Kemenag RI 2019:Mereka tidak menyembah selain Dia, kecuali berhala dan mereka juga tidak menyembah, kecuali setan yang durhaka. Prof. Quraish Shihab:Yang mereka seru selain Dia tidak lain hanyalah berhala, dan dengan menyembah berhala itu mereka pada hakikatnya tidak lain hanyalah menyembah setan yang durhaka. Prof. HAMKA:Mereka tidak menyeru selain dari-Nya, kecuali perempuan-perempuan, dan mereka tidak menyeru selain setan yang durhaka.
Di ayat ini Allah SWT menegaskan bahwa orang kafir itu pada dasarnya tidak menyembah Allah, tetapi hanya menyembah berhala saja, karena memang begitulah yang nampak secara kasat mata.
Namun Allah SWT tegaskan lagi bahwa pada hakikatnya yang mereka sembah adalah setan yang durhaka.
إِنْ يَدْعُونَ مِنْ دُونِه
Huruf in (إِنْ) disebut nafiyah karena maksudnya menafikan atau meniadakan, sehingga maknanya seperti kata maa (ما) yang artinya : tidak dan bukan.
Kata yad’una (يَدْعُونَ) adalah kata kerja dalam bentuk fi’il mudhari yaitu (دَعَا – يَدْعُو - دَعْوَةً) yang punya banyak makna. Kadang bisa berarti menyeru atau mengajak, sebagaimana dalam ayat berikut :
Hendaklah ada di antara kamu segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan. (QS. Ali Imran : 110)
Namun kadang juga bisa bermakna permohonan, permintaan atau doa, sebagaimana pada ayat berikut :
أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ
Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku. (QS. Al-Baqarah : 186)
Nampaknya makna yang cocok dengan ayat ini adalah makna yang kedua, yaitu berdoa. Prof. Quraish Shihab dan Buya HAMKA menerjemahkannya jadi : menyeru. Sedangkan terjemahkan Kemenang RI adalah : menyembah.
Kata min dunihi (مِنْ دُونِه) artinya : selain Dia. Maksudnya mereka menyembah Tuhan lain yang bukan Allah SWT.
Ketika mereka menyembah patung dan menyebut nama-nama berhala itu, mereka bilang bahwa pada dasarnya mereka tidak menyembah berhala atau patung, tetapi mereka tetap menyembah Allah SWT. Hanya saja penyembahan itu mereka lakukan lewat perantaraan berhala dan patung-patung itu, niatnya agar lebih mendekatkan diri kepada Allah. Seperti menyembah patung tapi hakikatnya menyembah Allah SWT.
Apa yang mereka alibikan itu kemudian tercatat dalam ayat Al-Quran, yaitu ayat berikut :
Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): "Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya". (QS. Az-Zumar : 3)
Lalu lewat ayat ini dan lewat banyak ayat lainnya Allah membantah secara mementahkan alibi dan logika bengkok mereka, yaitu bahwa mereka tidak menyembah Allah tetapi mereka semata-mata hanya menyembah berhala dan patung. Sama sekali mereka tidak menyembah Allah.
إِلَّا إِنَاثًا
Kata illa (إِلَّا) artinya : kecuali. Kata inatsa (إِنَاثًا) diterjemahkan oleh Kemenag RI dan Prof. Quraish Shihab sebagai : berhala. Namun Buya HAMKA menerjemahkannya sebagai : perempuan-perempuan.
Tentang apa yang sebenarnya mereka sembah, memang para ulama berbeda pendapat. Sebagian mengatakan bahwa mereka menyembah malaikat yang dipercaya sebagai anak perempuan Allah. Namun sebagian lain mengatakan mereka menyembah patung atau berhala.
1. Malaikat
Kata (إِناث) secara bahasa memang bermakna perempuan dalam bentuk jamak. Bentuk tunggalnya untsa sebagaimana firman Allah
وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالأُنْثَى
Dan laki-laki itu tidak sama dengan perempuan
Adh-Dahhak mengatakan bahwa yang dimaksud dengan inaatsaa (إِنَاثًا) tidak lain adalah para malaikat yang dalam pandangan mereka bahwa malaikat itu berjenis kelamin perempuan. Malaikat adalah anak-anak perempuan Allah dalam pandangan mereka.
أَلَكُمُ الذَّكَرُ وَلَهُ الْأُنْثَىٰ
. Apakah (patut) untuk kamu (anak) laki-laki dan untuk Allah (anak) perempuan.(QS An-N-Najm : 21)
Sesungguhnya orang-orang yang tiada beriman kepada kehidupan akhirat, mereka benar-benar menamakan malaikat itu dengan nama perempuan.(QS An-N-Najm : 27)
Entah kebetulan atau memang ada hubungannya, kepercayaan orang Barat selama ini pun punya kemiripan dengan apa yang dipahami oleh bangsa Arab zaman dulu, yaitu dalam konsep mereka malaikat itu adalah angel, yaitu sosok wanita yang cantik dan punya sayap turun dari surga.
Pemahaman ini jelas rancu dan tumpang tindih. Sosok wanita yang jelita di dalam Al-Quran adalah hurun ‘ien (حور عين) yaitu bidadari yang hanya ada di surga. Sedangkan malaikat itu bukan wanita dan juga bukan laki-laki, karena memang Allah SWT ciptakan dengan tanpa jenis kelamin. Allah SWT ciptakan mereka dari cahaya dan menjadi makhluk yang mulia serta taat kepada Allah.
2. Patung Berhala
Namun umumnya para mufassir mengatakan yang dimaksud dengan inaatsaa tidak lain adalah patung atau berhala, seperti Al-Laat, Al-Uzza, Manat dan lainnya. Diriwayatkan bahwa setiap suku dari berbagai suku dan kabilah Arab Jahiliyah memiliki patung khusus yang mereka sembah.
Adapun kaitannya dengan kata inaatsaa yang bermakna perempuan, karena orang Arab terbiasa memberi nama kepada berhala-berhala mereka dengan nama-nama perempuan. Misalnya kata Al-Laata (الات) konon berasal dari kata Allah yang dijadikan muannats.
Begitu juga Al-Uzza (العُزَّ) konon berasal dari nama Allah yaitu Al-Aziz (العزيز) yang kemudian diubah muannats.
Dalam hal ini ada riwayat yang menyebutkan bahwa qiraat Ibnu Abbas bukan inaatsaa tetapi watsana (وَثَنًا) yang artinya : berhala. Selain itu juga ada riwayat bahwa Aisyah membaca dengan qiaraat awtsana (أَوْثَانًا) yaitu berhala dalam bentuk jamak.
3. Benda Mati
Pendapat ketika mengatakan bahwa makna isaatsaa adalah amwaataa (أمواتا) yang artinya : yang sudah pada mati. Maksudnya bahwa Allah SWT menegaskan bahwa mereka tidak menyembah kecuali berhala-berhala yang mati. Berhala itu disebut benda mati karena memang pada dasarnya hanya terbuat dari benda mati seperti kayu atau batu.
وَإِنْ يَدْعُونَ إِلَّا شَيْطَانًا مَرِيدًا
Kata wa in (وَإِنْ) artinya : dan tidak. Kata yad’una (يَدْعُونَ) artinya : mereka menyembah. Kata illa () artinya : kecuali. Kata syaithanan (شَيْطَانًا) artinya : setan. Kata marida (مَرِيدًا) artinya : yang durhaka.
Para mufassir mengatakan bahwa di setiap berhala itu terdapat setan yang menampakkan diri kepada para penjaga berhala dan berbicara dengan mereka. Al-Zajjaj berkata: yang dimaksud dengan setan di sini adalah Iblis. Dasarnya setelah ayat ini Allah berfirman:
"Dan dia berkata: 'Aku pasti akan mengambil bagian dari hamba-hamba-Mu yang sudah ditentukan.'
Maka tidak diragukan lagi bahwa yang mengatakan kalimat ini adalah Iblis. Tidak mustahil bahwa yang menampakkan diri kepada para penyembah berhala itu adalah Iblis.
Adapun kata mariid (مَرِيدٌ) artinya adalah orang yang sangat membangkang, sangat jauh dari ketaatan. Az-Zajjaj mengatakan bahwa kata haitun mumarrad (حائط ممرد) berarti tembok yang halus (rata). Sedangkan ungkapan syajarah marda' (شجرة مرداء) berarti pohon yang daun-daunnya berguguran. Seseorang yang belum tumbuh janggutnya disebut amrad (أمرد), karena bagian tempat janggutnya halus tanpa bulu.
Maka, seseorang yang sangat jauh dari ketaatan disebut marid karena ia telah 'dihaluskan' dari ketaatan kepada Allah, sehingga tidak ada sedikit pun ketaatan yang melekat padanya.