Kemenag RI 2019:Allah tidak menyukai perkataan buruk (yang diucapkan) secara terus terang, kecuali oleh orang yang dizalimi. ) Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Prof. Quraish Shihab:Allah tidak menyukai perbuatan terang-terangan dengan keburukan menyangkut ucapan, kecuali yang dilakukan dengan sangat terpaksa oleh orang yang dianiaya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Prof. HAMKA:llah tidak menyukai penyebaran perkataan-perkataan yang buruk, kecuali oleh orang yang telah teraniaya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
Adapun dari sisi isi dan kandungan, sama sekali tidak dijadikan bahan pertimbangan. Sehingga meski kandungannya masih di tengah-tengah pembicaraan, kalau sudah waktunya dipenggal, langsung saja dipenggal.
Ayat ke-148 ini terletak setelah ayat-ayat yang sebelumnya sedang mencela keadaan orang-orang munafik, bahkan membeberkan aib-aib serta keburukan mereka secara panjang lebar. Pembahasan semacam itu sedikit banyak akan membangkitkan dalam rasa benci kepada kemunafikan dan perilaku mereka, khususnya di hati kita.
Terlebih setelah Allah menggambarkan mereka sebagai orang yang menjadikan orang-orang kafir sebagai pemimpin selain orang-orang mukmin, mengejek Al-Quran, dan melarang kaum muslimin untuk duduk bersama mereka. Ada rasa ingin memaki dan melontarkan sumpah serapah kepada orang-orang munafik.
Namun justru di ayat ini Allah SWT memperingatkan kaum muslimin agar jangan sampai kita memaki dan secara terang-terangan menghina mereka. Seberapa pun benci kita memuncak kepada perilaku orang munafik. Karena sumpah serapah dan maki-makian yang kasar tetap tidak layak keluar dari mulut seorang mukmin.
Fakhruddin Ar-Razi dalam tafsir Mafatih Al-Ghaib [1] mengakatakan bahwa ayat ini turun berkaitan dengan Abu Bakar radhiyallahuanhu, ketika seorang laki-laki mencaci makinya, dia tetap diam beberapa kali. Kemudian, dia membalas caciannya, maka Nabi SAW berdiri.
Abu Bakar bertanya, "Orang itu mencaciku, dan engkau duduk diam. Ketika aku membalasnya, engkau berdiri." Nabi SAW menjawab, "Seorang malaikat menjawab untukmu. Ketika engkau membalasnya, malaikat itu pergi, dan setan datang. Aku tidak ingin duduk di hadapan setan." Maka turunlah ayat ini.
Kata laa yuhibbu (لَا يُحِبُّ) artinya : tidak menyukai. Yang menjadi fa’il atau pelakunya adalah lafazh Allah (اللَّهُ).
Kalau dikatakan bahwa Allah SWT tidak suka, sebenarnya maknanya adalah Allah SWT membenci. Namun tidak digunakan kata : membenci, karena ungkapan benci itu terkesan kasar dan kurang ramah. Sebaliknya kalau disebut ‘tidak suka’, maka lebih terkesan halus, atau setidaknya lebih ramah di telinga.
Lepas dari apakah tidak suka atau benci, namun intinya perbuatan itu terlarang, haram atau setidaknya tidak dibenarkan.
Kata al-jahra (الْجَهْرَ) artinya : terus terang. Kata bis-suu’i (بِالسُّوءِ) artinya : dengan buruk. Kata minal qaul (مِنَ الْقَوْلِ) artinya : dari perkataan.
Ungkapan ini kalau dipotong-potong lalu diterjemahkan kata per kata, memang jadinya malah susah untuk dipahami. Yang lebih tepat adalah dibaca sebagai satu kesatuan, yaitu (الْجَهْرَ بِالسُّوءِ مِنَ الْقَوْلِ), setelah itu baru kita artinya menjadi : “perkataan buruk yang diucapkan secara terus terang”.
Buya HAMKA dalam tafsir Al-Azhar[2] ketika menafsirkan ayat ini menyebutkan bahwa ayat ini melarang kaum muslimin untuk berkata yang kotor, cabul, dan carut-marut. Maksudnya meskipun apa yang disampaikan itu pada dasarnya kebenaran dan bahkan termasuk ilmu pengetahuan, namun tetap saja cara mengungkapkannya harus dengan sepenuh etika dan adab serta aturan sopan santun.
HAMKA menceritakan tentang kisah gurunya yang menulis ulang terjemahan kitab fiqih yang terasa amat vulgar, khususnya ketika menjelaskan bab-bab terkait dengan darah haidh, nifas dan juga terkait hubungan suami istri. Sementara banyak pelajar perempuan yang belum patut mendengarnya. Terjemahan itu dirasa sangat menyinggung perasaan. Apalagi ketika harus menjelaskan tentang syarat-syarat yang menyebabkan wajib mandi junub. Sehingga akhirnya guru beliau terpaksa harus mengarang sendiri buku yang sesuai dengan metode pendidikan dan sesuai dengan ayat yang tengah kita tafsirkan ini.
Tantangannya adalah bagaimana menjaga agar kata-kata yang belum layak didengar oleh anak-anak di usia muda tidak sampai terucap. Hal ini penting untuk diperhatikan, terutama saat guru menjelaskan pengajian fiqih, yang mungkin mengandung kata-kata yang hanya pantas disampaikan dalam kalangan terbatas kepada orang dewasa.
Ayat ini juga merupakan teguran halus dalam hal pendidikan. Oleh karena itu, tidaklah pantas seorang ibu, saat marah kepada anaknya, mengeluarkan kata-kata kotor, memaki-maki, mencarut, dan sebagainya.
إِلَّا مَنْ ظُلِمَ
Kata illa (إِلَّا) artinya : kecuali. Kata man (مَنْ) artinya : orang yang. Kata zhulim (ظُلِمَ) artinya : dizalimi.
Penggalan ini merupakan istitsna atau pengecualian. Bahwa pada dasarnya Allah SWT tidak menyukai penyingkapan aib dan keburukan orang. Namun ada kasus yang jadi pengecualian, misalnya dalam kasus orang yang kerusakannya besar, tipu daya, dan makar jahatnya melimpah. Dalam kondisi seperti itu, diperbolehkan mengungkap aibnya. Oleh karena itu Nabi SAW bersabda,
"Sebarkanlah kejelekan orang fasik sebagaimana adanya agar manusia waspada terhadapnya."
Adapun orang-orang munafik ini, mereka banyak melakukan tipu daya, makar jahat, dan kezaliman terhadap kaum muslimin, serta dampak buruk mereka sangat besar. Karena alasan ini, Allah menyebutkan aib-aib mereka dan membuka rahasia-rahasia mereka.
Dalam ayat sebelumnya Allah SWT sudah sebutkan bahwa jika mereka mau bertobat dan ikhlas, maka orang-orang munafik akan menjadi bagian dari kaum mukminin. Ada kemungkinan sebagian dari mereka bertobat dan ikhlas dalam tobatnya, tetapi setelah itu mereka tidak luput dari celaan dan hinaan dari sebagian kaum muslimin disebabkan oleh kemunafikan yang pernah mereka lakukan di masa lalu.
Oleh karena itu Allah SWT jelaskan dalam ayat ini bahwa Dia tidak menyukai cara seperti itu dan tidak meridhai penyebutan keburukan dalam ucapan, kecuali terhadap orang yang terus-menerus menzalimi dirinya sendiri dan tetap berada dalam kemunafikannya. Maka, dalam kasus tersebut, Allah tidak membenci penyebutan keburukannya.
Kata man zhulim (مَنْ ظُلِمَ) artinya : orang yang dizhalimi. Ada beberapa pandangan tentang apa yang dapat dilakukan oleh orang yang dizalimi.
§ Pendapat pertama: Qatadah dan Ibnu Abbas berkata bahwa Allah tidak menyukai suara yang diangkat dengan ucapan yang buruk terhadap orang lain, kecuali bagi orang yang dizalimi. Maka, diperbolehkan baginya untuk mengangkat suaranya dalam doa melawan orang yang menzaliminya.
§ Pendapat kedua: Mujahid berkata bahwa kecuali jika dia memberitahukan tentang kezaliman orang yang menzaliminya.
§ Pendapat ketiga: Tidak diperbolehkan menampakkan hal-hal yang tertutup dan tersembunyi karena hal itu bisa menjadi penyebab orang lain terjerumus dalam ghibah dan menyebabkan orang tersebut berada dalam keraguan. Akan tetapi, bagi orang yang dizalimi, diperbolehkan menampakkan kezaliman yang dialaminya, seperti menyebut bahwa dirinya telah dicuri atau dirampas. Pendapat ini disampaikan oleh Al-Asham.
§ Pendapat keempat: Al-Hasan berkata, "Kecuali jika ia membela diri dari orang yang menzaliminya."
وَكَانَ اللَّهُ سَمِيعًا عَلِيمًا
Kata wa kaanallahu (وَكَانَ اللَّهُ) artinya : dan adalah Allah. Kata sami’an (سَمِيعًا) artinya : Maha Mendengar. Kata ‘alima (عَلِيمًا) artinya : Maha Mengetahui.
Penggalan yang jadi penutup ayat ini merupakan bentuk peringatan agar tidak melampaui batas dalam mengungkapkan ucapan yang diizinkan. Artinya, hendaklah seseorang bertakwa kepada Allah, dan tidak mengucapkan kecuali yang benar.
Jangan sampai menuduh orang yang menjaga kehormatannya dengan keburukan, karena hal itu akan menjadikannya sebagai pelaku maksiat terhadap Allah. Allah Maha Mendengar apa yang diucapkan dan Maha Mengetahui apa yang disembunyikan dalam hati.
Meskipun penggalan ini seperti kalimat berita, namun hakikat yang sesungguhnya justru merupakan perintah, setidaknya anjuran agar melakukan perintah dan nasihat Allah, karena Dia Maha Mendengar segala yang terdengar dan Maha Melihat mengetahui segala yang tidak nampak. Maka hati-hatilah karena Dia akan memberikan balasan atas apa yang kalian perbuat.