruf ya (يا) disebut dengan harfun-nida yaitu huruf hijaiyah, dalam bahasa Arab gunanya untuk menyapa orang yang posisinya agak jauh. Sedangkan ayyuha terdiri dari ayyu dan ha, dimana ayyu (أي) adalah ism munada dan ha (ها) berfungsi sebagai tanbih yaitu memberi perhatian.
Secara keseluruhan sulit untuk bisa dicarikan padanan kata yang presisi karena keterbatasan bahasa, sehingga para penerjemah sering ambil jalan pintas dengan menerjemahkannya dengan sederhana menjadi : Hai atau Wahai.
Lafazh an-nas (الناس) adalah bentuk jamak dari bentuk tunggalnya yaitu (إنسان), maknanya para manusia. Allah SWT menyapa manusia, bukan hanya mereka yang beriman saja, tetapi juga termasuk yang tidak beriman.
Para ulama fiqih menggunakan panggilan Allah SWT kepada manusia dalam ayat ini sebagai dasar bahwa orang-orang kafir yang bukan muslim tetap jadi objek dalam menjalankan perintah ibadah seperti shalat, puasa, zakat, haji dan lainnya.
Meskipun begitu, apabila orang kafir menjalankan perintah ibadah itu hukumnya tidak sah, karena syarat diterimanya ritual ibadah harus berstatus sebagai muslim. Ini bisa diibaratkan dengan perintah mengerjakan shalat bagi seorang muslim yang belum berwudhu’.
Dia wajib mengerjakan shalat dan berdosa bila meninggalkannya, namun kalau dia mau mengerjakan shalat dia harus berwudhu’ terlebih dahulu. Bila dia nekat mengerjakan shalat tapi belum berwudhu’, maka shalatnya tidak diterima.
Begitu juga dengan orang kafir, mereka tetap diwajibkan menjalankan ibadah-ibadah ritual sebagaimana kita sebagai muslim. Namun selama mereka belum membaca syahadat menjadi muslim, semua ibadah yang mereka lakukan tidak sah dan tidak diterima Allah SWT.
وَالَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَلِقَاءِ الْآخِرَةِ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ
Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan mendustakan akan menemui akhirat, sia-sialah perbuatan mereka. (QS. Al-Araf : 147)
Umumnya para mufassir mengenali ayat yang turun di masa Mekkah apabila panggilannya ditujukan kepada manusia. Sebaliknya apabila panggilannya khusus hanya orang-orang beriman (يآأيها الذين آمنوا), itu menujukkan ciri bahwa ayat itu turun sudah di masa Madinah. Namun begitu, khusus untuk ayat ini, ternyata terjadi pengecualian, sebab para ulama sepakat bahwa ayat ini turun di masa Madinah, meskipun menyapa dengan panggilan : wahai manusia.
Lafazh ittaqu (اتقوا) merupakan kata kerja dalam bentuk perintah, yaitu fi'il amr yang memerintahkan untuk melakukan sesuatu. Asalnya dari (اتقى - يتقى) yang punya beberapa makna. Di antaranya bisa bermakna memelihara diri dari sesuatu, sebagaimana ayat Al-Quran berikut :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka (QS. At-Tahrim : 6).
Namun selain bermakna memelihara diri dari sesuatu, perintah ini juga bisa bermakna : takutlah, sebagaimana yang tertuang dalam ayat berikut :
فَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِي وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ
Maka takutlah pada api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. (QS. Al-Baqarah : 24)
Begitu juga bermakna takutlah sebagaimana nasehat Nabi SAW kepada Muadz sebelum mengutusnya ke negeri Yaman :
اِتَّقِ دَعْوَةَ المَظْلُومِ فَإِنَّهاَ لَيْسَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ اللهِ حِجَاب
Takutlah kamu dari doa orang yang terzalimini, karena tidak ada penghalang antaranya dengan Allah. (HR. Bukhari dan Muslim)
Namun dalam konteks ayat ini, nampaknya makna yang paling cocok adalah perintah untuk bertaqwa kepada Allah dalam artinya kualitas iman yang tinggi.
At-Tirmizy dan Ibnu Majah meriwayatkan sebuah hadits terkait dengan orang yang bertaqwa sebagai berikut :
لا يَبْلُغُ الْعَبْدُ أَنْ يَكُونَ مِنَ المتَّقين حَتَّى يَدَعَ مَا لَا بَأْسَ بِهِ حَذَرًا مِمَّا بِهِ بَأْسٌ
Seorang hamba tidak sampai derajat muttaqin hingga dia meninggalkan hal-hal yang tidak mengapa karena takut akan tertimpa apa-apa.(HR. Tirmizy dan Ibnu Majah)[1]
[1] At-Tirmizi memberi status hadits ini sebagai Hasan Garib. Lihat Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah (Libanon Darul Ihya’ al-Kutub al-Arabiyah, tt) vol.2 h. 1402
الَّذِي خَلَقَكُمْ
Lafazh alladzi (الَّذِي) artinya : yang. Kata khalaqa-kum (خَلَقَكُمْ) adalah kata kerja dalam bentuk fi’il madhi. Sedangkan yang menjadi maf’ul-bihi atau objeknya adalah dhamir kum yang artinya : kamu, yaitu menciptakan manusia.
Dikatakan Allah SWT itu mencipta, maksudnya Allah SWT mengadakan sesuatu dari yang asalnya tidak ada menjadi ada (ابتداع شيء لم يسبق إليه). Dan segala sesuatu yang Allah ciptakan itu berarti asalnya tidak ada kemudian menjadi ada.[1]
Maka ketika Allah SWT dalam ayat ini menyatakan Dia telah menciptakan kamu, maksudnya menjadi manusia dari yang asalnya tidak ada menjadi ada. Cukup bagi-Nya mengucapkan kun (jadilah), maka jadilah sesuatu itu.
إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ
Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: "Jadilah!" maka terjadilah ia. (QS. Yasin : 82)
Meskipun demikian, bagi Allah SWT sah-sah saja ketika menciptakan sesuatu secara tidak langsung tapi melewati berbagai macam proses. Alam semesta, langit dan bumi dan seisinya adalah ciptaan Allah. Namun Allah SWT berkehendak dalam penciptaannya ada proses panjang dari satu waktu ke waktu yang lain. Bukan berarti Allah SWT lemah, namun Allah memang berkehendak demikian.
Maka ketika menciptakan manusia, proses yang dilakukan cukup panjang, salah satunya sebagaimana yang diceritakan dalam ayat berikut :
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ طِينٍ ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ ۚ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ
Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik. (QS. Al-Mukminun : 12-14)
[1] Tadzhib Al-Lughah, Bab Khalaqa, jilid 1 hal. 1093.
مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ
Lafazh min nafsin (مِنْ نَفْسٍ) artinya : dari diri yang satu. Kata nafs (نفس) memang punya banyak makna. Asalnya konon dari kata nafas yaitu tindakan makhluk hidup menghirup udara dan mengeluarkannya. Terkadang ada yang setuju kalau diterjemahkan menjadi : sesuatu yang bernyawa.
Namun umumnya para ulama sepakat bahwa ruang lingkup nafs (نفس) itu tidak termasuk hewan dan tumbuhan, tetapi khusus hanya disematkan kepada manusia saja. Oleh karena itu kita lebih sering menemukan kata ini diterjemahkan menjadi jiwa atau sesuatu yang berjiwa. Dan ada juga yang menerjemahkan dengan : ‘seseorang’.
Lafazh wahidatin (وَاحِدَةٍ) artinya : satu. Sehingga makna : nafsin wahidatin (نَفْسٍ وَاحِدَةٍ) adalah diri yang satu. Semua ulama sepakat mengatakan bahwa yang dimaksud dengan diri yang satu tidak lain adalah Nabi Adam alaihissalam. Bahkan dalam teks terjemahan Kementerian Agama RI, kata nafsu diterjemahkan menjadi ‘diri yang satu’ dan langsung diberi penjelasan dalam tanda kurung yaitu (Adam).
Benarkah Asal Muasal Manusia Dari Adam?
Dalam agama-agama seperti Yahudi, Nasrani dan Islam, memang ada kesamaan keyakinan bahwa Nabi Adam adalah asal muasal manusia dan menjadi nenek moyang pertama peradaban manusia di muka bumi. Maka dalam hal semacam ini, Al-Quran, Taurat dan Injil punya kata yang sama. Kita yang beragama Islam ini sepakat dengan sesama pemeluk agama Ibrahimiyah terkait masalah ini.
Sedangkan di luar itu, agama-agama lain ternyata punya pemahaman yang tidak sejalan. Beberapa misalnya mengatakan bahwa manusia diciptakan oleh para dewa dari tanah liat. Prometheus, seorang Titan, memberikan api kepada manusia sehingga mereka menjadi lebih cerdas dari makhluk lainnya. Ini adalah keyakinan dalam mitologi Yunani.
Dalam mitologi Nordik ada keyakinan bahwa manusia pertama itu adalah Ask dan Embla, dibentuk dari pohon oleh para dewa Nordik, Odin, Vili, dan Ve.
Sementara menurut animisme dan kepercayaan tradisional dan juga banyak suku bangsa di seluruh dunia punya kepercayaan bahwa semua benda di alam memiliki roh. Dalam kepercayaan ini, manusia sering dianggap sebagai bagian dari alam semesta yang saling terhubung dan asal-usul manusia sering dikaitkan dengan alam sekitar.
Dalam kepercayaan Hinduisme terdapat beberapa kisah penciptaan manusia. Salah satunya adalah konsep reinkarnasi, di mana jiwa manusia bermigrasi dari satu tubuh ke tubuh lainnya dalam siklus kelahiran kembali.
Nabi Adam dan Sains Modern
Sedangkan bila dikaitkan dengan ilmu pengetahuan modern, penelitian terhadap DNA mitokondria menunjukkan bahwa semua manusia modern memiliki garis keturunan mitokondria yang sama, yang berasal dari Afrika sekitar 200.000 tahun yang lalu.
Meskipun terdapat keragaman fisik yang mencolok di antara manusia, variasi genetik di antara kita sebenarnya sangat rendah. Ini menunjukkan bahwa kita semua memiliki nenek moyang yang sama dalam waktu yang relatif dekat dalam sejarah evolusi.
Fosil manusia purba dan analisis genetik menunjukkan bahwa manusia modern bermigrasi keluar dari Afrika dan menyebar ke seluruh dunia dalam beberapa gelombang migrasi. Temuan ini menunjukkan bahwa semua manusia pada dasarnya adalah satu keluarga besar, terlepas dari perbedaan budaya, ras, atau etnis.
Nabi Adam dan Teori Darwin
Sampai disini kita jadi tergelitik bicara tentang teori Darwin. Pertanyaannya : benarkah teori Darwin bahwa manusia itu dari monyet?
Jawabannya tidak sepenuhnya benar jika dikatakan bahwa menurut teori evolusi Darwin, manusia berasal dari monyet. Ini adalah salah satu kesalahpahaman umum mengenai teori evolusi. Teori evolusi Darwin lebih tepatnya menyatakan bahwa manusia dan kera, termasuk simpanse, gorila, dan orangutan memiliki nenek moyang yang sama. Ini berarti, di suatu titik dalam sejarah evolusi, terdapat spesies primata yang kemudian berevolusi menjadi berbagai cabang, termasuk manusia dan kera yang kita kenal sekarang.
Namun manusia tidak berevolusi dari kera yang hidup saat ini. Kita tidak bisa mengatakan bahwa manusia adalah "keturunan" langsung dari monyet yang ada di hutan. Bayangkan pohon keluarga yang sangat besar. Cabang utama mewakili nenek moyang bersama kita dengan kera. Dari cabang utama ini, muncul cabang-cabang yang lebih kecil, yang kemudian bercabang lagi menjadi spesies yang berbeda-beda, termasuk manusia dan berbagai jenis kera.
Mengapa terjadi kesalahpahaman?
Jawabnnya memang seringkali konsep evolusi disederhanakan sedemikian rupa sehingga menjadi kurang akurat. Banyak orang salah mengartikan istilah "evolusi" dan menganggapnya sebagai proses yang linear dan progresif, padahal evolusi adalah proses yang kompleks dan bercabang.
Gambar-gambar yang menggambarkan manusia berevolusi dari kera seringkali digunakan untuk tujuan satire atau karikatur, sehingga memperkuat kesalahpahaman ini. Jadi, kesimpulannya adalah manusia dan kera memiliki hubungan kekerabatan yang dekat, tetapi kita bukan keturunan langsung dari kera yang hidup saat ini. Kita berbagi nenek moyang yang sama dan melalui proses evolusi yang panjang, kita masing-masing berevolusi menjadi spesies yang berbeda.
Penting untuk memahami bahwa evolusi adalah proses yang sangat panjang dan kompleks. Teori evolusi telah didukung oleh banyak bukti ilmiah, termasuk fosil, genetika, dan biologi perkembangan.
وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا
Lafazh wa khalaqa minha (وَخَلَقَ مِنْهَا) artinya : dan Allah menciptakan darinya. Dhamir ha (هأ) kembali kepada nafs (نفس) yaitu diri yang bergender muanntas. Walaupun maksudnya adalah dari Nabi Adam yang bergender laki-laki.
Lafazh zaujaha (زَوْجَهَا) artinya : pasangannya, namun umumnya para ulama memaknainya sebagai istrinya. Namun memang sudah benar kalau kata zauj (زَوْج) diterjemahkan menjadi pasangan, bisa saja untuk pasangan dari laki-laki yaitu istri, namun juga bisa digunakan untuk pasangan perempuan yaitu suami.
Umumnya para ulama tafsir menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan zaujaha (زَوْجَهَا) di ayat ini adalah Hawa. Bahkan dalam kitab-kitab Yahudi dan Nasrani pun sama, hanya beda pelafalannya saja menjadi Eva.
Bahkan termasuk bahwa Hawa atau Eva ini diciptakan dari tubuh Nabi Adam, juga termaktub dalam kitab mereka. Prof. Quraish Shihab dalam tafsir Al-Misbah[1] menukilkan apa yang ditulis oleh Sayyid Muhammad Rasyid Ridha, bahwa telah termaktub dalam Perjanjian Lama (Kejadian II: 21-22) yang menyatakan bahwa ketika Adam tidur lelap, diambil oleh Allah sebilah tulang rusuknya, lalu ditutupkannya pula tempat itu dengan daging. Maka, dari tulang yang telah dikeluarkan dari Adam itu dibuat Tuhan seorang perempuan.
Rasyid Ridha kemudian memberi komentar bahwa seandainya tidak tercantum kisah kejadian Adam dan Hawa dalam Perjanjian Lama, seperti redaksi di atas, niscaya pendapat yang menyatakan bahwa perempuan diciptakan dari tulang rusuk Adam tidak pernah akan terlintas dalam benak seorang muslim.
Namun pendapat Rasyhid Ridha ini barangkali perlu juga dikritisi, sebab adanya wanita tercipta dari tulang rusuk itu justru merupakan sabda Nabi SAW yang termuat dalam hadits shahih sekelas Shahih Bukhari dan Muslim.
اِسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ، فَإِنَّ الْمَرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلَعٍ، وَإِنَّ أَعْوَجَ شَيْءٍ فِي الضِّلَعِ أَعْلَاهُ، فَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيمُهُ كَسَرْتَهُ، وَإِنْ تَرَكْتَهُ لَمْ يَزَلْ أَعْوَجَ، فَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ.
Berwasiatlah kalian tentang wanita, karena sesungguhnya wanita itu diciptakan dari tulang rusuk. Dan sesungguhnya bagian yang paling bengkok dari tulang rusuk adalah bagian atasnya. Jika kamu berusaha meluruskannya, maka kamu akan mematahkannya. Dan jika kamu membiarkannya, ia akan tetap bengkok. Maka berwasiatlah kalian tentang wanita. (HR. Bukhari)
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: إِنَّ الْمَرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلْعٍ لَنْ تَسْتَقِيمَ لَكَ عَلَى طَرِيقَةٍ، فَإِنِ اسْتَمْتَعْتَ بِهَا اسْتَمْتَعْتَ بِهَا وَبِهَا عِوَجٌ، وَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيمُهَا كَسَرْتَهَا وَكَسْرُهَا طَلَاقُهَا
Dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya wanita itu diciptakan dari tulang rusuk, ia tidak akan bisa lurus untukmu dalam satu cara. Jika kamu bersenang-senang dengannya, kamu akan bersenang-senang dengannya sementara padanya ada kebengkokan. Jika kamu berusaha meluruskannya, kamu akan mematahkannya, dan mematahkannya adalah menceraikannya." (HR. Muslim)
Maka sikap kita tentu saja tidak mungkin menolak hadits shahih yang disepakati oleh Bukhari dan Muslim. Tinggal pilihannya, apakah ucapan Nabi SAW wanita itu tercipta dari tulang rusuk itu mau dimaknai secara hakiki atau secara majazi. Umumnya para ulama memahaminya secara hakiki, yaitu bahwa Hawa diciptakan dari tulang rusuk Nabi Adam alaihissalam. Dan nampaknya pemahaman ini sejalan dengan apa yang termaktub di Perjanjian Lama para ahli kitab.
Lantas bisakah kita memaknai perkataan Nabi SAW secara majazi?
Menurut hemat Penulis, memaknai teks syariah secara majazi bukan hal yang asing. Begitu banyak ayat Al-Quran yang teksnya kita pahami secara majazi. Dan nampaknya dalam kasus hadits ini juga terbuka kemungkinan untuk memahaminya secara majazi.
Apalagi kalau dikaitkan antara tulang rusuk yang bengkok dengan perilaku wanita yang dikatakan selalu bengkok, tentu tidak tepat juga. Benarkah semua wanita pasti ‘bengkok’? Lalu apa yang dimaksud ‘akan selalu bengkok’? Apakah benar bahwa Nabi SAW sendiri mencela para wanita dengan mengatakan bahwa semua wanita pasti akan selalu bengkok?
Tentu diskusinya akan menjadi lebih menarik manakala kita bisa lebih mengkritisi lebih dalam sekian banyak teks hadits, bahwa seringkali sebuah teks hadits diucapkan dalam keadaan dan latar belakang yang berbeda-beda. Sehingga terkadang antara satu teks dengan teks yang lain nampak berseberangan secara langsung.
Bukankah Nabi SAW juga bersabda bahwa surga itu di bahwa telapak kaki ibu? Bukankah sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita yang shalihah? Bukankah ada banyak sosok wanita di dalam kisah-kisah Al-Quran yang dijadikan teladan seperti Maryam dan istri Firaun?
Teknologi Kloning
Karena ayat ini bicara tentang penciptaan Hawa yang disebut-sebut dari tubuh Nabi Adam, maka sekalian saja kita angkat sisi sains tentang teknologi kloning makhluk hidup yang tidak lewat proses perkawinan ataupun kelahiran.
Kloning hewan adalah proses menciptakan individu baru yang secara genetik identik dengan individu yang sudah ada. Teknik ini telah berhasil diterapkan pada berbagai spesies hewan, mulai dari mamalia besar seperti sapi dan domba hingga hewan peliharaan seperti kucing dan anjing.
Secara sederhana, proses kloning hewan melibatkan pengambilan inti sel dari hewan yang ingin diklon, kemudian memindahkan inti sel tersebut ke dalam sel telur yang telah dibuang intinya. Sel telur yang telah mengandung inti sel baru ini kemudian ditanamkan pada induk pengganti. Jika proses ini berhasil, maka akan lahir individu baru yang secara genetik identik dengan hewan donor inti sel.
Kloning hewan yang terkenal antara lain adalah domba bernama Dolly pada tahun 1996. Dolly merupakan mamalia pertama yang berhasil diklon dari sel dewasa.
Sedangkan kloning kepada manusia, nampaknya masih jadi perdebatan para ahli, baik secara teknologi maupun secara etika. Namun yang justru menarik adalah kloning organ tubuh manusia itu sendiri. Kloning organ tubuh manusia memang menjadi salah satu harapan besar dalam dunia medis. Bayangkan, jika kita bisa mengganti organ yang rusak atau sakit dengan organ hasil kloning dari tubuh kita sendiri, maka masalah penolakan organ oleh tubuh akan teratasi dan kualitas hidup pasien bisa jauh meningkat.
Secara garis besar, proses kloning organ ini melibatkan pengambilan sampel sel dari pasien, kemudian sel tersebut diklon untuk menghasilkan jaringan atau organ yang identik secara genetik. Organ hasil kloning ini kemudian ditransplantasikan ke tubuh pasien.
Kenapa teknologi kloning organ tubuh manusia menjadi penting? Karena organ hasil kloning secara genetik identik dengan tubuh pasien, maka risiko penolakan organ akan sangat kecil. Berbeda dengan transplantasi organ dari manusia yang satu kepada manusia yang lain, amat besar penolakan dari tubuh.
Apalagi mengingat donor organ manusia itu sangat bergantung kepada tersedianya pihak lain yang mau merelakan organnya. Dalam banyak kasus, hanya bisa diambil dari organ orang yang sudah mati. Maka bila organ tubuh kita sendiri bisa dikloning, masalah donor organ otomatis teratasi. Selain itu kloning organ dapat digunakan untuk mengobati berbagai penyakit degeneratif, seperti penyakit jantung, ginjal, dan hati.
Namun kloning organ tubuh manusia secara teknis masih sangat kompleks dan membutuhkan penelitian lebih lanjut. Secara teknologi diperkirakan akan sangat mahal, sehingga tidak semua orang mampu mengaksesnya. Karena menumbuhkan organ dalam jumlah yang cukup dan dengan kualitas yang baik masih menjadi tantangan besar untuk ukuran zaman sekarang.
[1] Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah : pesan, kesan dan keserasian Al-Quran (Tangerang, PT. Lentera Hati, 2017)
وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً
Lafazh wa batstsa minhuma (وَبَثَّ مِنْهُمَا) diterjemahkan oleh tiga sumber kita menjadi : dan memperkembangbiakkan dari keduanya.
Padahal makna asli kata batstsa (بَثَّ - يَبُثُّ) adalah berpencaran dan menyebar di area yang luas (فَرَّقَ وَنَشَرَ فِي الْأَرْضِ). Di dalam surat Al-Qariah juga digunakan kata ini :
يَوْمَ يَكُونُ النّاسُ كالفَراشِ المَبْثُوثِ
Pada hari itu manusia adalah seperti anai-anai yang bertebaran (QS. AL-Qariah : 4)
Dalam bahas Arab modern, istilah yang digunakan untuk makna broadcasting adalah al-batstsu (البَثُّ). Sedangkan istilah al-batstsu al-mubasyir (البث المباشر) berarti siaran langsung.
Maka bila terjemahannya menggunakan istilah ‘berkembang-biak’, tentunya merupakan terjemahan yang bersifat tafsir ketimbang makna harfiyah. Dan itu sah-sah saja sebagai upaya untuk memberi pemahaman kepada khalayak umum. Mungkin terjemahan yang lebih mengena adalah : berdiaspora.
Kata rijalan (رِجَالًا) adalah bentuk jamak dari rajul (رَجُل) yang artinya laki-laki. Kata katsira (كَثِيرًا) artinya : banyak. Maka istilah rijalan katsira (رِجَالًا كَثِيرًا) artinya : laki-laki yang banyak jumlahnya.
Sedangkan kata nisaa-a (وَنِسَاءً) adalah bentuk jamak dari imraah (امرأة) yang maknanya : perempuan-perempuan.
Kita tergelitik dengan pertanyaan : Mengapa tidak dikatakan: dan menyebarkan dari keduanya banyak laki-laki dan banyak perempuan? Dan mengapa sifat banyaknya dikhususkan pada laki-laki saja tanpa perempuan?
Fakhurddin Ar-Razi dalam tafsir Mafatih Al-Ghaib[1] menuliskan bahwa boleh jadi ada isyarat dari Allah SWT bahwa kemasyhuran jenis kelamin laki-laki lebih utama, sedangkan jenis kelamin perempuan lebih tersembunyi dan tidak menonjol.
Sedangkan Dr. Wahbah Az-Zuhaili dalam tafsir Al-Munir[2] memandang bahwa tidak disebutkannya wanita dengan kata ‘banyak’ (نساءا كثيرات) semata-mata karena ijaz yaitu penyingkatan, namun justru menjadi salah satu kekuatan balaghah. Sebenarnya Allah SWT juga menyebut wanita yang banyak juga, tetapi sengaja tidak dicantumkan meski maknanya tetap ada.
Penulis sendiri melihat ada keterkaitan antara fakta bahwa penyebaran nasab umat manusia umumnya lewat jalur laki-laki dengan apa yang diungkap dalam ayat ini. Dikatakan bahwa laki-laki yang banyak, karena mereka inilah yang menyebarkan nasab ke seluruh dunia, sedangkan siapa yang menjadi istri dan mengandung anak-anak mereka, tidak terlalu menjadi faktor penentu. Setidaknya, seperti itulah kecenderungan jalur nasab umat manusia. Karena itu Al-Quran sekedar memberi isyarat dari apa yang selama ini dianggap berlaku oleh umat manusia secara turun temurun.
Apakah Islam Menentang Sistem Matrilineal?
Sistem matrilineal, dimana garis keturunan ditelusuri melalui garis ibu, pernah dan masih dianut oleh beberapa masyarakat di seluruh dunia. Salah satu contoh paling terkenal adalah suku Minangkabau di Indonesia. Dalam masyarakat Minangkabau, harta, tanah, dan kepemimpinan adat diwariskan melalui garis ibu. Anak mengikuti marga ibu dan terikat kuat dengan kaum ibunya.
Begitu juga yang terjadi pada Suku Khasi yang mendiami wilayah Meghalaya, India, juga memiliki sistem matrilineal. Warisan, tanah, dan kepemimpinan adat diwariskan melalui garis ibu. Di Tiongkok ada Suku Mosuo yang tinggal di daerah pegunungan Yunnan, Tiongkok, memiliki sistem keluarga unik yang disebut "walking marriage". Dalam sistem ini, perempuan memiliki peran sentral dalam keluarga dan garis keturunan diturunkan melalui ibu.
Beberapa suku di Afrika Barat, seperti suku Akan dan Ashanti di Ghana, juga memiliki sistem kekerabatan matrilineal. Begitu juga beberapa suku di Amerika Selatan seperti suku Iroquois, juga memiliki elemen-elemen sistem matrilineal dalam struktur sosial mereka.
Yang jadi pertanyaan, apakah sistem matrilineal ini bertentangan dengan syariat Islam, berdasarkan ayat ini?
Jawabannya bisa bermacam-macam, namun kita tidak melihat teks yang secara eksplisit menentangnya, kecuali hanya sekedar isyarat bahwa laki-laki yang banyak itu menyebar ke berbagai wilayah, tanpa menyebut kata wanita yang banyak.
[1] Fakhruddin Ar-Razi (w. 606 H), Mafatih Al-Ghaib, (Beirut, Daru Ihya’ At-Turats Al-Arabi, Cet. 3, 1420 H)
[2] Wahbah Az-Zuhaili (w. 1436 H), Tafsir Al-Munir,(Damaskus, Darul-fikr, Cet. Ke-10, 1430 H-2009H)
وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ
Lafazh wat-taqullah (وَاتَّقُوا اللَّهَ) artinya : bertakwalah kamu kepada Allah. Penggalan ini adalah perintah kedua untuk bertaqwa kepada Allah dalam surat An-Nisa’ ini, setelah sebelumnya juga Allah SWT perintahkan untuk bertaqwa. Berarti dalam satu ayat ada dua perintah yang sama, yaitu bertaqwalah kepada Allah (وَاتَّقُوا اللَّهَ).
Kata alladzi tasaa’aluna bihi (الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ) diterjemahkan secara berbeda. Kementerian Agama RI dan Prof. Quraish Shihab menerjemahkannya menjadi : “yang dengan nama-Nya kamu saling meminta”. Sedangkan Buya HAMKA menerjemahkannya menjadi : “bertanya-tanya”.
Kata tasaa’aluna (تَسَاءَلُونَ) memang punya dua makna sekaligus. Asalnya dari (سَأَلَ - يَسْأَلُ) yang artinya bisa meminta tapi juga bisa bertanya. Di dalam Al-Quran kita temukan banyak ayat yang berbunyi yas’alunaka (يسألونك) dan maknanya : mereka bertanya kepadamu. Namun juga banyak ayat yang berbunyi was’alullah (وَاسْأَلُوا اللَّهَ) yang artinya : dan mintalah kepada Allah.
Kemudian tiga huruf kata kerja ini mendapat tambahan huruf ta’ huruf alif menjadi (تساءل - يتساءل) sehingga menggeser sedikit maknanya jadi : saling bertanya atau saling meminta satu sama lain.
Kalau kita artikan saling meminta, maka pengertiannya dua pihak yaitu A dan B. A meminta kepada B dan B meminta kepada A. Lalu apa maksudnya saling meminta? Dr. Wahbah Az-Zuhaili menjelaskan bahwa itu perintah Allah SWT untuk bertaqwa kepada Allah disini maksudnya harus menjaga hubungan baik dengan sesama umat manusia. Karena sesama umat manusia saling satu sama lain saling membutuhkan alias saling saling meminta.
Maka dalam bermuamalah dengan sesama manusia harus menjaga ketaqwaan kepada Allah, yaitu ikuti petunjuk dan aturan dari Allah SWT dalam hubungan dengan sesama umat manusia, yang mana asal muasal kalian itu masih dari satu rahim yang sama, yaitu rahimnya Hawa.
وَالْأَرْحَامَ
Kata al-arham (الْأَرْحَامَ) secara bahasa adalah bentuk jamak dari rahim seorang wanita tempat tumbuhnya janin anak manusia. Para ulama mengatakan bahwa ada kata yang mahdzuf yaitu kata wattaqullah (وَاتَّقُوا اللَّهَ) yang maknanya : bertaqwalah kamu kepada Allah. Sehingga makna penggalan ini menjadi (وَاتَّقُوا اللَّهَ في الْأَرْحَامَ), yaitu : bertaqwalah kamu dalam hubungan dengan sesama saudara.
Bahwa umat manusia ini pada dasarnya lahir dari rahim-rahim para wanita. Maka wajiblah muliakan para wanita, karena tanpa rahim mereka, kita tidak pernah ada dan tercipta di dunia ini.
Selain itu pesan yang tersirat bahwa kita wajib menjaga hubungan baik dengan sesama umat manusia, sebagai mantan-mantan penghuni rahim para ibu. Sesungguhnya umat manusia semuanya berasal dari satu rahim yang sama yaitu rahim ibunda kita bersama yaitu Hawa.
Maka dalam agama Islam dikenal istilah : ukhuwah basyariyah, yaitu persaudaraan sebagai sesama manusia. Juga dikenal istilah huquq adamiyah yaitu hak-hak sebagai sesama anak keturunan nabi Adam alaihissalam.
إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
Lafazh innallaha (إِنَّ اللَّهَ) artinya : sesungguhnya Allah. Ungkapan kana alaikum raqiba (كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا) artinya : “adalah jadi Pengawas bagi kamu”. Kata raqib ini banyak muncul dalam Al-Quran, di antaranya pada ayat berikut :
وَكَانَ اللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ رَقِيبًا
Dan adalah Allah Maha Mengawasi segala sesuatu. (QS. Al-Ahzab : 52)
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir. (QS. Qaf : 18)
Kaitan antara perintah bertaqwa dan penyebutan sifat Allah SWT yang mengawasi itu sangat erat. Kita diperintah untuk selalu menjaga diri, memelihara diri dan bertaqwa kepada Allah SWT 24 jam dalam sehari, tujuh hari dalam seminggu, karena sesungguhnya Allah selalu mengawasi kita. Tidak ada yang luput dari pengawasan Allah SWT.
Tinggal yang jadi masalah adalah apa persamaan dan perbedaan antara istilah al-qisth (القسط) dengan istilah al-‘adl (العدل)? Padahal sama-sama diterjemahkan menjadi keadilan, tentunya Al-Quran tidak sembarangan dalam menggunakan sebuah kata atau istilah. Maka penjelasannya tidak mungkin termuat dalam terjemahan yang space-nya sangat terbatas. Penjelasannya harus lewat kitab tafsir yang punya banyak ruang untuk membedahkan dengan rinci perbedaan kedua istilah itu. Mari kita perhatikan dengan seksama cara Al-Quran menggunakan kedua istilah itu. Dalam beberapa ayat, ketika bicara tentang timbangan, maka Allah memerintahkan kita wajib menimbang dengan al-qisth (القسط). وَأَنْزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ "Dan Kami turunkan bersama mereka Kitab dan neraca agar manusia dapat menegakkan keadilan (al-qishth)" (QS. Al-Hadid: 25). وَأَقِيمُوا الْوَزْنَ بِالْقِسْطِ وَلَا تُخْسِرُوا الْمِيزَانَ "Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil (al-qishth) dan janganlah kamu mengurangi timbangan itu" (QS. Ar-Rahman: 9).