Kata (وَلَا تُجَادِلْ) adalah larangan dalam bentuk fi’il mudhari’ atau lebih tepatnya fi’il nahiy. Asalnya jadi kata (جادَلَ – يُجَادِلُ – مُجأَدَلَة) yang maknanya : berdebat atau berbantah-bantahan. Surat ke-58 dalam Al-Quran disebut Surat Al-Mujadilah yang maknanya : Wanita yang mengajukan gugatan.
قَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّتِي تُجَادِلُكَ فِي زَوْجِهَا وَتَشْتَكِي إِلَى اللَّهِ
Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan kepada Allah. (QS. Al-Mujadilah : 1)
Membantah atau mendebat yang dimaksud bukan berarti membangkang atau ingkar terhadap apa yang sudah ditetapkan dalam syariat. Tetapi maksudnya adalah melakukan diskusi dan dialog yang bersifat timbal-balik untuk mendapatkan kepastian hukum. Dan hal itu ditegaskan dalam lanjutan ayatnya :
وَاللَّهُ يَسْمَعُ تَحَاوُرَكُمَا
Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua. (QS. Al-Mujadilah : 1)
Jadi debat yang dimaksud adalah hiwar alias dialog. Kisah di balik ayat ini sangat menarik karena melibatkan seorang wanita bernama Khaulah binti Tha'labah, yang datang kepada Nabi Muhammad SAW mengadukan masalah suaminya, Aus bin As-Samit, yang menjatuhkan zhihar.
Dalam hukum jahiliyah, begitu istri dijatuhkan zhihar, maka untuk selamanya dia haram bagi suaminya. Datanglah Khaulah mencari penyelesaian kepada Nabi SAW dan kemudian mengadu kepada Allah mohon keringanan. Lalu Allah SWT berikan jalan keluar dengan diwajibkan puasa dua bulan berturut-turut.
وَالَّذِينَ يُظَاهِرُونَ مِنْ نِسَائِهِمْ ثُمَّ يَعُودُونَ لِمَا قَالُوا فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَتَمَاسَّا
Orang-orang yang menzhihar isteri mereka, kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan, maka (wajib atasnya) memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami isteri itu bercampur. (QS. Al-Mujadilah : 3)
Dalam kasus dimana ada wanita yang mendebat Nabi SAW dalam surat Al-Mujadilah itu, si wanita bukan orang yang kafir atau berniat inkar terhadap hukum Allah. Dia tidak sedang menentang ketentuan Nabi SAW.
ِAda perbedaan antara kata yujadilu an (يُجَادِلُ عَن) di ayat ini dan kata yujadilu fi (يُجَادِلُ فِي). Kata yujadilu an (يُجَادِلُ عَن) artinya berdebat demi untuk melakukan pembelaan, gampangnya kita terjemahkan dengan : membela. Sedangkan kata yujadilu fi (يُجَادِلُ فِي) yang terdapat di dalam surat Mujadalah, artinya : melakukan perdebatan dalam suatu masalah, yaitu masalah jalan keluar dari tindakan zhihar yang terlanjur dijatuhkan oleh suami agar bisa kembali lagi.
Maka ketika Allah SWT mengatakan kepada Nabi SAW laa tujadil, maksudnya adalah janganlah kamu membela. Siapakah yang tidak boleh Nabi SAW bela? Jawabnya adalah Thu’mah bin Ubairiq munafik dan murtad, si pencuri baju besi yang menuduh Yahudi pelakunya.
Kata (الَّذِينَ) artinya : orang-orang yang. Kata (يَخْتَانُونَ) : artinya : berkhianat atau melakukan pengkhianatan. Kata (أَنْفُسَهُمْ) : artinya : diri mereka sendiri. Ungkapan ‘berkhianat pada diri sendiri’ bisa dimaknai dengan dua makna.
Pertama, maksudnya itu adalah orang munafik. Sebab orang munafik bukan saja berkhianat kepada agama, tetapi justru berkhianat kepada diri sendiri.
Kedua, maksudnya adalah orang yang murtad. Sebab Thu’mah bin Ubairiq pada akhirnya memang murtad, setelah sebelumnya menyeberang ke Mekkah dan memihak kepada orang-orang musyrikin, lalu menyatakan diri keluar dari agama Islam.
Memang pada penggalan ini yang Allah SWT sebutkan hanya sifat dan perilakunya saja, yaitu orang yang berkhiatan terhadap dirinya sendiri. Sedangkan siapakah orangnya, memang tidak disebutkan.
Namun siapapun shahabat yang hidup ketika ayat ini diturunkan, pasti tahu dalam kasus apa ayat ini turun, juga tentang siapa yang dimaksud dengan orang yang berkhianat kepada diri sendiri.
Kata innallaha (إِنَّ اللَّهَ) : artinya : Sesungguhnya Allah. Kata la yuhibbu (لَا يُحِبُّ) : artinya : tidak menyukai. Kalau dikatakan bahwa Allah SWT tidak menyukai, maka maksudnya itu merupakan larangan yang berlaku bagi kita agar jangan menjadi orang yang Allah SWT tidak sukai.
Ini adalah salah satu gaya bahasa khas dalam Al-Quran, yaitu tidak secara langsung melarang, tetapi menyebutkan suatu tindakan itu tidak disukai oleh Allah. Maksudnya janganlah kamu melakukan hal itu dan haram hukumnya.
Kalau kita telurusi dalam Al-Quran, mengharamkan sesuatu dengan tehnik menyatakan bahwa Allah SWT tidak suka, cukup banyak juga. Beberapa di antaranya adalah ayat-ayat berikut ini :
إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (QS. Al-Baqarah : 190)
وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الْفَسَادَ
Dan Allah tidak menyukai kebinasaan. (QS. Al-Baqarah : 205)
وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ
Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa. (QS. Al-Baqarah : 276)
فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْكَافِرِينَ
Maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir". (QS. Ali Imran : 32)
وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ
Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim. (QS. Ali Imran : 57)
وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ
Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim, (QS. Ali Imran : 140)
إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri, (QS. An-Nisa : 36)
إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ خَوَّانًا أَثِيمًا
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang selalu berkhianat lagi bergelimang dosa, (QS. An-Nisa : 107)
لَا يُحِبُّ اللَّهُ الْجَهْرَ بِالسُّوءِ مِنَ الْقَوْلِ
Allah tidak menyukai ucapan buruk, (yang diucapkan) dengan terus terang. (QS. An-Nisa : 148)
وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ
Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang membuat kerusakan. (QS. Al-Maidah : 64)
إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (QS. Al-Maidah : 87)
إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan. (QS. Al-Anam : 141)
إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (QS. Al-Araf : 31)
إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (QS. Al-Araf : 55)
إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْخَائِنِينَ
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat. (QS. Al-Anfal : 58)
إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْتَكْبِرِينَ
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong. (QS. An-Nahl : 23)
إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ خَوَّانٍ كَفُورٍ
Sesungguhnya Allah tidak menyukai tiap-tiap orang yang berkhianat lagi mengingkari nikmat. (QS. Al-Hajj : 38)
إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْفَرِحِينَ
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri". (QS. Al-Qashash : 76)
إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS. Al-Qashash : 77)
إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْكَافِرِينَ
Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang ingkar. (QS. Ar-Rum : 45)
إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. (QS. Luqman : 18)
إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ
Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim. (QS. Asy-Syura : 40)
وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ
Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri, (QS. Al-Hadid : 23)
Kata man kaana (مَنْ كَانَ) artinya : orang-orang yang selalu. Kata khawwanan (خَوَّانًا) artinya : pelaku pengkhianatan. Kata atsima (أَثِيمًا) artinya : orang yang banyak dosa atau bergelimang dosa.
Kata khawwanan (خَوَّانًا) bentuk isim fa'il yang menunjukkan pelaku dari kata (خَوَنَ) yang berarti pengkhianat atau seseorang yang berkhianat. Sebenarnya isim failnya (خَائِن) namun dalam bahasa Arab terkadang bentuk isim fail bisa mengalami perubahan untuk memberikan penekanan atau menambah makna tertentu, salah satunya dengan menggunakan pola ini.
Tentu saja secara makna jadi sedikit berubah. Kalau disebut khain (خَائِن) artinya sekedar orang yang berkhianat, sedangkan kata khawwan (خَوَّانًا) menunjukkan seseorang yang sering berkhianat atau memiliki sifat pengkhianat yang sangat kuat.